webnovel

Chintya, Please Help Me

Alena melempar tas hermes nya. Tas yang sebenarnya terlalu mewah untuk ukuran mahasiswa tergeletak tak berdaya di dekat sofa. Ia sudah tidak perduli kalau di dalamnya ada gadget seharga puluhan juta. Alena mengambil sebotol air mineral dingin dari kulkasnya. Asisten pribadinya yang bertugas menjaga kebersihan apartemennya sudah dari tadi pulang. Bahkan makanan sudah tersedia di meja oval yang berada di dapur apartemennya.

Usai menenggak isinya Alena melemparkan tubuhnya ke kasur yang empuk dan mulai menangis tersedu-sedu. Semakin ia mengingat Nizam semakin keras suara tangisnya. Ia sudah tidak peduli dengan paha mulusnya yang terumbar kemana-mana mengingat di apartemen nya tidak ada siapapun. Suara tangisnya berhenti ketika mendengar pintunya di ketuk. Alena melihat remote control apartemennya dan melihat layar remotenya. Remote itu bisa mengontrol pintu, lampu, jendela, pemanas dan ac. Remote itu dilengkapi dengan layar yang memungkinkan ia bisa melihat siapa yang ada di luar atau siapa yang ada di dalam rumah ketika ia ada di luar rumah. Wajah cantik Cyntia terlihat di layar remote. Alena segera memijit tombol untuk membuka pintunya.

Begitu pintu terbuka Cyntia langsung menghambur ke dalam. Dan ketika dilihatnya Alena duduk di ranjang dengan mata bengkak Cyntia segera menghampirinya dan memeluknya dengan erat. "Apa yang terjadi? please tell me! " Tanya Cyntia sambil mengelus punggungnya.

"Nizam..I can't stand anymore.. he hurts me. Alena mengadu sambil terisak.

"How can he do that to you? I really don't understand" Cyintia tidak mengerti bagaimana Nizam teman kuliahnya yang sedingin gunung salju bisa menyakiti sahabatnya. Padahal ia tahu persis kalau Nizam sangat menghindari berbicara dengan wanita. Kecuali say hello basa basi atau tersenyum tipis antara ada dan tiada.

Bagaimana bisa Nizam menyakiti Alena kalau Nizam hampir tidak pernah memandang wanita kecuali dosen wanita yang sedang menjelaskan atau lawan debatnya ketika mereka sedang berdiskusi. Sungguh pria yang aneh. Tapi dibalik semua keanehannya ia memandang sahabatnya Alena lebih aneh lagi. Bagaimana bisa gadis cantik yang hampir membuat setengah pria dikampusnya klepek-klepek jatuh cinta, malah mencintai orang sekeras patung liberty. Terkadang ia kasihan melihat Alena tersiksa karena mencintai Nizam diam-diam. She's chasing flying pigs, Ia bagai pungguk merindukan bulan. Ok lah Nizam sangat tampan, setampan Pangeran-pangeran Arab dalam cerita 1001 malam, atau setampan dewa dewa Yunani yang ada dalam cerita mitologi. Tetapi sikap dingin dan misteriusnya tidak ada satu pun gadis di kampusnya yang berani mendekatinya.

"Alena, ceritakan apa yang terjadi? " Cyntia mengendurkan pelukannya lalu memegang bahu Alena. Alena tersedu sedan bercerita tentang perlakuan Nizam padanya ketika Alena duduk disampingnya. Cyntia terkejut dengan muka kesal ia berkata.

"Alena kamu jangan diam saja. Kamu harus berjuang untuk mendapatkan orang itu. Ia sudah terlanjur menghina kamu. Sekalian saja kamu kejar dia. " Cyntia berkata dengan berapi-api.

Mendengar kata-kata Cyntia mata Alena yang indah membesar. Air matanya berhenti mengalir. Dadanya berdetak kencang. Ia sudah merasa terhina jadi kalau nanti ia terhina lagi apa masalahnya buat dia. Nothing to lose apa pun yang terjadi tidak ada salahnya untuk mencoba. Genderang perang sudah ia tabuh jangan sebut namanya kalau ia tidak bisa membuat Nizam bertekuk lutut di kakinya. Bila perlu Nizam harus merangkak dikakinya mengharap cintanya.

Alena menghapus air matanya. Chintya melihat mata Alena bersinar-sinar dan bibirnya saling menggigit. Pipinya merona. Kecantikan Alena semakin terpancar nyata. Mengapa ada mata yang begitu besar bagai telaga yang jernih. Mengapa ada mata yang begitu bersinar indah bagai bintang di langit. Mengapa ada bibir yang begitu menggairahkan. Mengapa ada rambut yang begitu halus ikal bergelombang tergerai panjang. Alena begitu cantik. Cyntia menggelengkan kepala hati pria yang tidak jatuh cinta pada Alena kemungkinan ada dua. Ia tidak menyukai gadis cantik atau pria itu penyuka sesama jenis.

Cynthia bahkan berpikir kalau Nizam bisa saja penyuka sesama jenis. Cynthia tidak pernah sekalipun melihat Nizam tertarik dengan seorang wanita. Secantik apapun dia. Nizam selalu memalingkan muka jika melihat gadis dengan pakaian terbuka lewat di depannya. Nizam jarang berbicara dan Ia selalu duduk membeku di kursinya. Sungguh pria yang sangat aneh.

Siguiente capítulo