webnovel

Rache

Puncak dari rasa sakit adalah kehilangan. Namun, Puncak dari kehilangan itu sendiri adalah mengikhlaskan. Tuhan sudah merencanakan takdir manusia. Siapapun tidak bisa lepas darinya sejauh apa ia pergi dan sejauh apa dia berlari. Aksara tau, tuhan sudah melukiskan sebuah takdir dengan apiknya jauh sebelum ia lahir. Tapi bisakah ia mengeluh? Bisakah ia berkeluh kesah pada tuhan. Aksara tau, banyak orang yang lebih buruk keadaannya dibandingkan dirinya. Tapi untuk saat ini, tolong biarkan Aksara mengeluh sekali saja. Tuhan memang maha baik, jadi tolong ijinkan ia mengeluh. Meratapi apa yang sudah terjadi. Hidupnya yang sudah mulai tertata, bak bangunan megah dengan pilar pilar tinggi menjulang, roboh dalam satu kedipan mata. Semuanya pergi satu persatu. Meninggalkan Aksara dalam sendu sembiru badai gelombang kehidupan yang mungkin tak berkesudahan.

Eshaa_ · Realistic
Not enough ratings
312 Chs

Ramai

Meja makan yang biasanya ramai kini semakin ramai. Ada ibuk, Mas Yudhis, Mas Abim, Arjuna, Aksara, Mbak Manda, Mbak Mia, Karin, Nathalie, dan Angel.

Ah Angel, gadis itu merasa sangat senang bisa berada diantara mereka. Walaupun ia baru pertama kali datang, orang orang di sana menyambutnya dengan baik, bersikap sangat ramah membuat ia merasa nyaman.

"Wahh siapa ini yang masak?" Mbak Manda menatap makanan di hadapannya dengan nata berbinar.

"Beli nduk. Nggak sempet kalo masak," jawab ibuk, "Gimana rasanya? Enak nggak? Kalo enak lain kali beli makan di sana lagi aja,"

Mbak Mia segera menyahut, "Enak banget buk. Asli ini mah. Ini namanya apa?"

"Itu rendang masa ko tak tau," sebagai seorang yang pernah tinggal lama di Padang tentu saja Mbak Manda merasa senewen sendiri, "Kalo kata Mas Yudhis kau ndeso nggak tau rendang,"

Mas Yudhis hanya tertawa renyah, "Makanya jangan makan junk food mulu. Nggak tau rendang kan kamu,"

Locked Chapter

Support your favorite authors and translators in webnovel.com