webnovel

Sword Anthem

Auteur: ReIN
Fantastique
Actuel · 128.3K Affichage
  • 4 Shc
    Contenu
  • 4.7
    10 audimat
  • N/A
    SOUTIEN
Synopsis

Reiss Veil Drag Reizhart adalah seorang pangeran langit yang di tuduh atas pembantaian anggota kerajaan. Ia dikhianati oleh sahabatnya sendiri hingga jatuh ke bumi. Di dalam tubuhnya tersimpan sebuah pedang takdir Regalia. Pedang itu memberitahunya bahwa ia di tujukkan untuk menghancurkan Omega yang akan memberikan kehidupan untuk Bunga Kehancuran. Kini bersama pedang itu ia harus menanggung beban masa lalu sebagai Kesatria Gagal. Terlepas dari kasih sayangnya terhadap dua orang perempuan, ia harus menempuh jalan penuh darah ini sendirian dengan taruhan nyawa dan juga kehidupannya sendiri.

Étiquettes
3 étiquettes
Chapter 1Prolog

Sorak para penonton mulai menggema di sekeliling arena pertarungan dengan semangatnya. Pertarungan antar kesatria di depan sana berhasil memikat perhatian penonton hingga jumlah yang luar biasa.

Suara aduan pedang saling berbenturan terlihat menyerupai kilat putih. Melesat luwes dengan lembut, tetapi kasar di saat yang sama.

Petarung kali ini adalah seorang perempuan berambut putih lengkap dengan pakaian rapi. Matanya yang biru-violet persis seperti permukaan air yang tenang. Menggenggam Rappier di tangan kanan, permainan senjatanya sangat lincah jika dibandingkan lawannya.

Sedangkan di sudut yang berlawanan adalah seorang lelaki berambut hitam yang membawa sebuah pedang di tangan kanan dan perisai yang kokoh di tangan kirinya. Sayangnya pergerakannya terbatas akibat zirah yang menutupi tubuhnya secara menyeluruh.

Perempuan berambut putih itu menari-nari di atas arena dengan anggun. Melesatkan setiap serangan dan hantaman dengan cepat. Sedangkan lawannya hanya bisa melangkah mundur dengan pasrah.

Sesekali kesatria itu menghunuskan pedangnya, tetapi nyatanya meleset semua. Di sisi lain merpati putih melompat seperti kelinci lincah lalu memberi tekanan bagai elang pemburu.

Berkat kemampuannya dalam memainkan senjata, sang kesatria besar kembali terdorong mundur. Terlihat dari napasnya yang terengah-engah, raut wajahnya pun menjadi kompleks. Tidak lama kemudian ia pun menunduk dan jatuh terduduk seperti kesatria.

Memanfaatkan momentum yang muncul, sang perempuan bergerak cepat lalu menghunuskan senjatanya tepat ke arah leher pria itu lalu berhenti begitu jaraknya hanya satu senti dari kulit.

Mulut sang kesatria besar sedikit menggeram, tetapi pada akhirnya ia menyerah dengan melepaskan semua atribut tempurnya. Dan sorak-sorai pun kembali terdengar mengisi penuh arena itu dengan kehidupan.

▼▼▼

Aku bisa mendengar suara orang-orang di luar sana dengan sangat jelas menggema di sini. Dalam ruangan kecil yang diperuntukkan untuk para peserta, aku duduk sendiri sambil memegangi pedang kayu.

Hingga sebuah suara memanggilku untuk pergi menuju arena. Aku pun bangkit dan meregangkan lenganku beberapa saat.

"Hmm... sepertinya kali ini giliranku."

Aku pun membuka pintu dan berjalan di lorong yang cukup panjang. Pemandangan ini… sangat membuatku terkenang dengan masa lalu. Aku pun tiba di ujung lorong dan cahaya matahari menyapaku bersamaan dengan sorakan yang tidak menyenangkan.

Layaknya ejekan dan hinaan yang sangat khas, aku terkekeh kecil mendengarnya.

"Hahaha... lihat! Apa kau tidak jera?"

