webnovel

Penyelamatku

都市
連載中 · 15.1K ビュー
  • 3 章
    コンテンツ
  • レビュー結果
  • N/A
    応援
概要

Ketika Vanila berada di ambang putus asa sampai hampir bunuh diri, Nino datang menawarkan kebahagiaan. Tertantang dengan kebahagiaan yang ditawarkan padanya, Vanila pun mengurungkan niatnya. Kepribadian Nino yang hangat pada Vanila jelas membuat gadis itu nyaman. Nino menjadi penyelamat bagi Vanila, ketika dia merasa dunia tidak menyukai keberadaannya.

タグ
2 タグ
Chapter 101. Mati atau Bahagia?

"Nona, kemari." Nino menarik tangan gadis yang berdiri di depannya sampai gadis itu terjengkang ke belakang dan jatuh ke pelukannya. Sigap dan dipenuhi kehati-hatian, Nino menegakkan tubuh gadis itu lantas melingkarkan tangannya di pinggang gadis mungil itu sedangkan kepalanya bersandar pada pundak gadis itu. "Kamu benar-benar ingin mati, ya?"

Gadis itu menelan ludahnya sendiri dengan sedikit kesusahan. Jantungnya berdegup kencang, sementara Nino dengan sengaja mengembuskan napas tepat di ceruk lehernya.

"Kenapa tidak menjawab, hm?" tanya Nino. Suaranya terdengar seksi tanpa dibuat-buat dan itu mampu membuat si gadis di pelukannya bergidik geli dengan sensasi aneh yang baru dirasakannya. "Kamu baik-baik saja? Mendadak bisu? Katakan. Apa kamu ingin mati?"

"Tentu. Iya." Si gadis menjawab seusai diam cukup lama. "Kalau kau menghalangiku, aku bisa bunuh diri besoknya. Bukan hal sulit."

"Baiklah, kalau begitu." Nino merogoh sakunya dengan tangan kirinya sedang tangan kanan tetap melingkari pinggang si gadis. Setelahnya, Nino mendekatkan pisau kecil dari sakunya ke leher gadis itu. "Aku akan membunuhmu. Tidak. Memberikan dua pilihan. Mati dibunuh olehku atau mencoba sedikit saja hidup denganku lantas mendapatkan kebahagiaan?"

"A-apa?" Gadis tersebut merasakan tenggorokannya tercekat. Bulu kuduknya meremang.

"Kamu tampaknya gak paham, ya. Biar kuberi tahu sekali lagi. Mati di tanganku atau mencoba hidup? Kutawarkan kebahagiaan jika kamu memilih yang kedua. Coba saja. Jika tidak nyaman, kamu bisa mencoba ini lagi," kata Nino dengan pelan, namun tidak meninggalkan kesan seksi dan meyakinkan dari nada bicaranya. Ia jelas lelaki yang menarik, apalagi ketika pisau di tangannya sedikit menjauh, memberi ruang untuk gadis itu berpikir. "Bagaimana, Nona?"

Gadis itu bungkam. Rasa ingin mati sedikit memudar. Jauh di dalam dirinya, ia menginginkan hidup tanpa beban dan menjalani berbagai momen yang membahagiakan. Sekali lagi, dia menenggak ludah. Lelaki itu baru ditemuinya sekali, tetapi sukses membuatnya dilema.

"Bagaimana kalau aku memilih pilihan kedua? Apa yang akan kau lakukan?" Gadis itu bertanya, hatinya masih meragu. "Kau tidak sedang bercanda, bukan?"

"Tentunya membahagiakanmu, Nona," kata Nino.

"Kalau begitu, aku pilih tawaran hidup. Beri aku kebahagiaan. Apa aku harus menggantinya dengan sesuatu nanti?" kata gadis itu, tanpa ragu lagi.

Seulas senyuman terbit di wajah Nino. Ia mulai menaruh kembali pisau di sakunya lantas berbisik pelan tepat di telinga sang gadis incaran. "Kamu hanya perlu tinggal di sisiku. Selamanya. Mudah, kan?"

"Baiklah--kalau begitu."

"Pilihan bagus," puji Nino, lelaki itu kembali menyandarkan kepalanya di pundak sang gadis. Ia dapat mencium bau keringat gadis itu walaupun angin yang berembus malam ini cukup kencang. "Ini pertama kalinya aku merasa nyaman begini."

"Oh."

