SATU TITIK #1.2
Gilang Kharisma adalah perwira kepolisian yang percaya pada prosedur, laporan, dan garis batas hukum. Ia bekerja rapi, berpikir tenang, dan meyakini bahwa sistem—meski kotor di beberapa sudut—tetap bisa dibersihkan dari dalam.
Keyakinan itu mulai runtuh ketika ia menangani serangkaian kasus kekerasan yang secara administratif tampak selesai, namun secara faktual menyisakan terlalu banyak kejanggalan. Data tidak sinkron. Saksi menghilang. Dan setiap langkah yang ia ambil justru memantul kembali sebagai peringatan halus agar berhenti menggali.
Penyelidikan Gilang membawanya pada simpul yang paling berbahaya: Rizal, sahabat lamanya, berjalan di jalur yang berlawanan, dengan cara yang tidak bisa diterima oleh hukum. Pertemuan kembali mereka membuka luka lama sekaligus memperlihatkan dua pilihan hidup yang tak bisa lagi dipertemukan.
Di titik akhir, Gilang berdiri sendirian. Operasi terakhirnya berjalan sesuai rencana resmi. Negara mendapatkan narasi yang dibutuhkan. Publik mendapatkan pahlawan yang gugur dalam tugas.
Namun kebenaran—tentang apa yang sebenarnya ia temukan dan siapa yang ia lawan—tidak pernah dicatat.
SATU TITIK adalah kisah tentang seseorang yang memilih tidak berhenti, meski tahu sistem tidak memberi ruang bagi orang-orang seperti dirinya. Sebuah novel tentang kesetiaan, persahabatan yang retak, dan harga yang harus dibayar ketika kebenaran hanya boleh hidup sejauh ia tidak mengganggu ketertiban.