webnovel

How Can I Forget You?

Bella Ellista, seorang wanita cantik dan cacat, berusia 26 tahun. Di waktu remajanya, Bella merupakan salah satu atlet figure skating Klub Jerman yang cemerlang. Beberapa kompetisi pun berhasil dia raih. Kehancuran hidup gadis itu baru saja di mulai, begitu kesuciannya direnggut paksa dan ditukar dengan dollar yang masuk ke dalam kantung Phillip. Bagi Bella yang masih berusia 16 tahun dan mengalami musibah yang meruntuhkan dunianya. Kematian adalah pilihan yang Bella putuskan. Meski kematian yang Bella inginkan, kedatangan seorang remaja, menggagalkan usaha bunuh diri yang coba dia lakukan. Kenneth Wayne, merupakan seorang developer real estate terkenal di kota Zurich, Switzerland. Pertemuan tak sengaja pria itu dengan seorang wanita cacat bernama Bella, menghidupkan jantungnya yang kosong bergairah kembali. Antara penyesalan dan cinta, manakah yang akan menang pada akhir keduanya nanti? Jika semua kebenaran yang lama tertutupi mulai terkuak. Menyebabkan luka & derita.

Angela_Ann · Urban
Zu wenig Bewertungen
24 Chs

Butik

Beberapa outlet-outlet bermerk maupun lokal berdiri di kiri dan kanan sepanjang jalan di salah satu The Nine Street tersebut.

De Negen Straatjes ini terletak di daerah timur Jordan, distrik kecil tersebut jalannya dipadati beberapa kafe yang sudah buka, dan toko-toko barang antik maupun indie.

Orang-orang sibuk berjalan kaki di atas kavling dengan raut wajah cerah meski udara dingin membuat pipi dan hidung mereka memerah.

Bella yang sudah berada di depan butiknya, membuka pintu butik, dan seorang gadis berambut hitam legam sebahu menyambut kedatangannya dengan senyum cerah.

"Bella, kau datang. Pagi sekali." kata gadis keturunan asli Indonesia itu sangat ramah. Bibirnya terus tersungging senyuman yang menulari Bella juga Jenny.

"Bahagia seperti biasa, Kanita. Apa sih rahasiamu, kelihatan senang terus?" tanya Jenny yang sangat penasaran.

Pasalnya setiap kali Jenny melihat Kanita, gadis yang baru berumur 19 tahun itu, kelihatan tersenyum terus.

Kanita terkikik mendengarnya, "Bersyukur Jen. Aku selalu bersyukur di setiap kesempatan maupun keadaan. Tidak peduli betapa sulitnya hidup yang aku temui, aku menikmati dan menjalaninya. Lagipula bersedih dengan banyak hal yang tidak kau senangi hanya akan membuatmu semakin gelisah, apa aku benar?"

"Yah, baiklah. Kau selalu benar Kan, aku curiga apa jangan-jangan kau ini seorang ibu-ibu yang melakukan bedah plastik yang berubah menjadi berkulit seorang gadis seperti sekarang. Jangan salahkan aku, watakmu tidak sesuai usiamu, Kan. Dan Bella pun setuju dengan pendapatku!" ucap Jenny sarkas. Bella hanya memutar bola matanya mendengar keanehan sahabatnya itu.

Kanita tertawa tidak membawanya ke dalam hati, candaan seperti ini sering dia jumpai di butik ini.

Karena sikap bijak inilah, yang membuat Bella mempekerjakan Kanita, dia bukan hanya gadis belia yang manis dan ramah, namun aura yang dibawanya membuat orang-orang nyaman di sisi Kanita.

Dan Bella pun merasakan energi positif tersebut setiap harinya.

"Apa Noir sudah mengambil denim dan scrafnya, Kan?" tanya Bella ketika tidak di dapatinya bungkusan kado di atas meja yang terbuat dari kayu cemara itu.

Kanita sedang merapikan beberapa tas berbeda ukuran di etalase kaca, tubuhnya yang mungil sangat lucu sekali jika dihadapkan dengan Jenny dan Bella yang memiliki tinggi rata-rata 172 sentimeter.

