webnovel

Malam yang indah

Akhirnya setelah Luna menjadi tenang, Kevin mengajak Luna berjalan di pinggir pantai.

Luna masih tidak banyak bicara dan terlihat sedih tapi Kevin tidak ingin membiarkan Luna perlahan-lahan menjauh darinya.

Deburan ombak menyapu kaki mereka dan terasa sangat dingin apalagi angin berhembus sangat kencang.

"Mendekatlah.." Pinta Kevin, ia khawatir jika Luna akan masuk angin karena ia memakai dress pendek.

"Tidak mau..." Tolak Luna ketus.

Kevin hanya dapat menghela nafas, gadis ini masih merajuk rupanya, Kevin lantas mendekati Luna perlahan hingga bahu mereka bersentuhan dan membuat kejadian didepan restoran tadi siang kembali teringat.

"Em, mau ku rangkul?" Tanya Kevin, membuat Luna menoleh, ia terlalu malu untuk mengiyakan pertanyaan Kevin meskipun ia merasa kedinginan saat ini.

"Maksudku bukan seperti itu.. ini agak dingin, aku takut kamu sakit." Jelas Kevin terbata, karena Luna menatapnya curiga membuat Kevin salah tingkah.

"Ba..baiklah, tapi ini karena kita sedang kedingan saja dan tidak lebih."

"Tentu saja."

Kevin lalu perlahan menyentuh bahu Luna yang terbuka, kulit Luna terasa dingin membuat Kevin mengeratkan rangkulannya.

"Kamu masih marah padaku?" Tanya Kevin hati-hati.

"Sedikit." Jawab Luna singkat.

Kevin menjadi semakin gelisah, ia sangat dekat dengan Luna tapi Luna terasa sangat jauh.

"Kamu benar-benar akan berhenti?" Tanya Kevin lagi.

"Entahlah..."

"Apa yang harus kamu lakukan agar kamu tidak berhenti?"

"Tidak ada."

Oh Tuhan, rasanya Kevin ingin menangis sekarang. Ia takut jika Luna akan benar-benar berhenti.

Tapi tiba-tiba saja Luna buka suara, "Kamu dan tuan Smith terlihat akrab, apa kalian telah saling mengenal sebelumnya?" 

"Sebenarnya kami sangat dekat, dia adalah seniorku saat aku kuliah di Amerika." Jelas Kevin, tapi itu membuat Luna bingung jika mereka telah saling mengenal mengapa Smith mempersulit kerja sama diantara mereka.

jika Kevin dan Smith sangat dekat mengapa memberikan syarat seperti itu dan tidak langsung setuju saja? Luna tidak dapat menemukan jawaban dari pertanyaanya dan menimbukan rasa penasarannya "Lalu mengapa dia mempersulitmu?" Tanya Luna tidak dapat menahan rasa penasarannya.

"Didalam berbisnis tidak ada kata saudara ataupun teman dekat, jika tidak menghasilkan keuntungan bahkan saudara sekalipun tidak akan diajak berkerja sama." Jawab Kevin lugas, dunia bisnis memang kejam pikir Luna.

"Begitu rupanya" gumam Luna, ia sudah lama menjadi sekertaris tapi saat menjadi sekretaris ayah Kevin relasi itu sangat penting, mempunyai teman dekat seorang pebisnis akan sangat menguntungkan karena dapat mempermudah perjanjian kerja sama tapi mengapa tidak dengan Kevin?.

