webnovel

puisi duka

Related Stories
Baja dan Duka: Kebangkitan Raja Tentara Bayaran
Author: Allevatore_dicapre
Ongoing · 94.2K Views
Synopsis
Terbelenggu dalam rantai namun mendambakan kebebasan, Alpheo, seorang sejarawan modern, menemukan dirinya diperbudak di tanah yang berada di ambang kekacauan. Saat kekaisaran Rolmia terjerumus dalam perang saudara setelah kematian kaisar, tiga putranya yang ambisius bersaing memperebutkan tahta. Di tengah kekacauan ini, Alpheo menemukan kesempatan untuk memutuskan rantainya dan melarikan diri, memimpin rekan-rekannya ke dalam abu peperangan, berusaha berkembang di dalamnya, menjual pedang mereka kepada penawar tertinggi. Namun di luar perbatasan Rolmia, mata-mata yang lapar mengawasi saat cengkeraman kekaisaran mengendur. Kesultanan Azania, yang selalu oportunis, melihat kesempatan untuk memperluas wilayah dan pengaruhnya, sementara di selatan, wilayah-wilayah kecil tetangga menghela napas lega ketika raksasa yang dulunya dominan tersandung dan goyah. Di laut, konfederasi Pulau Bebas menemukan kesempatan mereka untuk memulihkan kekuatan maritim lama mereka, yang ditolak oleh kekaisaran yang kini runtuh di bawah dirinya sendiri, kekurangan kekuatan untuk menghentikan mereka. Dalam kancah konflik ini, di mana dinasti runtuh dan kekaisaran jatuh, Alpheo menemukan panggilannya dan kesempatan untuk menempa takdirnya sendiri di tengah puing-puing kekaisaran.
Table of Contents
More

cinta penawar duka

pada akhirnya apa yang kita sembunyikan akan terbongkar juga, seperti apapun kita berusaha menutupi, menyembunyikan bahkan berbohong tentang sesuatu hal yang membuat sesorang mencurigai kita pasti akan terungkap dengan sendirinya. sama seperti lala pada saat akan berusaha, menjatuhkan teman adalah langkah awal menuju pada penyesalan dan sakit hati yang mendalam. steven yang akhirnya tahu maksud buruk dari lala beranjak bangun dari tempat duduknya tanpa setahu mereka, steven melihat kanan kiri memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang melewati meja lala tadi dan pikir steven aman lantas dia menukarkan minuman sari dengan lala. setelah itu steven dengan gaya yang nyentrik saat itu masa bodoh dengan kelakuannya yang menurut dia bagus dan tersenyum, dengan langkah yang santai dan senyum-senyum sambil berjalan meninggalkan ruangan diskotek. tak berapa lama kemudian sari, aryan, dan lala berjalan melintasi para pengunjung dan memapah sari yang kakinya sedang keseleo, tersaruk langkah kaki sari sebab rasa ngilu masih dirasakannya. "masih sakit?" tanya lala. "sudah berkurang" mereka duduk mengelilingi meja seperti tadi lalu lala memberi minum kepada sari dan aryan untuk mengajak tos bersama. "kita rayakan malam persahabatan kita ini  semoga kekal abadi dan tidak ada yang namanya musuh dalam selimut" ujar lala sambil meneguk minumannya sampai habis begitu pula dengan sari dan aryan yang tanpa mencurigai minuman apa yang sedang mereka minum barusan. "seharusnya bukan begitu semboyan kita" sergah aryan. "terus, apa dong?" "begini bunyi semboyannya, hmm semoga antara lala dan aryan menjadi pasangan merpati yang rukun dan bahagia selamanya" kata aryan sambil tertawa " ahhhh, kamu ada-ada aja" gerutu lala manja. sari cuma tersenyum memperhatikan aryan dan lala yang berada didepannya didalam hatinya turut mendoakan seperti apa yang diinginkan lelaki itu , dan semoga saja sama dengan anita yang akan menaruh perasaannya kepada aryan, seperti apa yang dialami aryan juga  sebab sari tahu kalau aryan sudah menaruh hati kepada lala. "kalau kakimu masih sakit sebaiknya kita tidak usah pulang dulu sar, kita nginap saja dihotel aku juga lagi malas pulang ke kemah begitukan baiknya yan?" kata lala yang sudah mulai teler ditempat duduknya dan pikirannya sudah mulai kosong dan melayang-layang. aryan hanya mengangguk sama seperti lala, aryan juga merasakan melayang-layang,kepalanya sakit dan sebentar lagi akan tumbang. "tapi la, aku takut armin akan mencari kita" sahut sari dengan perasaan  gelisah apalagi dilihatnya lala sudah semakin lesu,matanya tambah sayu. "tenang, mala tenang semua itu bisa diatur" balas lala asal mengucap saja, lalu gadis itu merebahkan kepalanya dibahu aryan. "aryan..aku ingin tidur..," desah lala. "nanti saja" ucap aryan melihat aneh tingkah lala. "sekarang aryan, sekarang.." ucap lala keras. "bagaimana dengan mala,laa?" "terserah dia mau ikut atau tidak" suara lala tambah melemah  dan dalam keadaan yang setengah sadar  dia mencoba mengontrol dirinya, namun reaksi obat perangsang itu sangat dasyat bagi tubunya  dan obat tidur itu dapat melemahkan benaknya bahkan sarafnya tidak segampang dia bangun untuk dituruti, untuk sesaat dia merasa jiwanya terombang-ambing dan sentuhan-sentuhan jari tangan aryan yang pada saat memegang pergelangan tangannya dengan mudah membakar pijar-pijar nafsu birahi dalam tubuhnya. "mala, kau tunggu di sini sebentar ya?" kata aryan kepada sari. "kau mau kemana?" "mengantar lala kehotel dulu atau kau mau sekalian ikut?" "aku takut sendirian disini" keluh sari. "ayo ikut saja mala, ayo...,"ajak lala sudah tak sabr lagi. " ngak deh aku mau pulang saja" sari berdiri lalu berjalan deluan meninggalkan ruang diskotik itu, perasaannya jadi kesal karena lala cuma mementingkan kesenangannya sendiri. pada saat sari berdiri tadi aryan memperhatikan wajah sari yang sedang menahan amarah terhadap lala. "sari, tunggu!" teriak aryan tapi sari bejalan dan tidak peduli denngan aryan.

