webnovel

Bab 3

Rania berjalan dengan tertatih-tatih. Sambil menahan rasa lapar, yang terus saja bergejolak. Karena sejak pagi tadi, dia belum memasukkan makanan atau cairan sedikit pun, ke dalam perutnya.

Rencananya wanita itu memilih untuk pulang. Tapi ia tidak punya uang, untuk naik kendaraan umum. Karena uangnya sudah habis tertipu oleh seorang wanita, yang tidak ia kenal.

Rania memilih untuk berjalan kaki. Dengan jarak berkilo-kilo meter yang harus dia tempuh, untuk sampai di rumah. Hingga rasa sedih itu muncul, menyelimuti hatinya.

"Tuhan, saat ini hamba benar-benar membutuhkan pertolonganmu. Berikan hamba kekuatan, untuk menjalankan kehidupan ini. Dan hamba mohon, berikan kesembuhan untuk Rafa adik hamba. sekarang hamba tidak punya uang lagi, untuk membelikan obat untuknya."

Dari tadi Rania menatap dengan hampa di sekelilingnya. Meratapi musibah yang terus saja datang bertubi-tubi menghampiri. Hingga membuat ia seakan sesak, untuk bernafas.

Di saat wanita itu berjalan. Tanpa sengaja Rania menatap papan iklan, yang berisi lowongan pekerjaan. Seketika matanya berbinar.

"Rizt Company. Perusahaan ternama itu membutuhkan seorang manajer secepatnya. Aku tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini. Aku harus pergi ke perusahaan itu, untuk melamar pekerjaan," pikir Rania dalam hati.

Seakan memiliki semangat baru. Rania melupakan semua kesedihan, serta musibah yang menimpanya. Ia berharap, semoga ia mendapatkan pekerjaan di perusahaan tersebut.

Karena tidak memiliki uang, Rania memilih untuk berjalan kaki. Menuju perusahaan itu. Ia pun melupakan rasa lapar yang melanda di perutnya. Dengan setengah berlari, wanita itu terus melangkah. Hingga tak terasa, 30 menit telah berlalu.

Kini, Rania sudah tiba di depan perusahaan Ritz company. Ia pun langsung menemui satpam yang berdiri di depan pintu masuk. Bermaksud hendak menanyakan, tentang lowongan pekerjaan tersebut.

"Permisi, Pak. Perkenalkan nama saya Rania. Saya ingin bertanya. Kebetulan tadi, saya membaca papan iklan di pinggir jalan. Jika perusahaan ini membuka lowongan pekerjaan. Apakah itu benar?" tanya Rania dengan penuh harap.

"Iya Mbak benar. Kalau begitu, Mbak langsung masuk ke dalam saja. Temui wanita yang ada di lobi itu," tunjuk satpam tersebut, kepada seorang wanita dengan stelan abu-abu.

Rania pun mengangguk dengan antusias. "Terima kasih ya, Pak. Kalau begitu saya masuk ke dalam dulu," pamit Rania, yang seketika terkesima. Saat melihat isi gedung yang begitu mewah. Dengan interior serta desainnya yang terlihat elegan.

Setibanya di dalam gedung tersebut. Rania merasa heran. Ketika melihat para pegawai di sana, menatapnya dengan pandangan aneh.

"Kenapa mereka menatapku seperti itu? Apa ada yang salah dengan penampilanku?" tanya Rania, lalu memutar tubuhnya menghadap kaca dinding ruangan tersebut.

"Oh my God! Pantas saja mereka menatapku aneh. Ini semua karena rambutku yang sudah acak-acakan. Sebaiknya, aku harus mencari toilet. Untuk merapikan penampilanku sekarang." Rania langsung menanyakan letak toilet, ke salah seorang pegawai yang ia temui di sana.

Kini Rania sudah berada di dalam toilet tersebut. Ia segera merapikan pakaian, dan juga memoleskan sedikit bedak, serta lip cream berwarna coral yang segar dan ceria. Rambut yang tergerai, kini ia kuncir ke belakang. Supaya terlihat lebih rapi dari penampilan sebelumnya.

"Selesai. Hmm, kayaknya penampilanku sudah rapi. Bismillah. Semoga saja hari ini aku mendapatkan pekerjaan. Amin."

Setelah mengatakan itu, Rania berjalan dengan terburu-buru. Karena ia ingin secepatnya menyerahkan berkas, yang ada ditangannya. Kepada wanita dengan stelan abu-abu itu.

Namun, saat dipersimpangan. Tanpa sengaja Rania menabrak seorang pria. Membuat map yang ada ditangannya jatuh ke lantai, lalu berkas-berkas yang ada di map tersebut, keluar berhamburan.

"Ya ampun, bagaimana ini?" tanya Rania panik. Lalu memungut ijazah serta berkas penting lainnya, satu persatu.

"Bisa tidak, Anda kalau jalan itu hati-hati. Saya mau melamar pekerjaan di perusahaan ini. Bagaimana kalau saya ditolak, karena berkas-berkas ini kotor?" tanya Rania sambil menggerutu, lalu memungut kertas-kertas yang berserakan. Tanpa memandang pria yang ditabraknya.

