webnovel

CINTAI AKU SEPENUHNYA 18+

karena kejadian tak terduga, Nathan dan Aluna diharuskan menikah. meskipun Nathan tak mencintainya, Aluna tetap berusaha membuat Nathan melihat ke arahnya. mampukah Aluna menaklukan Nathan?

Arsitaaa24 · สมัยใหม่
เรตติ้งไม่พอ
9 Chs

3. SOMEBODY TO HAVE

Aluna menatap tajam ke arah wanita yang tengah duduk di depannya, hanya ada sebuah meja yang menjadi pemisah mereka.

Aluna dan gadis plastik yaitu Amora. Gadis yang menjadi musuh nya sejak kepergiannya dari panti asuhan, Aluna masih tidak mengerti kenapa Amora harus semarah dan sedendam ini padanya. Hanya karena Aluna memilih pergi bersama kedua orang tua tirinya dan meninggalkan Amora yang saat itu memintanya untuk tinggal.

Mungkin sekarang Aluna bisa menyimpulkan jika Amora iri padanya saat itu. Aluna tak lagi mempermasalahkan pandangan sahabat kecilnya itu yang pasti Ia masih tak tahu alasan lain dari marahnya Amora selain hal tersebut.

"Kenapa suasananya dingin begini?" ucap Kevin dengan nada bercanda.

"Sedang tidak mood." jawab Aluna, Ia melirik sedikit ke arah Amora yang hanya diam.

Aluna masih tak mengerti kenapa Kevin mempertemukannya dengan mantan sahabatnya itu padahal pria itu tahu jika mereka sudah seperti musuh yang siap saling menyerang jika di pertemukan.

"Aku mengajak kalian bertemu untuk mempererat tali persahabatan kita, meskipun kini Roy sudah tiada."

"Jangan mengungkitnya." tegas Amora, membuat Aluna menatapnya marah.

"Kenapa? Kau tak suka? Dia kakakku dan kau tak berhak melarang siapapun untuk tak membicarakan Kakakku." Amora menatapnya datar, gadis itu memilih memalingkan wajahnya ke luar jendela.

"Aku tahu kau iri saat aku di angkat jadi anak keluarga Molis__"

"Aku tak iri sama sekali." potong Amora.

"Lalu kenapa?"

"Kenapa?" tanya Amora dengan alis terangkat.

"Kenapa kau bersikap seperti ini padaku, apa karena kau di angkat jadi anak keluarga terkaya ke 3. Kau mau pamer padaku dengan bersikap angkuh seperti ini?" cerocos Aluna tanpa peduli bagaimana penghuni kafe yang menontonnya.

Amora hendak membalas tapi akhirnya Kevin menyela.

"Kok jadi gini sih?"

"Ini gara-gara lo!" teriak Aluna dan Amora secara bersamaan.

Kevin menutup kedua mata dan kedua telinganya secara bersamaan dan pada saat Ia buka, Kevin sudah tak melihay keberadaan dua perempuan itu di hadapanya.

Kevin menghela nafas kasar, entah sampai kapan dua gadis itu akur. Kevin sendiri tidak mengerti apa yang menjadi penyebab mereka seperti sekarang ini.

Ia sedang ingin mencari tahu dengan mempertemukan mereka, rencananya mengobrol dengan santai. Tapi harapannya pupus karena rencananya tak berjalan mulus.

🌱🌺🌺🌺🌱

"Baru pulang?" Aluna mendongak, baru saja masuk Ia sudah di suguhi pertanyaan Nathan yang terdengar marah.

"Maaf aku tahu, aku janji pulang jam 10 malam, tapi jalanan malam ini sangat macet kamu tahu sendiri malam minggu seperti apa." ungkap Aluna, memberikan penjelasan tanpa kurang dan lebih. Ia berkata dengan jujur.

"Bagaimana pertemuannya?" tanya Nathan mengalihkan topik pembicaraan. Aluna berjalan mendekat lalu mendudukan diri di samping Nathan yang sedang menonton Tivi. Memeluk pria itu tanpa ragu Nathan membalasnya meskipun pandangannya lurus ke depan.

"Tidak berjalan dengan baik." jawab Aluna. Nathan tak lagi bertanya, pria itu memilih fokus pada acara yang di tayangkan di televisi.

"Nathan."

"Hem."

"Maafkan aku membuatmu malu di depan banyaknya pembisnis saat itu, aku hanya terbawa emosi saat Lauren mengatakan aku anak haram. Aku kesal, jadi aku siram dia pakai minuman." Nathan terdiam mendengar pengakuan sekaligus permintaan maaf gadis itu tentang kejadian di pesta minggu lalu.

"Kamu kan mikirnya pake dengkul." Aluna memukul pelan dada Nathan membuat pria itu terkekeh kecil.

"Kejam."

"Bukankah kamu yang kejam, membuat luka di bibir Amora dengan sebuah tamparan."

"Itu salah satunya wanita yang selalu mencampuri urusanku."

"Dia sahabatmu." ucap Nathan mengingatkan.

"Mantan sahabat." jawab Aluna menekankan.

"Terserah padamu." kata Nathan akhrinya. Mereka kembali terdiam sibuk dengan pikiran masing-masing.

"Nathan."

"Hem."

"Apa kamu sudah mencintaiku?"

🌱🌺🌺🌺🌱

"Bagaimana kabar paman?" tanya Nathan kepada seorang pria paruh baya yang terduduk di kursi roda, pria yang terlihat pucat itu tersenyum.

"Aku masih kuat untuk bermain basket denganmu." jawab pria itu dengan kekehan. Nathan membalasnya dengan senyuman.