Riany_Silalahi · Teen

Do'a Gadis Kecil Diantara Duka dan Harapan

Ketika ayah dan ibu telah pergi, Nuriah sadar. Bahwa ialah satu-satunya tumpuan harapan bagi adik-adiknya. Dengan tertatih-tatih ia berjuang. Membahagiakan mereka. Mencurahkan semua perhatian dan kasih sayangnya. Meskipun hari- hari yang ia lewati penuh dengan untaian kisah sedih dan air mata. Suatu malam Nuriah menggores untaian harapannya dalam sebentuk puisi.. Do’a si Gadis Kecil diantara Duka dan Harapan Duka menyeruak Membaur dalam dentingan kehidupan Hampa dan sunyi, juga kelam Mana kasih sayang Tangan si gadis kecil menengadah Menatap langit gelap tanpa cahaya bintang Mana ayah, mana bunda Sang tumpuan kehidupan Hari-hari sendu membayang Air mata berlinang Sesenggukannya begitu memilukan Menatap sosok adik-adiknya Yang rindu akan cinta dan belaian Penuh kasih dipeluknya mereka Cita-cita luhur telah membulatkan hatinya Perlahan ia menyeka air matanya Tak ada resah, juga gundah Ia harus bangkit demi kehidupan mereka Matahari tersembul dari balik awan Menghapus mendung yang membahana Sang gadis kecilpun tersenyum senang Asanya menggema bersama serangkaian cita-citanya Adik-adikku sayang Hidup kita terus berjalan Bagai roda pedati ia berputar Janganlah bimbang, tepiskan ragu yang menghadang Mentari pasti akan kita genggam. Dan... seperti harapannya. Apa yang ia cita-citakan, semua mimpi yang ia bangun dalam angan benaknya mampu ia wujudkan. Namun kenyataan hidup tak seindah yang ia bayangkan. Disaat mereka telah hidup berkecukupan, kebahagiaan dalam kebersamaan mereka tiba-tiba memudar. Berganti dengan keserakahan, kebencian bahkan pengkhianatan. Kasih sayang yang mereka pupuk bersama sejak orang tua mereka hidup kini punah seketika. Nuriah tersudutkan. Nuriah menjadi korban fitnah dan kekejian manusia-manusia tak bermoral. Dan hanya air mata yang menemani kisah pilunya. Namun Nuriah tak pernah gentar untuk selalu menebar kebaikan. Dan selalu percaya bahwa Allah tak pernah menutup mata. Apa yang ia tabur itulah yang akan di tuainya. Sebuah prinsip yang selalu ia bangun dalam hatinya. Ketulusan dan cinta Nuriah ternyata lebih kokoh dari semua kepalsuan. Bahkan mampu untuk meruntuhkan segala kepongahan. Mendung yang menggelayut itupun akhirnya pudar seketika. Berganti dengan hari cerah. Kini mereka sadari. Kakak Nuriah adalah pengganti ayah dan ibu bagi semua. Tempat adik-adik pulang. Tempat mereka temukan kebahagiaan yang sesungguhnya.

azkia_azkana · Teen
Related Reviews
Related Topics
More
New Arrivals

I'm a villain, I'm evil

Pure Evil Villain Female Lead *"True, Good, and Beautiful" Green Tea Male Supporting Actor (cannon fodder) [New Year's Eve/Not Pure Ancient Words/Sweet Pet/Scum Abuser/1v1SC/Black Plains Male and Female Lead/Female Lead's Vicious Villain] Mo Lian, who was heavily injured and unconscious, had a dream. In the dream, the world was a huge and thick book of words. All the order revolved around the male and female protagonists, and she was the strongest villain here. In the end…she died an unnatural death. Since he was a villain and knew his ending, how could he be a qualified vicious villain if he did not change it? She would definitely crush anyone who tried to stop her from living in the future. * Zi Sangyue and Mo Lian were two extremes. If Mo Lian was said to be a poisonous snake born under the Buddha, dark, vicious, and cunning, then Zi Sangyue was a god who was born to give hope and warmth to all living beings. Viper wanted to make the gods remember her kindness for the rest of their lives, but the gods fell. Zi Sangyue had once sworn not to kill anyone, but he had broken his vows and killed many people for Mo Lian. "Didn't you say you'd rather die than hurt people?" I thought you would come up and block the knife for me. However…the current situation is very interesting." Zi Sangyue stared at the poisonous snake that had trapped him. She smiled gently."My wife doesn't want me to get hurt. They want to hurt my beloved wife, so this is the only way." Mo Lian thought,…Alright, but since when did he become so familiar with calling her "Madam"? [It's not purely an ancient saying. In the later stages, it will involve the Reincarnation Demon God. This male protagonist is still a god, in charge of reincarnation!] [Male Lead: Zi Sangyue (Ghavan)]

Seven white
· 9.1K Views
Popular Searches