webnovel

Ardiansyah: Raja dari Neraka

Dunia yang kalian semua kenal telah lama hancur, teman dan keluarga kalian kini entah bertamasya di Surga atau membusuk di Neraka. Namun bagi yang terpilih, Sang Pencipta telah membangunkan Dunia baru untuk mereka yang di dasarkan atas sihir dan sains. Dunia yang diisi oleh tiga bangsa, dengan rumah dan tubuh yang berbeda. Ilmuan cerdas di Angkasa, pengrajin kreatif di Daratan, serta seniman yang bermandikan keindahan di Lautan. Kisah Dunia baru ini terlalu panjang untuk kuceritakan dalam satu kali pertemuan. Jadi untukmu temanku, akan kubagi mereka menjadi beberapa bagian. Part 1: Prologue (Vol 1 & 2) Takdir Amartya untuk menjadi raja atas Bumi ini sudahlah ditetapkan. Demi mengagungkan kelahirannya, Sang Pencipta mengalirkan api neraka di dalam darahnya. Namun hatinya jatuh cacat sebagai bayarannya, dan satu-satunya yang bisa menyempurnakannya hanyalah seorang gadis es, dengan kunci di hatinya. Part 2: A Party of 8 (Vol 3 - 7) Makhluk-makhluk nista datang mencemari Daratan, dan atas nama kemurnian tanah suci ini, Mereka yang Abadi mengumpulkan prajurit-prajurit terbaik dari generasi termuda. Manggala dan rekan-rekannya harus bisa menghadapi tantangan ini, dan menyelamatkan apa yang berhak diselamatkan. Part 3: Throne of the Ocean (Vol 8 - 10) (Warning 18+ only) Perang tiada akhir terus melanda seisi Samudra, yang sudah teramat ganas dari detik dirinya dilahirkan. Gumara yang ditinggalkan keluarganya terpaksa mengemban tanggung jawab untuk bangkit, dan kembali membangun kejayaan itu atas nama sang pembawa ular. Dunia ini dipenuhi aturan yang nista, namun bukan berarti kita harus tenggelam di dalamnya.

PolarMuttaqin · Fantasia
Classificações insuficientes
413 Chs

Chapter 15: Sindhen pt. 3

"Gumara… kamu ini keterlauan, mengejar perempuan tua layaknya diriku…"

"Hm? Tapi kamu masih terlihat lebih muda dari kebanyakan Pelukis yang aku tahu."

"Tapi bukan berarti kamu— lupakan."

Mentari pagi membuat seisi ruangan kian sendu dengan atmosfir yang berwarnakan sian. Bayang-bayang redup juga mengelilingi seisi ruangan, terbantu oleh barang-barang serta lemari yang tertebar di sana.

Gumara tengah terduduk dengan nyamannya di atas kursi singgahsana ruangan bawah. Bersamanya, sang Sindhen menidurkan dirinya di atas pangkuannya, tersender lemas dengan mereka berdua tak sedikitpun terselimutkan oleh helaian kain.

Pada kulit Gita, dapat terlihat tato pembawa ular terlukiskan dengan rapih di punggung, dada dan lengannya. Hal ini menjadi tanda, proses diplomasi antara Gumara dan dirinya, telah berjalan dengan sangat lancar.

"Jadi Gumara, apa yang membuatmu mendadak mendatangiku? Jelas kamu tak akan tiba-tiba saja terdorong untuk bercinta denganku bukan?"

Capítulo Bloqueado

Apoie seus autores e tradutores favoritos em webnovel.com