webnovel

Bab 3-BIBI

BIBI

Dara, pak RT, dan bapak sebelah rumah mereka sama-sama sedang duduk di ruang tunggu pasien. Dara yang mulai menangis segera ditenangkan oleh pak RT, saat seperti ini tetangga Dara memberanikan diri untuk menceritakan semua kronologi kejadian.

"Permisi Neng Dara dan pak RT, saya ingin menceritakan kejadian sebelum bibimu dilarikan ke rumah sakit." ujarnya dengan sedikit gugup.

Pak RT pun memberikan respon mengangguk, beliau (tetangga Dara) mulai menceritakannya dengan sangat detail dan singkat.

"Jadi setelah bapak mengantarkanmu ke koperasi, bapak lanjut menjemput bibimu. Disana masih terlihat baik-baik saja, saya dan bibimu mulai membereskan sisa dagangan yang memang belum terjual. Tetapi disaat barang dagangan terakhir, bibimu tiba-tiba terjatuh terduduk lemas. Mukanya sangat pucat, dan seketika tubuhnya mengeluarkan banyak keringat dingin. Tak lama setelah itu pingsan." tuturnya.

"Bi-bimu juga mengeluh rasa sakit kepala yang amat sakit Neng," tambahnya.

Lantas mendengar penjelasan tetangganya, Dara semakin menangis dan terus memanggil-manggil Pricilla. Pak RT dan tetangannya pun bingung, entah harus bagaimana cara menenangkan Dara, dan mengatakan semuanya akan baik-baik saja.

Disela menangisnya, Dara sempat memohon-mohon dengan pak RT agar ia segera cepat bekerja di koperasi desa.

"Pak, tolong saya ya saya ingin segera bekerja. Saya terima tawaran Bapak, esok bolehkah saya bekerja?" ujarnya sambil tersedu.

"Iya Ra, tetapi tolong tenangkan dirimu ya. Kamu pasti saya terima, kapan waktumu bisa kerja saya persilakan, lebih cepat lebih baik." balas pak RT.

"Terima kasih, Pak."

Beberapa menit berlalu, dokter yang sedang memeriksa Pricilla keluar dari ruangan. Sontak mereka bertiga segera bangun dari duduknya, dan berharap ada kabar baik dari dokter.

"Disini ada keluarga Pricilla?" tanya sang dokter.

"Saya ingin menmbicarakan sesuatu." lanjutnya.

Tanpa pikir panjang pak RT lah yang mengaku keluarga kandung dari Pricilla, dan dirinya diminta mengikuti dokter ke ruangannya.

"Saya titip Dara dulu ya." ucapnya kepada tetangga Dara.

Tetangga Dara pun hanya mengangguk, dan kemudian mereka berdua memasuki ruang rawat pasien. Dilihatnya Pricilla yang terbaring lemah dengan tubuhnya yang dibalut kain selimut rumah sakit.

Suasana kembali sendu, pasalnya Dara terus-terusan saja menangis, hingga membuat Pricilla tersadar. Dara yang melihat akan hal itu pun segera memeluk Pricilla erat, sedangkan tetangga rumah mereka turut gembira, sampai-sampai langsung menyerang Pricilla beberapa pertanyaan tanpa jeda.

Ditempat lain, pak RT sudah sampai di ruangan dokter. Ia lalu dipersilakan duduk, perlahan dokter mulai menjelaskan maksud dirinya ingin berbicara.

"Permisi Pak, apa anda keluarga kandung pasien?" tanya dokter.

" Sebenarnya saya bukan keluarga kandung pasien dok, pasien hanya tinggal berdua saja dengan keponakannya. Keponakannya pun masih belia, emosinya belum stabil untuk mengerti urusan seperti ini, jadi biarkan saya saja." jawab pak RT.

"Baiklah jadi pasien ini sepertinya sudah terlalu sering mengalami sakit kepala yang hebat, tetapi mungkin ia enggan memeriksakannya. Dan hari ini adalah puncaknya, dimana keadaan pasien cukup memburuk. Setelah saya periksa pasien mengidap penyakit hemrrhage atau pendarahan di otak."

Pak RT yang terkejut ketika mendengar hal itu tak kuasa menahan air matanya, ia benar-benar merasa kasihan dengan keluarga kecil Dara.

"Lalu bagaimana atau adakah cara supaya pasien sembuh dok?" tanya pak RT.

"Biasanya kami rekomendasikan untuk operasi saja Pak, walaupun resikonya juga terbilang cukup tinggi tetapi inilah jalan satu-satunya." timpalnya.

