Langit di Dalam Perut Ikan
Seorang pria yang selama ini hidup nyaman berusaha melarikan diri dari panggilan hidupnya. Ia menolak tanggung jawab yang menurutnya terlalu berat. Dalam pelariannya, sebuah peristiwa ekstrem menghentikan langkahnya—sebuah pengalaman yang membuatnya seakan berada di dalam “perut ikan”, tempat paling gelap dalam hidupnya.
Di sana, ia dipaksa menghadapi dirinya sendiri: ketakutan, ego, dan kemarahannya kepada Tuhan. Justru di titik terendah itu ia menemukan sesuatu yang tak pernah ia cari—makna hidup dan panggilan yang sebenarnya.
Arka adalah seorang jurnalis muda yang cerdas namun sinis. Ia percaya hidup hanya soal bertahan dan mencari kenyamanan. Ketika sebuah organisasi kemanusiaan memintanya meliput konflik kemanusiaan di daerah terpencil, ia menolak.
Alih-alih menjalankan tugas itu, ia memilih pergi ke kota lain untuk memulai hidup baru yang lebih “aman”. Namun dalam perjalanan, sebuah tragedi terjadi—kapal yang ia tumpangi mengalami kecelakaan di laut.
Arka selamat, tetapi terdampar dalam kondisi yang membuatnya terisolasi dari dunia luar. Hari-hari dalam kesendirian menjadi seperti “perut ikan”: gelap, sunyi, dan memaksa ia menghadapi dirinya sendiri.
Di tengah keputusasaan itu, Arka mulai mengingat alasan ia dulu menjadi jurnalis—bukan untuk karier, tetapi untuk menyuarakan mereka yang tak terdengar.
Ketika akhirnya ia kembali ke dunia, Arka tidak lagi menjadi orang yang sama. Ia memilih pergi ke tempat yang dulu ia hindari: wilayah konflik yang membutuhkan suara kebenaran.
Ia sadar, kadang manusia harus tenggelam dulu dalam kegelapan sebelum melihat langit.