Setelah memutuskan untuk memulai hidup baru yang tenang di Kota Seoul, Korea Selatan, Elmeira malah di hadapkan dengan permasalahan hidup yang lebih rumit ketika harus menghadapi 7 pria misterius dan fans-fans mereka.
Memulai semuanya kembali dari 0 bukanlah hal yang mudah, meskipun, hal itu adalah impianku. Setelah badai besar yang memutar balikkan duniaku, saat ini adalah waktuku untuk bangkit, dan aku meletakkan harapanku pada, Seoul.
~~~
Author POV_
Gadis itu meregangkan tubuhnya, pagi pertama di Seoul, matahari bersinar terang meskipun suhu yang tertera di ponsel menunjukkan angka 8 derajat celsius, tapi hal itu tidak meruntuhkan semangat gadis berdarah Indonesia-Pakistan itu untuk memulai petualangan serunya hari ini.
Emerald, nama gadis itu. Ketika memberikan nama itu, tentu saja orang tuanya berharap agar hidup Eme, panggilan akrabnya, kelak akan seindah salah satu batu permata di dunia itu. Ya, indah, sebelum Eme merusaknya sendiri. Dan kini, disini, setelah dengan berbagai macam perjuangan dan pengorbanan, Eme, meletakkan seluruh harapannya untuk memperbaiki apa yang telah di rusaknya di kota Seoul ini.
Emerald sedang menikmati indahnya Mentari pagi pertamanya di Seoul, Ketika ponselnya berdering. Itu panggilan salah satu staff HRD tempatnya bekerja. Ya, setelah melalui proses audisi yang cukup Panjang dan lumayan melelahkan, Eme berhasil terpilih menjadi seorang penulis di salah satu perusahaan terbesar di Seoul.
"Emerald ssi, apa semua baik-baik saja?" tanya suara dari seberang.
"Yyee…." Ucap Emerald sopan. Bahasa Koreanya memang belum selancar orang-orang Korea karena Eme hanya ikut kelas online dan belajar secara otodidak, tidak ikut kelas Bahasa khusus seperti kebanyakan orang-orang Indonesia yang ingin bekerja ke Korea Selatan.
"Baguslah. Tapi, apa kau bisa hari ini datang ke kantor sebentar saja? Kami perlu memperkenalkanmu dengan partner kerjamu, jadi besok kau bisa langsung memulai bekerja tanpa harus berkenalan lagi" ucap si manajer terdengar hati-hati menjelaskan, karena di perjanjian yang di tandatangani memang Eme baru memulai aktifitas bekerjanya besok.
"Hemm…baiklah, jam berapa aku harus kekantor?" tanya Eme
"Ehm…mereka biasanya ada di kantor sekitar jam 11 siang, jadi apa bisa kau kesini sekitar jam setengah 11?" tanya staff itu memastikan.
"Ahh…Nne…baiklah, aku akan berangkat jam 10 kekantor" ucap Eme menyetujui. "Ah, maaf, dengan siapa aku berbicara?"
"Aku, Soyoung. Park Soyoung, nanti setelah kau sampai di resepsionis, katakan kau mencari Park Soyoung bagian HRD, karena kau butuh tanda pengenal untuk bisa masuk kedalam kantor."
"Nne…baiklah. Terima kasih banyak Soyoung ssi" ucap Eme.
"Nne…aku tutup telponnya" lalu sambungan pun terputus.
Jam 10? Eme menengok ke Jam dinding yang masih tergeletak di lantai, bersandar pada kaki buffet, jam 9 pagi, buru-buru Eme berlari kecil menuju kamar mandi.
#
Jam 10.30 teng Eme berhasil sampai tepat di lobby kantornya. Tanpa ragu dia menuju resepsionis dan mencari Park Soyoung seperti yang di instruksikan padanya.
"Emerald ssi?" tanya Soyoung menghampiri Eme.
"Nne…" Emerald membungkuk, karena dunia masih dalam proses pemulihan dari pandemic, maka protokol Kesehatan masih di jaga, dan seperti halnya di Indonesia, begitu pun di Korea Selatan, meskipun penggunaan masker sudah tidak terlalu di wajibkan, tapi social distancing dan saling bersentuhan masih harus di minimalizir.
"Silahkan ikut saya" Soyoung membawa Eme ke dalam kantor setelah menyerahkan ID Card dengan tulisan 'visitor' kepada Eme.
"Id cardmu akan selesai siang ini, aku akan memberikannya padamu saat kau akan pulang." Jelas Soyoung.
"Nne…"
Eme masih terus mengikuti Soyoung, sampai mereka berada di sebuah aula yang sepertinya ruang rapat. Soyoung membuka pintu, dan disana belum ada seorang pun.
"Silahkan duduk, Emerald ssi. Kita akan menunggu sajangnim, produsernim, manajernim, dan Bts disini" ucap Soyoung menarik salah satu kursi dan mempersilahkan Eme duduk.
