Salah Jalur, Salah Dunia! : Salah Antre Dan Masuk Ke Dunia Yang Absurd
Leon tidak mati.
Tidak dipanggil dewi.
Tidak terpilih oleh takdir.
Dia hanya mengantre terlalu lama.
Saat menunggu giliran di sebuah antrean yang tidak jelas antre apa, Leon mendadak tersadar bahwa barisan itu bukan menuju loket dunia manusia—melainkan jalur administrasi dunia lain.
Tanpa ritual.
Tanpa sambutan.
Tanpa penjelasan.
Leon masuk ke dunia lain karena sistem salah input.
Di dunia baru ini, Leon tidak mendapat skill tempur, tidak menjadi pahlawan, dan tidak memiliki misi menyelamatkan dunia. Yang dia miliki justru kemampuan aneh yang membuat setiap tindakan kecilnya dianggap bermakna besar secara sosial dan politik.
Bersama Kael—partner satu-satunya yang terlalu serius, terlalu protektif, dan terlalu dekat untuk dianggap “teman biasa”—Leon hanya ingin hidup normal sebagai petualang kelas bawah.
Masalahnya?
Leon terlalu jujur,
terlalu netral,
dan terlalu menolak peran yang disodorkan dunia.
Akibatnya:
bantuan sederhana dianggap provokasi politik
diam dianggap strategi tingkat tinggi
niat baik dianggap gerakan bawah tanah
Tanpa sadar, Leon menjadi pusat konflik lintas wilayah—bukan karena ambisi, tapi karena dia tidak pernah minta izin untuk peduli.
Sementara elit berusaha mengontrol narasi dan menjebaknya secara hukum, rakyat justru mulai percaya pada satu hal yang membuat dunia ini gemetar:
“Orang yang bahkan tidak ingin berkuasa… tidak bisa dikendalikan.”