webnovel

SPACE (Nathan Love Story)

ティーン
完結 · 713.3K ビュー
  • 414 章
    コンテンツ
  • 5.0
    29 レビュー結果
  • NO.200+
    応援
概要

Dinda tidak pernah bisa menyangka. Jika dalam hidupnya dia akan benar-benar hancur sampai seperti ini. Semua itu dari hubungan cinta monyetnya bersama dengan Panji berakhir dengan sangat mengerikan. Dia telah kehilangan satu-satunya hal yang berharga sebagai perempuan, dan dengan kejam Panji langsung lepas tangan. Dengan bersembunyi di balik punggung orangtuanya, Panji membuat persyaratan mutlak untuk keluarga Dinda. Yang membuat keluarga Dinda mau tidak mau mengikutinya. Keluar dari SMA Wijaya Kusuma dan dipindah di SMA Airlangga hanya untuk menutupi aib besar keluarga. Di SMA baru, Dinda nyaris tidak memiliki teman. Awal kedatangannya sudah disambut dengan kartu merah dari sang raja. Di mana, siapa saja yang mendapatkan kartu merah tersebut, akan dijadikan incaran oleh seseorang. Entah incaran bullyan, atau pun incaran keusilan lainnya. Dan itu tak lain adalah ulah Nathan. Cowok yang digadang-gadang satu sekolah menjadi raja di sana. Lalu, apakah Dinda mampu melalui semua keusilan dari teman-temannya? Di mana saat ini yang harus dia hadapi secara langsung adalah, sang raja sekolah yang siap menerkam dia hidup-hidup. Dan, kejahilan apa yang akan dilakukan Nathan? Mengingat cap sebagai cowok badboy di sekolah telah melekat manis pada dirinya.

Chapter 1BAB 1

Pagi ini korden putih seakan menjadi saksi. Jika kini putih sudah tidak suci lagi. Semua telah berubah hanya dengan satu malam, berubah dengan cara yang menyakitkan. Deruan suara kipas angin seolah merintih, memaksa indera pendengaran yang enggan mendengar apa pun terlarut dalam perih. Bahkan, secercah cahaya mentari yang mengintip di sela-sela jendela, tampak mengejek begitu nyata.

Dan Dinda masih di sini. Memeluk tubuhnya sendiri dalam kesakitan yang tak bertepi. Dinda masih di sini, terbenam dengan isakan yang enggan berhenti. Dinda, tidak akan pernah bisa tersenyum lagi.

Seharusnya malam itu dia tidak pergi, menuruti ajakan teman-temannya untuk menghadiri pesta ulang tahun Panji. Karena pada akhirnya, delapan belas tahun itu akan dilalui dengan sesakit ini.

Dia ingat dengan jelas saat bagaimana percakapan menyedihkannya dengan sang pacar setelah kejadian menjijikkan itu. Dengan enteng, pacarnya menggap kejadian sebesar ini adalah angin lalu.

"Semuanya akan berakhir dengan sangat mudah, Jeng,"

Dinda bangkit dari duduknya, saat mendengar suara dengan nada tinggi itu dari luar. Suara dengan bahasa sangat baku, seolah menggambarkan jika suasana di sana sangat menegangkan.

Dinda masih berdiri di balik pintu kamarnya, memandang dengan seksama dari ujung matanya ada beberapa sosok yang ia kenal. Orangtua Panji, dan juga orangtuanya. Bersitegang karena kesalahannya.

Dinda masih ingat dengan jelas, bagaimana marah ayahnya saat mengetahui ini semua. Bahkan, ia sempat akan diusir dari rumah dan tak dianggap sebagai anak. Untunglah ia masih memiliki Ibu yang mengasihaninya, berusaha sekuat tenaga untuk menegakkan keadilan atasnya. Mulai dari beberapa kali mendatangi rumah keluarga Panji tapi selalu diabaikan, kemudian mencoba melaporkan masalah ini ke kantor polisi. Namun sayang, musuh dari kebenaran yang dibawa oleh orang miskin adalah uang. Hingga akhirnya, apa yang diusakan sepenuh tenaga oleh orangtua Dinda hanyalah sia-sia belaka.

