webnovel

57. Tragedi... End

Setelah sekembalinya dari rumah untuk mengganti pakaiannya, Verrelpun kembali kerumah sakit dengan perasaan yang gundah.

"TIDAKKKKKKKK"

Teriakan itu menyentakkan Verrel, Verrel berlari menuju ruangan Leonna dan terlihat sudah ada Thalita dan Dhika di sana sedang menahan amukan Leonna. "Kembalikan bayi akuuuuu.... Balikinnnnnn!!hikzzzz...hikzzzz," Leonna menangis histeris dengan masih menjerit-jerit.

"Sayang, tenanglah." Thalita memeluk tubuh Leonna walau Leonna terus berontak.

"Bayiku belum meninggal, kenapa kalian mengambilnya, hikzz...hikzzz. Kembalikan bayiku!!" isaknya. "Balikin dede bayi aku, aku bahkan belum bisa menggendongnya. Aku belum merasakan melahirkannya, kenapa kalian mengambilnya!! kenapa??? Hikzzzz...hikzzz."

"Dede utun yang aku dan Kakak impikan,kenapa kalian mengambilnya." isaknya semakin menjadi. "Kembalikan dede bayi aku,, kembalikan....." Jerit Leonna

Dhika terpaksa menyuntikkan obat penenang untuk Leonna. "Kembalikan bayi aku Mama, kembalikan dede utun aku... kembalikan, hikzzzz" isak Leonna di pelukan Thalita hingga akhirnya terlelap.

Verrel berdiri kaku di tempatnya melihat nanar ke arah istrinya yang terlihat histeris, ia beranjak keluar ruangan saat Leonna sudah terlelap dengan perasaan hancur. Ia merasa gagal menjaga Leonna,



Sore itu Verrel memasuki ruangan Chacha, Chacha memanggilnya kesana. Ia duduk di kursi yang ada disana dengan wajahnya yang terlihat kacau. "Verrel," Chacha memegang tangan Verrel diiringi senyumannya seakan memberi kekuatan kepadanya.

"Katakanlah Tante,"

"Ini hasil medis Leonna," Chacha menyerahkan sebuah amplop membuat Verrel menerima dan membukanya. Ia mengernyitkan dahinya seakan tak paham dengan tulisan medis yang ada di dalam kertas itu. "Rahim Leonna harus di angkat."

Deg

Deg

Deg

Kenyataan apa lagi ini? Mata Verrel melotot sempurna bahkan air matanya tanpa terasa menetes membasahi pipinya. "Ke-kenapa?" Tanya Verrel.

"Rahimnya rusak, Caren benar-benar merusak rahim Leonna." ucap Chacha terdengar helaan nafas darinya.

"Apa ini berarti dia tidak akan pernah menjadi seorang ibu?"

"Hanya tuhan yang tahu semua jawaban dari pertanyaanmu." ucap Chacha seakan menengnangkan Verrel tetapi ia tau maksudnya.

Verrel pamit keluar, ia berjalan tertatih dengan mencekram kuat amplop di tangannya. Bagaimana ini? Kenapa bisa seperti ini. Ia terduduk di salah satu kursi tunggu dan menangis dalam diam dengan menundukkan kepalanya.

Bagaimana respon istrinya kalau tau kenyataan ini. Saat tau kalau dia keguguran saja, Leonna begitu histeris. Apalagi kalau sampai tau kenyataan pahit ini. Wanita mana yang akan kuat saat tau dirinya tidak bisa menjadi seorang ibu. Verrel menangis terisak dengan menjambak rambutnya, hatinya hancur sangat hancur. Ia merasa gagal melindungi istri dan anaknya. Bukankah selama ini dia berkorban untuk melindungi istri dan anaknya, tetapi kenapa akhirnya tetap seperti ini? Lalu untuk siapa ia berkorban selama ini? "hikzz...hikzz..." isak Verrel sangat menyayat hati.



Verrel berjalan memasuki ruangan Leonna. Leonna terlihat tengah duduk melamun di atas brangkarnya. Kepalanya di sandarkan ke sandaran brangkar. Ia segera mengusap matanya yang basah dan memasukan amplop itu ke dalam saku jasnya. Ia lalu memakai kostum doraemon dan berjalan memasuki ruangan Leonna. Verrel menjembulkan kepalanya dari balik pintu sambil melambaikan tangannya ke arah Leonna, membuat Leonna tersenyum kecil.

Verrel masuk ke dalam dengan menggoyangkan pantatnya yang besar itu, membuat Leonna terkekeh. Tanpa Leonna tau, Verrel menangis dalam diam di balik kostum itu. Tetapi hanya dengan melihat senyum dan tawa Leonna, itu sudah cukup membuat hatinya bahagia. Ia menyodorkan sebucket bunga ke Leonna. "Terima kasih," ucap Leonna menerimanya.

Verrel menghapus air mata Leonna yang baru saja luruh membasahi pipi, dan menggelengkan kepalanya dengan mengukir senyuman menggunakan tangannya membuat Leonna kembali tersenyum kecil tetapi akhirnya menunduk dengan tangisannya. "Aku gagal,, hikzzzz." isak Leonna mencengkram kuat kostum doraemon bagian tangannya. "Aku gagal menjadi seorang ibu, aku gagal membuat Kakak bahagia, aku gagal mengabulkan impiannya. Aku gagal mister Emon,, hikzzzzz."

"Sekarang sudah tak ada lagi dede utun di dalam perutku. Sekarang tak ada lagi yang aku nantikan dalam 5 bulan ke depan. Sekarang sudah tak ada lagi,, hikzzz." Verrel merengkuh tubuh Leonna ke dalam dekapannya. "Maafkan aku Kak, aku gagal, hikzzzzz." isaknya sangat memilukan membuat Verrel tak bisa menahan tangisannya di balik kostum itu.

"Kenapa? Hikzzzzzz...hikzzz,, kenapa tuhan mengambil debay nya aku. Kenapa tuhan tidak mempercayai aku untuk menjaganya, aku bisa menjadi seorang ibu yang baik. Hikzzzz." Verrel hanya mampu mengusap kepala Leonna dan membiarkan Leonna menangis sejadi-jadinya dalam pelukannya.

Takdir tuhan memang sebuah misteri, apa yang terjadi di hari esokpun masih sebuah misteri. Tetapi percaya, di balik semua cobaannya ada hikmah yang tersimpan di dalamnya.



Verrel menemani Leonna berjalan-jalan ke taman rumah sakit dengan Leonna yang duduk di atas kursi roda. Tubuhnya masih belum mampu berpijak di atas kedua kakinya sendiri. Wajahnya sangat pucat dan tak ada keceriaan di sana. Hembusan angin menerpa wajahnya yang pucat dan berkaca-kaca. Di hadapan mereka banyak sekali anak-anak kecil tengah bermain bola dan ayunan yang memang disediakan disana dan beberapa orang yang tengah bersantai dan menikmati suasana sore hari di taman rumah sakit itu.

Verrel mengusap kepala Leonna dan mengecup puncak kepalanya membuat Leonna menengadahkan kepalanya. Ia masih menampilkan senyuman kecilnya. "Kamu nyaman berada disini?" Leonna menganggukkan kepalanya dan kembali menatap ke depan dengan tatapan kosongnya.

"Anak-anaknya lucu lucu sekali," gumam Leonna.

"Hmm," Verrel menekan hatinya mendengar penuturan Leonna.

"Apa kita akan memiliki seorang anak lagi Kak?"

Rahim Leonna harus di angkat..

"Kenapa tidak menjawabnya Kak?" Leonna menengadahkan kepalanya karena Verrel hanya diam saja.

"Pasti, pasti kita akan memiliki anak yang lucu. Bahkan tak hanya satu." ucap Verrel seraya mengusap matanya yang terasa berkabut. Bagaimana dia mengatakannya ke Leonna nanti, tidak mungkin kenyataan ini harus dia rahasiakan.

"Aku ingin punya anak laki-laki, pasti tampan seperti Kakak yah."

"Hmm, dan semoga kedua matanya mirip denganmu yang begitu indah. Tapi semoga tingkahnya tidak seaktif kamu." ucapan Verrel membuat Leonna terkekeh kecil.

