Saat ini, mungkin hanya slogan Cheng Yang yang dapat mengekspresikan perasaannya: "Saya sudah memiliki bajingan ini."
Firasatnya dari beberapa hari yang lalu akhirnya menjadi kenyataan. Jika ia tahu sebelumnya bahwa memberikan kesempatan pada Lu Chenzhou akan melahirkan tindakan 'terinspirasi' seperti ini, dia… dia harusnya mengambil semua uang itu dan pergi. Dan ia harusnya tidak membiarkan pelayan mengirimkan pesan itu.
Seperti yang diduga, bertindak tanpa berhati-hati sangat fatal.
Tiba-tiba terdengar keributan di pintu klinik. Suara perawat yang telah membantunya tadi. Saat ia melihat ke luar pintu telah dipenuhi orang, dia berasumsi pasiennya itu telah datang. Jadi dia berbalik dan masuk kembali, saat ia mendengar si Botak mengumumkan sesuatubyang mengejutkan hampir saja ia tersandung.
Dia tahu bahwa parasnya akan membuat para lelaki mengejarnya. Namun, ia tidak berharap pria ini akan sangat berani memesan smua jadwal kliniknya… Apakah ini nyata? Gossip ini sangat menarik jadi ia harus segera menyebarkannya!
Tetapi setelah Cheng Xi memperingatkannya, perawat itu mencoba meredam keinginannya. Dia tersedak sebelum mulai mempersiapkan diri, Dokter Cheng, apakah pasiennya sudah disini?"
"Ya." "Tidak."
Dua suara berbicara bersamaan, dangan jawaban berlawanan. Si Botak melirik Cheng Xi saat tersenyum, dan memberikan anggukan genit pada perawat. "Pasangan Dr Cheng khawatir mengenai jam kerjanya dan telah memesan semua slot janji temu pasien untuk dua hari kedepan. Selamat untuk keberuntunganmu—nikmati waktumu beberapa hari."
Mendengar hal ini, urat dahi Cheng Xi berdenyut cepat, sangat marah. Perawat itu menatap si Botak dengan ternganga. "Pasangan Dr. Cheng…tapi, tapi Dr Cheng seorang dokter…" ia melihat pada Cheng Xi. "Apakah ini sesuai dengan kebijakan rumah sakit?"
Cheng Xi terdiam sesaat, kemudian memandang perawat yang benar-benar terkejut medengar berita ini. Ia menjawab santai, "Mengapa kamu tidak keluar dulu?" sebelum perawat keluar dari pintu, ia berteriak, "Dimana Tuan Lu? Lelucon ini sangat menjengkelkan dan menyulitkanku. Jadi, dapatkah kamu memberitahunya bahwa aku ingin berbicara dengannya?"
Tapi pernyataannya itu tidak berguna; hanya satu jam berselang, seleuruh departemen telah mendengar bahwa ia telah menemukan seorang kekasih yang sangat kaya yang bisa memesan semua jam temu pasien. Dan sore harinya, Cai Yi bahkan ikut mengetahui dan memanggilnya untuk alasan itu. "Apa yang terjadi? Siapa yang menyebabkan kekacauan ini? Cheng Xi, ini sebuah rumah sakit, bukan tempatnya untuk bermain-main."
Jelas, dia tidak tahu orang yang maksud adalah Lu Chenzhou. Cheng Xi memijat dahinya saat menjawab, "Profesor, pria yang bertanggung jawab untuk ini, Lu Chenzhou."
"Apa?"
Cheng Xi mendesah. Setelah si Botak keluar, dia telah mencoba menghubungi Lu Chenzhou. Sialnya, pria itu tidak ingin melihatnya, dan tidak mengangkat teleponnya.
Dia tidak mencoba menyembunyikan ini dari Cai Yi. Setelah mendengar hal ini, Cai Yi tidak tahu harus menangis atau tertawa. "Pria ini… Baiklah, Aku akui sebagai kesalahanku. Aku akan menegurnya. Apakah pihak rmah sakit menyulitkanmu dengan peristiwa ini?"
"Saat ini direktur rumah sakit tidak berada di sini. Tapi sayang, kepala departemen menyuruhku menemuinya setelah bekerja.
Cai Yi justru tertawa. "Kamu dokter pertama yang direpotkan seorang pasien pada situasi seperti ini. Baiklah, jangan tertalu khawatir. Aku akan ikut bicara dengan kepala departemen."
Sakit kepala Cheng Xi langsung lenyap dan menautkan kedua tangannya. "Terima kasih Profesor."
Cai Yi segera menyelesaikan pekerjaannya sebelum jam kerja Cheng Xi berakhir, dia mendapat pesan bahwa kepala departemen menolak undangannya untuk minum teh.
Setelah bekerja, Cheng Xi mengunjungi Lu Chenzhou.
Saat itu hujan gerimis, supir telah menjemputnya. Setelah berkeliling sebentar, mobil berhenti di lapangan tenis dalam.
Ketika membuka pintu mobil, sebuah bola mengarah ke wajahnya; jika saja terlambat mengelak, bola itu bisa membutakan sebelah matanya.
Bola itu terus melaju ke arah Cheng Xi, menabrak kusen dan kembali ke lapangan seperti peluru.
Cheng Xi berkeringat dingin. Saat menatap Lu Chenzhou lagi, dia tidak terlihat bingung sama sekali. Bukannya menyapa, pria itu terus mempraktekkan servis brutalnya.
Cheng Xi menghela napas, mencoba mengabaikannya. Merasa lelah, ia akhirnya berjalan menghampiri Cheng Xi.
"Tuan Lu. Bisakan kita bicara?"
Ia menyeka keringat di kepalanya dengan handuk, dan mengintip ke arahnya dari atas. "Kamu menerima tawaranku?"
Benar-benar sebuah mesin yang tidak akan berhenti sebelum tujuannya tercapai.
Cheng Xi menghentikan langkahnya dan mulai membahas masalah itu. "Tuan Lu, Aku pikir kamu mengerti tujuan profesor mengenalkan kita bukan bertujuan untuk kencan buta, tetapi memintaku membantumu sebagai seorang dokter.
Tangan Lu Chenzhou berhenti bergerak. Meletakkan handuk, ia menghapus senyum dari wajahnya dan menghampiri Cheng Xi. Saat mendekat, sikapnya yang mengesankan membuat Cheng Xi merasa sulit bernapas.
Pria itu mendorongnya ke dinding, memberi sedikit jarak diantara mereka dan meletakkan tangan di dinding. "Sebagai dokter?" ia mencibir. "Jangan kira kamu istimewa karena kamu seorang dokter. Ini sebuah pertanyaan. Apa kamu percaya aku bisa menghilangkan gelar doktermu?"