"Anak Ibu telah menghancurkan masa depan anak saya. Lalu, Ibu berkata seperti itu, Bu? Apa Ibu tidak pernah berpikir bagaimana masa depan anak saya? Bahkan, saya sendiri sudah tidak tahu lagi bagaimana nasib anak saya setelah ini," jerit Nina—Ibu Dinda frustasi.

Dia berulang kali memukul-mukul dadanya dengan sangat keras. Sambil terisak karena sudah tak tahu lagi apa yang harus ia lakukan.

"Lho, kok jadi putra saya yang salah, Jeng? Bukankah dua tahun terakhir ini mereka pacaran, kan?" kata Anggun—Mama Panji tidak terima.

Ternyata, pertemuan yang dibuat oleh keluarga Panji ini pun tak menghasilkan apa pun. Sebab bagi keluarga kaya itu, keluarga miskin adalah keluarga yang pantas dipandang sebelah mata.

"Kalau suka sama suka ya tidak bisa menyalahkan anak saya, dong. Itu anak Jeng Nina, kalau tidak merayu anak saya, mana mungkin, sih, bisa sampai terjadi seperti ini, Jeng. Yang harusnya disalahkan itu anakmu itu! Anak perempuan kok bisa-bisanya tidak tahu diri!" sindir Anggun.

Dinda melihat ibunya diam membisu. Dinda yakin, jika ibunya telah membuang semua harga diri, dan malu karena ulahnya. Dan itu berhasil membuatnya semakin merasa bersalah.

"Ya sudah, tidak perlu berdebat seperti ini. Saya punya cara untuk menyelesaikan masalah ini. Saya sebagai orangtua Panji, tidak akan pergi dari tanggung jawab. Tapi biar bagaimana pun, kami akan bertanggung jawab dengan cara kami sendiri...," kata Agung—Papa dari Panji. "Saya akan memindahkan Dinda ke salah satu SMA terbaik yang mungkin letaknya agak jauh dari tempat ini. Agar semua hal-hal buruk yang mungkin nanti akan terjadi bisa segera diantisipasi. Kalian tidak perlu khawatir mengenai biayanya. Kami akan menanggungnya sampai nanti Dinda lulus SMA. Satu lagi, kami jamin tidak akan ada yang tahu masalah ini selain keluarga kita. Oleh sebab itu, Dinda bisa melanjutkan hidupnya, dan anak kami bisa melanjutkan hidupnya juga tanpa beban dari kalian. Bagaimana?"

"Anda pikir—"

"Saya bersedia!"

Dinda tersentak dengan jawaban ayahnya yang memotong ucapan ibunya. Dinda bisa melihat dengan jelas, jika wajah ibunya kini sedang memandang ayahnya tanpa kata-kata.

"Pak, Bapak ini bagaimana—"

"Mau bagaimana lagi, Buk? Memangnya dengan Ibuk ngotot atas kebenaran-kebenaran ini, anak Ibuk itu akan bisa kembali seperti dulu lagi? Biar bagaimanapun, apa yang dilakukannya ini sudah fatal, Buk. Dan hanya ini cara satu-satunya untuk mengatasi semuanya! Bapak sudah angkat tangan, Bapak sudah nggak mau lagi membahas dan mendapat penolakan dari Ibuk!"

Dinda melihat, ibunya berlari masuk ke dalam kamar. Sementara ayahnya, telah sibuk dengan beberapa dokumen yang telah dibawa oleh orangtua Panji. Untuk kemudian, mereka saling berjabat tangan menandakan jika perjanjian itu telah disetujui oleh kedua belah pihak.

Lagi, Dinda hanya bisa menangis. Tapi, dia tidak bisa melakukan apa pun. Menolak pun tak mungkin, sebab masih diizinkan tinggal di rumah ini oleh ayahnya, Dinda sudah merasa bersyukur.

*****

Dan, setelah kedatangan orangtua Panji ke rumahnya. Kurang lebih seminggu, Dinda akhirnya benar-benar dipindahkan di salah satu SMA terfavorit di kotanya. Meski memang jarak antara sekolah, dan rumahnya terbilang cukup jauh. Oleh sabab itu ayahnya mengambil keputusan jika ia harus tinggal di kos-kosan. Alasan yang cukup klise untuk mengusir anak perempuannya dari rumah, karena dengan tinggal di kos yang bisa ditempuh jalan kaki menuju sekolah akan lebih baik, dari pada harus pulang—pergi dari rumah yang memakan waktu kurang lebih dua jam.

