"Kau tahu satu hal yang kau tidak ketahui, dan alasan kenapa aku membawa Ibu ke kamar itu, Gob?" Anne pun akhirnya berbicara, Gob tampak menoleh, kemudian dia memandang Anne dengan sempurna.
"Setahuku, ruangan itu adalah ruangan istimewa, ruangan sakral, ruangan kesukaan dari Pak Fabian, ketika Pak Fabian sedih, bahagia, atau apa pun itu tempat yang pertama dia tuju adalah ruangan itu, sosok yang pertama kali diajak bicara adalah sosok yang ada di dalam bingkai foto itu meski kita sendiri tidak tahu siapa, dan ada satu hari dalam setiap tahun Pak Fabian akan berada di sana dan mengunci dirinya sepanjang malam di dalam ruangan itu, aku tidak tahu seistimewa apa ruangan tersebut bahkan siapa sosok di balik bingkai foto yang ada di sana, aku sangat penasaran karenanya,"
"Aku tahu foto siapa yang ada di sana," Anne kembali membuka suara, Gob kembali menoleh kepada Anne, dia pun mengerutkan keningnya. "Kau tahu, saat pertama kali ruangan itu dibuat dan dihias dengan sedemikian rupa, semua serba ungu dan sangat manis, aku adalah satu-satunya orang yang mengurus kedatangan bingkai foto itu ketika hendak dipajang di sana, Gob. Dan kamu tahu siapa sosok yang ada di foto itu? Sosok itu adalah Ibu Keyra,"
"Apa? Kau jangan bercanda, Anne. Bahkan foto itu ada, tepat tak lama setelah Pak Fabian menempati rumah ini, dan jarak dari pernikahan dan kedatangan Ibu Fabian di sini cukup lama, kau tahu,"
"Ya, aku tahu … aku tahu dengan sangat jelas. Meski sekarang Pak Fabian melarang siapa pun untuk membuka gorden dari foto tersebut, tapi saat foto itu datang aku kebetulan tak sengaja melihatnya, dan memang sosok yang berada di foto itu adalah Ibu Keyra, wajahnya, matanya, senyumnya, dan semuanya itu benar-benar sama. Dia mengenakan kalung jamrud berwarna ungu, itulah yang aku ketahui pada foto itu. Itu sebabnya ketika kau mengatakan kepadaku untuk menyapa Ibu yang ada di pavilion pembantu, aku cukup kaget dan terkejut, aku berpikir jika pada akhirnya Tuan Fabian telah membawa pulang wanita yang begitu dia cintai itu kesini, itu sebabnya aku mengajaknya ke rumah utama dan hendak menunjukkan foto itu, agar setidaknya Ibu Keyra tahu kalau Pak Fabian begitu mencintainya. Namun siapa sangka, Gob, siapa sangka jika Pak Fabian malah bersikap seperti itu, apa yang dia lakukan benar-benar berada di luar dugaanku dan aku tidak tahu harus berbuat apa saat itu. Sampai aku berpikir apakah aku salah? Tapi aku yakin jika aku tidak salah sama sekali, mataku cukup normal untuk melihat foto sebesar itu dan aku tidak pikun, ingatanku masih bekerja dengan cukup baik, Gob,"