webnovel

28. Basil Merah Muda

Vasilio memejamkan matanya saat menerima informasi tersebut. Jadi, Cia adalah pasangan dari lycan itu. Lycan yang hari itu memporak-porandakan isi kuali. Lycan yang hari itu bertatapan sengit dengannya. Vasilio bahkan masih ingat dengan jelas kejadian itu. Jadi, ketika lycan itu mencari istrinya, itu adalah ... Cia?

Luar biasa sekali takdir ini.

"Apa menurutmu aku bisa merebutnya?" tanya Vasilio pada Aro—orang kepercayaanya.

"Tuan menginginkannya sebagai apa?"

"Penghangat ranjangku, pemilik tubuhku, bahkan pemilik jantungku."

Aro sedikit terkejut, "Anda menyukainya, Tuan?"

Vasilio meneguk minuman kesukaannya. Air jeruk bercampur susu itu, semakin membuat otaknya encer. Cara-cara untuk mendapatkan Cia sudah dia kantongi dan tinggal merealisasikan hal itu saja.

"Dapatkan daun basil merah muda untukku, Aro," perintah Vasilio.

Sebagai asisten yang baik, Aro harus menuruti perintah Tuannya. Dia berutang budi banyak terhadap Vasilio. Lelaki itu yang menemukannya saat sekarat dan tak punya apa-apa. Lelaki itu juga yang menbiayai hidup keluarganya hingga sekarang. Sebagai balasannya, Aro cukup setia dan menuruti segala perintahnya. Aro bahkan tidak takut mati, karena Vasilio memberikan tujuh nyawa untuknya. Juga Vasilio selalu ada saat dia dalam bahaya.

Jadi, tidak alasan bagi Aro untuk berkhianat.

Basil merah muda hanya bisa diketemukan di daerah pegunungan. Lokasinya yang berada di sisi jurang, membuat daun ini sukar dijumpai. Manfaatnya yang luar biasa, membuat daun ini terbilang langka. Bukan hanya sehelai atau dua helai daun, butuh sepuluh helai daun untuk menuruti rencana Vasilio.

Aro yang sudah berubah menjadi burung segera membelah udara. Tubuh tranfigurasi itu memang kecil, tapi kecepatan dia mengudara melebihi pesawat pada umumnya. Cakarnya bahkan mampu mengoyak kulit. Saat Aro sudah berada di sisi tebing, dia berubah menjadi wujud asli lagi.

Tidak hanya sepuluh helai daun basil merah muda, Aro mengambil semua daun itu dengan tanahnya sekalian. Kali ini, dia tidak bisa pulang dengan sosok tranfigurasinya. Jadi, lelaki itu memakai mode transparan dan lompat dari pohon ke pohon.

Pekerjaan Aro kali ini tak membutuhkan waktu lama, hanya sekitar enam jam dan kini dia sudah kembali ke hadapan Vasilio.

"Sebanyak ini?" heran Vasilio.

"Daripada harus bolak-balik? Kalau bisa semua, kenapa harus sedikit?"

Ah, benar. Vasilio membelai daun basil tersebut, ada kesenangan akan rencananya yang berhasil. Dia segera memanggil salah satu witcher untuk membuat ramuan.

"Aro, panggilkan Viona."

Aro segera berbalik, ruangan Viona ada di bawah karena saat ini mereka berada di mansion milik Vasilio. Tak lama, Viona datang dengan anggunya, seperti biasa.

"Aku ingin bertemu dengan Zeno Evander, secepatnya."

"Baik, Tuan."

***

"Bagus, nggak?" Cia mengangguk. Hiasan bunga-bunga di sisi kanan dan hiasan langit di sisi kiri. "Kurang apa, ya?"

Cia ikut berpikir, rasa-rasanya sudah indah semua. Namun, Ivory tidak ingin ada satu pun yang kurang. Ini cucu pertamanya, itu jelas karena anaknya hanya Zeno seorang. Wanita itu pernah berkata pada Cia, jika dia ingin cucu yang banyak. Sedangkan Cia hanya tertawa dan dengan lantang dia menjawab akan memberikan empat penerus untuk Kerajaan Red Eclipse.

"Sayang," sapa Zeno. Laki-laki itu datang dengan pakaian rapi. Dia membawa Cia untuk berhadapan dengannya dan mengecup bibir istrinya sekilas. "Aku ada urusan sebentar."

"Sekarang?" Zeno mengangguk. "Haruskah?"

"Kenapa?"

Perasaan Cia tiba-tiba saja tidak baik, tapi dia tetap tersenyum. "Nggak apa-apa. Hati-hati dan jangan kemalaman."

Zeno tersenyum manis, dia mencium istrinya. Tidak peduli jika banyak orang atau ada Ibunya sendiri sedang memperhatikan. Yang jelas, Zeno butuh kekuatan dari Cia.

Saat Eros ingin menemani, Zeno dengan tegas menolak. Pesan Viona saat menghubunginya tadi adalah, dia harus datang sendiri. Karena jika berani dan curang membawa orang lain, maka kedua anaknya akan dihabisi. Kurang ajar! Zeno bahkan ingin mengamuk sekarang juga.

Lelaki itu segera memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sesampainya di tempat tujuan, itu adalah sebuah kafe yang cukup ramai. Baguslah, jika Vasilio begitu terang-terangan. Zeno segera masuk ke dalam kafe tersebut, mencari di mana rambut merah itu berada. Tak perlu lama, karena memang keberadaan pihak lain selalu saja mencolok.

Zeno duduk di hadapan Vasilio, tak ada senyum dari bibir keduanya. Tak lama, seorang pelayan datang membawa menu. Zeno memesan segelas jus strawberry spesial, sedangkan Vasilio meminta disamakan saja.

"Intinya apa?" todong Zeno.

Vasilio terkekeh, ternyata Zeno tidak bisa berbasa-basi. "Aku ingin istrimu."

Hah?! "Maksudmu?" Zeno masih bisa menahan emosinya saat ini. Apalagi saat minuman pesanannya datang. Dia segera menyeruput minuman itu. "Cia itu milikku!"

Vasilio juga meminum miliknya, dahinya mengernyit karena merasakan sedikit rasa asam. "Dia memang milikmu sampai saat ini, tapi nanti malam, dia milikku."

Baru saja Zeno akan menjawab, seluruh tubuhnya mati rasa. Bibirnya tak bisa di gerakkan, hanya matanya saja yang masih bisa bergerak ke kanan-kiri. Zeno mengutuk Vasilio di dalam hatinya, dia dikerjai.

"Terlalu sombong. Aku akan menikmati tubuh Cia hingga dia hamil anakku." Vasilio menepuk kedua tangannya di udara, seketika beberapa laki-laki datang dan segera mengangkat Zeno. "Bawa dia ke mansion, aku akan meniru tubuhnya. Jangan lupa tutup matanya!"