Karena tidak mendengar sepatah kata pun, yang keluar dari mulut pria itu. Rania langsung mendongakkan kepala. Melihat siapa pria sombong, yang masih berdiri di hadapannya.

Namun, seketika matanya tidak berkedip. Saat melihat sosok mahkluk ciptaan Tuhan, yang berlawanan jenis. Terlihat begitu tampan. Membuat siapa saja wanita yang melihat, langsung terpikat.

"Saya tahu saya tampan. Kamu tidak perlu menatap saya seperti itu," ucap pria itu dengan penuh percaya diri. Membuat Rania seketika membuyarkan lamunannya.

"Percaya diri sekali Anda. Tapi maaf, saya tidak punya waktu untuk meladeni orang sombong seperti Anda. Permisi!"

Setelah mengatakan kalimat itu, Rania langsung pergi meninggalkan pria yang tidak lain adalah Erick Fardan. Seorang bos besar serta pemilik perusahaan Ritz Company.

"Sebenarnya siapa yang sombong, dia atau aku? Lagi pula, bukannya dia yang menabrak ku duluan? Dasar wanita aneh. Tapi tunggu dulu, bukannya tadi dia bilang, mau melamar pekerjaan di perusahaan ini. Aku rasa, aku bisa memanfaatkan wanita itu."

Seketika senyum licik tercetak jelas di wajah Erick. Ia pun berniat, mengikuti Rania dari belakang. Sambil menyusun rencana dibenaknya.

***

"Ayo, Mbak Rania. Saya temani Anda ke ruangan Pak Wisnu, kepala HRD di perusahaan ini," ajak Susi, wanita yang ditemui Rania barusan.

Kini, Rania sudah duduk di salah satu kursi yang ada di depan ruangan Pak Wisnu. Wanita itu berusaha menenangkan diri. Supaya nanti bisa bersikap tenang. Saat melakukan interview.

Suara dering ponsel, membuat Rania langsung mengalihkan perhatiannya. Ia pun mengangkat panggilan tersebut, yang ternyata dari Ratna ibunya.

"Halo! Assalamu'alaikum, Bu."

"Wa'alaikumsalam, Nak. Kamu ada di mana sekarang? Apa kamu jadi membelikan obat untuk adikmu? Soalnya suhu tubuhnya naik lagi. Dari tadi dia menggigil, dan badan juga lemas," ucap Ratna dengan nada panik. Lewat panggilan telepon tersebut.

Tubuh Rania seketika menegang. Ketika mendengar ibunya mengatakan tentang kondisi adiknya sekarang. Ia merasa bersalah. Mengingat uangnya sudah ditipu, oleh wanita yang tidak dikenal.

"I-iya, Bu. Ra-rania sedang menunggu panggilan interview. Nanti, jika interview-nya sudah selesai. Ra-rania akan segera beli obat untuk Rafa," ucap wanita itu dengan terbata-bata.

Setelah mengatakan itu, tiba-tiba saja wajah Rania memucat. Membuatnya menjadi tidak tenang. Dan itu semua tidak luput dari pandangan Erick, yang dari tadi memperhatikan gerak-gerik wanita itu.

Tak lama kemudian, Susi datang memanggil Rania. Karena sekarang adalah gilirannya, untuk melakukan interview dengan Pak Wisnu.

"Ayo, Mbak Rania. Silahkan masuk," ajak Susi kepada wanita itu.

"Iya, Mbak. Terima kasih."

Saat ini Rania sudah duduk berhadapan dengan Pak Wisnu. Namun, di saat pria itu memberikan pertanyaan. Tiba-tiba saja Rania jadi tidak fokus menjawabnya. Seakan kurang yakin, dengan jawaban yang ia berikan.

"Maaf Nona Rania Vanessa. Sepertinya saya belum bisa menerima Anda, untuk bekerja di perusahaan ini."

Deg!

Seketika tubuh lemas. Ketika mendengar jawaban dari Pak Wisnu. Harapannya untuk mendapatkan pekerjaan seketika pupus.

"Pak, saya mohon. Tolong terima saya bekerja di sini. Karena saya sangat membutuhkan pekerjaan ini, Pak. Adik saya sakit. Saya butuh uang untuk biaya pengobatannya, hiks-hiks."

Tanpa wanita itu sadari. Tiba-tiba saja air matanya mengalir. Meratapi hidup yang hanya menorehkan luka, dan juga air mata.

"Maaf, Nona Rania. Saya mencari karyawan yang kompeten, demi kemajuan perusahaan ini. Dan saya tidak puas, dengan jawaban Anda. Karena sepertinya, Anda sendiri tidak yakin dengan jawaban tersebut," jawab Wisnu memberikan penjelasan.

Mendengar perkataan Wisnu, Rania langsung berlutut di hadapan pria itu. "Saya mohon, Pak. Tolong terima saya bekerja di perusahaan ini. Saya berjanji, akan bekerja dengan sungguh-sungguh."

Wisnu merasa tidak tega. Saat melihat Rania berlutut di hadapannya. Namun, ia juga tidak bisa berbuat apa-apa. Hingga sebuah suara, mengagetkan mereka berdua.

"Kamu diterima bekerja di perusahaan ini, Nona."

Deg!

Bersambung.