webnovel

Last Boss

Kenapa Iblis itu harus dibunuh? Pertanyaan itu muncul di kepalanya ketika ia diminta untuk mengisi kuisioner setelah dirinya berhasil mengakhiri game yang baru saja keluar kemarin. Edward, dia adalah seorang pelajar SMA tahun terakhir yang memiliki hobi bermain game. Dia adalah seorang maniak, hampir semua game yang dikeluarkan 2 atau 3 tahun sudah ia selesaikan. Game baru keluar, Aester World, ia menamatkannya hanya dalam waktu kurang dari 48 jam. Game menunjukkan credit staff yang terlibat bergerak ke atas sebagai tanda akhir dari permainan, namun ketika kredit selesai muncul sebuah pertanyaan. Ia berpikir jika itu hanya ulasan untuk iklan game mereka, namun semakin lama muncul pertanyaan yang semakin aneh. Hingga terakhir muncul sebuah pertanyaan yang tidak bisa ia jawab. Kalau begitu, bagaimana jika Kamu menjadi Raja Iblis? Monitor seketika berubah menjadi warna putih, cahaya dari layar menjadi sangat terang daripada biasanya sampai membutakan matanya untuk sesaat, lampu kamar tiba-tiba menyala sangat terang lalu meledak. Ruangannya bergetar hebat seolah di terjang gempa, ia melompat dari kursi karena panik, berlari kearah pintu keluar. Ketika matanya terbuka, semuanya berubah. Tidak ada lagi ruangan sempit yang berantakan, tidak ada lagi cahaya monitor yang menjadi sumber cahaya ruangannya. Semuanya berubah, hanya ada ruangan luas dengan cat merah gelap, ranjang yang luas, dan seorang perempuan yang siap melayaninya kapan saja. Ia berubah menjadi Boss Terakhir dari game Aester World, mungkin itu terdengar sangat luar biasa namun tidak untuknya ketika tahu takdirnya akan berakhir di tangan sang pahlawan. "Jangan bercanda! Aku tidak mau hidup ku berakhir! Aku akan bertahan hidup dan mengubah takdir ku!"

Sonzai · Fantasy
Not enough ratings
181 Chs

Chapter 84 - Perundingan

Tombak tepat di depan wajah mereka, semakin mendekat dan perlahan terus mendekat hingga mampu merobek wajah mereka. Hingga dorongan tombak itu terhenti begitu suara seorang pria bijaksana dari Uridonia memberi perintah untuk menurunkan tombak mereka. Lelaki itu melangkah keluar dari rumah kayu itu bersama dengan dua prajurit dibelakangnya, Void memejamkan mata dan menghela nafas lega dengan begitu pelan hingga tak disadari siapapun.

"Paduka August ..."

Suara menterinya yang dianggap telah tiada itu gemetar menatap orang yang selama ini ia layani dalam kondisi baik-baik saja, meski seharusnya ialah yang harus dikhawatirkan.

"Adler ... Itukah dirimu? Aku mendengar kabar jika dirimu telah tiada," sangka sang Raja.

Adler menggelengkan kepala dengan kuat dan menyangkal "Tidak paduka," kemudian sang Menteri itu menjelaskan secara singkat apa yang terjadi padanya dan apa yang terjadi dengan Verdik–salah satu menteri di Uridonia juga.

Locked Chapter

Support your favorite authors and translators in webnovel.com