webnovel

BAB 10: "Kotak Pandora Naraya"

Menurut hasil pengamatan Sakha beberapa hari ini, Naraya itu adalah orang yang suka menunda-nunda pekerjaannya. Kecuali untuk memasakkan dirinya makanan, menuangkan makanannya Poppy, dan menjajani dirinya sendiri.

Ya, intinya semua itu adalah tentang makanan.

Sakha tidak mengetahui uang darimana Naraya berbelanja, karena yang Sakha tahu Naraya hanya selalu berada di rumah. Perempuan itu juga jarang memainkan ponselnya. Menonton pun hanya di televisi yang tayangannya selalu itu-itu saja. Pokoknya yang Sakha tahu hidup Naraya itu cukup terlihat membosankan.

Naraya juga tinggal berdua–bersama kucingnya–sebelum mereka menikah. Sakha tidak melihat adanya tanda-tanda keluarga jauh, karena informasi yang dia dapat dari pak RT hanya tentang Naraya yang yatim piatu. Itu saja, tidak lebih.

Ah, soal kucing itu Sakha jadi teringat semalam. Ketika keceplosan mengatakan kucing Naraya yang mengizinkannya memasuki rumah wanita itu.

Sakha ingat wajah bingung Naraya yang mendongak menatapnya sambil memeluk Poppy, si kucing itu. "Maksud kamu apa?"

"Karena kucing ini aku jadi masuk ke rumah kamu,"

Naraya masih tidak paham, "Maksudnya dia ngasih tahu kamu jalan ke rumah aku gitu?"

Sakha menggeleng, "Bukan. Tapi karena aku lihat dia masuk rumah kamu, makanya aku juga ikutan masuk. Dia juga kayak nungguin aku di pintu rumah kamu, kayak kasih aku izin buat masuk." Ujarnya polos.

Sakha yakin, saat itu Naraya menatapnya seolah-olah dia sudah gila dan kehilangan akalnya. Tapi Sakha tidak peduli, karena memang begitulah kenyataannya! Poppy-lah yang membuatnya masuk ke dalam rumah Naraya, kucing itu seolah-olah memberinya lampu hijau untuk masuk. Karena itu dia berpikir sudah mendapatkan izin.

"Kayaknya mau hujan lebat, deh."

Oke, kembali ke saat ini.

Sakha menatap Naraya yang duduk di kursi teras bersamanya, perempuan itu menatap ke atas langit yang sudah dihiasi kumpulan awan hitam.

"Iya. Poppy belum pulang."

Naraya menoleh heboh, "Iya, bener! Poppy belum pulang!" Dia berseru heboh dan langsung mengenakan sendalnya.

"Aku cari Poppy dulu, ya. Kamu tunggu di dalam aja."

"Eh, tunggu--" Tapi sayang, Naraya sudah keburu berlari sambil meneriaki nama Poppy.

Sakha menekuk bibirnya, kesal karena ditinggal Naraya seperti ini. Karena malas di luar, pria itu pun masuk ke dalam rumah.

Bisa dibilang, ini kali pertama dia sendirian di rumah ini. Karena dia selalu bersama Naraya, lebih tepatnya selalu mengekori perempuan itu. Rasanya jadi sepi kalau tidak ada Naraya, Sakha tidak terbiasa sendirian di rumah ini.

Kalau diperhatikan seperti ini, rumah ini tampak sepi dan kosong. Saat bersembunyi ke dalam rumah ini, Sakha hampir mengira rumah ini adalah rumah kosong. Karena dia tidak merasakan adanya tanda-tanda kehidupan di dalam rumah ini. Mungkin... Aura kesepian yang saat itu sangat terasa.

"Seperti lukisan yang kosong," katanya.

Sakha menulusuri rumah ini dan langkahnya terhenti saat melihat pintu kamar yang paling ujung, kamar dari baju pria yang diambil Naraya. Sejujurnya Sakha penasaran, baik Naraya maupun dirinya tidak menceritakan mengenai keluarga masing-masing. Informasi yang Sakha dapat dari pak RT, Naraya itu tinggal sendirian. Lalu kenapa ada baju laki-laki? Sakha cukup yakin kalau itu bukan baju ayah Naraya.

Karena penasaran yang merasuki pikiran, Sakha pun menekan gagang pintu yang ternyata tidak dikunci. Saat pintu terbuka, terdapat sebuah lemari kayu dan sebuah kasur. Ada beberapa kotak yang tampaknya berisi. Kamar ini terlihat seperti gudang dengan debu-debu yang berterbangan di udara.

"Uhuk! Uhuk!" Pria itu mengibas-ngibaskan tangannya saat ada debu yang masuk ke mulutnya.

Mata Sakha langsung tertuju pada sebuah kotak yang bertuliskan nama 'Naraya Adisti'. Dia tahu dia tidak boleh membuka kotak itu dengan sembarang, dia tahu itu. Tapi rasa penasarannya terlalu kuat sehingga dia memilih untuk memuaskan rasa penasaran itu dengan membuka kotak kayu berukuran sedang tersebut.