"Jalan pintas itu menyengkan tapi tidak akan menjadikan bisnismu kuat dan bertahan lama. Itu yang aku pelajari dari Smith, maka begitu aku lulus s2 aku memutuskan mengambil alih perusahaan. Ayahku telah berkerja keras selama ini tapi jalan yang diambilnya kadang tidak semua benar. Aku tidak mau seperti itu, perusahaan kita bisa saja tiba-tiba hancur jika mereka yang selama ini kita buat sebagai sandaran tiba-tiba memutuskan kerja samanya. Kita harus menjadi kuat dengan kemampuan kita sendiri, meskipun banyak hal sulit menanti didepan jalan kesuksesan kita." Jelas Kevin membuat Luna terkesan "jadi ini yang membuat Pak Wijaya pensiun dini?" gumam Luna dalam hati kini jelas sudah Kevin benar-banar seorang pebisnis ysng hebat, dalam kurun waktu 2 tahun Kevin dapat menyelesaikan masalah perusahaan yang hampir bangkrut saat itu, bahkan kini perusahaan lebih maju lagi.

"Kamu sangat hebat." Puji Luna membuat Kevin tersanjung. "Benarkah?" tanya Kevin malu-malu.

"Tentu saja, kamu hebat karena aku adalah sekretarisnya." Jawab Luna tertawa sebelum akhirnya berlari ke pinggir pantai.

"Jadi kamu tidak akan berhenti?"

"Akan aku pikir ulang."

Oh akhirnya, terima kasih Tuhan.

Kevin akhirnya berlari mengejar Luna tapi Luna sangat gesit dan dapat selalu menghindar saat Kevin hendak menangkapnya, bahkan dia bisa memercikan air laut dengan kakinya kearah Kevin membuat Kevin menjadi sedikit basah.

Mereka terus saja berlarian diselangi dengan canda tawa hingga mereka merasa lelah dan akhirnya memutuskan duduk atas pasir pantai.

"Bulan purnama diatas laut sangat indah ya." Ucap Luna, wajahnya berkilau diterpa cahaya bulan purnama membuat Kevin tidak dapat memalingkan pandanganya pada Luna.

"Ya, sangat indah." Suara Kevin terdengar sangat sejalas ditelinga Luna membuat Luna menoleh, Kevin sangat dekat dengannya kini dan dia terus menatap Luna intens membuat Luna tersipu malu.

Kevin memandangi bibirnya kini dan mendekatkan wajahnya pada Luna, sedangkan Luna hanya diam terpaku. Jarak diantara wajah mereka hanya sedikit lagi dan Kevin bahkan menatap mata Luna lalu kemudian tatapannya turun kebibir Luna seakan memberi isyarat jika ia akan mencium Luna, tapi Luna hanya diam tidak bergeming itu artinya Luna setuju.

Saat Kevin telah menggenggam tangan Luna dan bibir mereka nyaris bersentuhan, Luna tiba-tiba memalingkan wajahnya membuat Kevin menunduk kecewa tapi pria itu tidak marah bagaimanapun mereka belum ada ditahap kejelasan hubungan yang sesungguhnya.

"Aku akan membersihkan tanganmu." Ucap Luna, ia tidak tau apa yang baru saja dia lakukan membuat suasana lebih canggung kini. Dengan hati-hati Luna meraih tangan Kevin dan mulai menghapus cat kuku ditangan Kevin satu persatu dengan lembut. Kevin senang setidaknya Luna mau memegang tangannya tanpa sungkan kini.

"Lihatlah kuku mu sangat indah, warna merah cocok dengan kulitmu yang bersih." Puji Luna tersenyum.

"Jika kamu suka maka tidak perlu dihapus." Ucap Kevin.

"Jangan, aku tidak suka ada seseorang yang menatapmu genit meskipun dia laki-laki." Luna tidak sadar dengan apa yang baru saja diucapkannya, apa dia mulai menyukai Kevin mengapa dia mengatakan hal seperti itu. Ia bahkan tidak yakin dengan perasaan Kevin padanya yang terkadang sangat manis tapi kadang menyebalkan. Kevin sering menyatakan cinta padanya tapi semua pernyataan cintanya terdengar seperti candaan jadi Luna sangat berhati-hati ia tidak ingin dipermainkan oleh Kevin.

"Luna, aku mencintaimu..." Kevin berbisik ditelinga Luna yang tiba-tiba membuat hatinya bergetar. Ini bukan pertama kalinya ia mendengar pernyataan cinta dari Kevin tapi ini kali pertama Luna merasa berdebar.

