Istana Nafas Malam
Malam menggigil di bawah cahaya bulan yang seolah meneteskan darah ke bumi. Angin membawa aroma asing—campuran bunga mawar hitam dan tanah basah setelah hujan.
Seorang lelaki muda terbangun di dalam ruangan yang bukan miliknya. Atapnya menjulang tinggi, dihiasi ukiran emas yang berkilauan samar. Tirai sutra hitam melambai-lambai, seakan menari bersama bayangan. Lantai marmer dingin berkilat seperti permukaan danau yang membekukan.
Ia menatap kedua telapak tangannya—bersih, tanpa luka, tetapi jiwanya terasa compang-camping. “Di mana ini…?” suaranya pecah, tak lebih dari bisikan.
Pintu besar berukir naga perlahan terbuka. Dari balik kegelapan, seorang wanita masuk, langkahnya lirih namun penuh keyakinan. Rambut hitamnya panjang, bergelombang hingga menyentuh pinggang. Matanya—seperti lautan gelap yang menelan segalanya—menatapnya lekat-lekat.
“Selamat datang di Istana Nafas Malam,” ucapnya, lembut namun menusuk. “Tempat di mana mimpi dan dosa menari dalam satu tarikan napas.”
Lelaki itu tercekat. Nafasnya berat, seakan ruangan menutup semua jalan keluar.
Wanita itu mendekat, aroma tubuhnya samar namun mengguncang. Bibirnya tersungging senyum tipis—sebuah senyum yang tak bisa dibaca: antara kasih, goda, atau jerat. Jemarinya yang lentik menyentuh pipinya, membuat jantungnya berdebar tak beraturan.
“Siapa kau…?” suaranya bergetar.
Wanita itu tidak langsung menjawab. Ia menunduk sedikit, bibirnya nyaris menyentuh telinga sang lelaki, lalu berbisik:
“Aku adalah awal dan akhir dari semua hasratmu.”
Detik itu, waktu seakan berhenti. Suara langkah lain terdengar, dari berbagai penjuru ruangan. Tirai terbuka, memperlihatkan tiga sosok wanita lain—masing-masing dengan pesona berbeda: satu berambut merah menyala, satu berkulit pucat seperti bulan, dan satu lagi bermata emas seperti matahari senja.
Mereka berjalan melingkari lelaki itu, seakan singa betina yang mengintai mangsanya. Nafasnya tercekat; ia ingin lari, tapi tubuhnya seakan terikat oleh pandangan mereka.
“Kenapa aku di sini?” tanyanya, hampir putus asa.
Wanita bermata lautan gelap tersenyum lagi. “Karena hatimu kosong. Karena tubuhmu mencari sesuatu yang tak pernah kau temukan. Karena jiwamu haus akan bara.”
Keheningan merambat, hanya terdengar bunyi napas—panas, dekat, menyesakkan.
Wanita berambut merah menyentuh dadanya, tepat di atas jantung. “Berdebar,” gumamnya. “Seperti kuda liar yang menolak dijinakkan.”
Wanita bermata emas menyisir rambutnya pelan dengan jemari. “Hangat,” bisiknya. “Seperti bara yang menunggu untuk ditiup.”
Dan wanita berkulit pucat menempelkan wajahnya ke bahunya, membisikkan sesuatu yang membuat darahnya berhenti mengalir sejenak:
“Kau… milik kami.”
Lelaki itu terhuyung. Ia tak tahu apa yang menantinya di istana ini. Ia hanya tahu, malam itu akan menjadi awal dari sebuah perjalanan—perjalanan di mana cinta, nafsu, dan luka saling menelan satu sama lain.
Bulan di langit berwarna merah pekat. Nafasnya terkunci di tenggorokan. Ia pun sadar: apa pun yang menunggu, ia takkan bisa kembali lagi menjadi dirinya yang dulu.
Malam itu, bara pertama menyala.