Lagi, Dinda menghela napas panjang. Tanpa bantahan, tanpa ucapan. Dia terus menjalani apa yang telah ayahnya perintahkan. Bahkan ibunya sempat beberapa kali mencoba membantah tapi hal itu berakhir mentah. Yang bisa ibunya lakukan hanyalah, menangisi kepergian Dinda. Semua rasa khawatir, dan cemas karena pisah jauh dengan anaknya selama kurang lebih satu tahun setengah benar-benar membuatnya resah. Jika bersamanya saja ada cowok jahat yang berhasil menyakiti putri kecilnya, lalu bagaimana saat jauh darinya.

Tapi, lagi-lagi Ibu Dinda tak bisa berbuat banyak. Yang bisa ia lakukan hanyalah memberikan secuil doa. Dari sayatan-sayatan hatinya yang kini telah terluka.

"Di sini kos-kosan putri. Namun demikian, kalau ada temanmu yang berkunjung diperbolehkan, kok, Dik. Tapi waktunya dibatasi. Mayoritas anak-anak dari SMA Airlangga kos di sini. Dan tentu, sebagian lainnya para pekerja juga mahasiswa. Kamu tahu kan, tempat ini strategis, makanya Ibu membuat beberapa tempat kos di sini," jelas pemilik kos kepada Dinda. Sambil mengajak Dinda menuju ke kamarnya.

Tempat kos di sini terbilang dalam kawasan yang cukup elit. Rupanya, orangtua Panji menganggap pemberian semua ini lebih dari setimpal untuk membayar harga diri Dinda. Tapi, Dinda tidak membantah, sebab rasa dendam dan sakit telah mematikan hatinya.

Dinda memandang tempat kos itu, setelah gerbang depan, ada sebuah pos satpam. Untuk kemudian, ada taman di tengah-tengah bangunan yang berisikan kamar-kamar berlantai dua. Di sisi kanan ada sebuah ruangan besar, seperti ruang tamu, setelahnya dapur, dan kamar mandi di luar. Meski kata Ibu kos, di dalam kamar juga disediakan kamar mandi masing-masing.

"Ini kamarmu, ya, Dik. Dan ini kuncinya, di sana kamu ada satu teman lagi. Saat ini dia sedang sekolah, sekolahnya sama dengan sekolahmu, kok. Semoga kamu betah ya, Dik. Ibu tinggal dulu," kata Ibu kos lagi, memberikan sebuah kunci kepada Dinda.

Ambar nama Ibu kos itu, usianya memang tidak terlalu pantas dipanggil dengan Ibu. Akan tetapi, Dinda lebih nyaman jika menyebutnya seperti itu.

あなたも好きかも

Jodoh! Masa Gitu?

Heningtyas Permata Hati (17) seorang gadis desa yang polos tapi bar bar, dalam hidupnya hanya ada satu tujuan, menikah dengan anak juragan tanah yang gantengnya mirip aktor Bolywood kesayangannya. Di sela menjalani hari dengan tujuan hidup yang tak tergoyahkan, nasib buruk menghampirinya, seorang pemuda tampan dari kota (Anggara Yuda Pradipta, 18) datang dan tinggal di rumahnya dengan alasan yang tidak jelas. Orangtuanya pun tak bisa memberi jawaban yang memuaskan. Pemuda itu memiliki kepribadian ganda menurut Hening, kadang dingin kaya kulkas khusus es batu, kadang panas kaya api neraka. Dan jangan tanyakan tingkat ketajaman lidahnya, kalo udah ngomong nyakitin sampe ubun-ubun bayi baru lahir. Nasib buruk Hening tak sampai di situ, setiap hari pemuda itu menjadi sumber masalahnya, dimana dia tak bisa lagi khusyuk berdo'a untuk meminta pada Tuhan agar anak juragan tanah itu menjadi jodohnya. Sial! "EHHH ... MONYET! ANGKAT KAKI DARI RUMAHKU!!!" Dengan angkuh Dipta berkata, "ngusir gue? Nggak sadar diri! Gubuk reot lo ini berdiri di atas tanah kakek gue! Kalo ada yang harus angkat kaki, itu lo!" Mulut Hening menganga sampe hampir jatuh ke lantai, baru tekatup saat mendengar pintu kamar di banting dengan kuat. "Ya Tuhan! Apa salah dan dosaku!!" Jerit Hening yang di sambut tendangan maut dari dalam pintu kamar. Jantungnya hampir copot di buat cowok gila itu. Keselnya bukan main si Hening. Bagaimana nasib Hening selanjutnya? Bisakah dia mempertahankan tujuan hidupnya? Sementara Anggara Yuda Pradipta terus mengusik jiwa dan raganya. Dan apakah penyebab Anggara Yuda Pradipta berakhir di rumahnya? Ikuti kisah mereka dalam novel 'Jodoh! Masa Gitu?' Yakin bakal di buat ngakak dan baper parah. Dan yang paling penting, kalian bakal menemukan banyak rahasia dalam kisah mereka. Baca juga novelku yang lain ya. 1. Annaya dan Takdirnya. (700 views dan 900 colection) 2. Pernikahan Sementara. (2M views dan 8,6k colection)