"Baru saja Bella. Kukasih mereka beberapa pilihan hadiah dari kupon yang sudah mereka kumpulkan selama berbelanja di sini." kata Kanita sambil berjalan ke meja kasir, membuka laci dan mengambil plastik bening berukuran sedang yang di dalamnya terdapat kumpulan-kumpulan kupon.

Bella datang menghampiri meja kasir, dan mengambil kertas putih yang berisi tanda tangan langgananya, Noir.

Kanita meletakkan sisa souvenir yang di buat khusus oleh Bella dan dirinya untuk hadiah bagi pelanggan mereka yang berbelanja di Elexa and Eclare Buotique ini.

Bella melirik souvenir-souvenir cantik yang tersisa. Matanya berubah lembut saat tangannya membelai setiap souvenir itu penuh perasaan.

Jenny mengambil sebuah jaket berbahan wol berwarna biru dan mencobanya di ruang ganti.

Sedangkan Kanita pergi ke dapur kecil yang berada dekat di ruangan khusus staf beristirahat. Tangannya dengan cekatan menyeduh kopi untuk mereka bertiga.

Beberapa menit kemudian, cairan kental keemasan keluar dari kedua lubang portafillter, dan Kanita langsung mematikan mesin kopi itu, dan membawa ketiga cangkir kopi cappucino ke ruang kerja Bella.

Bella sedang duduk di kursi kayu, dengan tangannya sibuk memilah beberapa kain berbeda warna untuk dipisahkan dan di kumpulkan di atas meja persegi panjang yang berada di tengah ruangan.

Jenny masuk ke ruang kerja Bella dengan jaket bertopi bulu lainnya, "Bagaimana dengan jaket ini? Berbahan lembut dan sangat cocok di kulitku kan, Bell."

Bella hanya meliriknya sebentar, "Cocok sekali kalau kau pakai ke Batavia Stad nanti sore. Aku akan memberimu diskon 15% dan setengah biaya endorse untukmu."

Jenny terdengar menggerutu di dekat pintu berbahan kaca transparan itu. "Pelit sekali kau sebagai Bos. Kan aku yang rugi nantinya Bell, kalau kau begitu. Bayar aku biaya penuh untuk Endorse ya," kata Jenny dengan paksa. "... Oke Bell, bagus kau sahabatku yang sangat dermawan." lanjutnya kemudian tidak menunggu Bella yang akan memprotes.

"Jen... Aku akan bangkrut kalau kau seenaknya begitu." Teriak Bella pada Jenny yang sudah melenggang keluar ke meja kasir.

****

Uraniastrasse - Zurich, Wayne Entrepises.

Di dalam gedung perkantoran, duduk di ruangannya, Kenneth mengetuk-ngetukkan Jari-jarinya di atas meja, menunggui kedatangan Shawn yang akan datang hari ini.

Telepon di sampingnya berdering, Kenneth menerima panggilan itu, dan suara dari sekretarisnya terdengar, "Apa Shawn sudah datang, Clay?"

"Maaf... Mr. Kenneth, belum. Mr. Shawn belum datang. Maksud saya menelepon, saya mau memberitahukan kalau hari ini Anda ada wawancara dengan majalah Fortune. Hugh Thompson sudah mengirim alamat tempat Anda untuk di wawancarai nanti." jelas Clay singkat, padat, dan jelas.

"Bukankah kau bilang kalau jadwal terakhirku hari ini hanya menemui investor dari Chicago, Clay. Apa maksudnya aku ada wawancara nanti." kata Kenneth dengan suara mendesis tak senang.

Di seberang panggilan, suara Clay mulai terdengar gugup, "Maafkan saya... Repoter Fortune meminta memajukan jadwalnya, dengan alasan kalau mereka tidak mau menunggu waktu Anda lagi, yang menurut mereka- takut kalau wawancara ini akan gagal lagi- jadi..."

"Jadi kau setuju - tanpa ijinku - menyetujui proposal mereka. Ke ruanganku sekarang!"

Telepon pun di banting tertutup.