TAE'S POV
Dari bangun tidur tadi badan gue berasa capek banget, maklum berapa ronde tuh tadi malam enaena di dalam mimpi sama bidarara cantik. Siapa lagi kalau bukan si Tee.
Gue bener-bener gak habis pikir kenapa gue selalu mimpiin dia dan yang parahnya lagi bisa enaena gitu, rasanya nyata. Enak. Nikmat. Hehe~
Eh tapi serius loh itu. Gue masih bertanya-tanya kenapa gue bisa semesum ini sampe sampe tiap malam selalu mimpiin dia gitu. Hmm, apakah itu pertanda kalau Tee, incess cantik yang bertitit itu adalah jodoh gue? Gue sih gak masalah mau ada belalainya atau kue apem, yang penting enak aja. Enak diajak hidup bareng maksudnya.
'Ah syiall.. Lama lama mikirin dia bisa bisa gue jadi raja hentai ini mah.' rutuk gue
Gue lagi jalan keluar abis mata kuliah Metode Perancangan Arsitektur 2. Sumvah ya, dosennya sih gak killer, tapi doi pelit nilai banget, mana tugas seambrek lagi. Gila aja deh doi gak punya perasaan amat ngasih tugasnya sampe ubun-ubun gue berasa retak dan jari-jari gue berasa mau copot gini dari tangan.
Belum sempet gue jalan ke arah kantin, tiba-tiba kepala gue kaya berat gini dan pelan tapi pasti pandangan gue menghitam.
3rd'S POV
Tae berencana langsung pergi ke kantin buat makan siang sama anak-anak teknik yang lain, karena hari itu mereka gak bisa sekelas bareng. Belum sempat sampai kesana, Tae jatuh tertidur.
You know lah siapa penyebabnya, kan?
"Ugh, fuck! Kepala gue makin sakit gini." rutuk Tae
Tae terbangun beberapa saat setelah dia merasakan penglihatannya gelap dan tiba-tiba berada di sebuah ruangan -kamar lebih tepatnya.
"The hell.." Tae mengenyit dahi nya, bingung kenapa tiba-tiba dia udah ada disitu, bukannya tadi ada di lorong deket kantin?
Belum sadar dari pikirannya, suara pintu terbuka membuatnya kaget serta penasaran? KENAWHYA DIA DIHADAPKAN LAGI OLEH PRIA CANTIK ITU?!!
'Memang pengen di entot ni orang' pikir Tae mesum
"Hi Tae" sapa Tee sambil tersenyum manis
"Umm, kamu mau tau rahasia gak?"
Tae masih melongo dengan muka bego nya, tapi sempet banget nganggukin kepalanya pas denger omongan Tee.
"Sesuai permintaan kamu tadi malem, umm.. Aku masih nyimpen milik kamu nih." wajah Tee memerah dan dia menggigit bibir bawahnya sambil tersenyum malu.
"Hah? Milik aku gimana?" bego nya keliatan kan wkwk
*cie aku-kamuan,, anjerrr*
"Um itu, punya kamu. Yang kemarin kamu keluarin itu loh.."
Tae berpikir keras, dia inget inget apa kemarin dia ada ngobrol sama Tee atau gimana. Sedalam-dalamnya dia mikir keras, dia gak bisa inget kalau dia ngobrol sama Tee. Kecuali.. Ah! Dalam mimpi!
***
"I-i wanna cum-ming Tae! Ah gimme your seed Tae! Fill me with yo-your cum!"
"You want my cum! Hah! Take this! I will fill your needy pussy with my cum! Take this until we meet again!"
"Ffuck yess Tae. Yess gimme! Aah aah i'm cumming"
"Fuckk… Arggghh!"
***
Dan karena inget itu juga akhirnya Tae ngerasa panas dan bernapsu lagi. Mengingat Tee yang binal membuat dia gak tahan pengen mengbobol lagi lobang milik Tee.
"Jadi kamu masih simpan pejuh aku di lobang kamu yang nikmat itu, hmm?" suara Tae yang dominan perlahan mulai memegang kendali.
Tee hanya bisa menganggukan kepalanya sambil tersipu malu.
"Good boy! Come here Tee! Let me check it myself." perintah Tae
Tee nurut dan mulai berjalan mendekati ranjang tempat Tae berada. Perlahan tapi pasti dia mulai membuka satu persatu kancing bajunya dan celananya. Hanya menyisakan underwear yang berbentuk thong dengan tonjolan di belakangnya, tepat di lobang belakang.
