webnovel

Enam puluh

Freya meminta ijin kepada kakaknya untuk pulang lebih awal. Entah kenapa pemikiran tentang apa yang sudah dia lakukan terhadap Troy menghantui. Dan rasanya itu terlalu kejam untuk dilakukan. Sebenci apapun Freya terhadap Troy, hati nuraninya tetap mengatakan bahwa apa yang dia lakukan itu salah.

Sebelum sampai ke rumah, dia meminta supir untuk mampir ke supermarket. Dia ingin memasakkan sesuatu untuk Troy, sebagai bentuk maafnya karena sudah bertingkah menyebalkan. Menurut Freya.

"Aku bisa pulang sendiri pakai taksi. Pulanglah lebih dulu." ucapnya kepada sang supir.

"No, Miss, saya harus mengantar anda selamat sampai tujuan." jawab sang supir mantab. Baginya, bisa melayani keluarga yang hebat seperti keluarga Mayer adalah sebuah kehormatan. Untuk itu dia tidak akan pernah mempunya pikiran untuk bersikap membangkang atau lainnya.

"Oke kalau kamu memaksa. Ini nggak akan lama." lalu Freya keluar dari mobil.

Benar saja tidak sampai satu jam Freya sudah kembali dengan barang belanjaannya. Dengan cekatan sang supir membantunya memasukkan barang belanjaan ke dalam bagasi mobil, lalu kembali ke kursi pengemudi untuk melanjutkan perjalanan.

Freya memang tipe orang yang berusaha untuk berbuat efisien. Dia selalu merencanakan apa yang akan dia lakukan dalam satu hari sejak semalam. Bahkan untuk berbelanja pun dia sudah mempunyai daftar apa saja yang akan dia beli, sehingga dia tidak perlu berputar-putar mencari barang apa lagi yang akan dia beli. Entah siapa yang mengajarinya, tapi kebiasaan itu sangat membantu ketika dia hanya seorang diri di rumah dulu, ketika dia masih menjadi istri seorang Troy Mikhaila Darren yang harus mengerjakan semuanya sendirian.

Dua kantung belanjaan dibawakan sang supir sampai unit apartemen Troy. Setelah memasukkan barang, dia pamit untuk pulang. Tinggallah Freya sendiri di dalam rumah yang asing ini karena Troy tampaknya belum pulang.

"Apa aku harus menanyakan kapan dia pulang?" gumam Freya sembari mengeluarkan isi belanjaannya, memindahkan ke kulkas untuk disimpan. "Nggak ah, gimana kalau nanti cuma ganggu kalau dia lagi kerja."

Setelah berganti baju, Freya segera memulai acara memasaknya. Dia harus bergegas, siapa tahu Troy sebentar lagi akan sampai di rumah.

"Tapi kalau dia pulang malam gimana? Masakannya keburu dingin." pemikiran itu menyergap Freya. Meski begitu Freya tetap melanjutkan memasak makan malam, siapa tahu nanti dia sendiripun akan merasa lapar.

Bisa dimaklumi karena sikap Freya yang tidak sopan mungkin akan membuat Troy marah. Dan ketika pemuda itu sedang tidak enak hati, dia akan melampiaskan dengan minum-minum sampai mabuk. Tapi sekarang dia sendiri disini, tidak ada Aaron maupun Digta yang bisa menemaninya.

Satu jam berlangsung dalam keheningan. Hanya suara alat masak yang saling bertautan yang menandakan adanya aktifitas di dalam rumah. Benar, Troy kemungkinan tidak akan pulang dalam waktu dekat. Dan bisa dipastikan dia sedang minum-minum sekarang.

Meski meja makan sudah siap, Freya tidak ada niatan untuk memulai makan malamnya. Entah kemana selera makannya menguap, padahal sedari tadi dalam perjalanan pulang perutnya keroncongan. Membunuh kebosanan, Freya mengalihkan kegiatannya dengan menonton televisi. Hingga tanpa sadar dia sudah terlelap.

Suara pintu yang terbuka membuat dia terbangun. Sudah pukul 9 malam, itu artinya dia sudah satu jam tertidur.

"Troy?" Freya mencoba memanggil nama penghuni rumah itu. Siapa lagi yang akan memasuki apartemen ini kalau bukan si pemilik, sayangnya tak terdengar sahutan.

Hening. Bahkan suara langkah kaki yang seharusnya dia dengar pun tidak ada. Bahkan orang yang seharusnya muncul pun tidak nampak. Apa jangan-jangan itu penjahat?

Sedikit takut, Freya berusaha bangkit. Dia harus memeriksa siapa yang memasuki apartemen suaminya. Kalau memang penjahat, dia harus melakukan sesuatu agar dia bisa diringkus. Berbekal pemukul baseball yang tergantung di tembok, Freya perlahan melangkah. Tak ada apapun, bahkan bayangan pun tak ada. Menelan ludah berulang kali dan memantapkan diri, Freya semakin dekat dengan pintu masuk.

"Ngapain kamu bawa tingkat baseball segala?" itu TROY! Dengan wajah penuh kebingungan menatap Freya yang berdiri dihadapannya.

