webnovel

Love Story from Seoul

Author: haru2403
Urban
Ongoing · 17.8K Views
  • 8 Chs
    Content
  • ratings
  • N/A
    SUPPORT
Synopsis

Vika Jasmine merupakan cewek yang berasal dari Jakarta, Indonesia. Dia merupakan salah satu siswi yang bersekolah di salah satu sekolah menengah internasional ternama di Jakarta. Vika menjalani hubungan dengan salah teman sekelasnya. Pacar Vika bernama Ryu Junho. Seorang cowok berkulit putih dan bertubuh atletis berasal dari Korea yang juga merupakan kapten tim basket putera di sekolahnya. Wajahnya yang tampan membuat banyak siswi menggemarinya. Vika sendiri merupakan ketua OSIS di sekolahnya. Sosoknya yang cantik dan berkarisma membuatnya menjadi girl crush yang banyak didambakan oleh para siswa. Setiap ada kegiatan di sekolah, banyak siswa yang antre untuk memandang Vika. Banyak dari mereka yang ingin menjadi pacarnya harus menelan pahit karena Vika dan Junho adalah pasangan favorit dan sempurna yang menjadi dambaan para siswa. Namun suatu hari, sebuah berita yang tak terduga yang mengubah hidup Vika. Junho harus pergi meninggalkannya dan pindah ke Korea karena orang tuanya harus mengurus bisnis mereka. Lima tahun kemudian, Vika telah tumbuh dewasa dan bekerja sebagai arsitek muda di sebuah perusahaan Konstruksi ternama di Korea, J&Y Construction. Dia kemudian bertemu dengan Shin Jaemin yang merupakan seniornya saat Vika menjadi mahasiswi arsitektur di salah satu Universitas di London yang ternyata menaruh hati padanya. Dalam suatu pertemuan yang terduga, Vika bertemu kembali dengan mantan kekasihnya, Ryu Junho yang sekarang menjadi CEO ternama di Korea. Ryu Junho sendiri ternyata telah bertunangan dengan salah satu model dan aktris terkenal, Jung Yujung. Ryu Junho yang masih mencintai Vika, kembali mengejarnya dan berusaha mendapatkan kembali cinta Vika. Akankah Vika menerima Junho kembali atau menemukan cinta baru dalam hidupnya. Siapakah sebenarnya Shin Jaemin? Akankah Vika menyadari Cinta seorang Jaemin untuknya? Simak terus kisahnya.

Tags
2 tags
Chapter 10. Prolog

Semua perasaanku padanya..

Kini lenyap oleh sebuah perpisahan yang menyakitkan

Walaupun aku pernah bersiap menerima kenyataan ini..

Dan berbagai kemungkinan dapat terjadi saat ku kembali melihatmu disini..

Namun di atas dugaanku...

Semua rindu dan kenangan itu hancur dalam sekejap...

Semua angan dan impianku kembali bersamamu..

Kini hanya tinggal bayang semu...

Yang hilang tak berbekas...

Semua yang telah terjadi membuatku tersadar...

Kau tak pantas untukku...

Kini aku akan terus berlari...

Mencoba melupakan bayangmu..

Mencoba menghapus sejuta kenangan dalam hidupku..

Tanpamu aku coba bangkit..

Dan berpaling menemukan mimpiku..

Biarkan angin menyelimutiku..

Dengan kesejukan dan kelembutan udara yang menyegarkan hidupku...

Dan biarkan aku menemukan sebuah rinduku...

Rindu yang telah menghilang oleh cerianya hariku bersamamu

Aku tak pernah menduga....

Sebuah pertemuan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya..

Akan membawaku menemukan jalan indah yang membuatku tersenyum kembali

Mungkinkah ini jawaban dari segala kegelisahan dan harapanku yang telah pupus

Mungkinkah ini sebuah angin yang membuat hariku kembali...

Kembali pada duniaku...

Kembali menemukanku pada sebuah kebahagiaan yang lama tak kurasakan..

Padamu... yang memberi cahaya di hatiku...

©©©

Bulan Januari, Tujuh tahun lalu...