"Bahkan aku belum tau jenis kelamin bayi kita yang kemarin. Tapi tuhan sudah kembali mengambilnya." kali ini bukan senyuman yang muncul di bibir Leonna, melainkan tangisnya yang kembali luruh. Walau posisi Leonna memunggungi Verrel, tetapi Verrel tau Leonna tengah menangis. Ia hanya bisa mengusap kedua pundak Leonna berharap mampu meringankan bebannya. "Apa Kakak tidak marah padaku?"

"Marah untuk apa?"

"Karena aku gagal menjaga bayi kita, aku gagal memenuhi impian Kakak."

"Ssstt,, jangan katakan itu. Kamulah impian Kakak, hanya dengan selalu di sisimu. Kakak sudah sangat bahagia." Verrel memeluk Leonna dari belakang dan menciumi puncak kepala Leonna. Tak perduli walau harus membungkukkan badannya, Verrel tetap memeluk Leonna yang duduk di atas kursi roda.

Setelah lama saling diam, Leonna melihat sepasang suami istri tengah berjalan bersama. Sang wanita terlihat tengah hamil besar. Dan sang suami terlihat merengkuh pinggangnya, Langkah mereka terhenti, saat sang istri seperti mengeluhkan sesuatu dan mengusap perut besarnya. Sang suami mengusap perut istrinya dengan lembut dan sesekali mengecupnya membuat sang istri terkekeh senang.

Leonna yang melihat itu semakin menangis sejadi-jadinya membuat Verrel kaget. Verrel merubah posisi tubuhnya menjadi berdiri tegak dan melihat pemandangan yang mampu menyayat hatinya. Ia memutar kursi roda Leonna hingga kini mereka berhadapan. Bibir Leonna bergetar hebat dan air matanya terus luruh membasahi pipinya. Verrel duduk rengkuh di hadapan Leonna dengan bertumpu pada kedua lututnya. "Maaf," cicit Leonna membuat Verrel menggelengkan kepalanya dan mengusap air mata Leonna. Ia menggenggam kedua tangan Leonna, dan tatapannya tertuju pada mata sendu Leonna yang terus mengeluarkan air matanya tanpa henti.

"Kamu akan segera memilikinya." Verrel mengusap perut rata Leonna yang masih menggunakan alat medis karena lukanya. "Disini akan tumbuh buah hati kita," Verrel terus memanjatkan doa dalam hatinya. Sekuat tenaga Ia menahan air matanya, dan tetap menampilkan senyuman di bibirnya.

"Aku takut," bibir Leonna bergetar saat mengatakan itu. "Aku sangat takut, banyak kasus setelah keguguran maka-" Verrel menempelkan telunjuknya di bibir Leonna dan menggelengkan kepalanya.

"Jangan mengatakan hal yang buruk. Dan jangan pernah takut karena masih ada tuhan yang akan menolong kita." Verrel membelai pipi Leonna.

"Apa Kakak tidak akan meninggalkanku atau menceraikanku karena sekarang aku sudah tidak mengandung anak Kakak?" Tanya Leonna.

"Kamu ngomong apa sih De, Kakak tidak akan pernah meninggalkanmu."

"Tapi-"

"Tidak Sayang, apapun yang terjadi nanti di depan. Kita akan tetap seperti ini, saling berpegangan tangan dan tetap bersama. Aku tidak akan pernah meninggalkan kamu," Leonna tersenyum kecil mendengar penuturan Verrel dan semakin mengeratkan genggaman tangannya pada Verrel.

"Onaaa," teriakan seseorang membuat Leonna dan Verrel sama-sama menengok, tak jauh dari mereka Vino dan Chella datang. Chella berlari dan langsung memeluk Leonna dari samping. Verrel berdiri dari duduk rengkuhnya.

Leonna terlihat menangis dalam pelukan Chella, "Pas denger kabar loe, gue langsung balik sama Al kesini." ucap Chella menangis dalam pelukan Leonna, Leonna hanya bisa terdiam membisu dengan air matanya yang terus luruh membasahi pipi. "Loe harus kuat dan sabar yah Ona." bisik Chella mengusap pundak Leonna.

Chella melepaskan pelukannya, dan kali ini memberi ruang untuk Vino. Verrel berjalan sedikit menjauh saat Vino duduk rengkuh di hadapan Leonna dan menggenggam tangannya. "Kamu harus kuat Princes, mungkin sekarang belum saatnya kamu untuk menjadi seorang ibu. Tetapi percayalah kedepannya pasti kamu akan memiliki bayi yang lucu lucu dan cantik seperti kamu." ucap Vino beranjak mengecup kening Leonna dan Leonna langsung memeluk perut Vino, membuat Verrel memalingkan wajahnya.

Rasa cemburu itu masih ada, hanya melihat Vino berdekatan dengan Leonna saja rasanya hati Verrel menggebu terbakar dan tak ikhlas. "Abang, aku takut. Aku takut tidak bisa hamil lagi."

"Sssttt,,, jangan bicara seperti itu. Percaya sama Abang kalau kamu akan memiliki banyak anak yang lucu lucu dan dengan gemasnya memanggilmu mommy." ucap Vino menangkup wajah Leonna.

"Mommy,"

"Yah, Mommy Leonna yang begitu nakal dan jahil." ucap Vino membuat Leonna terkekeh kecil.

Verrel pamit pergi, entah kenapa mendengar kata mommy dan ucapan Vino seakan menjadi sebuah harapan palsu yang entah kapan bisa terpenuhi. Leonna, Vino dan Chella menatap kepergian Verrel yang mengatakan ingin ke toilet.



Saat ini Verrel tengah menemani Leonna di ruangan miliknya, Ia menyuapi Leonna makan. Leonna sesekali menampilkan senyumannya. "Kak," Leonna menarik tangan Verrel ke dalam genggamannya dan menyimpannya di dadanya. "Kakak mau kan kita berusaha lagi."

Verrel mematung mendengar penuturan Leonna barusan. "Aku baca beberapa artikel, katanya wanita keguguran itu masih mampu memiliki anak lagi. Mungkin dalam jarak 2 atau 3 bulan sudah bisa kembali hamil. Kakak mau kan berusaha lagi bikin dede bayi."

Verrel masih mematung mendengar penuturan Leonna, apa yang harus dia katakan. Apalagi menatap mata Leonna yang berbinar dan seakan penuh harap. Verrel semakin terluka melihatnya, bagaimana ini. Apa yang harus Verrel katakan. Apa yang harus dia jawab pada Leonna, ia tidak ingin memberi harapan kosong kepadanya. Operasi pengangkatan rahimnya akan di lakukan lusa ini. Bagaimana cara dia mengatakannya kepada Leonna, bagaimana dia sanggup mengatakan ini pada Leonna.

"Kak, ada apa?" Tanya Leonna bingung.

Verrel menggelengkan kepalanya, dan menampilkan senyuman terbaiknya. " Kita akan tetap berdoa, Sayang." Verrel mengecup tangan Leonna. "Sekarang habiskan makanannya, yah." Verrel mengusap kepala Leonna dengan saying, dan kembali menyuapinya.

Tak lama, makananpun tandas. Verrel beranjak menyimpan nampan bekas Leonna makan, hingga sesuatu terjatuh dari dari saku jaket Verrel ke atas brangkar dekat paha Leonna. "ini apa," Leonna mengambilnya membuat Verrel langsung merebutnya. "Kak itu apa."

"Ini bukan apa-apa Sayang, sudah sekarang kamu minum obat dan istirahat yah." ucap Verrel sedikit salting.

"Kak,, apa yang Kakak sembunyikan dariku?"

"Tidak ada Delia." Verrel berusaha menampilkan senyumannya.

"Kak!!" teriak Leonna sudah berkaca-kaca. "itu hasil medis aku kan, sini aku lihat," Leonna menengadahkan telapak tangannya ke arah Verrel.

"De, ini bukan apa-apa. Ini-"

"Kak, please." Leonna terlihat berkaca-kaca, dan kembali merebut amplop itu dari tangan Verrel, ia segera membukanya dengan tak sabar. Verrel memalingkan wajahnya karena tak sanggup melihat respon Leonna.

"Ya tuhan, ini!!" Leonna menutup mulutnya tak percaya. Air matanya luruh membasahi pipi, ini seperti mimpi buruk baginya. Setelah kehilangan separuh jiwanya, kini jantungnyapun harus di renggut.

"De," Verrel berusaha mengusap kepala Leonna yang bergetar hebat. Mulutnya tak mampu berkata apa-apa lagi. Hatinya sakit dan sangat hancur, Verrel memeluk tubuh Leonna yang masih terdiam syok dengan pandangan kosongnya. "Semuanya akan baik-baik saja, percayalah."

