Sirah Para Nabi dan Rasul
Sebelum bumi ada, Allah sudah menulis rencana-Nya. Dari tanah yang diambil seluruh penjuru bumi, diciptakanlah Adam — manusia pertama yang Allah muliakan dengan ruh-Nya, yang para malaikat bersujud kepadanya, yang diberi ilmu tentang nama-nama segala sesuatu. Adam turun ke bumi bukan sebagai yang kalah, tapi sebagai khalifah yang membawa amanah terbesar dalam sejarah alam semesta. Dari Adam lahirlah keturunan yang menyebar ke seluruh bumi — dan ketika manusia mulai menyimpang, Allah tidak membiarkan mereka tersesat sendirian. Ia mengutus Nuh yang bersabar sembilan ratus lima puluh tahun mendakwahi kaumnya, Ibrahim yang bersedia mengorbankan segalanya demi Allah hingga api pun menjadi dingin untuknya, Musa yang menghadapi Firaun dengan tongkat dan keyakinan yang tidak goyah, Dawud yang bertasbih bersama gunung-gunung, Sulaiman yang memerintah jin dan manusia dan angin, Isa yang berbicara dari buaian dan menghidupkan yang mati dengan izin Allah — satu demi satu, nabi demi nabi, Allah tidak pernah membiarkan bumi ini tanpa cahaya.
Kemudian datanglah malam yang paling gelap dalam sejarah manusia — malam sebelum fajar yang paling terang. Di jazirah Arab yang penuh dengan kegelapan kesyirikan, lahirlah Muhammad ﷺ — penutup para nabi, cahaya yang dinantikan sejak Adam pertama kali melihat namanya bersinar di antara keturunannya. Ia diutus bukan hanya untuk satu kaum atau satu zaman, tapi untuk seluruh manusia hingga hari Kiamat. Dua puluh tiga tahun ia menanggung penghinaan, pengusiran, peperangan, kehilangan orang-orang yang paling ia cintai — tapi tidak sekalipun ia berbalik dari risalah yang Allah titipkan kepadanya. Ia membangun bukan hanya negara — tapi peradaban. Bukan hanya hukum — tapi akhlak. Bukan hanya pengikut — tapi generasi yang mengubah arah sejarah manusia dengan cahaya yang berasal dari wahyu yang sama, dari Allah yang sama, yang sudah mengutus nabi-nabi sebelumnya dengan pesan yang satu.
Di hari Haji Wada', di bawah langit Arafah yang menjadi saksi pertama pertemuan Adam dan Hawa di bumi, Rasulullah ﷺ berdiri di hadapan lebih dari seratus ribu sahabatnya dan menyampaikan wasiat terakhirnya — "Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara, kalian tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya: Kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya." Kemudian turun ayat yang menjadi penutup sempurna dari seluruh risalah sejak Adam: "Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu." (QS. Al-Maidah: 3). Tiga bulan kemudian, Rasulullah ﷺ kembali kepada Allah — bukan dengan kepergian yang mengakhiri, tapi dengan warisan yang tidak akan pernah padam. Satu kisah yang dimulai dengan tiupan ruh kepada Adam, ditutup dengan hembusan napas terakhir Muhammad ﷺ di pangkuan Aisyah — dua momen yang menjadi pembuka dan penutup dari babak paling agung dalam sejarah alam semesta, dengan satu pesan yang tidak pernah berubah dari awal hingga akhir: La ilaha illallah