"Junho, kau tak lupa hari ini ulang tahunku kan?" ucap Vika sembari menikmati pasta di salah satu cafe favoritnya.

"Tentu saja, Vika. Bagaimana aku bisa melupakannya. Ini hadiah untukmu." Ucap Junho sembari mengulurkan sebuah kotak kecil pada Vika.

"Waah.. ini serius buat aku." Ucap Vika antusias menerima hadiah pemberian Junho.

"Iya, itu buat kamu, semoga kamu suka yaa..." ucap Junho sembari tersenyum.

"Wah.. Junho.. ini indah banget. Aku suka sekali.. terima kasih yaa." Ucap Vika sembari membuka kotak kecil itu. Terlihat disana, sebuah kalung emas putih dengan liontin berbentuk hati yang sangat indah.

"Sama-sama Vika.. aku senang jika kau menyukainya." ucap Junho sembari menggenggam jemari tangan Vika.

"Aku sangat menyukainya. Semua pemberian darimu adalah istimewa buatku." Ucap Vika yang membuat Junho tersenyum menatapnya.

"Mau aku pakaikan?" tanya Junho menawarkan.

"Eung.. boleh.." ucap Vika dengan pipi memerah karena senang dengan kado dari Junho.

Junho pun beranjak dari tempat duduknya dan memakaikan kalung pemberiannya.

"Wah..kamu cantik sekali, Vik.." puji Junho yang membuat Vika tersipu malu.

"Junho.. terima kasih yaa... ngomong-ngomong, nanti kamu tanding basket jam berapa?" tanya Vika yang tahu pacarnya menyempatkan waktu untuk bersamanya sebelum pertandingan penting sore nanti.

"Jam tujuh sore. Kamu harus datang yaa?" pinta Junho bersemangat.

"pasti aku akan datang, bagaimana aku bisa melewatkan pacarku bertanding hari ini." Goda Vika sembari tersenyum.

"makasih, ya Vik... aku tunggu nanti sore."

"drrrt....drrrrt.." tiba-tiba smartphone Junho berdering.

"Hallo Junho,,, kamu dimana? Anak-anak sudah menunggu di tempat latihan." Ucap Jefry, manajer sekaligus pemain basket satu timnya.

"Aku di cafe.. baiklah..lima menit kali aku meluncur kesana." Ucap Junho sembari memandang jam tangan di pergelangan tangannya.

"Ok..kita tunggu ya..."

"See You Soon." Ucap Junho sembari menutup telepon.

"Vika... sorry banget...sepertinya aku harus pergi dulu. "

"Sudah mau pergi?" tanya Vika sembari menatap Junho yang berkemas dan memakai jaketnya.

"Iya.. sudah ditungguin. Aku harus latihan.. sorry banget aku nggak bisa nemenin kamu di hari ulang tahunmu lebih lama." Ucap Junho agak menyesal.

"baiklah kalau gitu. It's okay, Junho. Aku ngerti kok. Ya udah.. sampai ketemu nanti ya..Good luck yaa." ucap Vika yang mempersilahkan Junho untuk berangkat latihan basket.

"makasih ya Vik.. bye..bye..see ya soon."

©©©

Sore hari kemudian...

Sore hari sepulang Vika pergi merayakan ultahnya dengan Junho, dia kembali ke rumahnya. Sengaja sebelum menonton pertandingan basket yang akan diikuti tim basket Junho, Vika ingin melanjutkan hobi barunya yaitu melukis. Sudah ada sekitar lima lukisan yang berhasil Vika lukis. Beberapa karyanya mengambil tema alam seperti pemandangan, langit dan juga pantai. Kali ini ada satu lukisan setengah jadi yang digambarnya terpajang di atas kanvas, Vika ingin menyelesaikannya sebelum menonton Junho bertanding.

Dia pun kembali berkonsentrasi dan terlihat serius menyapu goresan demi goresan kuasnya. Beberapa cat yang ada di pallete, Vika campur menjadi satu kesatuan warna pastel yang menarik. Tangannya kembali fokus menyapu kuas di atas kanvas. Sampai dia tak menyadari smartphonenya di atas meja tiba-tiba berdering.

