*Bab 010 Alwyn Gusev dan Randy Rozenvelt*
Beberapa waktu setelah Atthy selesai dengan segala keperluannya, kereta kuda elegan nan mewah datang menjemputnya. Iringan ini sangat kontras dengan pengiringan yang diterimanya di Caihina—bukan hanya kemewahan atribut yang mereka bawa, tetapi juga etika dan disiplin prajurit yang mengiringinya. Mereka berdiri tegak dan teratur, dengan wibawa yang tak terbantahkan, membuktikan bahwa ini adalah iringan dari kalangan bangsawan sejati.
''Selamat siang, Lady Galina... Perkenalkan, saya adalah Alwyn Gusev, Pengelola Dukedom Griffith yang diutus sebagai pemimpin iringan Tuanku Duke Griffith,'' sapa seorang pria yang tampak dengan jelas sebagai pemimpin iringan ini. Suaranya rendah dan penuh wibawa, tapi tetap menjaga kesopanan. Setiap kata yang keluar dari mulutnya terdengar begitu elegan, bahkan dalam kalimat yang singkat. Meskipun cepat, cara dia berbicara mencerminkan pengetahuan dan kemanusiaan yang mendalam.
''Selamat siang, Lady Galina... Perkenalkan saya adalah Randy Rozenfeld, saya akan menjadi komandan pengawal iringan Anda sampai kita tiba di kediaman Tuanku Duke Griffith,'' sapa seorang ksatria yang tampak gagah. Dia memberi hormat dengan tangan di dada, sikapnya yang tegak menunjukkan kedisiplinan tinggi, tetapi dalam tatapan matanya terpantul kelembutan dan kesopanan.
''Wow, etiket mereka benar-benar menawan,'' pikir Atthy dalam hatinya, merasakan suasana yang jauh berbeda dengan perjalanan sebelumnya bersama Billy yang sialan itu. ''Mungkin kali ini aku bisa merasa lebih nyaman.''
Atthy menanggapi dengan senyum kecil, ''Salam kenal, saya Atthaleyah Galina...'' jawabnya, dengan nada yang sopan namun tetap menunjukkan kewibawaan sebagai bangsawan.
''Jangan sungkan, Lady Galina,'' jawab Alwyn dan Randy serempak, senyum mereka ramah dan tulus. ''Kami selalu siap melayani Anda.''
''Terima kasih, Tuan Alwyn Gusev dan Tuan Randy Rozenfeld,'' jawab Atthy, matanya berbinar. ''Saya harap kita bisa bekerja sama dengan baik, dan mohon bimbingannya ke depannya...''
Meskipun percakapan ini singkat, Atthy dapat merasakan ada sesuatu yang berbeda dari sikap Alwyn dan Randy. Mereka jelas terkejut sejenak dengan keanggunan cara Atthy memperkenalkan dirinya, tapi sikap profesional mereka cepat mengembalikan suasana menjadi seperti semula. Ketiga tokoh utama kala itu—Atthy, Alwyn, dan Randy—terlihat terdiam sejenak, seakan tidak tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya.
Dari sisi Atthy, kebingungannya muncul karena setelah perkenalan itu, mereka hanya berdiri diam. Bukankah seharusnya mereka segera berangkat? Kereta sudah siap, dan perjalanan harus segera dimulai.
Sedangkan dari sisi Randy dan Alwyn, mereka merasa bingung kenapa nona di hadapannya belum mempersilahkan mereka masuk ke dalam?
''Apa ada lagi yang kalian tunggu?'' tanya Atthy kemudian, suaranya sedikit kering setelah mereka berdiam diri cukup lama.
Alwyn dan Randy terkejut dengan pertanyaan Atthy. Keduanya sempat bingung sejenak, tidak tahu harus menjawab apa.
''Maaf, Nona, tapi di mana Tuan Baron?'' tanya Alwyn, setelah merasa ragu di awal, akhirnya memberanikan diri untuk bertanya juga.
Atthy terkejut dengan pertanyaan tersebut. Kebingungannya semakin dalam, dia tidak mengerti mengapa pertanyaan itu diajukan.
