Girleon sudah menyiapkan jurus yang sudah diasahnya berhari-hari. Ia tak tahu apakah ia bisa menghentikannya? Apakah dia akan selamat? Ataukah tumbang, yang dia tahu, hanya dia yang bisa mencobanya. Gir memilih posisi jauh di belakang para prajurit militer Negeri itu. Karena dia hanya mengandalkan bantuan kekuatan alam, serta dia hanya memiliki senjata tongkat, jika Gir berdiri di depan pun, akan membahayakan dirinya, dengan adanya meriam dan senapan militer lawan yang bisa dengan cepat membantainya tanpa menyentuhnya.
Jauh di depan sana sudah ada ribuan pasukan militer berderet-deret menggunakan seragam serempak hijau tua mengagumkan mata. Prajurit militer yang tersisa ini telah disiapkan fisik dan mentalnya oleh Panglima dan Jenderal-jenderal terkemuka nan pemberani yang siap mati demi melindungi Negeri ini, namun semua yakin, meskipun jenderal dan panglima yang sangat tangkas itu, mengenai jumlah, persenjataan, peralatan perang sangatlah tidak memadahi dan tidak berimbang. Jumlah dan keadaan yang tidak berimbang ini sungguh tidak menjadikan jiwa pemimpin-pemimpin dan prajuritnya itu tumbang, bahkan semakin berkobar di medan perang, untuk membalaskan kepedihan yang Musuh torehkan.
"NEGARA LAWAN SUDAH MULAI TAMPAK DARI KEJAUHAN" Teriak salah seorang prajurit yang bertugas mengawasi dari jarak jauh menggunakan teropong binocularnya.
Girleon memejamkan mata mencoba menembus kekuatan gaibnya. Dia menyatukan tenaga dalam dengan alam di sekitarnya. Tongkat panjang dengan kemilaunya itu ia hunuskan dan tancapkan dengan kuat di daratan sisa darah berliter-liter tumpah ruah. Terguncanglah bumi sebentar itu. Dia berbisik kepada angin. Dia bersuara kepada udara. Dia memohon kepada sang Dewa, dia menyentuh langit dengan getaran spiritualisme-nya demi hari ini, untuk hari ini saja.
"Dewa kabulkan keinginan hamba-hambaMu ini. Berikan aku kekuatan Maha DahsyatMu untuk menggulung kedzaliman dan kesombongan segelintir manusia ini dengan izinMu" Bisiknya lirih dalam hati namun sinyalnya mencuat tinggi menembus langit.
Tetiba saja suara gemuruh angin mulai terdengar dari segala arah, seakan pasukan angin juga mulai berjalan menuju sang tuan yang memanggilnya, semakin lama semakin mendekati dirinya.
Meskipun dari arah lawan tampak sangat lengkap persenjataan, mereka menggenggam kepercayaan diri yang kuat bahwa kemenangan akan ada dalam gendongan Negara Adidaya itu.
Malang melintang beterbangan pesawat-pesawat tempur dan helicopter yang siap siaga menjatuhkan amunisinya untuk menggempur tanah yang sudah tandus ini.
Meriam-meriam besar menggelinding berbaris rapi seakan seperti monster yang kapan saja memuntahkan bom-bom didalam perutnya. Tak kalah menekan ketakutan ketika melihat para prajurit militer yang memiliki fisik lebih dari pasukan negeri ini, mereka dikalungi ratusan longsongan peluru dan bergelantungan bola-bola granat. Senapan-senapan berkualitas itu mereka pegang erat seakan menambah kesadisan mereka yang siap memberondong siapa saja sesuai perintah. Suasana semakin menegang.
Sementara itu ... didalam base camp,
tidak ada yang bisa dilakukan mereka kecuali hanya menunggu korban dan menindaknya, kecuali mendoakan kemenangan Negaranya dan menangani setelahnya.
Airen dan Narez berdiri di barisan prajurit perempuan, tegang dengan jantung dan keadaan yang berdebar-debar, hanya ada dua pilihan menang atau kalah dan hidup ataukah mati. Aire berusaha menahan gejolak dalam hatinya bahkan ia menahan air matanya namun tak mampu. Betapa ia teringat perbincangan bersama semuanya semalam. Gir mengatakan kepada semua yang ada di sini bahwa pertarungan besok adalah yang mendebarkan juga baginya, karena dia juga belum pernah menghadapi semacam ini. Yang paling memilukan adalah penekanannya pada sebesar apa kekuatan yang ia keluarkan, akan selemah itu juga tenaga terkuras, itupun kalau masih berhasil hidup. seperti yang telah disampaikan kepada dirinya kala itu. Ia bisa sampai tertidur lama, sepuluh jam atau sepuluh hari, sepuluh pekan, bahkan butuh sepuluh tahun untuk memulihkan tenaganya.