Pria dihadapannya ini apa benar mencintainya atau sedang mempermainkannya lagi? Luna hanya diam menatap Kevin sambil menerka-nerka sedangkan Kevin menunggu jawaban Luna dengan sabar, perasaannya sudah tidak tertahankan lagi. Kevin sudah tidak bisa menyamarkan perasaannya lagi pada Luna, berada seharian bersama Luna dan tidak dibayang-bayangi pekerjaan membuat dia merasa yakin jika dirinya mencintai Luna dan mungkin saja Luna memiliki perasaan yang sama.

"Sudah hampir tengah malam, ayo kita kembali kehotel." Luna akhirnya memilih tidak menjawab pernyataan cinta Kevin dan beranjak meninggalkan Kevin yang masih duduk dipinggir pantai dengan rasa kecewa.

...

Keesokan harinya, seperti biasa Luna menyiapkan sarapan dan baju kerja Kevin, meskipun dengan suasana yang berbeda. Kevin lebih banyak diam dan terlihat murung membuat Luna merasa bersalah tapi Luna tidak tahu apa yang harus dilakukannya untuk membuat suasana menjadi seperti biasa.

Mata mereka bertemu saat Luna memasangkan dasi Kevin, tidak ada seorangpun yang berani memulai obrolan membuat suasana semakin tidak menyenangkan. Setelah selesai memakai dasi Kevin lantas berjalan menatap cermin seperti biasa untuk memastikan penampilanya, wajah tampannya tertutup oleh aura murungnya sampai ia melihat pantulan sosok Luna yang berdiri menantinya dibelakannya membuatnya tersenyum tanpa sadar tapi sedetik kemudian lengkungan senyuman diwajahnya menjadi melengkung kebawah saat mata mereka bertemu kembali lewat cermin.

Luna mengira Kevin mungkin marah padanya, dia mengabaikan pernyataan cinta Kevin tanpa menolak atau mengiyakan membuat Luna menjadi gelisah dia tidak bisa menerima Kevin, dia tidak yakin semua akan baik-baik saja jika mereka bersama.

Tapi sebenarnya kemurungan Kevin tidak sepenuhnya berasal dari menggantungnya pernyataan cintanya pada Luna melainkan karena sesuatu hal yang harus dihadapinya karena perintah ayahnya.

sebuah perjodohan,,, sebuah pernikahan bisnis,, sebuah keuntungan,, sebuah pengorbanan. Meskipun Kevin dengan jelas menentang keputusan ayahnya tapi dia tidak bisa membatalkan perjodohan itu begitu saja. Ayahnya mengatakan jika Kevin dapat membawa furniture K keposisi paling atas di Indonesia dalam waktu 6 bulan maka ayahnya akan menerimanya apapun itu keputusannya meskipun furniture K berada diurutan ke-2 saat ini tapi tidak semudah itu menjadi posisi teratas dalam waktu sesingkat itu.

Kevin menyandarkan kepalanya dikursi mobilnya sambil menghela nafas berat, memikirkan persyaratan ayahnya itu sangat mustahil rasanya tapi jika dia menyerah bagaimana dengan Luna? gadis itu tidak menjawab pernyataan cintanya seperti biasa tapi dia hanya kecewa tapi tidak pernah berhenti mencintai Luna bahkan sedetikpun, perasaannya kepada Luna telah tertanam jauh dilubuk hatinya yang selalu berbunga.

"Anda baik-baik saja pak?" Luna akhirnya berani angkat bicara, sikapnya kembali menjadi formal kini karena sekarang mereka kembali pada kenyataan bahwa mereka atasan dan bawahan.

Tapi Kevin tidak menjawab ia hanya menoleh dan kemudian memalingkan wajahnya menatap jalanan, itu membuat Luna kecewa,,,

dan sedih,

.....