''Kakek?! Beliau tidak bisa mengantarku,'' jawab Atthy polos, ''Aku sendirian sekarang, seharusnya kalian tahu itu, bukan?!''
Keterkejutan kembali muncul di wajah Alwyn dan Randy. Atthy pun mulai menyadari reaksi aneh yang terlihat dari mereka.
''Kakek?!''
Alwyn dan Randy sama-sama terkejut dalam hati mereka dengan penyebutan Atthy barusan.
Alis Alwyn dan Randy sempat berkedut, yang tentu saja disadari oleh Atthy. Namun, dia tidak merasa perlu untuk bertanya lebih lanjut. Dengan sikap dingin, Atthy memilih untuk mengacuhkan hal itu seperti sebelumnya.
Intuisi Alwyn yang tajam kini mengarah pada tiga pelayan yang berdiri di belakang Atthy. Gerak-gerik mereka, terutama raut wajah salah satu dari mereka yang tampak cemas, tidak luput dari perhatian Alwyn. Namun, sebagai tamu yang sopan, dia menahan diri untuk tidak menanyakan hal tersebut.
Matahari musim semi menggantung di langit, memberikan kehangatan yang hampir terlalu berlebihan bagi mereka yang terbiasa dengan kesejukan utara. Udara membawa aroma bunga yang mulai bermekaran, bercampur dengan wangi sutra dan parfum mahal yang menyelimuti ruangan megah itu.
Di antara para elit aristokrat yang sibuk berbasa-basi, Atthy berdiri sebagai sosok yang sulit untuk diabaikan. Rambut merahnya jatuh dalam gelombang lembut, menangkap kilau matahari yang menyelinap dari jendela besar. Warna zamrud di matanya tetap tenang, nyaris tak terbaca, namun bagi mereka yang cukup jeli, ada percikan ketidaknyamanan yang tersembunyi di balik tatapan itu.
Gaun yang ia kenakan berhiaskan sulaman emas dan batu permata, menjuntai dengan keanggunan yang tak terbantahkan. Kainnya begitu mewah, begitu sempurna membingkai tubuhnya, hingga tak ada yang menyangka bahwa pakaian ini bukanlah pilihannya. Bahannya terasa asing di kulitnya, setiap perhiasan yang menggantung di pergelangan tangan dan lehernya terasa seperti rantai halus yang tak terlihat. Namun, tidak seorang pun yang melihatnya akan menyadari hal itu.
Ekspresinya tetap sama, tenang, penuh percaya diri, seolah pakaian dan suasana di sekelilingnya adalah bagian dari dirinya. Ia tidak perlu berpura-pura menikmati, juga tidak perlu menunjukkan ketidaknyamanannya. Ketulusannya yang polos tetap terpancar, menciptakan paradoks yang menarik. Bagaimana mungkin seseorang yang terlihat begitu glamor, begitu sempurna dalam balutan kemewahan, tetap memiliki aura kejujuran yang tak terjamah kepalsuan?
Dan meski ada banyak mata yang mengamati, tak ada satu pun yang berani menatapnya terlalu lama. Ada sesuatu dalam caranya berdiri, dalam cara ia memandang ruangan, yang membuat siapa pun berpikir dua kali sebelum mendekat. Ia mungkin tampak seperti permata dalam kerumunan, tetapi mereka yang cukup peka akan menyadari satu hal, permata itu bukan untuk digenggam, apalagi dikendalikan.
''Lalu bagaimana kita akan pergi jika belum berpamitan dengan Tuan Baron? Setidaknya saya harus memperkenalkan diri...''
Dahi Atthy berkerut mendengar ucapan Alwyn. Mengingat perlakuan Billy terhadap keluarganya, Atthy semakin kesal dengan pertanyaan Alwyn. Pertanyaannya terasa seperti ejekan, seolah-olah ingin memastikan bagaimana perasaan mereka setelah diperlakukan seperti itu oleh seorang pelayan.
''Tidak perlu khawatir tentang itu!'' seru Atthy dengan suara yang sedikit tegang, berusaha mengontrol intonasinya, ''Jika kalian harus kembali lagi untuk menemui Kakek, lalu kenapa repot-repot berestafet mengutus utusan untuk menjemputku?!''
