Aisha: Aku Anak Madrasah
Aisha: Aku Anak Madrasah terinspirasi dari kisah-kisah nyata yang diceritakan kepala MAN 1 Selong tentang mewujudkan mimpi anak-anak sekolah dengan dukungan dari sekolah. Dalam novel ini, tokoh Aisha mewakili anak kampung, miskin, tapi memiliki potensi. Seorang guru menemukan dan mengasah potensi Aisha sehingga besinar.
Aisha cuma anak kampung biasa dari Lombok Timur. Tinggal di desa kecil dekat Selong, sekolah di MAN 1 Selong—sekolah favorit yang katanya sering juara ekstrakurikuler, tapi buat Aisha? Ya, paling banter juara makan mie instan sambil ngerjain PR. Hidupnya sederhana: bantu ibu di sawah, debat sama adik soal siapa yang nyanyi fals, dan mimpi-mimpi aneh yang ditulis diam-diam di buku harian lusuh. Tapi suatu hari, guru bahasa Inggrisnya bilang, “Kamu punya suara, Aisha. Jangan cuma simpan di kepala.” Dari situ, langkah kecilnya jadi besar. Dari gagal debat kampung yang bikin malu satu kelas, naik panggung kabupaten di Selong sampai berbicara di forum dunia.
Di tengah perjalanan itu, Aisha ketawa, nangis, marah, dan hampir nyerah berkali-kali. Ada temen yang iri, ada yang nyemangatin, ada diskriminasi halus yang bikin sakit hati, tapi juga ada momen dia sadar: Lombok bukan cuma pulau mimpi orang lain—ini pulau yang punya cerita sendiri, dan Aisha ingin jadi yang nyanyi paling kenceng soal itu.
Novel ini bukan cuma tentang menang lomba atau dapet beasiswa. Ini tentang anak remaja yang ngotot, yang kadang lucu banget pas grogi, tapi teguh banget pas harus maju. Dari MAN 1 Selong ke panggung dunia, Aisha belajar satu hal: mimpi itu nggak harus ninggalin akar. Kadang, justru akar yang bikin mimpi jadi lebih kuat. Siap ikut langkah Aisha? Meraih untuk meraih mimpi perlu ada keberanian memulai—dan pintunya terbuka lebar buat kamu yang berani melangkah.