SEGEL GIOK: 14 ARWAH NERAKA
Segel Giok Sepuluh Ribu Dunia—pusaka tertua yang menjaga keseimbangan antara dunia manusia dan alam dewa—telah dicuri. Dicuri oleh klan Xuanming, para pemberontak yang memisahkan diri dari Biara Tianlong, otoritas tertinggi para kultivator.
Tapi pencurian itu bukan awal dari segalanya. Sebelum itu, para dewa penjaga—yang disebut Tujuh Pilar—telah mati satu per satu. Bukan karena dibunuh. Bukan karena perang. Mereka lenyap karena dunia yang mereka jaga tidak lagi membutuhkan mereka. Keabadian mereka berubah menjadi beban. Dan beban itu terlalu berat.
Segel Giok mendeteksi kekosongan. Sistem cadangannya aktif. Tanpa izin siapa pun, ia memanggil empat belas Roh Terkutuk—bayangan dari para dewa yang telah gugur. Tujuh untuk Xuanming. Tujuh untuk Tianlong. Masing-masing terikat pada seorang Master dari era sekarang: para kultivator buangan, pemburu artefak, agen rahasia, bahkan seorang mahasiswa biasa yang tidak mengerti mengapa dia ada di sana.
Perang dimulai di kota terkutuk Fengdu. Tembok batas menyusut setiap tiga hari. Yang kalah mati. Yang menang mendapatkan satu keinginan—apa pun—dari Segel Giok. Tapi tidak ada yang tahu harga kemenangan: pemenang akan menjadi dewa baru. Abadi. Tanpa ingatan. Tanpa cinta. Tanpa kematian. Seperti para Pilar yang mati sebelum mereka.
Di tengah kekacauan, seorang pemuda bernama Lin Kong terbangun di Fengdu tanpa ingatan. Namanya tidak terdaftar. Roh Terkutuk tidak terikat padanya. Tapi tiga Segel Darah—tanda seorang Master—sudah terukir di punggung tangannya. Dia tidak tahu siapa dirinya. Dia tidak tahu kenapa dia ada di sini. Yang dia tahu: ada seorang gadis kecil di menara hitam yang terus memanggil namanya setiap malam.
"Selamat datang kembali, Pilar Kedelapan."
Perang 14 Arwah Neraka telah dimulai. Hanya satu yang boleh hidup. Tapi bisakah yang hidup disebut menang, jika kemenangan berarti kehilangan segalanya?