Ardhaharyani_9027 · ティーン
レビュー数が足りません
347 Chs

Benar-Benar Cinta

Brak! "Aduh, sorry gue nggak sengaja" ucap Clara sambil meringis karena jatuh. Clara bangkit dari jatuhnya, lalu ia melihat Siapa yang sudah ditabraknya. Betapa terkejutnya ia saat tahu jika yang ditabraknya itu adalah ketua Most Wanted sekolah, sungguh ia sama sekali tidak menyadari jika saat ini dirinya sudah menjadi pusat perhatian para siswa dan siswi di tempat itu. Semua orang memandangnya kasihan, tentu karena ia sudah mencari masalah dengan ketua Most Wanted sekolah itu. "Astaga, mati gue. Kenapa harus dia sih yang ketabrak, duh pasti panjang nih masalahnya," batin Clara merasa bodoh dan menyesal. Orang yang ditabrak oleh Clara menatap gadis itu dengan tajam, wajahnya terlihat kesal dan marah pada Clara. "Lu punya mata kan? Gunain dong kalau jalan," tukas Alex dengan sinis. Clara menatap heran dengan alis yang sedikit terangkat, padahal dia sudah meminta maaf tadi tapi sepertinya Alex tetap kesal pada dirinya. "Dih, maaf aja nih ya. Dimana-mana jalan tuh pakai kaki bukannya pakai mata," balas Clara dengan santainya. Alex merasa semakin kesal dengan jawaban Clara yang sangat berani itu, akhirnya Alex pun langsung membentak Clara dengan wajah tidak bersahabat. "Lo berani sama gue!" gertak Alex dengan tajam. Mendengar hal itu Clara langsung menampilkan seringainya, lalu ia balik bertanya pada Alex tanpa ragu. "Kenapa harus takut? Memangnya lo siapa?" balas Clara tanpa takut. "Asli, berani banget lo nantang gue," gumam Alex dengan seringainya. Clara menatap Alex dengan heran, padahal ia sama sekali tidak menantang pria itu. Tapi sepertinya Alex salah paham dengan maksud Clara, dan terlihat semakin kesal karenanya. Tapi itu bukan masalah untuk seorang Clara, karena ia pun bisa membalas kesombongan pria itu. "Denger ya, sekaya apapun lo sama sekali tidak berarti buat gue. Dan gue nggak akan pernah takut sama orang kayak lo, pahamkan?" tantang Clara langsung pada Alex. The boys yang Mendengar hal itu merasa terkejut, tidak biasanya ada orang yang berani melawan ketua mereka dan sepertinya cewek akan itu membawa hal baru untuk mereka, the boys pun menyeringai menatap Clara. "Menarik," batin Alex berkata. "Dah lah, ganggu waktu gue aja. Awas gue mau lewat!" usir Clara pada Alex. Lalu, bagaimana kisah mereka selengkapnya? (⚠️ Mengandung beberapa part 21+)

SAChan_ · ティーン
5.0
275 Chs
目次
1