Di Antara Dua Musim
Americano tanpa gula. Setiap hari. Tanpa gagal.
Raka, 19 tahun, barista paruh waktu di kedai kopi kecil kawasan Sudirman, tidak pernah mengira bahwa pelanggan yang salah mengambil pesanan orang lain itu akan mengubah cara ia melihat dirinya sendiri.
Dimas, 25 tahun, analis bisnis yang hidupnya terstruktur sampai ke detail terkecil - termasuk rahasia yang sudah bertahun-tahun ia simpan rapat-rapat.
Yang dimulai dari pesanan kopi yang sama setiap hari, berkembang menjadi percakapan tengah malam, makan siang di warung tanpa nama, dan kejujuran-kejujuran kecil yang perlahan-lahan mengisi ruang di antara mereka.
Tapi Jakarta tidak pernah sesederhana perasaan seseorang di dalamnya.
Ada keluarga yang menunggu dengan ekspektasinya. Ada dunia yang belum aman untuk hal-hal tertentu. Ada dua orang yang sama-sama belajar cara mengakui sesuatu kepada diri sendiri - di waktu yang berbeda, dengan kecepatan yang berbeda, dengan beban yang tidak pernah benar-benar sama beratnya.
Antara Dua Musim bukan cerita tentang cinta yang menyelamatkan segalanya.
Ini cerita tentang dua orang yang, untuk satu periode waktu di kota yang tidak pernah tidur, belajar cara menjadi jujur - kepada diri sendiri, kepada satu sama lain, kepada semua yang tidak bisa dijanjikan dan semua yang tidak bisa dikembalikan.
Tidak semua hal yang nyata punya akhir yang rapi.
Tapi nyata tetap nyata.
Dan itu sudah cukup.
"Ada hal-hal yang tidak perlu nama untuk menjadi nyata. Dan ada hal-hal yang menjadi lebih nyata justru ketika akhirnya diberi nama."