Panggilan demi panggilan di smartphonenya tak juga diangkat Vika karena dia atur menjadi silent dan terlalu fokus melukis. Hingga dia baru menyadari suara getar smartphonenya.

"Halo Vika... kamu dimana sih, kenapa teleponku nggak dia angkat dari tadi?" ucap Kania sahabatnya dari balik telepon.

"Sorry..sorry..Kania.. aku tak mendengarnya. Aku terlalu fokus melukis tadi." Ucap Vika sembari mengecheck ada lima panggilan tak terjawab tertera di layar smartphonenya.

"Kamu nggak lupa kan.. hari ini Junho mau tanding? Disini udah rame lho." Ucap Kania sembari duduk di tribun penonton.

"Oh.. iya.. benar juga.. waah..gawat udah setengah tujuh sore. Kamu dimana?" tanya Vika yang menyadari pertandingan Junho dimulai setengah jam lagi.

"Aku dan Vallya udah di Hall Arena Basket. Udah rame banget. Ayo..kamu juga cepetan dateng." Ucap Kania bersemangat.

"Iya,, Vik.. kamu cepetan kesini. Tadi udah ditanyain Junho lho kamu." Ucap Vallya saat telepon di loudspeaker.

"Okay, Okay,..aku segera meluncur.. lupa tadi keasyikan melukis. Pasti Junho marah banget kalau sampai aku telat datang. Aku sepuluh menit lagi sampai guys.." ucap Vika sembari siap-siap berangkat.

"Okay.. Vik.. kita tunggu ya.. see you soon..." sahut Kania sembari mengakhiri percakapannya dengan Vika.

"See ya guys...." balas Vika sembari menutup telepon.

Vika pun segera bergegas ganti baju dan memakai make up di depan kaca kamarnya. Dia tak ingin melewatkan pertandingan basket Junho. Setelah meraih kunci mobilnya, dia berangkat menuju Hall Arena Basket yang jaraknya sekitar sepuluh menit dari rumahnya. Namun, dia tak menyadari, jam saat dia berangkat adalah jam pulang kantor karyawan di sekitar area tempat dia tinggal. Alhasil dia harus berjibaku dengan kemacetan Jakarta.

"OMG.. aku lupa kalau jam segini ini macet-macetnya. Semoga keburu deh.." gumam Vika sembari mengemudikan mobil dengan pelan karena mobil di depannya hanya berjalan beberapa meter saja sedari tadi.

Dan jam tujuh lebih sepuluh menit, Vika baru sampai di Hall Area Basket, tempat pertandingan final basket se-DKI antara sekolahnya dengan tim sekolah lain berlangsung. Pertandingan sedang berlangsung dengan seru dan menarik.

"Sorry guys.. tadi macet banget.. bagaimana pertandingannya?" tanya Vika sembari menghela nafasnya karena berlari mengejar waktu.

"Vika.. ini baru quarter satu. Tapi udah mau habis babak pertamanya." Jawab Vallya yang menyadari sahabatnya yang baru datang.

"Iya.. kamu dari tadi udah ditanyain Junho. Kita sampai bingung ngejawabnya." Balas Kania sembari memberika segelas Mocca latte yang dia pesan bersama pesanannya dan Vallya.

"Thank You Kania.. semoga Junho nanti nggak marah ya.." ucap Vika yang kembali fokus menonton pertandingan.

Pertandingan basket sore itu berlangsung saat seru dan menegangkan. Beberapa kali lawan berhasil mengejar angka tim basket sekolah Vika namun berhasil dikejar kembali oleh Junho dan anggota basket lainnya. Semarak dukungan tak lupa Vika dan teman-temannya teriakkan dari atas tribun penonton. Dan setelah hampir satu jam, pertandingan basket berakhir. Kemenangan diraih oleh Tim basket SMA Vika dengan score 89-81.

©©©

Beberapa saat kemudian..

Hall Arena Basket telah sepi dari penonton, tampak ada Junho disana yang sedang mengemasi barang-barangnya.

"Junho..congrats yaa..aku tahu kamu pasti akan menang tadi. " ucap Vika sembari memberikan air meneral pada Junho.

