CEO Cilik SMA Dewantara: Membangun Veloura dari Nol
Di koridor SMA Dewantara, sebuah tugas simulasi bisnis berubah menjadi medan pertempuran harga diri, ambisi, dan perputaran uang riil yang masif. Kompetisi supremasi sekolah menantang para murid kelas XI untuk mengelola ruko simulasi dan membangun unit usaha mandiri dari nol. Di sinilah takdir mempertemukan Revan Wijaya dan Aurel.
Revan adalah cowok genius, dingin, dan taktis yang melihat dunia lewat lensa kamera profesional dan rumus algoritma digital yang kaku. Sementara Aurel adalah gadis berbakat dengan coretan tangan estetik yang menyimpan mimpi besar di dunia kecantikan. Dari sebuah sketsa sederhana di kamar tidur, kolaborasi strategis keduanya melahirkan Veloura, sebuah brand kosmetik remaja premium yang siap mendobrak pasar.
Mengambil alih ruko nomor tujuh, Revan bertindak sebagai CEO taktis yang mengendalikan angka, sementara Aurel memberikan "jiwa" pada produk mereka melalui sentuhan desain yang memikat. Langkah mereka tidak mudah. Dari modal yang minim, badai birokrasi, limitasi akun, hingga aksi mass report dari kelas saingan yang iri, semuanya menghadang. Namun, lewat strategi pemasaran digital berlapis milik Revan dan produksi massal di pabrik maklon PT MurniCare, Veloura menjelma menjadi raksasa baru di sekolah.
Hanya dalam satu bulan, dengan memanfaatkan fasilitas ruko dan wifi bisnis klinik, operasional live streaming yang berjalan 12 jam penuh dari jam 8 pagi hingga 8 malam sukses menggebrak pasar online. Tim Veloura mencatatkan rekor sejarah baru di SMA Dewantara dengan menjual total 5.350 produk sepanjang bulan, menghasilkan omset masif sebesar Rp321.000.000 dan mengantongi laba bersih bersih sebesar Rp148.500.000!
Namun, di puncak kejayaan dan kedekatan emosional yang mulai tumbuh di antara Revan dan Aurel, realitas industri yang kejam menghantam mereka tanpa ampun. Skema bonus target pegawai memicu manipulasi pesanan fiktif di internal mereka. Lebih buruk lagi, sebuah firma hukum luar kota tiba-tiba melayangkan somasi legal dan gugatan hak cipta atas nama merek serta desain logo Veloura.
Akun korporat mereka ditangguhkan oleh sekolah, operasional dipaksa mati total, dan ancaman ganti rugi material bernilai ratusan juta rupiah kini berada di depan mata. Apakah sang kapten genius yang dingin mampu membalikkan keadaan di jalur hukum riil, ataukah langkah para CEO cilik ini harus terhenti selamanya di bangku SMA?