"Bagaimana bisnisnya dengan keluarga Yuda?" tanya pria paruh baya tersebut. Nathan yang berdiri di sampinya menganggukkan kepalanya.

"Semuanya berjalan lancar." jawbanya.

"Apa mereka tak meminta sesuatu yang aneh padamu? Kau tahu sendiri Yuda sangat menyukaimu yang pekerja keras bahkan menginginkan mu menjadi menantunya. Lagi pula anaknya cantik."

"Tidak, mereka tak meminta."

"Kau ingin?" Nathan menoleh dengan gelengan.

"Aku mencintai orang lain." ungkap Nathan.

"Kapan kau akan mempertemukanku dengan gadis itu?"

"Secepatnya."

"Nathan!" kedua pria yang tengah mengobrol itu menengok ke belakang dimana seorang gadis cantik berjalan mendekat ke arah mereka.

"Lauren."

"Hallo Mr. Lewis, apa kabar?" tanya Lauren dengan senyuman cantik. Paman Lewis membalasnya. "Aku baik."

"Bagaimana kabar ayahmu, Yuda?" tanya Mr. Lewis

"Ayah baik, dia titip salam buat paman." Mr. Lewis mengangangguk. Keheningan terjadi, Mr Lewis dapat melihat tatapan berbinar dari Lauren pada Nathan. Sedangkan pria yang berdiri di sampingnya itu hanya tersenyum kecil setelah itu kembali dengan wajah datar.

"Baiklah kalau begitu paman ingin istirahat dulu."

"Biar aku antarkan." tawar Nathan.

"Tidak perlu, aku masih bisa sendiri." tolak Mr Lewis halus, Nathan hanya diam tak membantah dan membiarkan teman rekan bisnis Ayahnya itu pergi menuju ruang rawat inapnya.

"Nathan, apa kabar?" tanya Lauren. Bukannya menjawab Nathan justru balik bertanya.

"Kenapa kau bisa disini?"

"Aku sedang cek up sekalian melihat Mr Lewis, aku tak menyangka kita bertemu disini. Tuhan benar-benar baik." Nathan tersenyum kecil.

"Kalau begitu aku pergi dulu."

"Tunggu." Nathan menatap heran ke arah Lauren. "Boleh aku menumpang?"

"Memangnya kemana mobilmu?"

"Sedang di bengkel." katanya dengan senyuman lebar, memperlihatkan deretan giginya yang rapih.

Nathan hanya mengangguk sebagai jawaban yang langsung mendapatkan respon girang dari Lauren.

🌱🌺🌺🌺🌱

"Ayahku benar-benar menyukaimu." ucap Laueren memulai percakapan dalam perjalanan.

"Benarkah?" tanya Nathan singkat, tatapan pria itu tak menoleh sedikitpun pada Lauren.

"Iya, Ayahku kagum padamu. Di usia muda, kau sudah bisa menjalankan perusahaan Ayahmu." Lauren tak berhenti menatap Nathan yang sedang menyetir. Gadis itu sudah jatuh hati sejak pertama kali bertemu 2 bulan lalu, meskipun perbedaan umur 3 tahun lebih tua dari Nathan, Lauren seolah menganggap umur itu hanya sebuah angka.

"Kita mau kemana?" tanya Laueren ketika Nathan memarkirkan mobilnya di depan supermarket.

"Ada sesuatu yang harus ku beli, kau tunggu disini." katanya, Lauren hanya mengangguk.

Selang beberapa menit, Nathan yang masih di dalam supermarket tak ada tanda-tanda keluar. Lauren mulai bosan, gadis itu hendak keluar mengikuti Nathan tapi gerakannya terhenti saat sebuah nada dering ponsel dari Nathan berbunyi.

Lauren mengambil ponsel Nathan yang tertinggal di dalam mobil, Ia tersenyum smirk melihat nama pemanggil yang tertara di sana.

Aluna R

Lauren tidak tahu ada hubungan apa antara wanita yang menumpahkan jus itu padanya dengan Nathan, Lauren tak peduli. Jika pun mereka memiliki hubungan sepesial, Lauren harus menghancurkannya.

"Hallo."

"Hallo, ini siapa?" tanya Aluna dari sebrang telpon saat mendengar suara wanita yang menjawab.

"Ahh iya, sayang seperti itu."

"Ahh Nathan, faster."

Tutt...tutt....tutt

Lauren tersenyum senang ketika Aluna langsung memutuskan panggilannya.

"Bagaimanapun aku harus memisahkan mereka." batin Lauren.

🌱🌺🌺🌺🌱

Nathan membuka pintu apartemennya, Ia melangkah masuk dengan tote bag yang berisikan bahan-bahan makanan yang Ia beli dari supermarket tadi.

Nathan berjalan menuju dapur, menyimpan segala bahan-bahan tersebut ke dalam kulkas. Setelah rapih Ia berlalu menuju kamarnya dan Aluna.

"Aluna." panggil Nathan pada istrinya yang tengah meringkuk di atas kasur dengan selimut tebal yang menutupi seluruh tubuhnya.

"Aluna, kalau kedinginan matikan AC nya." kata Nathan, pria itu meraih remote lalu mengecilkan suhu AC nya menjadi sedikit lebih hangat. Pria itu mengerutkan kening heran, Aluna tak merespon apapun. Biasanya gadis itu akan langsung memeluknya jika Nathan pulang.

Nathan duduk di pinggiran kasur, perlahan membuka selimut yang menutupi tubuh Aluna dan betapa terkejutnya Ia saat melihat Aluna yang berderai air mata.

"Aluna ada apa?" tanya Nathan panik, Aluna menepis lengan Nathan yang hendak menyentuhnya.

"Aku membencimu."