"Woii.. sebaiknya kau mundur atau tidak kau akan di tendang keluar arena, ahahaha"

"Hahaha... Kesatria Gagal, ingat julukanmu. Sudah pasti kau akan langsung kalah."

Ini memang sangat menggelikan karena mereka masih mengingatku hingga saat ini. Aku jadi terharu, bahkan setelah bertahun-tahun tampaknya gelarku juga masih bertahan.

Selain itu… tempat ini masih tidak berubah sama sekali.

Lawanku kali ini adalah seorang lelaki berjanggut dengan aksen seperti orang mabuk. Ia menggenggam sebuah kampak dengan lengan kanannya. Aku tidak tahu mengapa, tetapi aku merasa seperti anak kecil ketika berdiri di hadapannya.

"Anu... bisakah paman bermain pelan denganku?"

"Hahaha... ada apa pria kecil? Apakah kau takut dengan paman ini"

"Ahahaha. Tidak, tidak… hanya saja paman perlu berhati-hati dengan kaki paman," ucapku dengan seringai kecil.

"Kaki?"

Suara bunyi gong pun terdengar lantang dan pria besar di depanku dengan ganasnya langsung menerjang. Hahh… padahal aku sudah berbaik hati memperingatinya, tetapi ia sama sekali tidak menggubris hal itu.

Aku sendiri sebenarnya tidak ingin melakukan hal ini dan ingin bermain lembut dengannya, tetapi pada daya jika ia sama sekali tidak menerima kebaikanku, 'kan? Kalau begitu aku tidak usah menjadi orang baik lagi.

Mengandalkan teknik langkah kaki, aku menghembuskan napas, begitu kaki kanannya terangkat tinggi pada saat itu juga aku menerjang cepat menggunakan kecepatan kilat.

Setelah itu kutendang kaki kirinya sekuat mungkin hingga tubuhnya mengapung beberapa saat. Memanfaat momentum itu aku langsung mendorong tubuhnya dengan telapak tangan kanan sekuat mungkin.

Alhasil dalam hitungan detik itu tubuhnya terlempar jauh hingga menghantam dinding arena dalam.

"Bhuaggh!!—"

"Lihat? Seharusnya kau mendengarkan apa kataku… hahh," ucapku sambil menyeringai kecil.

Akhirnya aku berhasil membungkam orang-orang ini. Bahkan arena ini menjadi hening dengan ekspresi konyol mereka bisa kulihat dari tempatku berdiri dengan jelas. Sungguh menggelikan, bahkan aku ingin tertawa melihat raut wajah mereka.

Namun, keheningan itu akhirnya pecah dengan teriakan antusias seorang laki-laki yang kemudian dengan disusul oleh teriakan lainnya. Alhasil bukan saja telingaku yang dibuat berdengung oleh suara itu, tetapi aku juga bisa merasakan udara di sekitar sini sedikit bergetar.

Sebenarnya aku tidak berharap mendapatkan tepuk tangan atau penghargaan apa pun, apa yang aku inginkan adalah pembalasan. Setelah bertahun-tahun aku memendam perasaan ini, akhirnya hatiku menjadi lega.

"Aku menyerah!!" teriakku lantang lalu berjalan menuju ke luar arena dengan santai.

Dan sekali lagi suasana tempat ini menjadi hening selagi aku pergi menuju keluar arena dengan ekspresi puas.