"Makasih ya Vik.. kamu datang juga ternyata. Tadi aku mencarimu, namun tak menemukanmu. Kirain kamu nggak datang tadi."

"Sorry Junho, tadi aku kelupaan di rumah. Pas aku berangkat macet banget tadi. Tapi beneran tadi aku nontonnya udah dari quarter pertama kok." Ucap Vika merasa bersalah karena melewatkan beberapa menit pertandingan Junho.

Junho kemudian tersenyum menatap Vika yang menjelaskan kepadanya dengan serius.

"Iya.. iya.. aku percaya. Terima kasih ya.. kamu udah dateng ke pertandingan aku. Aku seneng banget." Ucap Junho sembari menggenggam tangan Vika.

"Iya..sama-sama. Pasti aku dateng. Ini kan moment penting kamu." Ucap Vika merasa lega karena Junho tak marah padanya.

"Junho.. kamu udah ditungguin anak-anak buat makan bareng." Panggil Satriyo anggota basket satu tim dengan Junho.

"Vika. Sorry banget,, kayaknya aku harus pergi. Ada perayaan keberhasilan tim basket sekolah sehabis ini." Ucap Junho merasa tak enak dengan Vika.

"iya baiklah.. kalau gitu.. aku balik dulu, Junho." ucap Vika sembari pamit meninggalkan Jojo.

Sebenarnya di hari ulang tahunnya dia berharap dapat merayakan lebih lama bersama kekasihnya, Jojo. Vika sudah merelakan tak kumpul bersama kedua sahabatnya Vallya dan Kania karena ingin bersama Junho lebih lama. Namun sepertinya dia akan kembali ke rumah dan beristirahat.

Mobil Vika pun terus melaju meninggalkan Hall Area Basket menuju rumahnya. Namun di tengah perjalanan tiba-tiba terasa ada yang aneh pada mobilnya. Vika pun kemudian menepi dan mencoba mencari tahu apa yang terjadi pada mobilnya.

"OMG.. ban mobiku bocor bagaimana ini." Ucap Vika yang panik melihat kondisi ban kanan belakang mobilnya.

Vika tahu daerah yang dilewatinya saat ini adalah daerah yang jarang dilewati. Tukang ban atau bengkel pun tak ada disini. Dia pun tak menyimpan nomer mobil derek untuk mobilnya. Saat dia merasa kebingungan, tampak ada mobil berwarna biru tua menepi di belakang mobilnya. Dari balik mobil tampak ada seorang lelaki tampan yang sepertinya bukan asli indonesia. Parasnya seperti idol-idol yang biasa digemari Vika dan kedua sahabatnya.

"Haai... May I help You?" tanya lelaki tersebut menggunakan bahasa Inggris.

Vika pun menjelaskan jika bannya bocor dalam bahasa inggris. Dan lelaki itu pun menanyakan jika apakah Vika memiliki ban serep alias ban cadangan. Vika pun kemudian teringat ada ban cadangan yang tersimpan di dalam bagasi mobilnya.

"Thank You for helping Me..bolehkah saya tahu bagaimana saya membalas anda?" ucap Vika tulus berterima kasih. Tanpa lelaki tersebut, mungkin dia masih kebingungan bagaimana dia harus pulang.

"You're Welcome...kamu tidak usah membalas apa-apa. Sorry but I have to go."balas lelaki itu ramah dan bersiap untuk kembali ke mobilnya.

Vika pun diam sejenak. Dia ingin memberikan sesuatu pada lelaki yang sudah menolongnya.

"Maaf...Tunggu sebentar.." Ucap Vika yang kemudian kembali ke mobilnya.

Lelaki tadi pun kaget dan menghentikan langkahnya.

Vika mengambil sebuah sovenir gantungan kunci jakarta. Dia ingat beberapa minggu lalu dia sempat membeli cindera mata saat jalan-jalan ke Wisata Kota Tua bersama Vallya dan Kania.

"Ini buat kamu. Terima kasih atas bantuannya." Ucap Vika menyerahkan bingkisan dari Kota Tua kepada lelaki tersebut.

"tidak usah.. aku senang bisa membantu." Ucap lelaki tersebut berusaha menolak pemberian Vika.