"B-berapa biayanya dok?" tanya pak RT.

"Biaya sendiri mencapai belasan juta Pak, saya bisa menunggu jawaban Bapak sampai esok hari ya. Untuk sekarang pasien diperbolehkan pulang terlebih dulu, jika siap operasi datang lah kemari dan menemui saya."

"Baik Pak."

Pak RT pun segera menemui Dara beserta lainnya ke ruang rawat. Ketika pak RT tiba, ia sudah melihat baik Dara, Pricilla dan tetangganya itu sedang mengobrol santai sambil tertawa kecil. Melihat itu pak RT makin tak tega jika harus mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.

Pak RT pun memasuki ruangan ia berusaha mengembangkan senyumannya, lalu ia mulai menghela nafas dan meminta untuk memperhatikan dirinya sebentar.

"Maaf sebelumnya saya ingin menyampaikan kabar buruk yang dimana ini menyangkut Neng Pricilla. Tadi selagi saya datang ke rungan dokter ia mengatakan sesuatu. Tetapi sebelum saya ungkap, apa Neng Pricilla pernah jatuh atau lainnya yang dimana kepala Neng terbentur keras?" ujar pak RT.

Detik ini semua mata tertuju kepadanya. Pricilla pun membenarkan posisi, ia sengaja memilih duduk bersender daripada terbaring.

"Pernah Pak, dan ini diluar sepengetahuan Dara. Saya juga sempat kejang di malam hari dan itu cukup sering disertai sakit kepala hebat. Lagi-lagi tanpa sepengetahuan Dara, karena saya takut membuatnya cemas. Seingat saya kenapa bisa terjadi seperti ini, karena minggu lalu saya jatuh terpeleset di toilet dan terbanting cukup keras. Itu pun Dara sedang di sekolah tidak di rumah." tutur Pricilla.

Dara tentu saja lemas kembali mendengar kejujuran dari bibinya. Ia kembali menangis dan cukup kecewa dengan pernyataan Pricilla.

"Kenapa Bibi ga bilang ke Dara? Apa salahnya bilang ke Dara Bi? Dara pasti tolong Bibi, Dara pasti bantu Bibi. Masih ada Dara disini." ucapnya sambil terisak-isak.

Pricilla pun ikut menangis, ia pun menjelaskan sekali lagi bahwa dirinya tidak mau membuat Dara cemas. Dara pun masih tidak terima. Lalu Pricilla pun kembali menanyakan upaya apa agar dirinya bisa sembuh total kepada pak RT.

Pak RT pun menjawab, "kata dokter Neng Pricilla harus segera dioperasi. Untuk biayanya mencapai belasan juta, akan tetapi kita bisa mengadakan bantuan sumbangan dari warga desa yang ingin membantu. Neng Pricilla tak perlu cemas akan biaya itu."

"Terima kasih banyak akan bantuannya Pak, pasti secepatnya akan saya ganti." ucap Pricilla.

"Loh tidak usah diganti Neng, sumbangan itu kan sukarela biar sisanya saya yang menambahkannya." balas Pak RT.

Disini Dara ikut angkat bicara, ia berkata, "sudah Bi, urusan mengembalikan uang biar Dara yang urus. Syukurnya Dara sudah diterima di koperasi desa. Pasti pendapatan Dara akan Dara sisihkan untuk mengganti uang pak RT." tutur Dara yakin.

Pak RT hanya tersenyum, dan mengusap puncak kepala Dara dengan lembut.

"Baik, ganti saja jika uangnya sudah ada ya Neng Dara. Bapak pasti akan memaklumi dan menunggu sampai kamu bisa mengembalikan."

Dara tersenyum dan mengucapkan banyak terima kasih kepada pak RT.

Setelah selesai mengurus administrasi, mereka berempat segera pergi dari rumah sakit dan kembali ke rumah masing-masing.

Tak lupa Dara dan Pricilla mengucapkan banyak terima kasih ke tetangga sebelah rumahnya, bapak itu pun berpesan tak perlu sungkan jika suatu saat Dara dan Pricilla membutuhkan bantuannya langsung saja datang ke rumahnya. Malam harinya, Dara ingin menemani Pricilla tidur, mereka sempat mengobrol ringan pada saat itu.

"Bi, doain Dara lancar ya kerjanya besok." ucapnya lirih.

5 menit berlalu, belum ada tanggapan apapun dari bibinya. Ketika ia membalikkan badan, senyumnya pun merekah. Dalam sekejap Dara memeluk bibinya erat dan kembali menangis sampai tangisannya lah yang mengantarkannya tidur.