"Nggak mungkin," gumamnya.

"De, percaya sama Kakak. Semuanya akan baik-baik saja." Verrel menangkup wajah Leonna untuk menatap matanya.

"Ke-kenapa?" tanya Leonna lirih. "KENAPA???" teriaknya mendorong tubuh Verrel hingga menjauh. "Aku tidak mau jadi mandul, aku tidak mau! hikzzzzz..."

Prank

"Aaaarrrghhhhhh!!" Jeritnya seraya menepis nampan di atas nakas hingga pecah berserakan di atas lantai. "KENAPAAAAAAA?" Jeritnya mulai mengamuk dan melepas alat infusnya.

"De, tenanglah." Verrel masih berusaha memeluk tubuh Leonna yang berontak dan menjerit histeris.

"KENAPAAAAAAAAAA??? Aku ingin punya anak, aku ingin punya anak!" jeritnya memukuli tubuh Verrel. "Pergi...!!!" Leonna mendorong tubuh Verrel untuk menjauh darinya dan dia menuruni brangkar dengan menahan kesakitan di bagian kewanitaan dan pinggangnya. "Aghh !!" ringisnya.

"De, kamu jangan banyak bergerak dulu." Verrel berusaha menahan Leonna

"PERGIIIIIIII....!! Tinggalkan aku sendiri. Kenapa kalian jahat sama aku, setelah mengambil bayiku sekarang mau mengambil rahimku juga. Apa salahku?hikzzz... apa salahku?" jeritnya histeris.

Prank

Prank

Leonna melempar semua barang yang ada di sekitarnya ke arah Verrel, "Pergi,,, pergiiiiiiii!!hikzz...hikzz...hikzz..." tubuhnya meluruh ke lantai, karena rasa sakit yang teramat tak mampu membuatnya terus berdiri tegak. "Kenapa? Kenapa kalian jahat sama aku. hikzzz...hikzzz....hikzzz..." Leonna memeluk lututnya sendiri dengan tubuhnya yang sangat bergetar.

"Kenapa?"

"Kenapa?hikzzzz" Verrel duduk di samping Leonna dengan perasaan yang sama hancurnya. Keduanya sama-sama menatap lurus ke depan seakan menerawang sesuatu. "Kenapa Kak? Apa salah aku." isak Leonna dengan tubuh yang sangat bergetar hebat. "Impian kita hancur seketika, tak ada lagi masa tua yang melihat cucu. Tidak akan suara gelak tawa anak kecil dalam rumah kita. Bagaimana ini...?"

Verrel hanya bisa diam tanpa bisa membuka suaranya, dia bingung harus berkata apa. Kenyataan ini juga menghancurkan dirinya. "Kapan aku melakukan operasi?" Tanya Leonna.

"Lusa,"

"Kalau aku tidak melakukan operasi, bagaimana?"

"Akan mengakibatkan kanker Rahim, dan itu akan lebih berbahaya."

Leonna terdiam memikirkan ini semua yang begitu menyiksa dirinya, menyiksa batinnya. Apa yang harus dia lakukan sekarang, harus bagaimana dia?

"Ceraikan aku"

Deg ...Verrel tersentak mendengar penuturan lirih dari Leonna, sampai dia menengok ke arah Leonna yang masih menatap kosong ke depan. "Bukankah sebelumnya Kakak ingin menceraikan aku, dan kita kembali karena kehamilanku. Tapi sekarang aku sudah tak hamil anak Kakak lagi, aku sudah tidak bisa memenuhi impian Kakak. Jadi ceraikan aku," Leonna menengok ke arah Verrel yang juga sama-sama terluka.

Keduanya saling bertatapan penuh arti, walau tak ada yang membuka suaranya. Mereka paham arti tatapan itu, tatapan kehancuran, tatapan kelukaan.

"Ceraikan aku,, Kak... jatuhkan tammmpppp," Verrel langsung mencium bibir Leonna dan menarik tengkuknya untuk memperdalam ciumannya. Leonna memukul dada Verrel dan berontak sambil menangis untuk melepaskan ciuman Verrel. Tetapi Verrel tak bergeming dan terus memperdalam ciumannya sampai Leonna berhenti memberontak.

"Jangan katakan lagi," Bisik Verrel menyatukan dahi dan hidung mereka. Leonna melihat air mata Verrel jatuh membasahi pipinya. "Kamulah impianku, Delia. Aku tidak akan melakukan kesalahan bodoh untuk yang kedua kalinya. Aku mohon jangan memintaku pergi. Sudah cukup aku kehilangan bayi kita, jangan biarkan aku kehilangan kamu juga. Aku mohon," ucap Verrel lirih, terdengar menyayat hati.

"Tapi-"

"Aku tidak perduli, aku tidak perduli walau kita tak memiliki keturunan. Aku tidak perduli kalau tak akan ada lagi keturunan dari keluarga Orlando. Aku tidak perduli. Yang aku perdulikan adalah kamu, aku butuh kamu, Delia. Aku butuh kamu untuk terus menjadi istriku, untuk menjadi pendamping hidupku. Aku ingin menghabiskan sisa waktuku bersamamu." ucap Verrel menatap mata Leonna yang terus menangis.

"Aku tidak sempurna,, hikzzzz." Verrel menarik Leonna ke dalam pelukannya dan mengusap punggung Leonna dengan lembut. "Aku tidak sempurna..hikzzzz... aku cacat,, hikzzz..."

"Aku kehilangan mahkota berharga seorang wanita, aku tidak sempurna menjadi seorang wanita. Kenapa? Kenapa harus seperti ini..hikzzzz...hikzz..." isaknya, tubuhnya bergetar hebat di pelukan Verrel

Keluarganya melihat di ambang pintu dengan tangisnya. Serli dan Danielpun ikut terpukul, bagaimanapun juga Verrel adalah putra tunggal keluarga Orlando, dan tak akan ada lagi keturunan Orlando di generasi selanjutnya. Dhika, Thalita dan Chacha bahkan tak terlihat batang hidungnya. Mereka sibuk menyiapkan operasi untuk Leonna.



Hari inipun tiba, hari yang sangat sulit bagi Leonna maupun Verrel. Leonna akan melakukan operasi pengangkatan Rahim. Ia sudah pasrah, pasrah akan keadaannya. Pasrah akan takdirnya, selama dua hari terakhir Leonna menyendiri dan memikirkan segalanya. Memikirkan hidupnya, memikirkan rumah tangganya bersama Verrel. Ia tidak tau apa yang akan terjadi, tetapi sang papa memberi nasehat untuk tetap yakin pada tuhan. Karena tuhanlah yang mengatur hidup manusia, pasrahkan segalanya.

Maka Leonnapun berusaha ikhlas, berusaha untuk menerima semua ini.

Leonna beradu pandang dengan Verrel saat brangkarnya di dorong memasuki ruang operasi. Sebelum pintu itu tertutup rapat, Leonna masih bisa melihat Verrel yang memasang senyumannya seakan memberinya kekuatan.

Sepeninggalan Leonna, Verrel duduk di kursi tunggu bersama keluarga yang lain. Serli tak hentinya memberi kekuatan untuk putranya. Verrel beranjak pergi meninggalkan ruang tunggu, membuat yang lain menatap ke arah Verrel dengan sedih.

Ia berjalan memasuki sebuah mesjid dengan hati yang bergetar. Ia merasa dirinya sangat hina, dan penuh dengan dosa. Bahkan seringkali melupakan tuhannya, mengabaikan perintahnya. Verrel mengambil wudhu dan melakukan solat disana dengan khusu. Dia berdoa di tengah isakannya, berdoa dan memasrahkan segalanya kepada sang pemilik dunia, kepada sang pencipta, kepada tuhan yang maha esa, Allah swt.

Allah-lah yang menciptakan dan Allah jugalah yang akan menghancurkannya sesuai kehendaknya. Manusia hanya bisa berserah diri di hadapannya, sebaik-baiknya analisis dan tangan seorang dokter, uluran tangan tuhan lah yang mampu menyembuhkan dan menyempurnakan kembali fisik seorang manusia.

