7 Bagian Ke Tujuh

MISTERI PATUNG BUNDA MARIA BERDARAH

"Ah ini pasti cuma bercanda saja bukan ?" tanya beberapa jemaat, tak yakin.

"Yang jelas, toh sama saja berdoa kepada siapapun juga kan ?" ucap yang lain.

"Mungkin orang itu hanya menakuti kita saja !" tambah yang lain.

"Dan kalian tahu, patung yang di curi itu tidak ada apa-apanya !" yang lain pun berkomentar.

"Pastor harusnya senang, gereja kembali menjadi penuh! itu semua berkat adanya patung itu !" Pastor Johnson hanya menggeleng kepala melihat komentar para penduduk dan jemaat yang datang.

"Maafkan aku atas semua hal ini!" ujar Pastor Samuel dan Juga Johnson merasa bersalah.

"Tetapi siapa dia ?" tanya keduanya kepada Pastor Gerry sambil menunjuk kepada Antonio.

"Dia asistenku !" jawab Pastor Gerry. Keduanya hanya mengangguk.

"Sebaiknya, kita mengobrol di tempat lain saja !" ujar Pastor Frank, semua mengangguk. Dan pergi termasuk aku.

Kini kami berada di kantor yang berada di sebelah gereja , Pastor Frank pun akhirnya menjelaskan tentang Pastor Gerry dan aku, keduanya terkejut.

"Benarkah ?" tanya keduanya tak percaya sambil menatapku.

"Jadi yang tadi itu ..."

"Betul, sosok Devil dalam dirinya! dan juga sosok Angel !" jelas Pastor Gerry.

"Apa pendapatmu tentang patung bunda Maria ?" tanya Pastor Johnson kepadaku.

"Itu keajaiban dari tuhan! sayangnya manusia terlena dan tidak berterima kasih kepadanya bahkan meminta kepadanya pun tidak !" jawabku

"Kamu benar! maafkan aku, mungkin masyarakat sudah lelah dengan hidup yang berat !" jawab Pastor Johnson terdiam merasa bersalah.

"Pastor Johnson itu bukan alasan! kita ini di tunjuk untuk membimbing mereka untuk agar selalu berdoa! dengan berdoa kita akan diberikan kekuatan! tuhan telah memberi cobaan terhadap mereka dengan memperlihatkan keajaiban! apa mereka tahu itu adalah kuasa tuhan atau tidak dan pada kenyataan semua lebih percaya kepada benda itu dibanding tuhan sendiri !" jelas Pastor Samuel.

"Maafkan aku !" ucap Pastor Johnson.

Kami pun pamit dan akan beristirahat di pusat gereja di kota ini, tempat bekerja Pastor Samuel. Keesokan paginya kami di kejutkan dengan berita di televisi. Rupanya tanpa di sadari ada yang merekam kejadian kemarin dengan ponsel. Sehingga video itu menjadi viral.

-----------------

"Para penonton televisi dimanapun berada, saya Cindy stasiun CBN melaporkan dari depan gereja St Thomas di jalan X! yang terdapat di dalam video yang viral! kejadian itu bermula dari hebohnya patung bunda maria yang meneteskan darah! sampai suatu ketika ada seorang jemaat berdoa kepada patung itu dan dikabulkan! semenjak itu gereja ini penuh dengan para pengunjung yang ingin berdoa kesini! tanpa di duga kemarin di tambah ada kejadian yang mengejutkan seseorang yang mengaku iblis berkata apakah mereka lebih percaya patung atau tuhan! ada yang mengatakan itu di buat-buat agar viral dan sebagainya! dan kini kami mendapat info bahwa patung bunda Maria telah di simpan oleh pihak gereja, tanpa alasan yang jelas !" begitulah laporan reporter, dan dia bukanlah satu-satunya sehingga seluruh negeri pun tahu.

"Benar kata pendeta Johnson, bahwa ada jemaat yang merekam sehingga peristiwa ini menjadi lebih heboh lagi !" ujar Pastor Samuel setelah berbicara dengan rekannya. Semua tertegun termasuk aku.

"Kita ke sana sekarang !" ajak pendeta Gerry, semua mengangguk setuju.

"Ya sudah, dia hari ini akan berkhotbah untuk menjelaskan semuanya !" ujar Pendeta Samuel.

Kami pun menuju tempar tujuan, alangkah terkejtujua bagaimana tidak Gereja sangat penuh orang dan awak media bahkan ada unjuk rasa bahwa devil telah datang ke gereja, dan ada pula yang protes kenapa patung bunda Maria di simpan. Suasana menjadi ramai dan serta penuh. Tapi kami bisa masuk lewat pintu belakang.

"Aku tidak tahu kenapa bisa menjadi begini !" ujar pendeta Johnson kepada kami setelah berkumpul.

"Pendeta Johnson bicaralah apa adanya !" ucap pastor Samuel.

"Baiklah aku akan menjelaskan semuanya !" jawabnya. Kami pun duduk di kursi paling atas. Didalam gereja suasana penuh oleh jemaat, orang-orang yang penasaran dan juga awak media yang menggunakan kesempatan ini untuk di siarkan keseluruh pemirsa di rumah.