Tae menyambut tangan Tee dan menuntunnya ke atas ranjang, sedangkan dia turun sehingga posisinya kini kepala Tee sejajar tepat didepan gundukan celananya yang dari tadi protes ingin keluar dan menyicipi tubuh Tee.
"Nungging Tee, biarkan aku liat lobang sempitmu itu."
Dan sekali lagi Tee dengan senang hati menurut perintah Tae.
Tae berjongkok dan mulai membuka thong milik Tee dan melihat benda kecil yang masuk kedalam lobang milik Tee.
"Fuck, such a needy whore you are! Kamu sengaja memasukkan dildo biar pejuhku gak keluar?" Tae yang gak sabar karena bergairah melihat pemandangan didepannya itu, meremas-remas bongkahan pantat Tee dan sesekali menamparnya.
"A-aah fuck Tae. Aku gak mau pejuh kamu keluar sebelum kamu ngeliatnya. Am i good boy enough for you?" tanya Tee
"Yeah baby, you're my good boy!"
"Hei baby, kita gak punya waktu banyak. Cepat masukin punya kamu Tae. Aku udah gak sabar." rengek Tee
"As your wish, babe" dengan cepat Tae mengeluarkan penisnya dan memasukkan kedalam tubuh Tee.
Suara rintihan dan desahan mulai memenuhi ruangan sempit itu, geraman milik Tae dan desahan milik Tee. mereka menikmati setiap sentuhan yang diterima masing-masing.
Tae mulai menarik tubuh Tee menghadapnya, dia ingin melihat wajah yang sangat merangsang itu.
"Tee—"
"Fuck me deeper. I'll take it good, please. Please." Pria manis itu terus memohon, penis Tae seolah-olah tersedot oleh lubangnya nikmat miliknya.
Tae terus menyodok ke dalam lubang mungil itu, menyukai bagaimana lelaki di bawahnya itu mengerang namanya. Tubuh mereka yang berkeringat karena gerakan yang tidak menentu dan ranjang berderit karena setiap dorongan — setiap kali kulit mereka saling bertabrakan. Membuat jari kaki Tee melengkung.
Tae menyukai cara kuku-kukunya menggores punggungnya setiap kali dia menggerakkan pinggulnya sementara Tae terus menyodokkan lebih dalam lagi. Dia menyukai bagaimana sudut mata lelaki mungil itu meneteskan air mata di pipinya, lehernya merah karena kissmark atau saat dia bersusah payah untuk menghirup udara.
Tangan mungil itu mencengkram pahanya saat Tae bercinta dengannya dari arah belakang. Dia memintanya, tidak, memohon padanya untuk tetap berada di dalam dirinya saat Tae melepaskan cairan pejuhnya di lubang ketat milik Tee.
Dan pandangan Tae menggelap kembali.
"Hei, hello.. Bangun!"
"Hei.."
"Kamu baik-baik aja?" Sebuah suara bertanya padanya, membuatnya merintih saat kesadarannya mulai datang.
"Kamu pingsan di lorong ..." Dan dia berkedip, bertanya-tanya apakah dia lagi di alam mimpi atau ini hanya nasib yang menyebalkan — bermain dengannya.
Tae akan tersentak.
Sebuah tangan membelai bagian atas kepalanya, membuatnya mengerang sekali lagi dan ketika penglihatannya menjadi jelas, dia sadar kalau dia sedang gak bermimpi dan siapa yang dia lihat bukan khayalan lain dari imajinasinya.
"T-Tee..." Tae tergagap, lupa kalau seharusnya ini menjadi percakapan pertama mereka sepanjang hidup mereka. Lupa kalau di dunia nyata mereka gak pernah bertegur sapa. Tae merutuk mulutnya itu, 'kok bisa sih bodoh banget keceplosan, sok sok akrab gini?'
"Ka-kamu—"
"Kau tahu namaku." Tee bergumam, dan Tae hampir menahan napasnya saat melihat sepasang mata itu.
Tae bangkit, meregangkan canggung dan Tee bergeser kesampingnya.
"B-bagaimana mungkin aku tidak tau kamu? Maksud aku, semua orang kenal kamu."
Tee terkikik.
Dan Tae hampir mati karenanya.