Verrel berusaha untuk ikhlas, ikhlas menerima segalanya. Ikhlas menerima garis hidupnya, ikhlas menerima cobaan yang tuhan berikan padanya. Karena ia yakin, bukan tanpa alasan tuhan memberinya cobaan yang berat, bukan tanpa alasan tuhan mengirimkan kesulitan bagi manusia. Segalanya pasti ada sebab akibatnya, segalanya pasti ada hikmah dan pelajaran yang dapat di petik. Ia yakin akan kuasa Allah, musibah sering kali terjadi di kehidupan manusia. Tetapi di dalamnya selalu terselip kekuasaan dan keajaiban dari sang maha pencipta. Dan Verrel yakin akan hal itu, ia yakin akan kekuasaan tuhan.

Sebaik-baiknya rencana manusia, masih jauh lebih baik dari rencana tuhan. Dan Verrel percaya itu, ia menunggu apa yang tengah tuhan rencanakan untuk hidupnya dan istrinya kelak.



Leonna mengerjapkan matanya berkali-kali, cahaya dari lampu menusuk ke dalam retina matanya, membuatnya kembali menutup matanya. Setelah merasa mampu beradaptasi, iapun membuka matanya dan mengernyitkan dahinya saat melihat ruangannya penuh dengan hiasan burung bangau yang menggantung di langit langit ruangan. Bahkan kipas angin dari kertas tertata rapi di dekat jendela yang terbuka sedikit membuatnya berputar seiringan dengan hembusan angin.

Leonna merasa nyeri di bagian atas kewanitaannya dan juga perutnya. Dia menatap sekeliling dan menemukan Verrel terlelap di atas sofa dengan posisi duduk. Bahkan di samping tubuhnya banyak sekali kertas warna. Leonna tau kalau Verrel membuat burung bangau dan kipas angin dari semalaman, dan mampu memenuhi ruangan ini. Leonna tersenyum kecil melihat usaha Verrel. Tetapi senyumannya menghilang saat tau apa yang kemarin dia jalani. Leonna memalingkan pandangannya dari Verrel dan menatap ke arah lain dengan air matanya yang luruh.

Leonna merasa sangat malu berhadapan dengan Verrel, dia merasa tak berharga di hadapan Verrel suaminya sendiri. Ia tidak bisa memenuhi kewajiban seorang istri, ia merasa sudah sangat mengecewakan Verrel. Ia sungguh tidak berguna menjadi seorang wanita.

Wanita yang tidak lagi memiliki mahkotanya, yang sudah tidak memiliki keistimewaannya. Sungguh seorang wanita yang tidak berguna, suami mana yang akan terima saat wanitanya tak mampu memberikan keturunan. Padahal usia Leonna masih 21 tahun, tetapi dia harus menanggung kepedihan ini. Leonna harus menanggung hidupnya yang begitu hancur, dan tak berharga.

"Kamu sudah bangun?" Verrel terlihat beranjak mendekati Leonna. "Kamu butuh sesuatu?" Leonna menggelengkan kepalanya dan kembali menatap ke arah lain.

Verrel sadar kalau Leonna tengah menghindari beradu tatapan dengannya. "Kamu suka dengan ruangan ini? Aku buatkan 100 bangau untukmu."

"hmm,"

"Kamu mau aku buatkan apa lagi? Aku akan pakai kostum mister Emon." ucap Verrel hendak beranjak.

"Tinggalkan aku sendiri,"

Langkah Verrel terhenti mendengar penuturan Leonna, dia kembali berbalik ke arahnya. "Aku mohon tinggalkan aku, dan tolong panggilkan mama Lita."

"Baiklah," Verrel tau keadaan Leonna sangat tertekan, mungkin untuk sementara ia akan menuruti keinginan Leonna.

Verrelpun keluar dari ruangan, dan tak lama Thalita masuk kedalam ruangan. "Sayang," Thalita mengusap kepala Leonna dengan lembut.

"Mama,, hikzzz" Leonna menangis sejadi-jadinya membuat Thalita memeluk Leonna dengan sayang. "Aku malu berhadapan dengan Kakak, aku malu Ma,, hikzzz"

"Aku tau Kakak sangat kecewa, aku tau Kakak sangat terpukul. Sekarang aku sungguh tak berharga di hadapan Kakak. Aku malu Ma, aku malu berhadapan dengan suamiku sendiri, hikzzzz." Isaknya, Thalita hanya menangis dalam diam.

"Aku mohon Ma, untuk sementara jangan biarkan Kakak masuk ke dalam ruangan. Jangan ijinkan Kakak bertemu Leonna. Aku ingin menyiapkan diri untuk bisa berhadapan dengan Kakak lagi." cicit Leonna. "Leonna sangat malu berhadapan dengannya,, hikzzz."

"Iya Sayang," Thalita mengusap lengan Leonna dengan lembut.



Verrel pasrah mendengar perkataan Thalita barusan kalau Leonna tak ingin bertemu dengannya dulu untuk beberapa saat. Iapun memilih untuk tetap duduk di kursi tunggu dekat pintu ruangan Leonna. Tatapannya kosong menerawang ke depan, kedua sikunya bertumpu di kedua lututnya dan menangkup wajahnya sendiri. Verrel bahkan belum pulang untuk mengganti pakaiannya.

Tak berbeda jauh dengan Leonna, diapun duduk dengan menyandarkan tubuhnya ke sandaran brangkar. Pandangannya kosong ke depan, menatap burung bangau yang bergantungan di atasnya. Dia meminta Thalita untuk melarang siapapun masuk ke dalam ruangan. Leonna benar-benar ingin sendiri, dan berusaha menerima takdirnya. Sebutir air mata luruh membasahi pipinya, tidak pernah dalam hidupnya ia merasa seputus asa ini. Leonna benar-benar merasa hidupnya tak berarti lagi, ia merasa hidupnya sungguh tak berarti. Ia menundukkan kepalanya dan mengusap perutnya sendiri dengan tangisnya yang pecah.

Kenapa.....?

Hanya kata itu yang terus keluar dari benaknya. Tubuhnya bergetar hebat, dan ia menutup mulutnya sendiri dengan sebelah tangannya untuk menahan isakannya. Ia tau Verrel menunggunya di luar, dan Leonna tak ingin sampai Verrel mendengarnya.

Tak berbeda jauh dengan Verrel yang sesekali melirik ke arah pintu ruangan dengan tatapan sendunya. Bahkan isakan Leonna mampu dia dengar, walau terdengar samar-samar tetapi Verrel yakin Leonna tengah menangis. Verrel beranjak dan mengintip dari jendela kecil yang ada di pintu ruangan, terlihat Leonna tengah menangis terisak dengan menutup mulutnya sendiri dan menunduk. Ia berbalik dan menyandarkan punggungnya ke dinding. Pemandangan yang sangat Verrel hindari selama ini, ia tak mau melihat wanitanya menangis. Verrel seperti linglung dan tak tau harus bagaimana.

Tes...setetes air mata jatuh dari pelupuk mata Verrel, membuatnya menyandarkan kepalanya ke dinding dan menengadahkan kepalanya. Isakan Leonna sungguh menyayat hatinya, ia merasa tak mampu berbuat apapun selain menekan kesakitannya.



Leonna meminta Chella untuk menemaninya berjalan-jalan keluar kamar. Dengan bantuan Vino, Leonna bisa duduk di atas kursi roda. Chella mendorong kursi roda keluar ruangan, tetapi langkah mereka terhenti saat melihat Verrel duduk di kursi tunggu tepat di dekat pintu. Leonna yang berada di ambang pintu mampu menatap pundak lebar Verrel yang memunggungi mereka bertiga tanpa menyadari kehadiran mereka.

Leonna merindukan suaminya, sudah dua hari berlalu mereka tak saling bertemu dan berbicara. Ia masih menatap punggung lebar itu dengan mata yang berkaca-kaca. Tetapi saat ini dia belum siap, belum siap berhadapan dengan Verrel. Ia belum siap menatap mata Verrel, dia belum siap menunjukkan dirinya di depan Verrel. Ia terlalu malu, ia terlalu minder dan takut. Ia merasa sangat tak berharga di depan Verrel.

Merasa ada yang memperhatikan, Verrelpun menengok ke ambang pintu, dan seketika Leonna menundukkan kepalanya dan meminta Chella untuk melanjutkan langkahnya. Chella dan Vino beradu pandang, Vino kembali mendorong kursi roda Leonna melewati Verrel yang terus menatap Leonna yang terlihat memalingkan wajahnya.