Berusaha menguasai diri, Freya segera menurunkan tongkatnya dan mencoba merelakskan dirinya. Dalam hati, dia merasa beruntung karena ternyata yang masuk ke rumah adalah Troy.

"Nggak, aku pikir tadi ..." belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Freya langsung mendapat pelukan dari Troy. Oh iya, sekarang dia akan mendapatkan pelukan dan ciuman dari laki-laki itu selama dua bulan kedepan.

"I miss you." dan Troy semakin mengeratkan pelukannya.

"Kenapa?"hanya itu yang keluar dari mulut Freya. Yang langsung disesalinya karena sangat tidak perhatian.

"Aku laper, kamu masak sesuatu?" tanya Troy sembari melepas jas kerjanya.

Dengan alaminya Freya menerima jas yang diberika oleh Troy lalu meletakkannya di sofa. Setelah Troy duduk di kursi makan, dengan cekatan Freya menyiapkan makan malam yang bahkan belum disentuhnya sejak tadi dia selesai memasak.

...

"Kamu belum makan malam?" dalam suara Troy terselip nada khawatir. Dilihatnya wajah istrinya yang hanya diam saja. "Kenapa?"

"Nggak papa. Tadi selesai masak aku ketiduran. Barusan bangun karena denger pintu dibuka."

Kedengarannya biasa saja, dan alasan Fenita memang bisa dimaklumi. Tentu saja dia merasa lelah setelah seharian bekerja dan masih harus menyiapkan makan malam untuk mereka. Tapi yang membuat Troy merasa curiga adalah Fenita yang tidak menatap matanya ketika mengatakan itu. Bisa diambil kesimpulan bahwa Fenita sedang berbohong. Iya, istrinya itu bukan orang yang pandai berbohong.

Seketika perasaan bersalah menghampiri Troy. Dia mengutuk dirinya sendiri yang malah sibuk galau memikirkan bagaimana cara menghilangkan rasa canggung yang ada diantara mereka, sedangkan Fenita dengan baiknya menyiapkan makan malam meski dia sendiri kelelahan. Dari sini terlihat siapa yang lebih dewasa dalam hal pemikiran dan tindakan. Iya, meski jarak mereka terpaut 14 tahun dengan Troy lebih tua, tapi dari segala hal, Fenita tetap yang paling dewasa dalam tindakan dan sikap. Apa semua perempuan seperti itu? Atau hanya dia yang merasa masih kekanak-kanakan?

"Kalo kamu capek, nggak usah masak. Kita bisa makan malam diluar." Troy mengenggam tangan istrinya.

Iya, dia sudah berjanji dalam hati bahwa dia tidak akan membiarkan istrinya kelelahan. Betapa dulu dia tidak pernah memperhatikan apakah Fenita merasa kelelahan atau tidak, yang dia perhatikan hanyalah kebutuhannya sendiri terpenuhi atau tidak. Perlahan dia ingin merubah pemikiran itu, memprioritaskan orang yang dia sayangi.

"Nggak papa, aku masih mampu melakukan semuanya." jawab Fenita lirih.

Ada satu pertanyaan yang selalu menghantuinya sedari dulu. Apakah Fenita masih takut kepadanya? Atau dia sekarang ini sangat ketakutan berhadapan dengan Troy?

Bila dilihat dari segi manapun, Fenita tidak pernah menolak semua permintaan Troy. Entah tidak mau menolak atau dia takut untuk menolak. Mengingat dulu hubungan mereka tdak terlalu baik. Hanya sebatas hubungan saling menguntungkan agar Troy bisa terbebas dari perjodohan yang dibuat oleh sang mama, juga Fenita yang kebetulan membutuhkan uang yang ditawarkan oleh Troy untuk pengobatan Ibu di panti asuhan.

Karena tidak mau berdebat lagi dengan Fenita, Troy pada akhirnya hanya bisa menerima jawaban Fenita. Tentu saja dia tidak akan tinggal diam. Sebagai laki-laki yang menyayangi istri, sebisa mungkin dia akan membantu meringankan pekerjaan rumah tangga yang kini dikerjakan oleh istrinya. Bahkan kalau perlu dia yang akan mengambil alih semua pekerjaan rumah agar istrinya tidak perlu kelelahan.

Hal itu bisa dimulai dari sekarang.

Dengan penuh kesadaran Troy membantu Fenita mencuci piring bekas makan mereka. Tidak hanya itu, Troy bahkan menyiapkan air untuk mandi Fenita. Jujur saja itu membuat Troy merasa senang. Padahal dulu dia tidak pernah menyentuh pekerjaan rumah.

Sampai pada akhirnya mereka sudah menengelamkan diri dibalik selimut. Ketika itu terjadi, Troy tidak bisa memejamkan matanya, padahal tubuh dan otaknya sudah kelelahan. Jam sudah menunjukkan pukul 2 pagi ketika akhirnya Troy mengalah dan memejamkan matanya yang tidak mengantuk. Entah pada jam berapa ketika akhirnya Troy tertidur setelah memeluk Fenita dari belakang, mencium aroma tubuh istrinya yang sangat menenangkan itu.

Next chapter