Akhirnya Pastor Johnson berdiri di podium, semua mendadak terdiam. Semua mata tertuju kepadanya.

"Selamat datang kepada kalian semua! aku senang akhirnya gereja ini kembali penuh setelah untuk jangka waktu lama kosong! walau aku tahu hanya beberapa yang sebenarnya asli jemaatku, sisanya adalah hanya datang karena patung! aku tahu kalian membutuhkan pertolongan, bahwa kita dalam hidup dalam ke adaan yang susah! aku memutuskan untuk menyimpan itu sebagai bukti kebesaran tuhan yang di perlihatkannya kepada kita, bahwa dia masih mencintai kita dengan sedikit mujizatnya! tapi apakah kalian pernah sedikit saja berterima kasih kepadanya? atas apa yang terjadi? bahwa apa yang terjadi kepada semua orang itu adalah cobaan untuk kita semua? kemana kalian selama ini? ketika rumah tuhan memanggil kita, tak seorang pun datang! apakah harus ada sesuatu dahulu baru kita kemari? hal ini telah membuat kalian menutup mata atas apa yang terjadi dan itu tidak bisa dibiarkan! mari hentikan itu, dan kembali kepadanya! aku tak memungkiri video yang beredar karena itu benar! maksudku bila beneran dia iblis ke sini dan menyatakan kebenaran apa yang di ucapkannya itu, apa kalian masih percaya tuhan? aku rasa tidak, kalian akan memaki bahwa tuhan tidak adil! mari saudara sekalian kembali berdoa kepada tuhan dengan sesungguhnya, biarkan patung itu sebagai pertanda dia ada untuk kita semua !" itulah Khotbah Pastor Johnson. Semua terdiam.

"Saudara-saudara, ayo ramaikan kembali gereja kita seperti dulu! karena bila kita hanya fokus ke patung itu dan bilamana mujizat itu sudah di ambil kembali, kita masih tetap setia kepadanya! semua itu hanya sementara tak akan selamanya !" ucapnya lagi sambil menatap ke arah hadirin.

Setelah itu berita itu pun berhenti dan para jemaat pun menerima semua apa yang di ucapkan Pastor Johnson. Atas semua itu maka Vatikan memberikan pangkat dan tanda penghargaan atas dedikasinya itu. Kami kembali ke Roma dan memberikan laporan tentang hal ini kepada Vatikan. Fenomena seperti ini bukan yang pertama, karena sudah banyak di beberapa negara, ada yang sesungguhnya terjadi tapi ada juga di sengaja, bahkan banyak teori dan investigasi berbagai kemungkinan kejadian mengapa itu bisa terjadi.

-----------------

"Aku tak percaya, dan ingin menyaksikannya langsung !" ucap Smith dan Pastor Mitchel setelah Pastor Gerry bercerita.

"Percaya atau tidak, itulah kebenarannya! kita tidak bisa menjelaskannya secara sains dan teknologi! apa yang terjadi! itu kehendak tuhan, hanya orang beriman yang percaya diluar sana tidaklah mungkin !" jelas Pastor Gerry. Semua hanya mengangguk. walau ada di antara mereka yang menyimpan video yang viral itu.

"Maafkan aku, aku mendengar apa benar ayahku masih hidup ?" tiba-tiba aku bertanya kepada mereka. Semua terkejut, mereka mendengar cerita itu.

"Memang kenapa Antonio ?" Pastor Armando yang sudah hadir berada di antara mereka.

"Tidak apa-apa, apa salahnya anak dan ayah ingn bertemu ?" tanyaku. Semua terdiam.

"Tak ada yang tahu keberadaannya Antonio, bahkan pastor Paulo sekali pun !" jawab Pastor Armando.

"Ya sudah tidak apa-apa! aku hanya bertanya saja kok !" jawabku tersenyum.

Di suatu tempat di sebuah ruang bawah tanah yang gelap dan terkunci oleh suatu mantra. Seorang lelaki telanjang di borgol kakinya.

"Julia, kenapa kamu meninggalkanku !" ucapnya sedih, wajahnya kotor berkumis dan berjenggot panjang, tubuhnya kurus tak terurus, tatapannya kosong.

"Apa dia masih meronta-ronta ?" terdengar ucapan seseorang di luar sana.

"Aku rasa tidak kali ini! luar biasa tak bisa ku bayangkan selama 20 tahun dia terus menerus melakukan itu, untung saja kita di beri pelindung! mahluk itu sangat kuat !" jelas orang itu.

"Aku dengar putranya sudah besar !" ucap yang lain,

"Diam ... nanti dia dengar, bisa gawat !" salah seorang memberi peringatan kepadanya.

Tetapi lelaki yang didalam ruangan itu, seakan tidak perduli. Hati dan perasaannya hancur setelah wanita yang di cintainya pergi, dia tak punya kekuatan lagi...

Bersambung ....

Next chapter