Vino dan Chella membawa Leonna ke taman rumah sakit dan mereka berbincang bersama. Lebih tepatnya hanya Vino dan Chella yang berbincang dan bercanda seakan ingin menghibur Leonna, tetapi Leonna masih memasang wajah acuhnya dan tatapan kosongnya. Leonna berubah 180 derajat celcius, ini bukan seperti Leonna yang selalu cerewet, aktif dan jahil. Semua orang yang menemani Leonna berkomentar Leonna berubah dratis. Bahkan Dhika meminta salah satu dokter psikiater memeriksa Leonna, karena Dhika takut Leonna mengalami trauma yang membuat psikisnya terganggu.

Leonna benar-benar mengabaikan candaan Chella dan Vino, ia menganggap mereka tak ada. Pandangannya tetap lurus ke depan, wajahnya yang pucat tanpa semangat. Dari kejauhan Verrel memperhatikannya, ada rasa sakit saat dia harus berada jauh dari Leonna, sedangkan yang lain bisa dekat dengan Leonna.

Leonna memejamkan matanya hingga seluruh air mata yang ada dipelupuk matanya tumpah membasahi pipi, sekuat tenaga untuk ikhlas dan pasrah pada takdir tuhan. Ia tetap tak mampu, hatinya tak mampu untuk ikhlas. Di dalam hatinya masih tersimpan perasaan tak rela, juga amarah yang entah untuk siapa. Sebagai seorang wanita, ia benar-benar merasa cacat. Dia merasa tak berhak di miliki oleh pria manapun. Dia tak pantas untuk di cintai dan di pertahankan.

"Princes," Vino mengusap air mata Leonna dan menangkup wajah pucat Leonna.

"Aku merasa putus asa, Abang. Aku merasa sangat tak berguna sekarang, hikzzzz." isak Leonna menundukkan kepalanya. "Aku bahkan merasa malu mengangkat kepalaku di hadapan Kakak. Aku malu sama bunda dan ayah, aku malu Abang. Aku sungguh malu menatap mereka semua, hikzz." Isaknya, Vino menarik tubuh Leonna ke dalam pelukannya dan mengusap punggungnya dengan lembut.

Chella yang berdiri di samping mereka, ikut mengusap kepala Leonna dengan lembut dan menangis dalam diam. Verrel sesekali mengusap matanya yang basah melihat Leonna.

Hidup tak selamanya lurus, ada kalanya kita harus menurun, berbelok dan bahkan menanjak. Kita akan mampu melewatinya, kalau kita tetap berjalan dan terus berusaha...



"Hi Ona,"

Leonna menengok ke ambang pintu dan tersenyum kecil melihat Datan datang bersama Leon.

"Gimana keadaan loe?" Tanya Leon mengusap kepala Leonna.

"Seperti yang loe lihat," jawab Leonna.

"Gue bawa sesuatu buat loe," Datan mengeluarkan coklat kesukaan Leonna dan juga boneka doraemon kesukaannya. Melihat boneka doraemon, Leonna jadi teringat mister Emon. Kalau mister Emon itu bukan Verrel, mungkin sekarang Leonna akan mengungkapkan segala kegundahan hatinya.

"Jangan nangis lagi dong," Leonna tersentak saat tangan lembut mengusap pipinya. Leonna menengadahkan kepalanya dan melihat Leon tengah memasang senyuman ke arahnya. "Memang sangat sakit rasanya kehilangan." ucap Leon menampilkan senyumannya tetapi matanya terlihat berkaca-kaca. "Tetapi bukankah hidup itu masih harus berlanjut, tidak bisa berhenti disitu. Perjalanan kita masih panjang."

"Apa loe yakin?" Tanya Leonna membuat Leon mengangguk.

Leon mengambil kedua tangan Leonna ke dalam genggamannya. "Setidaknya loe harus tetap bertahan hidup, dan jalani hidup loe seperti biasanya demi kak Verrel." ucapan Leon mampu menyayat hati Leonna.

"Tapi gue cacat, hikzzz"

"Tidak Ona, loe tidak cacat. Loe sempurna, loe cantik, ceria dan bahkan banyak yang iri sama loe." Ucap Leon.

"Tapi semua itu percuma sekarang ini Le, buat apa gue cantik dan ceria kalau gue gagal membahagiakan suami gue. Gue gak bisa menuhin keinginan suami dan mertua gue. Gue gak bisa memberikan keturunan untuk keluarga Orlando. hikzzz...hikzz...." Isaknya semakin menjadi.

"Tapi ini musibah, Leonna. Loe gak bisa terus seperti ini." ucap Leon,

"Lalu gue harus bagaimana? Gue harus apa disaat hati gue merasa minder dan malu. Gue juga takut Kakak akan mencari wanita lain untuk memenuhi keinginannya. Gue bukan wanita yang ada di film, yang ikhlas berbagi suaminya untuk mendapatkan keturunan. Gue gak bisa membagi Kakak dengan wanita lain, gue gak bisa...hikzzz."

"Tapi bang Verrel gak akan mencari wanita lain, Ona." ucap Datan.

"Iya sekarang dia berkata seperti itu, lalu bagaimana nanti setelah 5 tahun, 10 tahun kemudian. Bagaimana? Apa dia masih menerima gue yang cacat ini. Hikzzzz"

Leon menarik tubuh Leonna ke dalam dekapannya, dan mengecupi kepala Leonna. Bagaimanapun juga mereka adalah saudara kembar, saat yang satu terluka maka kembarannyapun akan merasakan luka itu. "Gue harus apa, Le. Gue benar-benar putus asa sekarang, hikzzz"

Datan dan Leon tak bisa berkata apa-apa lagi, mereka memilih diam membisu. "Gue juga takut, gue takut akan kehilangan Kakak. Gue takut dia akan memilih ninggalin gue suatu saat nanti."

"Yakinlah pada cinta loe," bisik Leon.

"Gue berusaha untuk percaya ucapan Kakak, dan meyakinkannya di hati gue. Tetapi ketakutan itu masih ada, gue takut kedepannya Kakak mulai jenuh dan memilih pergi dari hidup gue. Gue takut..."

"Gue yakin abang tidak akan melakukan itu, Leonna." ucap Datan mengusap kepala Leonna.

Leonna bersyukur karena memiliki keluarga dan saudara yang sangat menyayanginya. Ia merasa cukup tegar dan mampu berpijak di atas kakinya sendiri karena mereka semua.



Verrel tak beranjak sedikitpun dari tempat duduknya, dia tetap bersiaga di luar ruangan Leonna, walau terkadang dia pergi ke mesjid. Daniel duduk di sampingnya sore itu dengan masih memakai setelan kerjanya.

"Mau ngopi bareng?" Tanya Daniel.

"Leonna tidak ada yang menjaga," jawab Verrel.

"Ada Leon dan Datan, ayolah Rel. Kamu juga belum makan bukan dari pagi." ucap Daniel.

"Aku belum lapar, Ayah."

"Bunda bilang dari semalam kamu belum mau makan dan berganti baju. Setidaknya jaga kondisi tubuh kamu juga, Verrel. Jangan sampai kamu ikutan sakit." ucap Daniel yang sedih melihat kondisi putranya.

Bahkan bulu-bulu halus sudah memenuhi rahang dan dagunya, dan di bagian matanya terdapat lingkaran merah. Ini seperti bukan sosok Verrel yang selalu terlihat rapi dan bersih. Verrel yang begitu menyukai kebersihan, ini bukan seperti dirinya.

"Apa yang harus aku lakukan, Ayah? Sekarang aku bahkan tidak bisa menemui dan menjaganya. Dia benar-benar ingin aku menjauh." terdengar helaan nafas dari Verrel

"Dia butuh waktu, Son. Seperti yang papa Dhika katakan, dia butuh waktu untuk mengembalikan kepercayaan dirinya. Kamu dengar juga bukan dari dokter psikiaternya, dia mengalami gangguan minder dan kurang percaya diri akut. Karena dia trauma, dan merasa dirinya begitu rendah. Kamu bersabarlah dulu, dokter Everlin akan melakukan Hipnoterapi pada Leonna, semoga itu bisa membantu mengurangi rasa takut dan kurang percaya diri dalam dirinya."

"Aku takut Hipnoterapi ini berakibat buruk padanya." ucap Verrel,

"Percayalah Son, Dhika dan Thalita tak akan membiarkan sesuatu yang buruk terjadi pada putri kesayangannya. Bahkan Dhika memanggil langsung dokter psikiater terbaik dari London. Percayalah semuanya akan baik-baik saja, dan ayah minta kamu jaga kondisi kamu. Jangan menyiksa diri seperti ini" ucap Daniel membuat Verrel terdiam.