"please diterima ya.. aku tak bisa memberikan apa-apa. " ucap Vika berharap lelaki tersebut tak menolak pemberian darinya.

"baiklah aku terima ya..terima kasih bingkisannya. Maaf aku harus pergi dulu." Ucap lelaki tersebut sembari kembali menuju mobilnya.

"sama-sama..baiklah..hati-hati di jalan." ucap Vika sembari mengamati mobil lelaki tersebut yang melaju meninggalkannya.

Vika pun kemudian melanjutkan perjalanannya kembali ke rumah dengan selamat. Dia pun memandang langit-langit kamarnya saat masuk ke kamar dan rebahan sejenak di atas tempat tidurnya. Rasa lelah menghinggapinya. Pikirannya pun melayang mengingat banyak hal yang terjadi di hari ulang tahunnya hari ini. Dalam hatinya hanya satu keinginan yang ingin dilakukan, Vika berharap tahun depan dia dapat merayakan ulang tahunnya bersama Junho, kekasihnya.

©©©

You May Also Like

Kelahiran Kembali di Tahun 80an: Istri Sarjana yang Imut

Tertipu untuk menikah, dieksploitasi seumur hidup sebagai pengasuh tanpa bayaran, dan akhirnya dipukuli hingga mati oleh ibu angkatnya di depan tempat tidur ayah angkatnya yang sedang sakit, kehidupan menyedihkan Shen Mianmian berakhir. Ketika dia membuka matanya lagi, dia menemukan dirinya kembali pada usia lima belas tahun. Shen Mianmian berjanji untuk melarikan diri dari takdir masa lalunya, menghukum sepupu dan ibu angkat yang jahat, namun secara tidak sengaja bersinar terlalu terang dalam prosesnya. Siswa yang sebelumnya berada di urutan ketiga dari belakang di sekolah tiba-tiba naik ke puncak, menjadi kandidat yang diperebutkan oleh perguruan tinggi bergengsi, menyebabkan sensasi di antara semua guru dan murid... Sementara yang lain sibuk belajar, Shen Mianmian sibuk memulai bisnis kecil untuk menghasilkan uang... Sementara yang lain mempersiapkan ujian masuk perguruan tinggi, Shen Mianmian membeli dua bangunan berhantu yang paling terkenal di Beijing sekaligus... menjadi keanehan di mata semua orang, mereka mengejeknya bahwa walaupun dia punya keberuntungan untuk membelinya, dia mungkin tidak punya nyawa untuk tinggal di dalamnya. Sementara yang lain lulus dan sibuk mencari pekerjaan, properti berhantu yang dibeli Shen Mianmian diambil oleh pemerintah, membuatnya mendapatkan sejumlah besar kompensasi penggusuran. Orang-orang yang dulu mengejeknya tidak bisa tidak menampar diri mereka sendiri dua kali... bertanya-tanya di mana-mana apakah ada rumah berhantu yang dijual. Shen Mianmian, yang awalnya butuh meminjam uang untuk biaya kuliah, menggunakan dana penggusuran dan memanfaatkan keuntungan kelahiran kembali untuk membeli sebidang tanah yang cocok dan membangun gedung sewaan, bertransformasi menjadi pemilik tanah terkaya dan paling makmur di Beijing... Suatu hari, Shen Mianmian, yang membawa tas penuh kunci dan baru saja mengumpulkan sewa, ditarik pergi ke Kantor Urusan Sipil. "Shen Mianmian, sudah waktunya bagi kamu untuk membayar apa yang kamu hutangkan padaku."

