REMON
Bagi Remon, kebahagiaan memiliki aroma yang sangat spesifik , perpaduan antara bau aspal hangat setelah hujan dan wangi jaket tua milik Ainur. Selama bertahun-tahun, dunia Remon hanya seluas teras rumah dan bukit kecil tempat mereka berdua selalu duduk diam menatap matahari terbenam. Di sana, di bawah semburat warna oranye yang membasuh bulu emasnya, Remon merasa aman. Ainur bukan sekadar pemilik, ia adalah seluruh kompas kehidupan bagi seekor anjing yang pernah dibuang.
Namun, takdir tidak pernah meminta izin untuk berubah.
Dalam satu malam yang penuh raungan sirine dan pecahan kaca, dunia Remon yang hangat seketika membeku. Sebuah tragedi memisahkan mereka dalam sekejap mata, melemparkan Remon ke sebuah kota asing yang dingin, jauh dari aroma rumah yang ia kenali. Ia terbangun sebagai anjing jalanan yang tak punya siapa-siapa, di tengah hutan beton yang tidak peduli pada kerinduannya.
Banyak yang mengatakan bahwa anjing yang tersesat akan menyerah pada nasib, namun Remon berbeda. Dengan kaki yang gemetar dan hati yang hancur, ia memulai sebuah perjalanan mustahil. Ia harus menempuh ratusan kilometer, menghadapi kelaparan, hantaman badai, hingga kekejaman manusia, demi satu tujuan "kembali ke bukit itu sebelum cahaya oranye terakhir menghilang."
Ini bukan sekadar petualangan tentang bertahan hidup. Ini adalah narasi tentang sebuah janji yang tak terucap, tentang jejak-jejak kaki yang dipandu oleh cinta, dan pembuktian bahwa bagi seekor anjing, "pulang" adalah satu-satunya jalan untuk tetap hidup.