Pantas saja dada Rubi mendadak sesak. Ternyata Anti dan Melani sedang membakar sesuatu di belakang sana. Parahnya lagi, kedua wanita itu menghanguskan seluruh pakaian peninggalan Bunda Rubi.
Rubi begitu syok sampai-sampai ia terjungkang ke bawah. Ia dapat melihat dengan jelas jika Anti dan putrinya sedang tertawa jumawa. Tak mereka pedulikan perasaan Rubi.
Rupanya Anti mengambil seluruh pakaian itu dari lemari Rubi saat ia sedang membersihkan ruang tamu. Kini, tak ada lagi yang tersisa. Semua telah berubah menjadi abu.
"Rasakan kau gadis kampung! Semua ini kami lakukan agar kau tidak memakai baju bodohmu ini lagi. Pakaian bagus masih banyak di lemari," tegas Melani mengingatkan.
Keduanya tak ingin jika Jaya memiliki istri yang penampilannya tidak modis. Rubi tak akan mau menggunakan pakaian pemberian suaminya. Jika baju-baju almh bundanya dibakar, maka Rubi tak akan punya alasan lagi untuk menolak.
"Nyonya, kenapa kalian tega sekali?"
Dengan sulit Rubi mencoba bangkit. Ia menghampiri dua manusia yang tengah bermain api.
"Kau mau marah? Silahkan!" ejek Anti. Ia tahu bahwa Rubi tak akan mampu melawan.
"Hanya itu peninggalan bundaku hiks hiks." Air mata Rubi perlahan jatuh.
Tak ada yang bisa ia lakukan selain menyesali perbuatan mertua dan iparnya. Nasi sudah menjadi bubur. Tak ada yang bisa diselamatkan karena seluruh pakaian itu sudah menjadi abu.
"Dasar, perempuan cengeng! Ingat ya, Rubi. Ini belum seberapa. Kalau kau mengulangi perbuatanmu atau berlaku yang tidak-tidak, maka kami akan memberikan hukuman yang jauh lebih berat. Camkan itu!" ancam Melani. Ia menotol dahi Rubi menggunakan telunjuknya.
"Jangan sampai kejadian ini kau adukan pada Jaya maupun Hardi. Ingat pesanku!" Sekali lagi Anti memberi peringatan.
Anti dan Melani pun ngeloyor pergi setelah puas mengerjai Rubi habis-habisan. Mereka enggan peduli dan berharap bahwa Rubi akan kapok setelahnya. Kalau bisa, Rubi menuntut cerai saja dari Jaya. Sehingga Rubi tak lagi berada di tengah-tengah keluarga mereka.
"Maafkan aku, Bunda. Aku tidak bisa menjaga peninggalan Bunda dengan baik." Rubi terisak di sebelah kobaran api.
Ia melangsir air dari toilet guna memadamkan api tersebut. Hati Rubi benar-benar hancur. Ia trauma membuat masalah di keluarga suaminya lagi.
Ketika Rubi hendak masuk ke rumah guna menenangkan diri, tiba-tiba saja Rubi merasakan sakit yang teramat sangat di bagian punggungnya. Rubi kembali terduduk di lantai. Apa semua ini efek dari kelelahan bekerja? Namun, rasanya begitu asing. Tak lama setelah itu, Rubi melihat adanya cairan merah yang keluar dari selangk*ngannya.
"Astaga! Darah ini keluar lagi," cercahnya kebingungan.
Keesokan harinya, Rubi berkunjung ke rumah sakit untuk menanyakan kejanggalan yang terjadi selama ia menikah. Kerap sekali Rubi mengalami mens tidak teratur dan dalam kadar banter. Ditambah lagi sakit pinggang yang kerap menyerangnya. Rubi berangkat seorang diri. Sengaja ia menanti kepergian Jaya ke kantor.
"Bagaimana hasilnya, Dok?" tanya Rubi. Saat ini ia sedang berhadapan dengan wanita berpakaian serba putih.
"Ibu Rubi. Anda mengidap kista,"
Dengan berat hati sang dokter menyampaikan kabar duka tersebut setelah Rubi menjalani serangkaian pemeriksaan.
"Apa? Dokter main-main, kan?" tanya Rubi tak percaya.
"Sebentar," ucap sang dokter kemudian beranjak dari kursinya.
Wanita berkacamata itu meraih sebuah kertas dari meja nakas dan menyerahkannya pada Rubi. Ia membiarkan Rubi meneliti setiap detail hurufnya.
Seketika cecair asin kembali menggenangi pipi perempuan malang tersebut. Pantas saja belakangan ini ia kerap merasakan hal-hal aneh di tubuhnya. Ternyata Rubi sudah terkena penyakit kista.
