Sumpah Darah di Bawah Ranjang Dewa
Di dunia Erdhal, kekuatan tidak lahir dari doa—melainkan dari darah dan hasrat terdalam manusia.
Siapa pun yang berani membuat Sumpah Darah akan memperoleh kekuatan, dengan harga yang tak pernah murah.
Kael adalah pria tanpa masa lalu dan tanpa takdir.
Sejak kecil hidup sebagai budak arena, ia hanya mengenal rasa sakit, darah, dan tatapan manusia yang menunggu kematiannya. Hingga suatu malam, di ambang ajal, segel terlarang di tubuhnya bangkit—membangunkan kekuatan yang seharusnya tidak pernah ada.
Kebangkitannya menarik perhatian Seraphyne, wanita misterius yang pernah menjadi pendeta dewa hasrat. Cantik, berbahaya, dan penuh rahasia, Seraphyne membawa luka masa lalu yang membuatnya diburu oleh para dewa yang dulu ia sembah.
Takdir mempertemukan mereka dalam sebuah kontrak darah—ikatan terlarang yang menguat seiring emosi, keinginan, dan dosa yang mereka tekan.
Semakin Kael merasakan amarah, rindu, dan hasrat yang tak pernah ia kenal sebelumnya, semakin besar pula kekuatan yang bangkit di dalam dirinya.
Namun di balik kekuatan itu, gereja suci mulai bergerak.
Para dewa mengamati.
Dan sumpah yang terikat perlahan berubah menjadi kutukan yang bisa mengguncang dunia.
Di antara darah, pengkhianatan, dan ketertarikan yang tak seharusnya ada, Kael harus memilih:
tetap menjadi senjata para dewa…
atau menghancurkan takdir itu dengan tangannya sendiri.
Karena di Erdhal, keinginan bukan kelemahan—melainkan sumber kehancuran terbesar.