Nino melepaskan pelukannya dan membalikkan badan gadis itu perlahan. Pelan sekali, seolah-olah takut gadis itu terluka apabila ia terburu-buru. Tatapannya meneduhkan dan cukup mampu membuat sang gadis tertegun menatap kedua iris meneduhkan tersebut.

"Siapa namamu?" tanya Nino.

"Vanila." Gadis bernama Vanila tersebut mengulas sebuah senyum tulus. Dahinya masih sedikit berkeringat, menyadari ketakutan absolut kala ingin bunuh diri tadi dengan loncat dari rooftop tinggi di sini. "Kalau kau?"

"Elnino." Mino turut tersenyum lantas berdeham seolah ia malu. "Pertama, mari urus tempat tinggalmu. Kamu inginkan kebahagiaan, bukan?"

Vanila mengangguk dengan degupan jantung yang tidak terkendali. Ia bukannya jatuh hati secepat itu pada lelaki tampan di hadapannya, melainkan merasa penasaran dengan penawaran aneh dan tiba-tiba begini. Ini mungkin momen paling gila yang belum pernah terbayangkan sebelumnya.

Nino menyadari kegugupan dari wajah gadis itu. Ia mengamit tangan Vanila kemudian berjalan membawanya menuruni tangga. Setidaknya, harus pergi dari sana terlebih dulu sebelum Vanila berniat mati lagi. Nino tidak akan mau membiarkan gadis itu pergi.

***

Vanila terbangun di tempat paling nyaman dalam hidupnya. Berada dalam pelukan Nino jelas sesuatu yang baru dan sangat asing, tetapi Vanila nyaman dan menyukainya. Begitu mengubah posisinya menjadi duduk, Vanila kembali teringat sekelebat bayangan saat Mino menunjukkan kamar itu dan menyuruhnya tidur dengan ramah. Tidak hanya itu, Nino meletakkan segelas air di meja nakas sebagai bentuk perhatian agar Vanila bisa meminumnya kala merasa buruk. Nino memutuskan menemani gadis itu karena memang Vanila sendiri yang meminta.

"Selamat pagi." Nino lebih dulu terbangun, itu sebabnya ia telah siap dengan pakaian kasual yang tak mengurangi kadar ketampanannya. Ia berdiri di sisi ranjang, terdapat sebuah nampan berisi makanan di tangannya. "Tidurmu nyenyak, hm?"

"Nyenyak, kok," kata Vanila memandangi Nino dari atas sampai bawah. Nino memakai kaos dengan tulisan trendi serta celana denim yang juga menambah kesan kerennya. "Oh, kamu tampan. Masih pagi, lho."

"Kamu baru sadar, ya." Nino tersenyum geli seraya meletakkan nampan yang dipegangnya di meja. Ia lantas berjalan mendekati jendela besar yang tidak jauh dari kasur lalu membukanya lebar-lebar. Bias matahari yang terik menandakan bahwa hari sudah siang. "Ini sudah siang, Nona. Sadarlah."

"A-ah." Vanila mengusap tengkuknya. "Iya, ya. Nyenyak sekali, sih, semalam. Terima kasih banyak, ya, Elnino. Mungkin aku sudah berada di neraka kalau tidak ada kamu."

"Sama-sama." Nino mengulas senyum seperti biasa. Ia mendekat kembali hingga duduk di pinggir kasur. Senyumannya seolah enggan pudar kala menelusuri wajah manis Vanila dengan matanya. Gadis itu cantik sehingga tidak bosan dipandangnya. "Aku ingin tahu, meski mungkin bakal mengorek lukamu. Apa yang terjadi, sampai kau memutuskan mau mati? Berat sekali, ya?"

Vanila menarik napas panjang, namun kegiatan itu nyatanya tidak serta-merta membuat dadanya lega dari perasaan sesak. Matanya mulai berkaca-kaca sedang tangannya bergerak gelisah.

"Hei." Nino mengatakannya dengan lembut sekali, tidak tega memandang sorot penuh luka di kedua iris cokelat Vanila. "Gak usah dipaksakan. Simpan saja kalau kamu merasa terlalu sulit. Aku hanya ingin kamu tahu, aku selalu siap mendengarmu. Namun bukan berarti mau memaksamu. Mari buat memori indah saja, ya."

