Takdir Cinta Adisti
Ada cinta yang lahir dari tatapan sunyi, tumbuh di antara hujan, dan berakhir sebelum sempat menyebut nama dengan lantang.
Adisti tak pernah meminta cinta itu datang, tapi Anggara hadir seperti musim yang tak bisa ia tolak — meneduhkan, sekaligus meninggalkan dingin yang tak kunjung reda.
Waktu berjalan, kenangan memudar, namun satu hal tak pernah benar-benar hilang: rasa yang diam-diam menua bersama luka.
Ketika takdir kembali mempertemukan mereka di ambang kehilangan, Adisti harus memilih —
mengulang luka yang sama, atau belajar mencintai dalam cara yang tak lagi menuntut memiliki.
Karena kadang, cinta paling tulus justru yang tak sempat sampai. Dan dalam setiap hujan yang turun, nama itu... masih ada di dadanya.