webnovel

Pria Mana Yang Berani Mengejar Istrimu ?

Willy dan Febiola sudah duduk manis di toko, menunggu Chloe mengambil waktu istirahat.

"apa yang kalian lakukan di sini ?" Stefan yang baru datang entah dari mana menghampiri meja mereka dan langsung menginterogasi mereka.

"kenapa ? kamu mau mengusir pelanggan ?" tanya Willy sinis.

"keberadaanmu menganggu baristaku" kata Stefan sambil menunjuk Kasih, barista baru yang hari ini mendapat giliran masuk pagi.

Sejal Willy dan Febiola duduk, Kasih terus melirik Willy.

"itu karna pesonaku lebih menarik darimu" jawab Willy sambil menyesap kopinya.

"siapa bilang, ketampanan asia sepertiku jauh lebih menarik dari wajah bulemu" Stefan membela diri.

"oke kalau begitu kita bandingkan daftar gadis yang pernah kencan dengan kita" tantang Willy.

"Oke, kamu punya berapa ?" Stefan mengetujui untuk menaikkan egonya.

"kalian, mau sampai kapan memamerkan aib kalian, kalian pikir menjadi playboy adalah satu prestasi ? itu hanya dalih kalian sebagai pria plin plan yang memakai kedok mencari cinta sejati, pada dasarnya kalian hanya ingin bersenang-senang dengan mempermainkan hati wanita. Sekarang kalian sudah punya tunangan dan siap untuk menikah apa kalian masih mau membanggakan diri sebagai pria brengsek ?" Chloe menyela mereka dengan segala petuah mirip nenek-nenek. "Willy aku peringatkan kamu, Bio....adalah saudara perempuanku, kalau kamu sampai menyakiti dia, aku tidak segan-segan untuk mengulitimu hidup-hidup" ancam Chloe, lalu dia beralih pada Stefan "dan kamu, ishhh.....aku masih terganggu kenapa wajah Sisca terasa familiar bagiku...tapi aku peringatkan kamu, sekarang Sisca sudah ku anggap sebagai saudara perempuanku juga jadi kalau kamu berani membuatnya patah hati lihat saja konsekuensinya"

"ah...C.....seandainya kamu laki-laki aku pasti menikahimu" Febiola langsung berdiri dan memeluk Chloe dengan erat dan mencium kedua pipinya.

💞💞💞💞💞

Sementara itu Marco di lantai paling atas melihat semua yang terjadi di toko lewat komputer di depannya, ketika dia melihat Febiola memeluk Chloe dan mencium pipinya, tangannya mengepal erat dan menyumpah "sialan !!!! perempuan brengsek !!!! kenapa dia selalu memeluk istriku, bukannya dia punya tunangan ? kenapa dia tidak mencium tunangannya, malah mencium istriku, aku akan memotong tangannya"

Yola yang tengah berjalan masuk ruangan menghentikan langkahnya saat mendengar sumpah serapah pak bos, bulu kuduknya meremang.

Setelah Yola keluar dari ruangannya Marco melirik layar komputer dan melihat Febiola duduk merapat di samping istrinya,

Mata hitamnya menyipit.

Lalu Marco meraih ponselnya dan menelpon Ny. Suri

"ma, sudah sejauh mana persiapan resepsinya ?" tanya Marco begitu panggilan di terima dari seberang.

"besok mama mau ngajak Chloe untuk coba baju, kenapa memangnya ?"

"cepat selesaikan gaunnya, dan semua tetek bengeknya, aku mau acaranya di majukan satu bulan lebih awal"

"....."

"ma ?" tanya Marco saat tidak ada jawaban dari seberang

"Marco, bukanlah kalian sudah resmi menikah ? kenapa kamu tidak sabaran sekali untuk membuat resepsi lebih cepat ? kamu pikir mempersiapkan acara resepsi yang sempurna tidak butuh waktu ? banyak hal yang harus di persiapkan, untuk ukur baju saja tidak bisa hanya satu dua kali, belum persiapan kateringnya, gedungnya, undangannya, kamu pikir semuanya bisa di selesaikan hanya dengan satu kedipan mata ? apa sebenarnya yang kami harapkan dengan mempercepat acara ?" omel Ny. Suri pada putra sulungnya.

"aku mau segera mengumumkan kalau Chloe istriku, milikku, supaya orang lain membuat batasan yang jelas dengannya" jawab Marco dingin.

"heh....heh..."Ny. Suri terkekeh "kamu sedang cemburu ? pria mana yang berani mengejar istrimu ?"

"adik mantan tunangannya" jawab Marco kesal

"...." Ny. Suri berpikir sebentar "bukannya adiknya perempuan ?"

"hmmm...."

"wk...wk....." Ny. Suri terbahak "kamu memang persis papamu, oke mama urus dulu persiapan resepsi kalian"

Dan Ny. Suri mengakhiri panggilan. Marco melirik layar komputer dan meremas pulpen di tangannya sampai patah, si rambut jagung sejak tadi menempel pada istrinya membuatnya geram. Sebenarnya dia ingin turun dan melempar gadis itu, tapi banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan, terlebih lagi dia ingin mempercepat acaranya.

💞💞💞💞💞

Di lantai dasar Chloe sedang menginterogasi pasangan yang baru bertunangan itu yang notabene adalah sahabatnya.