"Dokter, apa saya masih bisa sembuh dan memiliki anak?" tanya Rubi khawatir.
"Bisa, Bu. Asalkan Ibu rutin berobat. Ibu juga bisa cek mingguan di tempat ini,"
Rubi bingung harus bersikap bagaimana. Dalam hati ia berdo'a semoga penyakitnya ini dapat disembuhkan. Selain itu, Rubi juga takut sekali pada Jaya. Pria mana yang tidak menginginkan seorang bayi?
Namun, mau tak mau Rubi harus menghadapi semua ini. Ia tak boleh lari dari masalah.
Malamnya ketika Rubi sudah bersama Jaya. Wanita berkulit putih itu menghampiri sang suami yang tengah berbaring di ranjang. Rubi menggigit bibir bawahnya. Bingung harus memulai semuanya dari mana.
"Mas," panggil Rubi.
Sementara itu, Jaya yang sedang fokus dengan pesan group di ponselnya langsung menoleh. Ia meraih tubuh Rubi dan membungkusnya dalam rengkuhan.
"Ada apa, Sayang?" tanyanya.
"Aku minta maaf, Mas,"
"Apa yang kau perbuat, hem?"
Jaya membenahi posisinya. Kini, keduanya saling bersila dan berhadapan di hamparan kasur.
"Maaf, karena aku tidak tahu kapan bisa memberi Mas keturunan," ujar Rubi penuh sesal.
"Hei, kenapa berbicara seperti itu?"
Jaya spontan menubrukkan alis. Bingung sekali dengan perkataan Rubi.
"Aku terkena penyakit kista, Mas." Pada akhirnya Rubi mencoba jujur.
"Hah, sejak kapan?" Sepasang netra Jaya membola. Kenapa baru dia tahu sekarang? "Apa kau sedang bercanda?" tanyanya lagi.
Rubi membuang udara berat. Sebenarnya ia tidak tega menyampaikan kebenaran. Namun, mau bagaimana lagi? Jaya merupakan suami Rubi dan mustahil ia menutupi semuanya dari pria itu.
"Tadi pagi aku ke rumah sakit, Mas. Dokter yang memberitahu. Aku juga punya surat keterangannya,"
"Rubi, kenapa kau tidak memberitahu Mas dulu?" Mimik Jaya khawatir. Ia menyesali perbuatan Rubi.
"Aku tak ingin mengganggu pekerjaan Mas. Lagi pula aku bisa pergi sendiri," balasnya datar.
Suasana hening selama beberapa saat. Jaya tidak tahu sejak kapan istrinya mengidap penyakit kista dan Rubi pun tidak menjelaskan secara rinci.
"Maafkan aku yang belum bisa memberi Mas keturunan," lirih Rubi seraya menundukkan kepala.
Pantas saja hingga sampai saat ini mereka belum diberi keturunan. Ternyata ada yang salah dengan Rubi. Sebagai pria bijaksana, Jaya tak ingin menyalahkan istrinya begitu saja. Dia pun tahu jika Rubi tidak menginginkan penyakit ini.
Jaya kembali menjatuhkan Rubi dalam pelukan. Pria itu paham betul kalau istrinya sedang dirundung duka.
"Sayang, jangan bersedih, ya. Mas tak akan mempermasalahkan itu. Lagi pula kau tidak divonis mandul, kan? Kita harus rutin cek ke dokter, ya. Ingat! Jangan rahasiakan apapun itu," titah Jaya menenangkan hati istrinya.
"Apa Mas serius?" Rubi memastikan.
"Iya. Jangan khawatir, ya,"
Rubi lega kerena pada akhirnya Jaya dapat menerima kekurangannya. Ia bersyukur memiliki suami seperti pria itu. Rubi berjanji tak akan pernah menyembunyikan masalahnya lagi. Ia harus melawan penyakitnya guna bisa memberi keturunan untuk Jaya.
***
Enam bulan berlalu.
Hari ini Hardi mengajak seluruh keluarga intinya untuk berlibur ke sebuah pantai. Semua ikut tanpa terkecuali. Ketika mereka sedang menikmati makan siang bersama, tiba-tiba seorang bocah menubruk kaki Hardi.
BRUGH!
"Eh, anak siapa ini?" tanya Hardi gemas. Kepalanya menoleh ke kiri dan kanan guna mencari keberadaan orang tua balita tersebut.
"Maaf, Pak. Ini anak saya," ucap seorang wanita berambut panjang.
Hardi pun membantu unyil cilik tersebut untuk bangkit dan menyerahkan pada ibunya. Setelah itu, ia membidik Jaya dan Rubi sambil berkata, "Kapan kalian bisa memberi Papa cucu?"
Degh!
Sepasang suami istri itu menghentikan aktvitas makannya.
***
Bersambung