webnovel

Terungkapnya suatu Kebohongan

Alena duduk dengan tenang, Ia mendengarkan dengan seksama perintah mertuanya yang menjelaskan apa saja yang harus dilakukan olehnya. Alena menghela nafas lega. Kalau Ia hanya disuruh duduk saja menyaksikan rangkaian acara. Tidak terbayang kalau Ia harus berdiri dengan badan masih terasa sakit.

Setelah berapa lama Ia mendengarkan mertuanya menjelaskan Alena menjadi mulai gelisah. Duduknya menjadi sedikit tidak tenang. Ia merasa sakitnya mulai terasa lagi. Mungkin efek obat yang tadi pagi sudah berkurang. Alena mulai berkeringat dingin badannya bergerak-gerak dengan gelisah. Rasa sakit terasa sangat menggigitnya.

Dan Ratu Sabrina menangkap hal itu. Matanya menatap Alena dari ujung rambut sampai ujung kaki.

"Apakah masih terasa sakit?" Tanyanya dengan penuh rasa khawatir. Cerdasnya Ratu Sabrina yang langsung mengetahui apa yang terjadi pada Alena. Alena menggelengkan kepalanya tapi kemudian mengangguk. Rasa sakit semakin terus terasa menggigit, Ia lalu mulai meneteskan air matanya.

"Pelayan.. berikan obat Putri Alena"

Pelayan langsung membawakan obat untuk Alena dan Alena segera meminumnya.

"Apa Ananda ingin berbaring?" Mata Ratu Sabrina terus menatap Alena Ia seperti menyelidiki sesuatu. Alena mengangguk dengan penuh rasa terima kasih. Ia lalu bangkit dibantu oleh pelayan lalu berjalan menuju tempat tidur. Berbaring sambil merasakan sakit. Betapa sakitnya, betapa perihnya. Ratu Sabrina mengikuti Alena lalu duduk di sampingnya.

"Alena apakah Putraku sangat menyakitimu?" Ratu Sabrina tampak ingin memastikan apa yang terjadi semalam. Alena tidak menjawab Ia hanya terdiam tidak berani berkata apapun.

Otak Ratu Sabrina langsung menganalisa dan wajahnya seketika berubah ketika Ia menyadari sesuatu. Ia lalu bangkit dan berkata, "Alena beristirahatlah sampai nanti acaranya dimulai. Ibunda mau meluruskan sesuatu dulu"

Alena tentu saja tidak mengerti apa yang akan dilakukan oleh Ratu Sabrina. Ia hanya mengangguk lemah menatap Ratu Sabrina yang melangkah keluar diiringi para pelayannya.

Para pelayan tidak mengerti hendak kemana Ratu Sabrina hanya mengikuti dengan langkah tergesa. Ternyata Ratu Sabrina menuju Harem. Dua orang Kasim penjaga langsung membungkukkan badan memberi hormat. Ratu Sabrina tidak memperdulikannya, Ia langsung menuju kamar Putri Reina.

Putri Reina tampak sedang bermalas-malasan diatas tempat tidur sambil menonton TV. Ditangannya terdapat sebuah mangkuk berisi cemilan. Semalam Ia tidak bisa tidur membayangkan Suaminya bermalam dengan Alena. Dan Ia sedang menunggu mata-mata yang Ia simpan di Istana Muthmainnah. Tapi Ia langsung meloncat dari tempat tidurnya ketika pelayannya mengumumkan kedatangan Ratu Sabrina.

"Yang Mulia Ibunda Ratu...." Putri Reina membungkukkan badannya tapi Ia langsung kaget ketika Ratu Sabrina tiba-tiba langsung mencekal tangannya. Putri Reina terpekik kaget ketika dengan kasar Ratu Sabrina mengangkat tangan kanan Putri Reina lalu menyingkap pakaian Putri Reina dibagian lengan. Muka Ratu Sabrina langsung pucat pasi melihat titik merah di atas kulitnya yang begitu putih.

"Ba.. bagaimana bisa ini terjadi??" Ratu Sabrina berteriak keras Ia benar-benar kalap melihat kenyataan bahwa Putri Reina masih gadis. Jadi darah apa yang ada di atas sprei waktu itu.

"Pelayan!!! cambuk Kaki putri Reina dulu sampai Ia mengaku apa yang telah terjadi?"

Bagaikan gila Ratu Sabrina mengetahui bahwa anaknya dan menantunya berani berkomplot membohonginya. Sejak semalam Ia menyadari ada keanehan dengan putranya. Tingkah Nizam memperlakukan Alena seperti bukanlah tindakan seorang pria yang berpengalaman. Apalagi mengingat Nizam sangat mencintai Alena. Harusnya malam tadi semua berjalan dengan lancar. Ia mulai menyadari lagi melihat Alena begitu tersiksa dan kesakitan. Berarti Nizam memang tidak memperlakukan Alena sebagaimana layaknya pria yang sudah pernah melakukan hubungan suami-istri. Dan kalau Nizam sama sekali masih virgin ketika melakukannya dengan Alena berarti waktu malam pertama dengan Putri Reina adalah kebohongan belaka.

Putri Reina langsung berteriak memohon ampun tapi kemudian Ia tidak berdaya ketika kedua tangannya dipegangi oleh kedua pelayan Ratu Sabrina. Hingga kemudian suara cambuk rotan beradu dengan kulit lembut Putri Reina itu terdengar begitu menyeramkan ditelinga seluruh penghuni harem. Mereka tidak mengerti apa yang terjadi didalam kamar Putri Reina.

