webnovel

First Clue

Alucard berjalan sendirian menuju perpustakaan Mansion. Waktu sudah menunjukkan tengah malam sejak makan malam berakhir. Tak biasanya malam ini sangat sepi, biasanya akan ada beberapa Nobilium yang masih berjalan-jalan di koridor dan halaman Mansion. Namun, saat seperti inilah yang diinginkan pemuda itu. Dia bisa leluasa memasuki perpustakaan tanpa terganggu adanya orang lain.

Ruangan itu tidak pernah terkunci. Aaron sengaja tak menguncinya agar para Nobilium tidak merasa kesulitan jika membutuhkan bahan bacaan di tengah malam untuk tugas lembur mereka.

Alucard menutup pintu rapat-rapat. Di dalam sangat gelap tapi dia tahu tak ada orang lain yang berada di ruangan itu. Dia sengaja tidak menyalakan lampunya dan segera mengaktifkan moda demon dalam dirinya. Matanya langsung menyala merah. Dengan kondisi seperti itu, Alucard bisa dengan mudah menembus kegelapan melalui penglihatan demonnya.

Dia berjalan menuju rak paling belakang. Dia mencari arsip-arsip tentang peperangan yang pernah terjadi di Calestine Land. Tidak mungkin kerajaan terbesar tidak memiliki arsip tersebut. Kemudian pandangan Alucard tertuju pada satu rak kecil yang berisi arsip-arsip yang terlihat usang. Semuanya adalah arsip lama yang berupa catatan perang dan motif penyerangan yang melatarbelakanginya. Alucard membalik satu demi satu halaman tetapi yang dicarinya tidak ada.

Sudah delapan arsip yang dia buka tetapi tak menemukan petunjuk apa pun. Hingga akhirnya dia sampai pada arsip terakhir di mana tercantum tulisan berjudul "Order of Imperial Knight". Alucard memadangi sejenak arsip itu. Dia kembali teringat sesuatu. Dengan ragu, dia membuka halaman pertama arsip itu. Di sana tertulis adanya serangan di Kota Empire oleh pasukan iblis yang menewaskan banyak orang, termasuk penyergapan dan pembunuhan terhadap dua Mentor paling hebat dalam Knight of Order pada masanya.

Alucard terpaku. Tulisan dalam artikel itu mengingatkannya akan balas dendamnya pada para iblis dan sekutunya. Dia bersumpah akan menghabisi setiap iblis yang dia temui. Tiba-tiba hatinya terasa sakit ketika membaca nama dua Mentor yang tertera. Sebelum terhanyut oleh perasaannya sendiri, Alucard merobek selembar halaman dari arsip itu. Dia ingin menyimpannya sendiri.

Merasa pencariannya tak membuahkan hasil, Alucard memutuskan keluar dari perpustakaan. Berbagai ingatan melintas di pikirannya, itu membuatnya sedikit terpengaruh sehingga emosinya berangsur naik.

"Alucard, kau di sini?"

Langkah Alucard terhenti. Dia melihat sosok yang berdiri beberapa meter di depannya.

Mata Alucard membulat. "K-King Estes?"

Estes tersenyum. "Kau sudah melupakanku, ya? Aku meminta Ruby menyampaikan pesanku padamu. Seharusnya kau datang mengunjungiku walau sebentar."

Alucard menggaruk kepalanya yang tak gatal. Dia terlalu sibuk dengan urusannya sendiri sehingga lupa akan rencananya datang menemui seseorang yang pernah menyelamatkan hidupnya di masa lalu.

"Maafkan aku, aku terlalu sibuk dengan pelatihanku," ucap Alucard beralasan.

"Apa yang kaulakukan di sini?"

"Aku... aku sedang mencari buku tentang pertahanan tapi semua yang ada di buku itu sudah kukuasai," jawab Alucard terbata.

"Syukurlah aku bertemu langsung denganmu di sini. Aku perlu bicara denganmu."

Pemuda itu mengangguk. "Baiklah."

***

Estes memberikan secangkir teh limun untuk Alucard. Dia berhasil membawa pemuda itu datang ke rumahnya karena pembicaraan ini akan sedikit lebih pribadi.