"Tidak, tidak." Vanila menghela napas sekali lagi. Memang sulit, tetapi rasanya akan tidak enak apabila ia tidak bercerita. Nino banyak membantunya. "Aku harus cerita. Itu hanya... kamu tahu. Ayahku pemabuk dan merepotkan. Ia selalu merasa dirinya paling benar. Aku tidak pernah memintanya peduli, bahkan rasanya dia jarang memberiku makan. Dia hanya memikirkan adikku. Hanya karena aku perempuan, dia enggan membiayai pendidikanku. Kala ia sesekali membeli makanan, aku muak dan menolak makan. Ia malah marah, membanting semua botol alkohol miliknya hingga serpihannya mengenai kakiku. Ia mengatakan aku merepotkan dan... ergh, lebih dari itu, mengataiku binatang tak tahu diuntung. Sedang ibuku... dia cukup baik. Tapi dia terlalu penurut pada ayahku. Berada di keluarga itu hanya bisa membuatku sakit hati. Aku disuruh banyak, tetapi tidak diberikan apa yang kumau. Malah dibentak dan kena makian."

Vanila boleh saja menceritakannya dengan lancar, akan tetapi tangannya jadi berkeringat saking kesalnya mengingat memori itu. Nino cukup peka dan mengerti, dia bahkan tidak melewatkan satu kalimat pun dari Vanila. Mendengarnya dengan saksama merupakan pilihan terbaik. Nino tidak memandang Vanila dengan tatapan kasihan, namun hangat dan penuh kepedulian.

"Nggak apa-apa. Sekarang, mereka akan menyesal memperlakukanmu begitu." Nino meraih tangan Fina yang penuh keringat lantas menggenggamnya dengan tujuan menguatkan. "Mau kubawa ke negara yang jauh sekalian, gak? Kamu pasti muak sekali kalau ketemu mereka lagi."

"Itu berlebihan, sih." Vanila terkekeh canggung. Ia tidak tahu seberapa kaya Nino. Kamar yang disediakan untuknya saja terasa sangat besar, Vanila merasa diperlakukan seperti ratu. "Aku akan mengabaikan, itu mudah buatku. Ego Bapak sering terluka kalau aku mengabaikan dan aku suka itu walau pada akhirnya dia mengataiku. Seandainya aku bisa menahan rasa muak, mungkin aku akan terkurung dan menurut saja pada mereka... selamanya."

"Tapi kamu sudah datang ke tempat yang tepat. Iya, kan?" kata Nino sembari menaik turunkan alisnya. Vanila mengangguk mantap sambil tersenyum lebar. Nino kemudian mengambilkan makanan yang tadinya berada di nampan. "Hei, buka mulutmu."

Vanila menurut, sesegera mungkin membuka mulutnya dan membiarkan Nino menyuapkan nasi goreng buatan pelayan di rumah tersebut. Vanila mengunyah, menikmati rasa yang pas pada nasi goreng itu. Nino sepertinya menyewa pelayan berbakat untuk rumahnya.

"Ini enak," kata Vanila.

"Ah, syukurlah. Pelayanku kompeten semua, makanya, kalau butuh sesuatu langsung panggil saja," jelas Nino.

"Apa tidak apa-apa aku terus menerima begini?" tanya Vanila.

"Hm, iya. Aku juga, ya...." Nino menggaruk tengkuknya, bibirnya sedikit manyun. "Bingung mau menghabiskan uang bagaimana. Too much money."

Vanila mengangguk mengerti. Kemarin Nino menunjukkan berbagai kemewahan dalam rumah ini agar Vanila tidak bingung, namun Vanila malah terus memikirkannya dan bertanya-tanya seberapa kaya lelaki tersebut.

"Bagaimana kalau, disumbangkan sebagian?" Vanila menyebutkan sebuah ide yang baru terlintas di otaknya. "Oh, maaf. Aku seharusnya tidak asal kasih ide begini, ya? Maaf."

"Ah, tidak mungkin." Nino tiba-tiba memasang senyum miris. "Uang yang kudapatkan bukan dengan cara yang baik, itu bukan hal bagus jika aku menyumbang. Iya, kan? Aku cukup paham aturan agama, kok."

"Kalau begitu, ya... sudah."

"Hm." Nino menyerahkan sepiring nasi goreng itu. Meletakkannya di pangkuan Vanila. "Makanlah, ya. Aku harus mengurus sesuatu. Gak apa-apa kalau aku tinggal sebentar, kan?"

"Hm, ya, gak masalah."