Pria itu duduk di atas kasur berdebu dengan kotak yang berada di atas pangkuannya. Saat dibuka ada sebuah seragam putih abu-abu yang tampak lusuh. Ada juga sebuah surat. Rasa penasaran Sakha semakin besar dan diapun membukanya.

Mata Sakha bergerak membaca surat itu. Makin ke bawah, isinya semakin membuat Sakha tidak dapat berkata-kata, pria itu terdiam dengan hati seperti ditusuk-tusuk duri karena isi surat tersebut. Surat itu sangat panjang... Panjang sekali, sampai beberapa lembar.

Saat Sakha ingin membalikkan surat pertama untuk membaca surat yang di bawahnya, tiba-tiba seseorang langsung menarik surat itu dengan kasar.

"Ngapain kamu?"

Suara bernada dingin itu menyelusup ke dalam gendang telinga Sakha. Pria itu takut-takut mendongak, "Na-Naraya... Aku--"

"Aku apa?"

Naraya menatap Sakha dengan sorot mata yang tak pernah pria itu lihat sebelumnya. Perempuan itu memang sering menatapnya marah, tapi kali ini tatapan nya berbeda. Sampai membuat Sakha merinding.

"Kamu belum ada di sini satu minggu dan kamu udah berani buka-buka kamar dan barang pribadi saya?"

Naraya menggunakan kata 'saya' lagi kepada Sakha. "Aku penasaran..."

"Penasaran?" Naraya tertawa sinis, "Terus karena penasaran kamu boleh buka-buka seenaknya?"

Sakha berdiri dan menatap kesal Naraya, "Aku tahu aku salah. Tapi seharusnya kamu nggak semarah ini."

"Jelas aku marah!" Naraya berteriak, matanya mulai memerah karena menahan tangis. "Aku enggak suka kamu pegang-pegang barangku seenaknya! Dan ini, kamar ini bukan punyaku maupun punya kamu!"

Pria itu menggigit bibirnya kuat-kuat. Hanya karena dia membuka kamar ini, Naraya menjadi sangat marah? Dan lagi, apa maksudnya bukan kamar miliknya?

"Kenapa kamu marah banget? Aku kan cuma--"

"Asal kamu tahu, ini bukan rumah kamu, yang bisa seenaknya kamu buka-buka kamarnya maupun isinya!"

Sudah cukup! Sakha merasa tidak dihargai lagi hanya karena tinggal di rumah ini.

"Kamu keterlaluan Naraya!" Dan kemudian tanpa ada sepatah kata lagi, Sakha meninggalkan Naraya sendirian dengan berbagai perasaan yang campur aduk.

Sakha masih tersulut emosi karena merasa tidak ada harga diri di depan Naraya. Hanya karena dia tinggal beberapa hari di rumah itu.

Di tengah hari yang mulai gerimis, Sakha berjalan dengan perasaan marah dan kalut yang mendominasi dirinya. Dia kesal dan terus berjalan, berharap rasa marah itu bisa hilang karena dia sudah menjauhi Naraya.

Apa tidak bisakah Naraya memberitahunya pelan-pelan kalau dia tidak suka barangnya disentuh orang lain? Mereka bahkan tidak pernah membahas ini sebelumnya, tapi dia bertingkah seolah-olah sudah memberitahu Sakha hal-hal apa saja yang dia tidak suka. Bagaimana Sakha bisa tahu kalau Naraya tidak bicara? Ya, memang sih salahnya karena menyentuh barang orang lain tanpa izin.

Dan juga surat itu. Surat yang baru satu lembar Sakha baca itu, membuatnya sedikit merasa bersalah. Surat yang membuat hatinya ikut merasa sakit saat membacanya.

"Eh, ini dimana?" Sakha baru sadar kalau dia sudah berjalan terlalu jauh saat melihat gang buntu di depan matanya.

Sakha mulai panik dan menatap ke sekelilingnya. Dia dimana? Dia dimana?! Astaga! Sakha itu buta arah, apalagi dia tidak sadar memilih jalan. Bagaimana dia bisa kembali nanti?

Hati Sakha yang awalnya diisi dengan amarah kini lambat laun berganti dengan ketakutan. Ditambah suara petir yang semakin membuatnya gemetaran dan hujan yang semakin lebat. Pria itu pun berjongkok dan menutupi telinganya.

"Ma... Mama..." Gumamnya.

Nafas pria itu mulai sesak beriringan dengan hujan yang kian melebat membasahi tubuhnya. Petir, dia phobia petir.

Bayangan-bayangan masa lalu mengisi pikirannya saat mendengar suara petir itu, menggeser wajah Naraya yang tadi membuatnya marah.

"Mama! Jangan tinggalin aku!"

Sakha tak dapat membedakan masa lalu dan masa kini. Dia takut...

Takut kalau akan ditinggalkan lagi.