ISABEAU
ISABEAU
Kecantikan adalah Kutukan, Kelaparan adalah Tuhan.
Di bawah langit Vallerose yang meranggas, seorang dewi lahir di atas tanah retak. Isabeau Alénor Montferrand memiliki kulit seputih porselen mahal dan mata topaz yang sanggup menyesatkan jiwa para pendeta. Orang-orang memanggilnya Bella, sebuah nama indah yang terdengar seperti penghinaan di tengah kemelaratan yang mengepungnya. Kecantikan itu hanyalah lelucon bagi takdir. Bella tidak lahir di atas ranjang beledu, melainkan di gubuk sempit yang pengap, di mana napas ibunya yang kurus menjadi satu-satunya lagu pengantar tidur.
Dunia abad ke-19 yang dingin tidak memberi ruang bagi kepolosan. Bella belajar mencuri koin sebelum ia belajar membaca doa. Ia menyaksikan ayahnya menjual martabat dalam lembaran-lembaran foto asusila demi sepotong roti, sebelum akhirnya pria itu tewas bersimbah darah di gang gelap yang busuk. Kepergian sang ayah meninggalkan warisan berupa rasa malu yang membakar dan dendam yang membeku.
Membawa luka itu, mereka melarikan diri ke Althevarre. Namun, di kota pengasingan ini, Bella justru menjadi mangsa yang terlalu "terang" di tengah penduduk yang berwajah keras.
Perbedaan memicu iri. Iri mengundang kebencian. Dan kebencian melahirkan kekerasan.
Kecantikannya yang lembut memicu badai; ia diseret ke lantai, dikeroyok, dan dihina karena kulit putihnya dianggap sebagai kesombongan. Setiap pukulan itu mematikan nuraninya. Bella berhenti menangis. Ia mulai membalas. Baginya, melukai orang lain kini hanyalah tindakan mekanis untuk bertahan hidup di dunia yang ingin melihatnya hancur.
Tahun-tahun berlalu, Bella memoles lukanya menjadi senjata. Ia meninggalkan kemiskinan Althevarre menuju kemewahan Elysden. Di kota industri ini, ia memanjat tangga sosial sebagai jurnalis manipulatif, menjerat Dorian Alistair Ravenshade—seorang pria berkuasa yang telah beristri—ke dalam jaring-jaring hasrat yang beracun. Ia tidak mencari cinta; ia mencari keamanan.
Namun, saat dunia mulai bertekuk lutut, tubuh Bella mengkhianatinya. Wabah Tuberkulosis merayap di paru-parunya, membakar setiap napas dengan darah. Skandalnya terbongkar, kekuasaannya runtuh, dan ia dibuang ke pesisir Briarvale untuk menjemput maut dalam sunyi.
Dunia mengira ia telah jinak. Mereka salah.
Di sela rak buku tua perpustakaan yang berdebu di Briarvale, Bella bertemu dengan sosok yang tak seharusnya ada di sana: Alaric Thorne de Ardenthal. Sang Putra Mahkota dengan mata biru sedingin es dan reputasi setajam pedang. Alaric bukanlah pria biasa yang mudah terpikat; ia adalah penguasa pragmatis yang terbiasa melihat kebohongan di balik wajah cantik. Alaric menawarkan apa yang paling dibutuhkan Bella: waktu, perlindungan, dan obat yang mampu menunda jemputan maut. Namun, imbalannya jauh lebih berbahaya daripada penyakit itu sendiri. Bella harus menjadi "bayangan" sang pangeran—mata yang menembus celah-celah busuk kekaisaran Ardenthal, telinga yang mendengar bisikan pengkhianatan di balik panggung sandiwara istana yang megah.
Kini, Bella berdiri di tepi jurang antara napas terakhir dan takhta yang berlumuran darah. Di balik sisa napasnya yang mencekik, ia menyadari sebuah kebenaran mutlak; demi terus bernapas, ia harus menelan racun, menjual sisa jiwanya, dan menjadi monster yang jauh lebih mengerikan daripada maut itu sendiri.