TAHTA DEWA TERAKHIR
Di dunia fantasi penuh kerajaan, sihir, dan makhluk kuno, lahir seorang pemuda bernama Kael di desa terpencil bernama Rivermond. Sejak kecil, ia dicap sebagai yang terlemah, seorang yang bahkan tak mampu mengangkat karung gandum tanpa terjatuh. Ejekan “Kael si Lemah” selalu melekat padanya.
Namun, hidupnya berubah ketika bandit menyerang desanya di hari panen. Dalam kepanikan dan api yang membakar, Kael tanpa sadar menggenggam sebuah pedang tua berkarat—artefak peninggalan perang kuno. Saat pedang itu menyatu dengan darahnya, takdir Kael mulai berputar.
Dari pemuda lemah, Kael menapaki jalan penuh darah, pengkhianatan, dan peperangan. Ia belajar bahwa dunia ini dikuasai oleh raja, klan iblis, dan bahkan para dewa yang memandang manusia hanya sebagai bidak permainan. Dengan tekad sederhana untuk tidak menjadi lemah lagi, Kael memulai perjalanan panjang menuju kekuatan puncak.
Perjalanan itu membawanya ke:
Akademi Kerajaan, tempat ia ditempa dan diejek, namun perlahan menunjukkan taringnya.
Medan perang antar kerajaan, di mana ia kehilangan sahabat dan merasakan pahitnya pengkhianatan.
Dunia rahasia para dewa, di mana ia menemukan kebenaran tentang pedang tua dan kutukan dalam darahnya.
Takhta terakhir, di mana ia harus memilih: menjadi dewa penguasa dunia, atau menghancurkan segalanya demi kebebasan sejati.
Kael tumbuh dari seorang bocah desa yang tak dikenal menjadi pejuang legendaris, lalu penguasa yang ditakuti, hingga akhirnya mencapai tingkatan dewa. Namun setiap kekuatan yang ia raih selalu dibayar dengan darah, kehilangan, dan kehancuran.
Di akhir perjalanan, ketika dunia mulai runtuh, Kael berdiri sendirian di antara reruntuhan takhta, menyadari bahwa kekuatan sejati bukan sekadar menaklukkan musuh atau menguasai dunia—tetapi memilih takdir sendiri, meski itu berarti melawan para dewa.