"Apa kau bisa mati, Gir?"
"Tentu saja, aku punya darah dan daging, aku bisa mati karena bom, peluru atau pedang."
"Kau tidur sepuluh tahun tanpa makan dan minum? Apa masih bisa bertahan hidup?"
"Aku tak tahu karena belum pernah tertidur sepuluh tahun, itu cerita Pamanku."
"Kalau kau tertidur selama itu, apa yang harus kami lakukan untuk membantumu?"
"Aku juga tak tahu. Waktu pamanku bercerita aku tak menanggapi serius, karena aku pikir tak akan mungkin terjadi padaku, tapi aku salah. Sekarang aku dalam posisi ini dan aku tak tahu apa yang harus dilakukan."
Begitulah tanya jawab di dalam base camp saling bersautan, dan terdengar sedikit menegangkan.
Airen sudah tak mampu lagi memendam tangisnya, atas semua yang ia dengarkan.
"Bagaimana jika dia mati? Ataupun tertidur sepuluh tahun. Dia tak dapat membayangkan kehilangan lelaki itu. meskipun andaikata hanya sepuluh tahun ia tidur, bukan mati.
Gie masih serius mengatakan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi, sedangkan Airen beranjak pergi untuk menutupi kesedihan hatinya mendengarkan itu semua. Dia pergi ke kamar mandi, disana ia berdiri dibalik pintu menumpahkan semua air matanya, lalu ia meringsut terduduk dilantai sambil menutup wajahnya lalu menangis sejadinya menumpahkan kesedihan hatinya. Ia tak tahu apa yang sebenarnya ia rasakan sehingga mendengarkan itu membuatnya begitu sedih. Dia sadar Girleon tak pernah mengatakan apa-apa kepada dirinya, tapi kenapa dia jadi merasa kehilangan begini? Ia merasa kehilangan sebelum lelaki itu hilang dengan sesungguhnya.
"Tok ... tok ... tok ...." Suara ketukan pintu tiba-tiba, membuat air matanya menyurut, ia seka dengan jemarinya lalu mengusap hidungnya yang juga berair. Ia percikkan air dari kran agar menyamarkan rona bekas tangisannya.
Ia sangat terkejut ketika yang berdiri dihadapannya ketika membuka pintu itu, di luar pintu telah berdiri Gir. Bola mata Airen membesar dan mulutnya ternganga, tapi dia segera menunduk dan hendak bergegas meninggalkan Gir, ia mengira Gir antri masuk kamar mandi.
Tangan mungil itu dicegahnya untuk berlalu pergi, dia arahkan lagi tubuh Airen sehingga berhadapan lagi dengannya.
"Kamu menangis?" Airen menggeleng tak mau berkata-kata.
"Kamu menangis, aku mendengarkan sendiri," tuduh Gir membuat Airen menunduk berkaca-kaca lagi tak berani menatapnya kembali. Tanpa gadis itu kira, Gir langsung menarik gadis itu ke dalam dekapannya. Sebenarnya hati Gir juga tak jauh beda sangat sedih dan megkhawatirkan apa yang terjadi esok hari, apa yang akan menimpa dirinya? Dia juga tak mau jika kehilangan gadis cantik nan baik budi ini. Airen tak kuasa berteriak dan menangis dengan suaranya dalam dekapan lelaki ini. Ia merasakan sesaknya dada. Meskipun keduanya tak tahu apa yang terjadi dengan diri keduanya? Perasaan keduanya? tapi mereka mengakui atau tidak, meskipun tanpa kata-kata sebelumnya, mereka berdua sudah saling terpaut.
"Bagaimana kalau kau mati? Aku tak akan bisa menerimanya,"
"Bagaimana kalau kau tidur meniggalkan aku sepuluh tahun? Kau bilang tak bisa menua, sedangkan aku menunggumu menjadi tua. ketika kamu siuman usiaku telah jadi 30 tahun, dan kamu masih 20 tahun?" Airen terus menuangkan buliran-buliran halus dari matanya.