"Aku tidak menyangka Putri Miya akan ikut bersama anda ke sini. Sebelumnya aku sampai tidak mengenalinya karena penampilannya yang sangat berbeda," kata Alucard berbasa-basi.

"Dia yang memaksa ikut dan aku tidak bisa menolaknya."

Hening sesaat. Keduanya sama-sama menyesap teh limunnya.

"Kau sudah bicara pada Yang Mulia?"

"Belum."

"Ruby sudah menceritakannya padaku."

Alucard terdiam. Apa yang sudah gadis itu katakan pada Estes?

"Jangan salahkan gadis itu. Aku yang memaksanya mengatakan tujuanmu datang ke sini," imbuh Estes sebelum Alucard berpikir salah tentang sikap Ruby yang membocorkan tujuannya datang ke Calestine Land.

"Jadi anda tahu?"

Estes mengangguk. "Kau datang bukan untuk belajar, bukan untuk memperkuat ilmu. Tetapi kau datang hanya untuk menemui Raja Tigreal. Benar, bukan?"

Alucard tidak menjawab tapi apa yang diucapkan Estes memang benar.

"Kau sudah sangat dekat dengannya, jadi jangan buang waktumu lagi. Segeralah temui dia dan temukan jawaban yang kaucari itu," saran Estes.

Alucard menghela napas. "Disaat aku ingin menemuinya, dia selalu tak di tempat. Semoga saja aku bisa bertatapan wajah dengannya nanti."

Estes hening sesaat. Dia mengerti tentang kebimbangan Alucard terhadap Raja Tigreal.

"Biar kuberitahu, masa lalumu sudah lama berakhir. Jangan tenggelamkan dirimu lagi di masa itu karena itu bisa menjadi awal kehancuranmu. Aku yakin perasaanmu akan lebih baik saat kau bicara dengan Yang Mulia."

"Kurasa aku lebih suka melawan ratusan iblis daripada bertatap wajah dengannya. Tapi sayang aku tidak punya pilihan."

"Lalu apa yang kaulakukan setelah mendapatkan apa yang kaucari? Kau mau langsung pergi?"

"Benar. Aku harus melanjutkan perjalananku bersama Ruby."

"Kenapa kau tidak tinggal saja dan bergabung dengan mereka? Calestine Land membutuhkan orang sepertimu dan tujuanmu akan cepat tercapai jika banyak yang membantumu, bukan?"

Alucard menggeleng tak sependapat dengan saran Estes. "Aku tidak bisa berlama-lama di sini."

Estes tak berkomentar lagi. Alucard memang keras kepala dan saran apa pun tidak akan mengubah keputusannya. Lalu Estes menatap Alucard dengan tegas, ingin menanyakan sesuatu.

"Dan bagaimana jika seandainya yang kaucari itu sudah tidak ada? Kau masih tetap mau menjalankan misimu itu?"

Alucard tak percaya Estes menanyakan hal itu padanya. Dia kira sang Moon Elf King bisa memahami situasinya.

"Aku bukannya ingin melemahkan keyakinanmu, aku hanya memperingatimu. Kau tahu aku sangat peduli padamu dan juga Ruby, kan? Aku tidak ingin kalian menjatuhkan diri sendiri ke dalam bahaya."

"Selain Ruby, anda lah yang paling tahu bagaimana masa laluku, King Estes. Dan anda pun tahu aku tidak akan menyerah. Keyakinan dan harapanku masih tetap sama. Dan jika yang kucari memang sudah tidak ada lagi, itu merupakan satu kenyataan yang harus kuterima. Kuharap anda tidak berusaha membujukku lagi."

"Aku mengerti," kata Estes akhirnya.

Dia memilih untuk tidak mendebat perkataan Alucard lagi karena semuanya akan sia-sia. Pemuda itu akan tetap kekeh pada pendiriannya.

"Hari sudah larut malam. Bisakah kau bermalam di sini saja? Jangan khawatir tentang Miya, malam ini dia bermalam di Mansion."

Alucard mengangguk dan menerima tawaran Estes. Kebetulan dia juga sedang tidak ingin kembali. Dia selalu kesulitan untuk beristirahat karena tidak terbiasa tidur di kamar mewah seperti di Mansion.

Mereka kembali terdiam dan menyesap minumannya. Sama-sama terhanyut dalam pikiran mereka masing-masing.

Next chapter