Crimson Warden of Eternal Night
Melalui dokumen-dokumen lama yang tidak pernah dimaksudkan untuk dibaca ulang, mimpi-mimpi yang terasa terlalu utuh untuk sekadar bunga tidur, dan perjumpaan dengan orang-orang yang hidupnya dibentuk oleh keyakinan, kehilangan, dan pilihan yang tak pernah benar-benar mereka pahami, Joshua perlahan menyadari satu hal:
masa lalu tidak pernah benar-benar pergi.
Ada sesuatu yang terus berdenyut di bawah permukaan dunia yang tampak tenang—jejak keputusan lama, pengorbanan yang dibenarkan, dan sistem yang dibangun dengan keyakinan bahwa masa depan dapat ditebus dengan harga apa pun. Segalanya tampak tertata, bersih, dan masuk akal. Namun justru di sanalah rasa ganjil itu tumbuh.
Di tengah semua itu, Joshua berdiri sebagai sebuah paradoks.
Ia hidup, tetapi tidak sepenuhnya merasa menjadi bagian dari kehidupan.
Ia masih mampu merasakan empati, namun memilih menahannya—bukan karena kejam, melainkan karena itulah satu-satunya cara untuk terus melangkah tanpa hancur.
Semakin ia mendekati inti dari apa yang tersembunyi, semakin jelas bahwa kebenaran bukanlah sesuatu yang memberi kelegaan. Ia tidak datang sebagai jawaban, melainkan sebagai beban yang menuntut sikap.
Dan pada akhirnya, pertanyaan yang tersisa bukan lagi tentang apa yang pernah terjadi, melainkan tentang batas yang seharusnya tidak dilampaui:
Apakah manusia berhak menentukan makna hidup dan mati—
atau mereka hanya mengganti satu bentuk kehancuran dengan bentuk lain yang lebih rapi?