Mereka bertiga salah paham. Tanya jawab mereka mungkin tampak sinkron, namun maknanya sangat berbeda dari sudut pandang masing-masing.
''Maafkan kelancangan saya, Lady, jika hal itu membuat Anda tidak nyaman...'' Alwyn tetap menjawab dengan sopan meskipun merasa jika Atthy memandang rendah dirinya yang hanya seorang utusan dari seorang Duke yang mungkin akan menjadi suaminya.
''Apakah aku salah menilai barusan...'' gumam Alwyn dalam hatinya. ''Di awal tadi aku pikir dia cukup berbeda dengan yang di deskripsikan. Tapi, melihat ini... informasi yang aku terima sepertinya betul...''
''Apa ini?!'' pekik Randy yang kesal di dalam hatinya, ''Sejak kapan menjemput calon mempelai wanita seperti menjemput wanita penghibur?!''
Alwyn dan Randy merasakan hal yang sama. Mereka merasa dihina sebagai tamu, karena bahkan tuan rumah—yang seharusnya memberikan sambutan—tidak ada. Meski mereka hanya utusan, mereka tetap mewakili majikan mereka, dan mereka merasa seharusnya mereka mendapat sambutan yang lebih layak.
Para pengawal yang datang bersama Alwyn dan Randy mulai merasa tidak nyaman. Mereka juga merasakan hal yang sama dengan Alwyn dan Randy, dan akhirnya mereka mulai berpikir bahwa Atthy adalah Lady yang mungkin akan menjadi sangat sulit untuk diajak bekerja sama sepanjang perjalanan.
''Tidak apa-apa...'' sahut Atthy datar, berusaha menenangkan diri.
''Baiklah, apa kita sudah bisa pergi, Lady?'' tanya Alwyn dengan sopan, meskipun ekspresinya menunjukkan sedikit ketegangan.
''Tentu,'' jawab Atthy datar, berusaha menepis pikiran aneh yang mulai berkembang mengenai dua pemuda yang baru saja menyambutnya.
''Karena ini mendadak, mohon pengertian Anda, Lady. Kita harus segera berangkat atau kita akan tertinggal kereta. Jika kita berangkat sekarang, sore nanti kita akan segera sampai di stasiun... Harap bersabar dengan perjalanan ini,'' ujar Alwyn sedikit menjelaskan situasi.
Atthy merasa aneh dengan kata ''mendadak'' yang diucapkan Alwyn, namun dia malas bertanya lebih lanjut. Sementara itu, Alwyn sendiri tidak menyangka jika mereka tidak diberi kesempatan untuk duduk dan menikmati secangkir kopi terlebih dahulu setelah perjalanan panjang mereka. Bahkan mereka jadi harus mengejar waktu untuk mengikuti jadwal keberangkatan kereta.
Alwyn dan Randy sama-sama mendapat kesan yang sama: bahwa Atthy dengan sengaja memanfaatkan kedudukan calon suaminya.
''Baik,'' ujar Atthy kembali menjawab dengan singkat, sebagaimana biasanya seorang bangsawan menjaga batasan antara dirinya dengan pelayan.
''Silakan...'' ujar Randy sembari menyodorkan tangan untuk membantu Atthy menaiki kereta kuda, dengan cara yang elegan, sebagaimana seharusnya seorang pria memperlakukan seorang wanita. Tindakan yang sangat berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Billy dan bawahannya.
Dengan kekuasaan yang dimiliki oleh Duke Griffith, Alwyn, sebagai perwakilannya, memiliki wewenang untuk menunda keberangkatan kereta. Ia segera memerintahkan salah satu pengawal untuk segera mengejar keberangkatan kereta. Dia juga meminta agar segala keperluan untuk tamu kehormatan Duke Griffith segera diatur di dalam kereta.
Para pelayan Atthy duduk di kereta kuda yang terpisah, jauh dari tempat tuannya, yaitu Atthy. Sementara itu, Alwyn menaiki kuda, sama seperti para pengawal kesatria lainnya, menjaga ketegasan dan sikap profesional di sepanjang perjalanan.
---