"Kalau begitu, sampai jumpa." Nino mulai mengusap lembut pipi Vanila lantas memberi kecupan singkat di sana sebelum memutuskan beranjak pergi. Sebelum menutup pintu, Nino lebih dulu melambaikan tangan dengan sebuah senyum manis yang merekah lebar sampai giginya kelihatan.

Satu hal yang Vanila pikirkan kala melihat tingkah Nino yang terkesan menggemaskan; aku beruntung.

あなたも好きかも

Setelah Perceraian, Mantan Miliarder Menemukan Aku Hamil

Leonica bertanya dengan tatapan tajam kepada suaminya yang menjijikkan dan selingkuhannya, 'Gabriel Bryce, bagaimana bisa kau begitu tidak tahu malu?' Ini adalah rumah yang dihadiahkan oleh nenekku, namun kau berani membawa wanita lain ke sini? Bukankah kau takut kalau nenek akan kecewa dengan perbuatanmu...?' Kata-katanya terhenti ketika Gabriel yang marah mengayunkan tangannya ke udara, menampar pipi kirinya dengan penuh kekuatan. Leonica memegang pipi yang berdenyut, matanya lebar dan berlinang air mata saat dia menatap suaminya yang menatapnya dengan pandangan garang. 'Berani sekali kau menyebut nenekku. Kau tidak berhak untuk itu!' dia meludah, mengambil langkah maju dan menusukkan jarinya yang sakit ke pundaknya, membuatnya mundur beberapa langkah. 'Ingat ini baik-baik, Leonica Romero, kalau bukan karena keinginan nenekku yang telah tiada, aku lebih memilih mati daripada berhubungan dengan seseorang sepertimu.' *~*~* *~*~* Leonica Romero selalu menyimpan perasaan pada Gabriel Bryce, CEO of Bryce Empire dan tiran bisnis Norwegia. Beruntung, atas permintaan nenek Gabriel yang sakit, keluarga yang merupakan teman lama, Leonica mendapat kesempatan untuk menikahi orang yang dicintainya. Merasa senang, dia meninggalkan posisi dan pekerjaan impiannya di rumah tangga Romero dan menjadi istri rumah tangga yang sederhana untuk Gabriel. Namun, tiga tahun kemudian, pada hari pemakaman nenek Gabriel, Leonica terkejut saat dia menuntut perceraian, karena mantan kekasihnya Angelina Fernandez tiba-tiba kembali, menyatakan cinta abadinya kepadanya. Namun itu bukan satu-satunya kejutan yang diterima Leonica hari itu. Beberapa jam setelah Gabriel menyatakan keinginan untuk bercerai, Leonica terbangun di rumah sakit dengan berita mengejutkan. Dia hamil dua bulan. Dan Gabriel sama sekali tidak tahu tentang hal itu!