Yin Family's Sixth Child · Urban
Not enough ratings
548 Chs

Menikah dengan Saudara Tiriku yang Miliarder

``` Pada hari pernikahannya dengan kekasih masa kecilnya, Natalie Ford menerima hadiah yang tidak terduga: sebuah sertifikat pernikahan. Ternyata ia sudah menikah dengan seorang yang sama sekali tak dikenal—Aiden Handrix. Sementara para tamu pernikahan terus mengejek dan menghina, kekasihnya Ivan memutuskan untuk meninggalkannya, memilih untuk menikah dengan saudara tirinya Briena. Untuk menambah cobaan, ia diusir dari rumahnya sendiri. Untuk membuktikan kepolosannya, Natalie Ford hanya bisa mengambil satu tindakan - ia harus menemukan Aiden Handrix yang misterius ini dan menuntaskan semua ini! Keesokan harinya, ada berita yang trending di TV. Justine Harper, ahli waris keluarga terkaya di Bayford kembali ke rumah. Mata Natalie menyipit ke layar TV. 'Mengapa pria ini tampak persis seperti pria di foto sertifikat pernikahan saya?' Dalam usahanya menguak misteri pernikahan yang dikatakan itu, ia memutuskan untuk mengikutinya dan bertanya secara langsung. “Apakah kamu sudah menikah?” “Tidak.” “Apakah kamu punya saudara kembar?” “Tidak?” “Kebetulan kamu pernah mendengar nama Aiden Handrix?” “Tidak.” “Lalu, siapa sebenarnya kamu ini?’ “Adikmu.” “Tunggu, apa?” “Ya. Sekarang kemas barang-barangmu dan pulang bersamaku.” Pertama-tama mendapatkan suami secara tiba-tiba dan sekarang seorang saudara dengan wajah yang sama? Apakah tuhan menciptakan klon dan menawarkannya pada dia dengan hubungan yang berbeda? ```

Sera_b17 · Urban
Not enough ratings
388 Chs

Pernikahan Sementara

Arsyilla Ayunda, gadis menawan yang baru berusia 17 tahun. Gadis itu baru merasakan yang namanya masa puber. Ya … dia telat merasakan puber karena sifatnya yang terlalu kekanakkan, tapi tidak manja. Lagi senang-senangnya mengenal cinta, Cia (panggilan akrabnya) harus menerima kenyataan pahit, almarhum kakeknya yang telah meninggal beberapa tahun silam meninggalkan wasiat yang membuatnya ingin hilang dari muka bumi. Wasiat gila itu berisikan tentang perjodohannya dengan seorang pria yang memiliki selisih usia sepuluh tahun darinya (udah pasti si pria yang lebih tua). Bahkan perjodohan itu sudah terjadi saat dirinya masih menjadi benih dalam kandungan sang ibu. Sialnya lagi ‘situa bangka’ (julukkan Cia untuk pria yang dijodohkan dengannya) itu adalah guru sekaligus kepala sekolahnya. "Saya, nggak mau nikah sama BAPAK!” "Kamu pikir Saya mau?" "Kalau gitu ngomong dong! Jangan diem aja kayak ban kehabisan angin." "Saya tidak mau membuang energi, tidak merubah apapun." * Mahardhika Addhipratma Sanjaya, pria berusia 27 tahun, memiliki wajah tampan dan tubuh sempurna. Pria berkepribadian dingin itu di paksa menikah dengan remaja labil, cucu dari sahabat kakeknya. Bisakah dia menjalani perjodohan ini? Mampukah dia bertahan demi tujuan tersembunyinya? Lalu bagaimana dengan Cia? Bisakah gadis itu melewati cobaan ini dengan waras? Gadis barbar itu menganggap kisah hidupnya seperti sinetron azab. Dimana dirinya terkena karma karena terlalu sering berganti pacar. 'Oh, Tuhan! Bisakah Engkau membuatku menjadi zigot lagi?’ jerit batin Cia. Nikmati kisah mereka yang akan membuat kalian tertawa, menangis, sedih dan juga bahagia. Pastinya baper parah ....

Ardhaharyani_9027 · Urban
4.9
638 Chs

Setelah Perceraian, Mantan Miliarder Menemukan Aku Hamil

