webnovel

dave.pov

aku tidak terlalu berharap dengan rencanaku yang cerdik namun bodoh ini berhasil. rencana ini muncul begitu saja ketika melihat foto gadis itu, clara budiman, perempuan yang menabrakku kapan itu. kukira dia masih sma, ternyata usianya sudah hampir dua puluh tahun. namun siapa sangka kalau perempuan itu menerima lamaranku begitu saja. ya, dengan menikahi clara budiman aku pasti dapat menguasai restoran itu, tinggal membuat carlie budiman --atau kupanggil saja papa mertua-- mati secepatnya, lalu restoran itu akan jatuh ke tangan clara. clara sudah berada dalam genggamanku, sangat mudah untuk menyingkirkannya dan restoran itu menjadi milikku. dengan begitu restoran itu takan kotor dengan noda-noda dari dunia hitam, hanya sedikit sentuhan kejahatan tanpa perlu melibatkan dunia hitam.

seandainya clara tidak menerima lamaranku aku sudah merencanakan membeli restoran itu dengan nominal yang banyak dan jika tidak berhasil dengan sedikit paksaan seperti menculik clara bisa jadi pilihan. tapi siapa yang sangka kalau rencana awalku berhasil?

sebenarnya aku agak kaget juga perempuan itu mau menerima lamaranku, di usianya yang semuda itu apakah dia tidak punya mimpi tinggi atau apa tapi memilih berhenti kuliah lalu jadi pengangguran. hm.... mungkin juga dia menerimaku karena takut kalau-kalau tidak ada yang akan menikahinya karena dia hanya anak manja pengangguran yang hanya bisa menghabiskan uang orang tua lalu berakhir menjadi perawan seumur hidup. kalau memang itu alasannya dia harus berterima kasih padaku karena aku menyelamatkannya dari kemungkinan itu. clara sama sekali tidak pernah bertemu denganku setelah lamaran itu, semua urusan yang berkaitan dengan pernikahan diwakili oleh seorang asisten, dan tibalah hari ini saat kami melangsungkan pernikahan kami clara tampak syok saat melihatku, mungkinkah dia tidak mencari tahu terlebih dahulu siapa calom suaminya? benar-benar gasis bodoh.

selama resepsi kami hanya saling diam tanpa berkata-kata. dan kini aku sedang menyaksikan adegan yang menjijikan. clara sedang menangis di hadapan papanya karena tidak mau berpisah dengannya.

"papa.... clara tetep tinggal disini aja ya pa, boleh ya pa, boleh...." rengek clara. sementara papanya sepertinya juga enggan melepaskan putrinya.

"clara, kamu sekarang sudah bersuami, sudah saatnya berpisah dengan papa, kamu udah dewasa juga, apa gak malu nempel sama papa terus? papa yakin dave akan buat kamu bahagia" kata papa mertuaku. huh, benar-benar orangtua yang baik.

"kenapa clara harus malu? clara kan anaknya papa, buat apa malu nempel sama papa" protes clara. papa mertuaku tersenyum, lalu mengusap wajah anaknya yang penuh air mata dengan lembut.

"kamu benar, tidak ada alasan untuk malu menempel sama papa, tapi sekarang saatnya kamu ganti tempat untuk menempel, tempat kamu menempel sekarang dave, suami kamu. papa gak pernah meminta apapun dari kamu, kali ini aja papa minta kamu untuk jadi istri yang baik dan selalu menemani dave sampai tua nanti apapun yang terjadi, sanggup?" tanya papa mertuaku. andai dia tau apa yang akan kulakukan nanti pada anaknya, mungkin dia takan mengatakan ini, melainkan akan berkata untuk membunuhku sesegera mungkin.

"sanggup pa, tapi sebelum itu...." clara memeluk papanya, papanya pun membalas pelukannya, sangat erat sepertinya, kuperkirakan clara akan segera mati dalam beberapa menit jika tidak segera melepaskannnya.

"makasih pa, udah jadi papa yang baik buat clara, akhirnya clara bisa ucapin ini ke papa, clara sayang papa" sungguh mengharukan hubungan papa-anak itu hingga membuatku muak.

akhirnya adegan itu berakhir setelah papa mertuaku melepas pelukannya. baru beberapa langkah clara berjalan ke arahku, datang dengan tergopoh-gopoh wanita paruhbaya yang sepertinya merupakan pembantunya. lagi-lagi mereka berpelukan dan menangis ria, sungguh menjemukan, lebih baik aku segera berpamitan dengan papa mertuaku untuk mempersingkat waktu.

aku mendekati papa mertuaku.

"nak, papa percaya kamu bisa menjaga clara dengan baik, papa percayakan clara kepada kamu sepenuhnya, tegur kalau dia salah, supaya di bisa lebih dewasa, yang terpenting jangan sampai dia merasa kelaparan" kata papa mertuaku.

"terimakasih papa sudah memercayai saya, saya akan berusaha dengan baik, dan tentu saja saya tidak mungkin membuat clara kelaparan" kataku, ayolah yang benar saja, semiskin itukah aku di mata carlie budiman sampai akan membuat clara kelaparan?

"papa serius, jangan sampai clara merasa lapar" oke, tatapannya yang serius agak menakutkan untuk ukuran orang seperti carlie budiman.

"baik, saya akan mengingat itu, kalau begitu saya pamit" kataku karena clara sudah masuk ke mobilku. aku memasuki mobil dan mendapati clara masih sesenggukan dan terus mengusap hidung dan matanya. aku mencoba tidak peduli dan segera tancap gas meninggalkan kediaman keluarga budiman.

semakin menjauh dari rumah itu claravmulai menangis lagi dan itu sangat menggangguku.

"sampai kapan kamu mau nangis, tangisan kamu itu ganggu aku" ujarku tidak tahan.

"sampae air mataku habis, kamu diem aja" balas clara dan meneruskan acara menangisnya. dasar cewek sialan. untuk meredam suaranya yang mengganggu, kunyalakan tape keras-keras, mungkin sekarang ia sedang membatin tentang betapa kurang ajarnya diriku, tapi aku tidak peduli.

lama-kelamaan aku mulai tidak mendengar suara tangisan lagi dan ketika menoleh ke samping, dia sudah tertidur. dasar cewek bego.

Nächstes Kapitel