Waktu cepat berlalu, tidak seperti biasa tidak ada pertengkaran diantara mereka hampir seharian ini. mereka hanya berkerja dan membahas pekerjaan saja, itu membuat ada sesuatu yang hilang, Luna menatap sembunyi-sembunyi kearah ruangan Kevin sambil bertanya-tanya mengapa ia menutup tirai diruangannya membuat Luna tidak dapat melihat apa yang dikerjakan Kevin.

"Apa dia marah padaku?" Luna tidak dapat menahan rasa penasarannya, ia merasa sangat dekat dengan Kevin kemarin tapi setelah pulang dari Bali Kevin seakan orang asing yang baru ditemuinya sangat dingin.

Tok..tok..tok Luna mengetuk pintu ruangan Kevin dan memasuki ruangan, Kevin terlihat sangat sibuk, kerah baju dan dasinya berantakan bahkan ia menggulung kemejanya dan melepaskan jasnya. Mejanya dipenuhi banyak berkas hingga tidak ada celah, astaga betapa bodohnya Luna, ia hanya memikirkan soal suasana hari ini tapi dia bahkan melupakan jika mereka memiliki proyek besar yang harus ditangani dengan serius.

"Ada yang bisa saya kerjakan?" Tanya Luna setelah meletakan teh diatas meja Kevin.

"Tidak ada."jawab Kevin singkat.

"Kita ada rapat sepuluh menit lagi, ini berkasnya silahkan diperiksa terlebih dahulu." Luna menyerahkan dokumen itu kepada Kevin tapi Kevin masih sibuk dengan pekerjaannya yang lain.

"Letakan disitu, aku akan memeriksanya nanti." Ucap Kevin tanpa menoleh membuat Luna sedikit kecewa.

"Apa yang kamu tunggu?" Tanya Kevin ketus saat Luna masih menatapnya dan belum meletakan dokumennya ditempat yang Kevin inginkan, Luna lantas meletakannya sesuai keinginan Kevin dan berjalan meninggalkan ruangan.

"Ada apa dengannya?" Gumam Luna kesal dia tahu jika dirinya telah mengecewakan Kevin tapi sikap Kevin barusan sungguh tidak masuk akal ia marah karena hal sepele seperti itu.

Sedangkan didalam kevin merasa bersalah dengan sikapnya kepada Luna hari ini, dia hanyak tidak ingin Luna terluka, jika dia terus bersikap manis mungkin Luna akan benar-benar jatuh cinta padanya dan jika dia tidak dapat memenuhi persyaratan ayahnya maka bagaimana dengan perasaan Luna sungguh membuat Kevin dilema.

....

Rapat telah selesai, Luna dan Kevin kini tengah berjalan menuju ruangan mereka. Saat memasuki lift mereka berdua tetap saja diam, kevin dengan wajah murungnya dan Luna dengan wajah kesalnya.

"Luna, apa kamu sungguh tidak mencintaiku?" Kevin membalikan badan dan menatap Luna lekat.

"Aku bahkan tidak tau cinta itu seperti apa?" Jawab Luna tidak berani membalas tatapan Kevin, Kevin lantas diam dan berpikir sejenak.

"Jika aku menikahi orang lain bagaimana perasaanmu?" Kevin mendekatkan langkahnya dan mengangkat dagu Luna agar Luna menatap matanya, ia harus memastikan perasaan Luna padanya.

Tapi Luna tidak menjawab, pertanyaannya itu membuat hati Luna terasa sesak dan rasanya ia ingin menangis. Luna masih diam menatap Kevin sampai pintu lift terbuka dan beberapa karyawan yang menunggu didepan lift memalingkan wajahnya karena memerasa tidak nyaman dengan pemandangan di dalam lift tapi mereka tidak berani berkomentar apapun atau bahkan untuk memasuki lift, akhirnya Kevin menghela nafas berat lagi sebelum akhirnya berjalan keluar Lift meninggalkan Luna yang masih berdiri mematung.

Next chapter