Khira · 都市
レビュー数が足りません
227 Chs

Mantan Suami Miliarderku Mengejar Aku Kembali

``` [Konten Dewasa] Arabella Donovan mengorbankan masa mudanya hanya untuk suaminya. Namun, ia menceraikannya karena Arabella tidak bisa memberinya anak, yang menyebabkan rasa sakit yang mendalam. Bella memutuskan untuk menghilang dari kehidupannya. Lima tahun kemudian, ia kembali ke negara ini dengan anak lelakinya yang menggemaskan. Kehidupan damainya mulai terganggu ketika mantan suaminya mengejarnya kembali begitu dia mengetahui bahwa Bella telah melahirkan anaknya. Tapi sekarang, dia bukanlah Bella yang sama seperti dulu. Dia adalah orang yang sangat berbeda. ***** "Bos, dia sudah kembali!" "Siapa?" Tristan Sinclair bertanya sambil menandatangani tumpukan kertas. "Istrimu—" Asisten itu ragu-ragu, mengamati Tristan dengan cermat. Ketika dia melihat alis Tristan berkerut, dia memperbaiki ucapannya. "Maaf, saya maksud mantan istrimu, Nona Donovan. Dia kembali dengan seorang anak laki-laki..." Tristan mendesah, memandangi kontrak di hadapannya. Setelah lima tahun mencari, hanya untuk mengetahui bahwa dia telah melanjutkan hidupnya, itu terasa menyakitkan. Tapi ia tidak bisa menghindarinya. Dia pantas mendapatkan kebahagiaan dengan orang lain. Dia akan menerima kekalahannya ini. "Dia pantas mendapatkan suami baru..." Tristan bergumam, memecat asistennya. "Bos, yang saya maksud adalah anak lelaki yang manis itu. Saya kira dia sekitar empat tahun—" Tristan terkejut. Kepalanya terangkat, pandangannya tajam tertuju pada asistennya. "Saya butuh Anda untuk mengatur tes DNA untuk anak itu. Dan berikan saya alamatnya!" Sinar muncul di matanya saat senyum pelan melintas di wajahnya. ______ Penulis Novel: 1. DAMN! I FALL IN LOVE WITH HIM (Selesai) 2. Pengantin Pangeran Tak Mati (Selesai) 3. Rebirth: Dancing In My Destiny (Selesai) 4. Istri Jenius Miliuner (Selesai) 5. Kebangkitan Sebagai Istri Tuhan Vampir (Selesai) 6. Mantan Suami Miliuner Mengejarku Kembali _____ Cara menghubungi saya: >> Akun Instagram: authorpurplelight >> Halaman FB: Author_Purplelight >> Bergabunglah dengan Server Discord saya: https://bit.ly/purplelightserver _____ Catatan: Sampul buku adalah hak milik penulis. Tolong jangan digunakan kembali! ```

PurpleLight · 都市
レビュー数が足りません
573 Chs

Be my kid's mommy! (Bahasa Indonesia)

DICARI!!! Seorang perempuan muda, usia tidak lebih dari 23 tahun, cantik, menarik, mulus, dan belum pernah menikah alias masih perawan untuk melahirkan minimal 3 anak. Akan dinikahkan dengan seorang billionair tua dan cacat. Kompensasi berupa uang 100 juta perbulan sampai melahirkan 3 anak. Dan kompensasi perceraian berupa uang 1 milyar, 2 apartemen mewah, dan 1 kendaraan mewah. Calista Ardiningrum menghela nafas panjang membaca sebuah postingan di akun IG maklampir, sebuah akun gosip yang memiliki jutaan follower dan beritanya selalu tajam aktual namun belum dipastikan kepercayaanya. Ribuan komentar beragam ada yang menertawakan, mengejek, mencemooh, bahkan ada yang menghina sampai ke urat. Calista adalah seorang mahasiwi jurusan keguruan sebuah universitas negeri ternama di Jakarta yang juga bekerja paruh waktu sebagai office girl di sebuah perusahaan multinasional ternama di ibukota demi membiayai kuliahnya sendiri. Dia juga anak rantauan dari kota gudeg yang ayahnya hanya seorang tukang becak dan ibunya penjual jamu gendong keliling. Calista anak pertama dari 2 bersaudara. Adik laki-lakinya masih menyandang status pelajar SMK yang setelah pulang sekolah menyambi jadi pengamen di sekitar stasiun Tugu ataupun sepanjang jalan Malioboro. Tapi, kenapa dia sampai begitu perhatian dengan postingan dari akun gosip tersebut? Karena tiba-tiba ibunya menelepon kalau ayahnya menjadi korban tabrak lari sebuah mobil yang tidak diketahui pemiliknya. Kini ayahnya masuk ICU dan harus membayar puluhan juta untuk biaya operasi. Calista tidak tahu harus meminjam kemana karena uang sebanyak itu tentu saja tidak akan mudah didapatkan dalam waktu singkat. Sedangkan, phak rumah sakit berkata semakin cepat uangnya tersedia maka operasi pun akan secepatnya dilakukan. Apakah Calista akan mengorbankan hidupnya demi menolong ayahnya? Temukan jawabannya di novel ini .... *** Terima kasih untuk semua readers yang bersedia meluangkan waktunya membaca novel kedua saya, yang kemungkinan besar akan hadir dalam versi bahasa Inggris juga. Author selalu setia menunggu komen, vote power stone, dan gift yang teman-teman berikan di setiap chapternya. Silahkan menikmati karyaku lainnya: 1. Cinta Tak Berbalas 2. Angel's Blue Eyes 3. Tetaplah Bersamaku! 4. My Lovely and Sassy Wife 5. Runaway Ex-Wife

Anee_ta · 都市
4.8
555 Chs

レビュー結果

  • 総合レビュー
  • テキストの品質
  • リリース頻度安定性
  • ストーリー展開
  • キャラクターデザイン
  • 世界観設定
レビュー
ワウ!今レビューすると、最初のレビュアーになれる!

応援