Leonna berusaha melepaskan infusan di tangannya. "Aww sakit," ringisnya saat mencabut jarum infusan di tangannya. Ia memang tidak menyukai jarum suntikan atau infusan. Ia beranjak menuruni brangkar dengan bersusah payah, dan berjalan menuju pintu keluar dengan memegang perutnya yang masih sakit. Dia berjalan dengan langkah tertatih dan ringkih.

Ceklek...Leonna membuka pintu dan melihat Verrel terlelap di atas sofa yang ada di ruang tunggu dekat ruangan Leonna. Ia berjalan mendekati Verrel dan duduk di sisi sofa, ia tersenyum kecil melihat wajah Verrel yang begitu tenang dan terlihat sangat tampan saat tengah tertidur. Tangannya terulur menyentuh wajah Verrel, Verrel terlihat bergerak sedikit dan kembali nyenyak dalam tidurnya. Verrel terlihat begitu nyaman mendapatkan sentuhan lembut dari Leonna.

"Maafkan aku, Kak. Aku membuat mimpi Kakak hancur, aku membuat mimpi Kakak sirna. Maafkan aku Kak, aku sungguh tak berguna, aku sungguh menyedihkan." isaknya terus mengusap wajah Verrel.

"Aku tidak bisa melepaskan Kakak, aku terlalu mencintaimu. Dan aku tidak bisa merelakan Kakak bersama wanita lain untuk mendapatkan keturunan. Aku tidak bisa! Aku memang begitu egois, aku memang tak memikirkan perasaan Kakak yang begitu menginginkan seorang anak. Aku juga tidak tau harus bagaimana, aku putus asa. Sangat putus asa, Kak," gumam Leonna mengusap wajahnya yang sudah basah oleh air matanya. "Mungkin dengan aku pergi dari dunia ini, Kakak akan bahagia dan aku tidak akan menahan Kakak untuk tetap disisiku lagi."

"Maafkan aku, Kak." Leonna mengecup kening Verrel dan mengecup bibirnya singkat. Ia beranjak pergi meninggalkan Verrel.

Ting...Leonna baru saja keluar dari dalam lift dengan langkahnya yang tertatih. Ia berjalan menuju ke atas rumah sakit yang luas itu. Angin malam menerpa wajah dan tubuhnya, mampu menusuk ke dalam kulitnya. Leonna berjalan terus menuju ujung atap. Dan terlihat jelas gedung gedung pencakar langit dan kerlap kerlip lampu di ibu kota. Jalanan masih terlihat begitu ramai padahal ini sudah menunjukkan pukul 11 malam.

Leonna berpikir, dirinya berada di lantai 40 Ami Hospital. Kalau dia jatuh ke bawah, maka Leonna yakin tubuhnya tak akan berbentuk lagi. Leonna berusaha menaiki dinding pembatasnya yang tak terlalu tinggi dengan gemetaran.

'Setidaknya dengan seperti ini, aku tidak akan menyusahkan dan membebani kak Verrel lagi. Setidaknya aku bisa membiarkan Kakak untuk menikah lagi dan memiliki keluarga yang bahagia. Setidaknya biarkan aku bersama bayiku.'

"Maafkan aku, tuhan." Ia memejamkan matanya, ujung kakinya sudah tak menginjak lagi dinding pembatas. Ia hendak menjatuhkan tubuhnya yang ringkih.

Tetapi....

Leonna terpekik kaget saat seseorang menarik lengannya hingga tubuhnya tertarik turun dari dinding pembatas itu, seseorang itu langsung memeluk tubuhnya dengan erat. Leonna mencium aroma parfum maskulin milik seseorang yang memeluknya dengan erat.

Kak Verrel....

"Lepaskan," Leonna mendorong tubuh Verrel, hingga Verrel mundur dua langkah.

"Apa yang kamu lakukan!!" Bentak Verrel setelah melepaskan pelukannya. "Dimana otak kamu, Delia. Apa dengan melakukan ini, semua masalah akan selesai?"

"AKU INGIN MATI....!!" Jerit Leonna sejadi-jadinya membuat Verrel mengernyitkan dahinya. "Aku ingin menemui dede bayiku! Buat apa lagi aku hidup, dengan keadaan tak sempurna dan tak berguna seperti ini. AKU INGIN MATI...!"

"Baiklah," ucapan Verrel menyentakkan Leonna. Ia menatap Verrel dengan kernyitannya. "Kamu ingin mati bukan, kalau begitu ayo." Verrel menaiki atas dinding pembatas dan mengulurkan tangannya ke arah Leonna.

"Apa yang Kakak lakukan?" Leonna semakin mengernyitkan dahinya tak paham.

"Apa lagi, kalau bukan untuk mati bersamamu."

Deg... Leonna membelalak lebar mendengar penuturan Verrel.

"Apa maksud Kakak?"

"Kamu pikir apa, hah?" Verrel kembali menuruni dinding pembatas itu dan berdiri di hadapan Leonna. "Apa hak kamu, memilih meninggalkanku? Apa hak kamu meninggalkanku, DELIA?" bentak Verrel menyentakkan Leonna. "Selama ini kamu ingin berjauhan denganku, aku terima. Kamu tak ingin melihat wajahku dan berbicara denganku, aku juga terima. Sekarang kamu ingin pergi meninggalkanku, TIDAK AKU TERIMA! Apa hak kamu melakukan ini padaku? APA???" bentak Verrel membuat Leonna berjalan mundur melihat amarah Verrel.

Pertama kalinya Leonna melihat Verrel yang begitu emosi, bahkan matanya terlihat sangat merah karena emosi dan air mata. Rahangnya terlihat tegas dan menegang. "Kamu tidak berhak meninggalkanku, Leonna Fidelia Adinata. KAMU TIDAK BERHAK!"

"Kalau kamu memilih untuk mati daripada hidup. Maka ayo kita mati bersama-sama, setidaknya kita akan menjadi penghuni neraka bersama-sama." ucap Verrel tetapi Leonna malah menangis histeris.

"Lalu aku harus bagaimana? Aku harus bagaimana sekarang, hikzzz" isak Leonna semakin histeris.

Verrel memalingkan wajahnya dengan berkacak pinggang, dia menghembuskan nafasnya kasar dengan memejamkan matanya, mencoba menstabilkan emosinya. "Kamu tau, aku begitu hancur mendengar kita kehilangan bayi kita. Aku merasa takdir ini tak adil." ucap Verrel masih menatap lurus ke depan. " Aku merasa tuhan begitu tak adil pada kita. Di saat kita merencanakan sesuatu yang indah, di saat kita memimpikan sesuatu yang indah. Tetapi tuhan dengan mudahnya menghancurkan segalanya." Verrel memberi jeda dalam ucapannya. "Tetapi di sisi lain aku juga berpikir, tuhan tak mungkin memberi cobaan di luar kemampuan umatnya, aku berpikir ini hanyalah belokan bukan akhir dari segalanya. Di depan kita, sesuatu yang sudah tuhan siapkan sedang menanti kita. Menanti kita melewati belokan yang curam ini."

Leonna masih terdiam di tengah isakannya. Verrel menengok ke arah Leonna dengan tangisannya yang sudah luruh membasahi pipi. Ia berjalan mendekati Leonna, membuat Leonna menatap Verrel dengan tatapan terluka. "Setidaknya masih ada kamu, setidaknya tuhan masih mengijinkan kamu untuk tetap di sisiku. Kamu adalah penguatku, Delia. Kamu alasanku untuk tetap menerima dan berusaha ikhlas menerima cobaan ini. Alasannya karena kamu, dan sekarang kalau kamu memilih pergi meninggalkanku. Lalu siapa yang akan menguatkanku? Lalu apa alasanku untuk tetap bertahan hidup. Kalau kamu pergi, lalu bagaimana dengan aku, Delia? Bagaimana dengan aku?" Tanya Verrel menatap Leonna dengan tatapan sangat terlukanya, bahkan air matanya tak berhenti mengalir.

"Kalau kamu ingin pergi, maka ajak aku bersamamu. Biarkan aku tetap bersamamu, karena aku tetap akan mati saat tidak bersamamu." ucapan Verrel sungguh menyayat hati Leonna.