"Aakh..Ibunda Ratu..Hamba mohon ampunan...hamba tidak berdaya.." Putri Reina merintih lalu menjerit lalu merintih lagi.

"Beraninya kalian membohongiku..dan bodohnya Aku sampai bisa kalian bohongi, Darah apa yang kemarin? darah apa?? Kenapa Mak Andam sampai tidak tahu kalau itu bukan darah kesucian" Ratu Sabrina benar-benar histeris. Bahkan Ia merebut cambuk itu lalu mencambuki kaki Putri Reina dengan tangannya sendiri.

***

Nizam baru selesai konferensi pers ketika seseorang berbisik ditelinganya tentang apa yang terjadi didalam Harem. Nizam langsung mendadak berdiri. Ia lalu mohon pamit kepada para wartawan dan segera melangkah menuju Harem. Walau bagaimanapun Putri Reina adalah Istrinya. Ia adalah suaminya yang harus bertanggung jawab kepadanya. Ia tidak bisa membiarkan Putri Reina terbunuh apalagi karena bukan kesalahannya. Ia adalah laki-laki, suaminya, walaupun Ia tidak mencintainya Ia harus menyelamatkannya. Bisa mati Putri Reina dihajar Ibunya.

"Ibunda!!! tolong hentikan!!" Nizam langsung merebut Putri Reina dari pegangan para pelayan Ibunya. Kondisinya jauh lebih mengerikan dibandingkan saat Alena dicambuk. Alena dicambuk karena kesalahannya sedangkan Putri Reina dicambuk karena kesalahan Nizam. Begitu Nizam menarik Putri Reina, tubuh Putri Reina langsung ambruk dalam pelukan Nizam. Ia terkulai pingsan menahan sakit.

Ratu Sabrina berdiri dari duduknya. Ia tadi mencambuk kaki Putri Reina sambil duduk. Ia menatap wajah putranya dengan sorot mata yang mengerikan. Nizam berdiri sambil tetap memeluk istrinya yang terkulai pingsan dalam pelukannya.

"Berikan Aku penjelasan yang bagus, Semuanya... Kalian sudah berhasil membodohi aku, membodohi kerajaan dan rakyat Azura. Hukuman mati layak buat Putri Reina"

"Ibunda mohon tenanglah, Izinkanlah Ananda membaringkan dulu Putri Reina. Izinkan lah juga kaki Putri Reina diobati. Ananda mohon Ibunda, bermurah hatilah. Walau bagaimanapun Putri Reina menantu Ibunda" Nizam mulai membopong tubuh Putri Reina yang begitu pucat.

Ratu Sabrina memegang cambuk rotannya dengan erat tapi Ia membiarkan Nizam membaringkan Istrinya. Nizam membaringkan tubuh Putri Reina dengan hati-hati. Hatinya teriris melihat bekas cambukan rotan dibetis Putri Reina. Warna biru dan merah sangat nyata terlihat dikulit betis yang begitu putih. Nizam lalu menoleh pada Fatimah yang berdiri mengigil ketakutan melihat majikannya di cambuk. "Obati Dia dengan benar" Perintah Nizam pada Fatimah. Fatimah mengangguk.

Nizam menghampiri Ratu Sabrina lalu memeluknya dengan lembut. "Ibunda... kesehatan Ibunda lebih penting dari segalanya. Jangan sampai persoalan kecil membuat kesehatan Ibunda terganggu" Nizam berusaha menenangkan hati Ibunya. Ia menuntun ibunya untuk duduk disofa.

"Kau bilang apa? Persoalan kecil?? Kalian membohongi Aku, Kerajaan dan rakyat Azura?? Mau disimpan dimana Mukaku sebagai kepala Harem. Nanti aku dianggap tidak bisa memimpin Harem..Kamu Nizam berani benar membuat Aku, Ibumu sendiri kehilangan muka."

"Ibunda Ratu yang mulia, Ibunda tidak perlu kehilangan muka kalau masalah ini tidak terdengar keluar. Biarkan dinding diruangan ini menyimpan rahasia besar ini. Ibunda katakanlah kejadian waktu itu adalah ego Ananda yang tidak ingin menyentuh wanita yang tidak Ananda cintai. Ananda mohon ampun untuk Putri Reina"

Begitulah nasib hidup di kerajaan siapa yang salah dan siapa yang dihukum. Jelas-jelas Nizam yang bersalah karena berbohong tapi yang disalahkan adalah Putri Reina yang hanya sebagai korban. Bahkan Nizam meminta maaf atas namanya.

Ratu Sabrina terdiam. Putri Reina adalah anak dari saudaranya. Ia dan Putri Reina masih satu keluarga. Ayahnya seorang perdana menteri yang sangat Ia andalkan untuk mengurus kerajaan. Karena suaminya sakit-sakitan. Ia juga masih belum bisa mengandalkan Nizam untuk ikut memimpin kerajaan karena secara de jure ( hukum ) dan de facto ( kenyataan ) Nizam masih belum menjadi raja. Maka satu-satunya jalan yang tepat untuk menutupi semua kejadian ini adalah seperti yang lalu Ia ucapkan pada Nizam.

"Hamili Putri Reina secepatnya!!!"

Nizam hampir terpelanting dari kursinya mendengar kata-kata Ibunya.

次の章へ