"Mwo? Bts?" Emerald terkejut. Pasalnya, dia hanya mendaftarkan diri sebagai penulis naskah biasa di Bighit ent. Lalu kenapa dia perlu bertemu dengan Bts?
"Iya, itulah sebabnya aku memintamu datang kesini lebih awal untuk menjelaskannya juga" ucap Soyoung lalu duduk di kursi sebelah Eme, menarik sebuah laptop yang sudah tersedia di atas meja dengan layar yang sudah menyala.
"Tunggu sebentar, bukannya aku hanya perlu menulis sebuah novel?" tanya Eme.
"Yup. Betul sekali. Kau akan menulis sebuah novel, tapi kami disini menginginkan pemeran utama dari novelmu adalah ke tujuh member Bts, yaitu RM, Jin, Suga, Jhope, Jimin, V dan Jungkook"
"La-lalu?"
"Tapi kami ingin kau menulis, berdasarkan informasi asli dari apa yang di tangkap oleh dirimu sendiri, jadi bukan hanya hasil dari imajinasimu saja. Kami tidak ingin menutupi apapun dari publik, jadi kau akan menulis apa adanya, tanpa ada apapun yang di tutupi mengenai karakter mereka, atau apapun tentang diri mereka sendiri"
"Ah, aku mengerti"
"Dengan kata lain, kau harus mengenal mereka. Maksudku, sangat mengenal mereka."
"Tapi, apa mereka tidak akan keberatan? Maksudku, aku bahkan tidak mengenal mereka sama sekali."
"Itu sebabnya kami mengadakan rapat ini, dan perkenalan ini, karena mulai besok kau harus mengikuti setiap jadwal Bts" Soyoung lalu menyerahkan sebuah agenda kepada Eme, dan karena ini proyek jangka Panjang, kami mengharapkan yang terbaik darimu" ucapnya lagi.
"Ah, dan satu lagi, kami mengharapkan sebuah ledakan dari hasil penjualan novel ini, selain untuk mengembalikan ketertarikan generasi masa kini untuk membaca, kami juga ingin membuat beberapa spoiler untuk novel ini, jadi kami akan merekam semua aktivitas yang kau lakukan Bersama Bts, maka dari itu kami akan memastikan, jika kau tidak keberatan privasi mu muncul di publik, kau bisa menandatangi surat perjanjian ini terlebih dahulu" Soyoung lalu menyerahkan sebuah map dimana berisi surat perjanjian, yang di buat dalam 2 rangkap Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia, baik sekali orang-orang di Bighit ini, batin Eme.
Eme lalu membacanya dengan seksama.
"Bagaimana Emerald ssi?" tanya Soyoung setelah Emerald selesai membaca surat perjanjian itu.
"Sebenarnya, aku tidak keberatan dengan ini, aku hanya khawatir, para army tidak akan menerima kehadiranku di dekat member Bts" ucap Eme. Dia tidak buta, kepopuleran Bts sangat luar biasa, fansnya dimana-mana tentu saja itu bukan resiko yang kecil.
"Iya, army memang sangat banyak dan ada dimana-mana, maka dari itu, sebelum film dokumenternya dan bukunya di rilis nanti kami akan mengedakan konfrensi pers agar army tidak salah paham" ucap Soyoung memantapkan. Eme tampak berpikir "tenang saja, army, mereka baik, dan akan mengerti, percayalah padaku" jelas Soyoung meyakinkan. Eme tersenyum lalu menandatangani kontrak itu.
"Annyeonghaseyo" tepat setelah Eme selesai menandatangani surat perjanjian itu, muncullah ke tujuh member Bangtan, diikuti oleh manajer mereka, Sojin, dan seorang produser bernama Juseok.
"Ah, mereka sudah datang" Soyoung berdiri dari duduknya, mau tidak mau Eme ikut berdiri.
"Annyeonghaseyo, kalian sudah datang" ucap Soyoung.
"Noona, apa kabar?" tanya Jungkook dan ke enam lainnya juga menghampiri mereka.
"Aku baik-baik saja Jungkook, kenalkan dia Eme, yang akan bekerja Bersama kalian dalam proyek ini."
"Annyeonghaseyo Emerald imnida" ucap Eme memperkenalkan diri lalu membungkuk, ciri khas orang Korea.
"Annyeonghaseyo" ucap mereka bersaman.
"Wah, namamu indah sekali, Emerald, bukankah itu nama salah satu berlian terindah didunia?" tanya Namjoon.
"Nnee…orang tuaku memberikan nama itu dengan harapan, aku mempunyai kehidupan yang indah" jelas Eme tersipu malu.
"Tenang saja Eme ssi, sejak kau bertemu kami, harapan orang tuamu itu akan terkabul" ceplos Jimin.
"Owh....Jimin ssi, mulai mengeluarkan gombalan mautnya" celetuk Jhope, membuat mereka semua tertawa.
"Baiklah mari kita mulai saja rapatnya kalau begitu" tanpa mereka sadari, Bang Si Hyuk masuk ke ruangan itu dan rapat pun di mulai.