"Aku mohon, jangan lakukan ini padaku Delia. Jangan lakukan ini." Ucapnya dengan lirih diiringi air mata yang luruh dari pelupuk matanya.

"Setidaknya Kakak bisa bersama wanita lain! Setidaknya Kakak tidak akan terus bersama wanita cacat sepertiku lagi!" isak Leonna.

"Apa maksudmu? Aku tidak akan pernah menikah lagi dengan siapapun."

"Sekarang Kakak bisa mengatakan itu, lalu bagaimana nanti setelah 10 tahun, 15 tahun, sampai 20 tahun pernikahan kita. Apa Kakak akan tetap mengatakan ini? Aku tau, Kakak pasti menginginkan keturunan. Keturunan dari darah keluarga Orlando. Lalu bagaimana dengan aku yang tak bisa memberikan Kakak keturunan? Bagaimana Kak?" Tanya Leonna terdengar menyayat hati.

"Selama aku masih hidup, aku tidak bisa melepaskan Kakak. Aku tidak bisa membagi Kakak bersama wanita lain, sekalipun itu hanya untuk meminjamkan rahimnya. Aku tidak ikhlas, aku tidak bisa berbagi suamiku dengan wanita lain seperti di cerita sinetron. Aku tidak bisa."

"Dengan aku mati, mungkin aku tidak akan jadi penghalang Kakak untuk mendapatkan generasi selanjutnya di keluarga Orlando."

Verrel maupun Leonna tak ada yang mampu mengeluarkan suara mereka. Mata mereka terpaut dengan tatapan penuh luka dan kesakitan. Air matapun seakan tak ingin berhenti, air mata seakan ingin mengiringi tatapan terluka mereka berdua.

"Kalau begitu jangan pernah lepaskan aku, tetaplah hidup untuk menahanku supaya aku tak berpaling pada wanita lain. Tetaplah hidup untuk memenjarakan aku di dalam hati kamu, Delia. Tetaplah hidup untuk mempertahakan pernikahan kita."

Leonna semakin tak paham dengan ucapan Verrel, dia ingin melepaskan Verrel tetapi kenapa Verrel menolaknya. Kenapa seperti ini....

"Kalau kamu tetap dalam pendirianmu untuk meninggalkanku, maka jangan salahkan aku kalau aku memilih menjadi sosok yang protective dan otoriter untuk menahanmu tetap disisiku. Tak perduli kamu suka atau tidak." ucap Verrel dengan tajam. Mata mereka masih terpaut satu sama lain, ada perasaan bahagia bercampur takut melihat tatapan Verrel.

Tubuh Leonna yang ringkih sudah tak sanggup lagi untuk berdiri. Tubuhnya luruh ke lantai dengan isakannya. "Aku harus apa? Hikz,, aku harus bagaimana? Aku tidak kuat lagi menjalankan hidup seperti ini. Aku ingin membuatmu bahagia, aku ingin memberikan keturunan padamu. Tetapi kenyataannya tak bisa, aku tidak bisa."

"Kamu ingin menahanku di sini, tetapi aku akan menyakitimu. Aku tau kamu kecewa dan sangat terluka dengan semua ini. Jangan mengasihaniku, aku mohon..hikzzz." isak Leonna semakin menjadi.

Verrel duduk di hadapan Leonna dan menangkup wajah Leonna dengan air mata yang terus luruh membasahi pipinya. "Aku tidak pernah mengasihanimu, aku melakukan ini karena aku sangat mencintaimu. Sangat Delia," ucap Verrel.

"Aku merasa tak pantas mendapatkan cinta itu, aku merasa tak pantas."

"Hanya kamu yang pantas, hanya kamu," bisik Verrel mengecup kening Leonna. "Aku sangat mencintaimu, tolong percayalah." Verrel menarik Leonna ke dalam pelukannya.

Leonna masih terdiam tak membalas pelukan erat dari Verrel. Dia masih merasa tak pantas untuk Verrel, dia merasa sangat tak berharga untuk Verrel. "Aku hanya ingin kamu disini tetap di sampingku, menemaniku." Bisik Verrel. "Aku akan melakukan apapun dan berusaha melakukan apapun sesuai keinginanmu, karena kamu segalanya bagiku. Kamu kehormatanku, kamu nyawaku dan juga hidupku, Leonna." Bisikan Verrel mampu menyayat hati Leonna.

"Kamu jangan takut, aku ada disini untukmu. Aku disini menemanimu, dan semuanya akan baik-baik saja. Percayalah ada aku untukmu," Leonna semakin menangis mendengar penuturan Verrel yang terdengar begitu tulus.



Leonna melakukan Hipnoterapi pertama di AMI Hospital. Dokter Everlin melakukan Hipnoterapi secepatnya karena semalam Leonna hendak melakukan tindakan bunuh diri. Dia ingin menghapus rasa putus asa dan rasa ketidakpercaya dirian Leonna dari alam bawah sadarnya. Semua keluarga menunggunya di luar ruangan, Verrel tak terlihat disana.

1 jam sudah berlalu, Thalita mendorong kursi roda Leonna menuju ruangannya. Sebelum sampai ke dalam ruangan, Thalita sengaja membawa Leonna ke dekat mesjid yang dinding pembatasnya dari kaca bening. "Lihatlah suamimu, dia tak berhenti mendoakan kamu."

Aku ada disini untukmu, percayalah semuanya akan baik-baik saja...

Ucapan Verrel semalam terngiang begitu saja, membuat Leonna semakin merasa bersalah. Leonna semakin menangis melihat Verrel di dalam sana tengah berdzikir dan khusu dalam doanya. Leonna merasa sangat tersentuh. Setelah kejadian semalam, Leonna tak mengatakan apapun lagi. Dia menjadi pribadi yang bisu.

Leonna semakin menangis melihat Verrel yang terlihat menangis di sana.

Apa hak kamu melakukan ini padaku...

Kamu tidak berhak untuk meninggalkanku...

Kata-kata itu terngiang di telinganya, membuat hatinya semakin dalam dilemma. Dia tidak ingin membuat Verrel malu dengan keadaannya. Ia merasa tak pantas mendapatkan cinta dari Verrel. "Aku ingin ke kamar," ucap Leonna membuat Thalita kembali mendorong kursi roda Leonna dengan sesekali mengusap air matanya.

Sesampainya di dalam ruangan, terlihat Dhika juga baru datang setelah berbincang dengan dokter Everlin. Dhika membopong tubuh Leonna dan membaringkannya di atas brangkar. Thalita segera menyelimuti tubuh Leonna dan mengusap kepalanya. Dhika dan Thalita saling beradu pandang saat melihat Leonna hanya melamun dengan tatapan kosongnya.

"Princes," Dhika mengusap kepala Leonna membuatnya menengok ke arah Dhika. "Mau mendengarkan cerita sebelum tidur." Leonna mengangguk kecil. Mengingat masa kecilnya, dimana Dhika tak pernah absen menceritakan sesuatu untuk menghantar tidurnya. Dhika duduk di kursi dekat brangkar dan Thalita masih berdiri di hadapan Dhika yang hanya terhalang brangkar.

"Dulu, saat papa masih berusia 22 tahun. Papa melamar mama kamu ke mendiang tante Ratih. Papa meminta Oma dan Opa untuk melamarkannya. Mereka menginjinkannya dengan syarat pernikahan akan di lakukan setelah kami sama-sama lulus kuliah. Papa menyetujuinya karena kami akan bertunangan dulu, yang penting mama kamu sudah bisa papa ikat." Thalita dan Leonna mendengarkan ucapan Dhika dengan seksama.

"Kamu tau sayang, mama dan papa merencanakan banyak hal. Kami merencanakan akan menikah setelah lulus kuliah, dan sama-sama masuk ke universitas untuk meneruskan study kami untuk bisa menjadi seorang dokter bedah Thoraks dan Kardiovaskuler. London... kami berencana akan tinggal di sana setelah menikah dan menyelesaikan study kami. Mama kamu bersedia menunda kehamilan selama study, yang penting kami akan terus bersama-sama. Kamu bisa bayangkan bukan betapa indahnya rencana kami."