Vous aimerez aussi

My Heart Is Breaking

Hallo ketemu lagi dengan karya Berli yang kedua. Kalau yang kemarin kisah Lardo dan Lalita sekarang kita pindah ke kisah Tiara dan Dante. Semoga Kalian suka ya. Sertinya anda salah paham pak, kemarin hanya sebuah kesalahan, saya tidak bermaksud mengoda atau merayu anda seperti teman-teman saya yang lain. Dante menarik Tiara duduk dipangkuanya "Aahh...Tiara terkejut apa yang anda lakukan?!!!" "Mencari tahu nona" "Men..mencari tahu "tentang apa?" "Satu tangan Dante memeluk kuat pingang Tiara sehingga Tiara tetap dalam pangkuan Dante. Umm...Dante menyipitkan matanya, bagaimana rasanya bibir kecilmu ini Tiara. Aku penasaran, "Lepaskan. Aku bisa melaporkan anda telah melecehkan karyawan anda" "Ha.....ha...menurutmu apa ada yang akan percaya ?" "Aku tidak perduli, lepaskan aku." "Tidak sebelum aku tahu bagaimana rasanya bibir mungilmu ini, tidak pernah ada wanita yang menolakku Tiara dan aku tidak pernah meminta seorang wanita menghangatkan ranjangku seperti aku meminitamu barusan, kau sangat sepesial sayang, seharusnya kau bangga" Jadi berhenti jual mahal, aku sangat tahu dengan sikap sepertimu ini Tiara aku sedang tidak ingin merayumu. Ini hanya permainan kecilmu untuk menaikkan nilai" "Nilai katamu" aku bukan barang tuan besar!" teriak Tiara emosi "Sialan kau Tiara!" bentak Dante Keluar dari ruanganku sekarang juga! teriak Dante dingin, Tiara mencicit keluar dengan jantung berdebar sangat kencang, jangan lupa kopi pahitku besok pagi ingatnya dengan dingin "Apa kau tidak takut aku meracuni kopimu?" "Dante menatap intens kedalam kedua mata Tiara, aku yakin kau tidak akan melakukannya, sekarang keluar. Tiara memegangi dadanya, merasakan dentum jantungnya yang mengila, sialan Dante, aku belum pernah melihat Dante berteriak seperti tadi.

Berliana_Manalu · Fantastique
Pas assez d’évaluations
207 Chs

Last Boss

Kenapa Iblis itu harus dibunuh? Pertanyaan itu muncul di kepalanya ketika ia diminta untuk mengisi kuisioner setelah dirinya berhasil mengakhiri game yang baru saja keluar kemarin. Edward, dia adalah seorang pelajar SMA tahun terakhir yang memiliki hobi bermain game. Dia adalah seorang maniak, hampir semua game yang dikeluarkan 2 atau 3 tahun sudah ia selesaikan. Game baru keluar, Aester World, ia menamatkannya hanya dalam waktu kurang dari 48 jam. Game menunjukkan credit staff yang terlibat bergerak ke atas sebagai tanda akhir dari permainan, namun ketika kredit selesai muncul sebuah pertanyaan. Ia berpikir jika itu hanya ulasan untuk iklan game mereka, namun semakin lama muncul pertanyaan yang semakin aneh. Hingga terakhir muncul sebuah pertanyaan yang tidak bisa ia jawab. Kalau begitu, bagaimana jika Kamu menjadi Raja Iblis? Monitor seketika berubah menjadi warna putih, cahaya dari layar menjadi sangat terang daripada biasanya sampai membutakan matanya untuk sesaat, lampu kamar tiba-tiba menyala sangat terang lalu meledak. Ruangannya bergetar hebat seolah di terjang gempa, ia melompat dari kursi karena panik, berlari kearah pintu keluar. Ketika matanya terbuka, semuanya berubah. Tidak ada lagi ruangan sempit yang berantakan, tidak ada lagi cahaya monitor yang menjadi sumber cahaya ruangannya. Semuanya berubah, hanya ada ruangan luas dengan cat merah gelap, ranjang yang luas, dan seorang perempuan yang siap melayaninya kapan saja. Ia berubah menjadi Boss Terakhir dari game Aester World, mungkin itu terdengar sangat luar biasa namun tidak untuknya ketika tahu takdirnya akan berakhir di tangan sang pahlawan. "Jangan bercanda! Aku tidak mau hidup ku berakhir! Aku akan bertahan hidup dan mengubah takdir ku!"

Sonzai · Fantastique
4.7
181 Chs

audimat

  • Tarif global
  • Qualité de l’écriture
  • Mise à jour de la stabilité
  • Développement de l’histoire
  • Conception des personnages
  • Contexte mondial
Critiques
Aimé
Nouveau
El_BryanBrunch
El_BryanBrunchLv1

SOUTIEN