RS Bumrungrad, Bangkok, Thailand.
Lagi-lagi ada buket bunga yang datang. Padahal Paing hanya tertular demam dan bukan meninggal, tapi setiap satu jam pasti seseorang masuk untuk menjenguknya di bangsal peristirahatan.
Paing tahu, siapa pun itu sebenarnya mereka tidak peduli. Semua hanya cari muka karena dirinya CEO baru, yang artinya belum hapal pemetaan orang di dalam perusahaan. Anehnya, Perth tidak berkomentar banyak saat ingin melapor padanya.
"Biarkan saja," kata Paing yang baru sadar dari pingsan ketiga kalinya. "Atau lebih bagus jika kau angkut semua. Risih. Buang atau berikanlah ke toko bunga. Siapa tahu mereka mau menjualnya ulang."
Mengabaikan buket bunga-bunga, Perth cepat mendekat untuk duduk di sebelah Paing. "Daripada itu, ini map kuning yang Anda inginkan," katanya, lalu mengulurkan sebuah berkas untuk sang Presdir. "Terus, soal Tuan Natta sepertinya tidak bagus. Beliau tidak ingat apapun samasekali. Jadi, sayalah yang dikira mengurusnya malam itu."
DEG
Apoya a tus autores y traductores favoritos en webnovel.com