"Tetapi apa daya, tangan manusia tak semenakjubkan tangan tuhan. Takdir tuhan menghancurkan mimpi papa dan mama dalam sekejap, bahkan hanya berjarak beberapa bulan dari pertunangan kami. Hubungan kami kandas begitu saja, dan papa harus menikahi tante Natasya saat itu. Kamu tau, papa marah, papa kesal pada tuhan dan juga mama kamu. Begitu juga pada om Angga, papa sangat marah. Papa merasa semua orang tidak ada yang jujur, semuanya pengkhianat. Tidak sahabat, tidak juga kekasih." Ucap Dhika menghela nafasnya. "Papa menyimpan dendam dan amarah pada om Angga. Bahkan papa sampai akan keluar dari brotherhood, kalau saja ayah Daniel dan mami Elza tidak bersikeras menahan papa. Sampai mereka juga ikut memusuhi mama kamu dan Om Angga." Dhika menatap ke arah Thalita yang memasang senyumannya.

"Setelah semua terjadi, dan begitu menyakitkan. Papa pasrah, yah papa pasrah dalam takdir tuhan. Papa berusaha menerima tante Natasya sebagai calon istri papa dan belajar melupakan mama kamu, dan merubah rasa cinta itu menjadi rasa sayang sebagai adik." Thalita menghapus air matanya mengingat kejadian menyakitkan itu.

"Saat papa sudah pasrah, semuanya terkuak. Bunda menceritakan segalanya, dan memberitahu kebenarannya. Kamu tau saat itu papa sangat hancur, papa mendadak linglung dan gak tau harus bagaimana. Tuhan seakan mempermainkan hati dan hidup papa. Apalagi melihat kondisi mama kamu yang sangat drop saat itu. Papa semakin menyesal karena kebodohan papa yang mau-maunya di permainkan oleh takdir." Ucap Dhika melirik Thalita yang sudah menangis.

"Papa kembali bersemangat untuk bersama mama kamu, papa berusaha memperbaiki segalanya dan menyembuhkan mama kamu. Walau papa harus berkorban, papa tidak perduli. Yang jelas, papa ingin mama kamu kembali ada untuk papa. Kembali bersama dan mencapai impian kami berdua." Thalita memalingkan wajahnya mendengar penuturan Dhika, Thalita mengingat saat Dhika mendonorkan ginjalnya untuknya.

"Tetapi apa yang terjadi, takdir kembali mempermainkan kami. Tuhan membawa mama kamu pergi jauh dari papa. Pergi meninggalkan papa dalam kesedihan yang teramat. Putus asa, hampa, luka, kehancuran papa rasakan saat itu. Papa benar-benar merasa di permainkan oleh takdir tuhan. Papa merasa sangat putus asa. Papa mengasingkan diri dari semua orang, papa menghukum diri papa. Bahkan papa pernah merasa iri saat pernikahan om Angga dan tante Ratu. Papa merasa dunia ini tidak adil, kenapa Angga yang jelas-jelas biang dari kehancuran hubungan papa dan mama bisa mendapatkan wanita yang di cintainya dengan cepat. Sedangkan papa dan mama, kisah kami begitu menyedihkan."

"10 tahun papa menunggu mama kamu, hingga hari itu datang. Hari dimana papa merasa kembali hidup dan bersemangat. Papa berharap inilah balasan tuhan dari penantian papa selama ini. Papa berjuang kembali untuk merebut hati mama kamu, bahkan saking bahagia dan bersemangatnya papa tidak memikirkan sisi terburuk yang akan terjadi. Papa tidak memikirkan apa mama kamu sudah memiliki oranglain atau tidak. Papa terlalu bahagia melihat mamamu datang, dan papa terlalu percaya diri kalau mamamu kembali untuk papa." ucap Dhika membuat Leonna sesekali menghapus air matanya.

"Tetapi apa yang terjadi, takdir kembali mempermainkan papa. Mamamu sudah bersama papa Farel dan memiliki Vino. Kamu tau perasaan papa sangat hancur, bahkan rasanya papa sudah mati. Disana papa sudah berputus asa. Harapan, penantian, ikhlas, sabar sudah habis segalanya. Kamu boleh menilai papa terlalu drama, tetapi itulah kenyataannya. Papa merasa mati, berkali-kali papa berniat bunuh diri karena sudah sangat putus asa." Leonna dan Thalita semakin menangis mendengar penuturan Dhika. Bagaimanapun kejadian itu sangat menyayat hatinya. "Papa marah pada takdir begitu juga tuhan. Papa ingin sekali mati, tetapi tuhan seakan ingin terus menyiksa papa dengan membiarkan papa hidup."

"Tetapi Princes," Dhika mengambil tangan Leonna dan menggenggamnya erat. "Papa menyadarinya setelah itu. Dan lihatlah sekarang keluarga kita. Perasaan papa dan mama kamu semakin besar seiringnya waktu berjalan. Rencana tuhan jauh lebih indah daripada rencana kita. Papa berpikir, apa kalau rencana papa dan mamamu tercapai saat itu, apa perasaan kami akan sebesar ini? Apa pelajaran dan pengalaman kami dalam sebuah hubungan akan sepengalaman ini? Apa hubungan kami akan bahagia dan langgeng? Pertanyaan itu terbesit di kepala papa. Kalau saat itu kami tidak pernah merasakan bagaimana rasanya berkorban, bagaimana rasanya terpisah jauh, bagaimana rasanya dalam kebimbangan dan keputus asaan, bagaimana rasanya ikhlas dan tulus."

"Tuhan tau apa yang terbaik untuk kita, tuhan sudah menyiapkan sesuatu yang indah untukmu dan Verrel di depan sana. Bagaimana layaknya mama dan papa, walau berkali-kali jalan kami terhambat, walau berkali-kali kami harus berjalan di jalan masing-masing. Tetapi akhirnya kami akan sama-sama bertemu kembali di garis finish dan bahagia menjalani hidup. Rencana tuhan lebih indah dari yang kita rencanakan, Sayang. Yakinlah, ikhlas, pasrahkan segalanya kepada Allah. Tuhan tidak pernah tidur, tuhan tidak pernah berpaling dari umatnya, walau umatnya yang sering berpaling dari tuhan. Percayalah dan yakin pada tuhanmu, Sayang. Kun fayakhun, saat allah sudah berkehendak, maka itulah yang akan terjadi."

"Keajaiban... mukjizat... percayalah akan hal itu." Dhika mengusap kepala Leonna. "Karena tak akan selamanya kita melewati jalanan berbatu dan berbelok, ada kalanya kita melewati jalanan yang lurus dan datar. Kamu percaya dan yakin pada Allah, kan?" Leonna mengangguk lirih.

"Pintar, sekarang tanamkan dalam diri kamu keyakinan itu. Pasrahkan segalanya kepada tuhan, dan berjalanlah bersama Verrel melewati ujian ini untuk menuju keindahan yang telah tuhan siapkan untuk kalian berdua." tambah Dhika.

"Ikhlas sayang, ikhlaskan segalanya. Hanya itu yang bisa kita lakukan." ucap Thalita mengusap kepala Leonna.

"Apa mama juga ikhlas saat berpisah dengan papa dan menuruti papa Farel?"

"Iya, mama ikhlas melakukan pengorbanan itu, mama ikhlas menerima segalanya. Walaupun ternyata papamu bukan jodoh mama, maka mama akan berusaha untuk ikhlas." ucap Thalita.

"Karena tuhan bukan memberikan apa yang kita inginkan, tetapi tuhan memberikan apa yang kita butuhkan." ucapan Dhika membuat Thalita dan Leonna sama-sama tersenyum.

Mereka bersyukur memiliki suami dan papa yang begitu bijak seperti Dhika.

"Papa yakin kamu akan memiliki bayi, papa sangat yakin. Sering terjadi setelah setengah rahimnya di angkat mereka bisa hamil lagi. Jadikan itu sebagai cerminan kamu. Bahwasannya masih ada tuhan yang akan menolong kita. Bahwasannya kehendak tuhan tak akan ada yang mampu menandinginya." Ucapan Dhika membuat Leonna tersenyum senang dan beranjak memeluk Dhika.

"Makasih Papa, Leonna sangat menyayangi papa." ucap Leonna diiringi tangisannya.

"Iya sayang, Dan papa mohon jangan melakukan hal yang sangat di benci tuhan. Jangan pernah melakukan hal yang hanya akan dilakukan oleh seorang pengecut. Jangan melakukan itu lagi." ucap Dhika.

"Iya papa, maafkan Leonna." Dhika membiarkan Leonna menangis di dalam pelukannya. Thalita tersenyum ke arah Dhika seraya mengusap kepala Leonna.

