Maharaja Keris Tanpa Bilah
Di dunia Andalasraya, takdir seseorang ditentukan oleh warna nadinya saat lahir. Kaum Wangsa Kencana yang bernadi emas hidup mewah di pulau-pulau yang melayang di angkasa, menikmati kelimpahan energi Prana. Sementara kaum Wangsa Lumpur yang bernadi hitam harus hidup merangkak di permukaan bumi yang gelap, menjadi budak tambang dan santapan monster.
Jati, seorang pemuda Paria dari desa kumuh di Dunia Bawah, memiliki nasib yang lebih buruk dari sampah. Ia lahir dengan kondisi langka: "Wadah Kosong"—tanpa nadi energi sama sekali. Dianggap cacat dan tak berguna, Jati hanya punya satu tujuan: bertahan hidup demi adiknya yang sakit keras.
Namun, takdirnya berubah total saat darahnya menetes ke sebuah gagang keris kayu hitam yang ia temukan di hutan terlarang.
Gagang itu tidak memiliki bilah besi, melainkan dihuni oleh Ki Sancaka, jiwa Panglima Perang legendaris dari masa lalu yang haus dendam. Bagi dunia, Jati adalah sampah. Tapi bagi Ki Sancaka, tubuh kosong Jati adalah wadah sempurna untuk mewarisi "Ajian Penelan Semesta"—ilmu terlarang yang memakan energi musuh untuk memperkuat tubuh sendiri.
"Jika langit tidak memberimu jalan, maka belahlah langit itu dan jadilah Rajanya!"
Bermodalkan gagang keris buntung dan bimbingan hantu yang licik, Jati memulai pendakian brutal dari lumpur menuju awan. Dalam perjalanannya menantang para Dewa, Jati tidak hanya merebut kekuatan, tetapi juga hati para wanita terkuat di dunia: Tabib desa yang lembut, Pendekar wanita penggoda, Jenderal pemberontak yang ganas, hingga Putri Mahkota yang angkuh.
Ini bukan sekadar kisah tentang menjadi kuat. Ini adalah kisah seorang budak yang meruntuhkan kahyangan untuk membangun istananya sendiri.