"sekarang katakan sejak kapan kalian pacaran ?" Chloe melipat tangannya di depan dada sambil menatap tajam ke arah Willy.

"sejak balik indo, aku beberapa kali kesini nyari kamu, tapi kamunya gak ada jadi aku ngobrol sama Willy dan setelah beberapa kali ketemu kami mulai dekat dan sering jalan bareng" jawab Febiola sambil meraih tangan sahabatnya yang terlipat.

"bagaimana dengan pacar jepangmu ?" Chloe tidak mengalihkan matanya dari Willy

"aku sudah putus beberapa bulan yang lalu" jelas Willy.

"berarti kalian pacaran belum lama ini ? terus kenapa sudah langsung tunangan ?" selidik Chloe

"C...itu sebenarnya begini...." Febiola terlihat ragu-ragu saat akan menjelaskan

"biar aku yang menjelaskan" potong Willy "kamu masih ingat waktu aku pamitan untuk balik ke Italy ?" Chloe mengangguk "saat itu ayahku sedang sekarat dan sudah membuat surat wasiat, dalam wasiatnya beliau memberikan restoran, kafe dan villa yang di Bandung dan di Bali kepadaku tapi dengan satu syarat aku harus sudah menikah dalam tahun ini...." Willy berhenti untuk mengambil nafas sambil mengamati ekspresi sahabatnya yang mulai berubah, sepertinya Chloe sudah bisa menebak apa kelanjutannya "aku baru putus dengan Himiko dan aku sedang tidak berkencan dengan siapa pun, lalu secara kebetulan aku bertemu dengan dengan Febiola di kolosium Roma dia baru saja putus dengan pacarnya....kami ngobrol bareng dan aku menceritakan masalahku dan akhirnya kami bertunangan....plak.....plak....!!"

Dua bekas telapak tangan tercetak jelas di kedua pipi Willy yang putih.

"Will kita bersahabat selama beberapa tahun, dan aku tidak pernah ikut campur dengan urusan pribadimu, tapi kali ini aku tidak bisa membiarkanmu memanfaatkan saudara perempuanku untuk mendapatkan warisan, kalau kamu mau memanfaatkan gadis di luar sana silahkan tapi aku tidak mengijinkan kamu mengambil keuntungan dari Bio" wajah Chloe merah karna Marah, telapak tangannya berdenyut setelah menampar sahabatnya.

Semua rekan kerja Chloe menatap Willy dengan tatapan iba.

Febiola memeluk Chloe untuk menenangkannya "C...ayo duduk, aku akan menjelaskan" bisik Febiola lembut.

Febiola bersahabat dengan Chloe sejak SMU dia tau benar sifat dan watak sahabatnya. Dia akan melindungi orang yang dia pedulikan sampai titik darah terakhir, jadi mengajaknya berdebat saat ini bukanlah keputusan yang tepat, karna Chloe tipe orang yang lebih suka memakai tinju dari pada kata-kata.

"C...kami tunangan bukan untuk membuatnya mendapatkan warisan, aku jatuh cinta pada Willy" jelas Febiola setelah Chloe duduk.

"kamu jatuh cinta dengannya lalu bagaimana dengan dia ? Bi...kamu tahu berapa banyak gadis yang telah kencan dengannya dalam satu tahun ?"

"Sweety aku hanya kencan dengan mereka tapi tidak pernah tidur dengan mereka"

"omong kosong, aku yang membersihkan kamar kalian, aku yang membersihkan kon..."

Stefan langsung menutup mulut Chloe dengan tangannya "di larang berkata vulgar di sini" bisiknya.

"C....bagaimana pun masa lalu Willy aku bisa menerimanya, aku serius jatuh cinta padanya dan aku yakin aku bisa membuatnya mencintaiku juga, bukankah kamu dan suamimu juga menikah tanpa cinta, tapi lihat sekarang kalian mirip 'Habibie dan Ainun'" Febiola kembali mencoba meyakinkan sahabatnya.

"Bi...aku..."

"C.....please, kamu harus percaya padaku, kami akan baik-baik saja dan aku janji kami akan bahagia" Febiola memaksa Chloe menatap matanya.

Chloe menghela nafas "baiklah itu keputusanmu, tapi..." Chloe beralih menatap Willy "aku mengawasimu, sekali saja aku lihat kamu jalan dengan perempuan lain aku tidak akan memaafkanmu" ancam Chloe.

"bagaimana kalau perempuan lain itu kamu ?" goda Willy, Chloe meleletkan lidahnya dan berdiri

"kalau begitu kamu jalan sama aku saja" Stefan menyampirkan tangannya di pundak Chloe, tapi Chloe meraihnya dan memutarnya, Stefan mengaduh.

"kamu juga aku akan mengawasimu" ancam Chloe."lalu bagaimana keadaan ayahmu ?" Chloe beralih lagi pada Willy.

"yah....sekarang dia sudah mulai sehat, kalau aku mengenalkanmu mungkin dia akan langsung sehat"

"berhenti bicara omong kosong"ucap Chloe sambil meraih botol selai dan melemparnya ke arah Willy, lalu Chloe pergi sambil menarik Febiola bersamanya.

Nächstes Kapitel