Leonica bertanya dengan tatapan tajam kepada suaminya yang menjijikkan dan selingkuhannya, 'Gabriel Bryce, bagaimana bisa kau begitu tidak tahu malu?' Ini adalah rumah yang dihadiahkan oleh nenekku, namun kau berani membawa wanita lain ke sini? Bukankah kau takut kalau nenek akan kecewa dengan perbuatanmu...?' Kata-katanya terhenti ketika Gabriel yang marah mengayunkan tangannya ke udara, menampar pipi kirinya dengan penuh kekuatan. Leonica memegang pipi yang berdenyut, matanya lebar dan berlinang air mata saat dia menatap suaminya yang menatapnya dengan pandangan garang. 'Berani sekali kau menyebut nenekku. Kau tidak berhak untuk itu!' dia meludah, mengambil langkah maju dan menusukkan jarinya yang sakit ke pundaknya, membuatnya mundur beberapa langkah. 'Ingat ini baik-baik, Leonica Romero, kalau bukan karena keinginan nenekku yang telah tiada, aku lebih memilih mati daripada berhubungan dengan seseorang sepertimu.' *~*~* *~*~* Leonica Romero selalu menyimpan perasaan pada Gabriel Bryce, CEO of Bryce Empire dan tiran bisnis Norwegia. Beruntung, atas permintaan nenek Gabriel yang sakit, keluarga yang merupakan teman lama, Leonica mendapat kesempatan untuk menikahi orang yang dicintainya. Merasa senang, dia meninggalkan posisi dan pekerjaan impiannya di rumah tangga Romero dan menjadi istri rumah tangga yang sederhana untuk Gabriel. Namun, tiga tahun kemudian, pada hari pemakaman nenek Gabriel, Leonica terkejut saat dia menuntut perceraian, karena mantan kekasihnya Angelina Fernandez tiba-tiba kembali, menyatakan cinta abadinya kepadanya. Namun itu bukan satu-satunya kejutan yang diterima Leonica hari itu. Beberapa jam setelah Gabriel menyatakan keinginan untuk bercerai, Leonica terbangun di rumah sakit dengan berita mengejutkan. Dia hamil dua bulan. Dan Gabriel sama sekali tidak tahu tentang hal itu!

Khira · Urban
Not enough ratings
227 Chs

Istri Galak yang Provokatif: Atasanku adalah Seorang Pemarah yang Penuh Kasih Sayang

Setelah serangkaian peristiwa yang mengubah kehidupannya, Pei Ge memutuskan untuk memulai kehidupannya yang baru dan menemukan kembali posisinya di dunia ini. Dia mendapatkan pekerjaan baru, teman-teman baru dan … atasan baru yang semula dia salah duga sebagai seorang pria penghibur! Atasannya membantu Pei Ge membalas dendam terhadap teman yang mengkhianatinya, mendukungnya ketika dunia pun sepertinya sudah menyerah terhadapnya, mendorongnya untuk menjadi lebih yakin akan dirinya sendiri dan bahkan … mengacaukan kencan butanya. Dengan kemampuan kerjanya yang kuat dan sikapnya yang bersemangat, dia berhasil meraih prestasi tingkat atas di perusahaan tempat dia bekerja (di bawah skema licik seorang CEO) dan bahkan mendapatkan seorang gadis penggemar yang tidak sabar untuk menjadi saudara iparnya. Saat Pei Ge menjalani naik turunnya politik kantor, drama keluarga, menemukan pasangan yang tepat, dan harapan masyarakat, dia menyadari bahwa segala sesuatunya tidak sesederhana kelihatannya dan semua yang ia yakini sedang diuji …. Kesalahpahaman Besar: “Kamu brengsek! Mengapa tidak menggunakan pengaman?! Aku hamil!” “… Dia bukan anakku.” “Brengsek! Kamu benar-benar berani tidak mengakuinya?! Aku berikan semua pengalaman pertamaku padamu! Kamu bajingan!” … Di dokter kandungan, dia membaca laporan laboratorium kehamilannya dan terpana: Haid tidak teratur. Pria itu mengangkat alis dan menyeringai, “Bukankah kamu membuat keributan dengan mengatakan telah mengandung anakku? Di mana anak itu ?! ” "..." Siapa yang takut pada siapa? Mari bertaruh!

Song Xixi · Urban
4.9
1966 Chs

ratings

  • Overall Rate
  • Writing Quality
  • Updating Stability
  • Story Development
  • Character Design
  • world background
Reviews
WoW! You would be the first reviewer if you leave your reviews right now!

SUPPORT