webnovel

Suami Kejam

Kirana dan Vero baru saja pergi ke supermarket. Mereka berbelanja sekaligus mencari buah tangan untuk Leon dan ibunya.

Sudah 3 hari sejak ibu Leon meninggalkan rumah sakit karena sudah pulih seratus persen.

"Aku penasaran banget sama ibunya Leon dan Leon kayak gimana," kata Vero dari balik kemudi mobil. Selama ini ia hanya mendengar Kirana bercerita tentang pasiennya itu tanpa tahu wajah mereka.

"Nanti kamu juga tahu sendiri, Ver," Kirana menimpali. "Sejujurnya kamu gak perlu repot-repot nganter aku ke rumah Leon."

Vero menyipitkan mata ke Kirana. "Harusnya kamu berterima kasih, Kirana."

"Iya deh, makasi banyak ya, Temanku," Kirana menyindir.

"Aku nganter kamu soalnya banyak hal buruk yang suka menimpa kamu akhir-akhir ini. Aku heran deh kenapa sih banyak kesialan yang menghampirimu?"

Kirana bingung harus menjawab apa. Kalau boleh minta, Kirana pun ingin terbebas dari banyak kesialan. Tapi apa daya kalau banyak kesialan menimpa hidupnya?

"Oh aku ada ide, Kir," Vero mulai memberi ide. Firasat Kirana mulai gak enak.

Selama delapan tahun mengenal Vero, Kirana belajar satu hal penting. Jangan mudah percaya pada setiap ide yang keluar dari otak Vero.

"Aku ada kenalan nih dukun di daerah Puncak. Katanya dia sakti banget. Dia pernah diundang di salah satu talkshow pas kebetulan aku jadi bintang tamunya juga. Dia bisa tuh diminta buang sial, Kir," cerita Vero.

Benar kan firasat Kirana. Ide Vero pasti aneh-aneh. Kali ini sahabatnya ingin melibatkan dukun dan kemampuan supranatural.

Kirana menggeleng keras. "Udah deh, Ver. Gak usah aneh-aneh. Ada-ada aja pergi ke dukun. Aku gak percaya begituan."

"Ih, belum ketemu dukunnya malah udah bilang gak percaya," Vero kesal. "Nanti kamu bisa disaranin mandi bunga tujuh rupa atau apalah gitu."

"Ver, sekali-kali kalau ngasih ide yang masuk akal dong. Masak aku ke dukun buat mandi bunga tujuh rupa?"

Vero mencibir. Kirana selalu saja tidak percaya pada ide-idenya. Padahal ia bersungguh-sungguh ingin menghilangkan kesialan dari diri Kirana. Kirana sudah jadi magnet untuk kesialan dan masalah.

Mobil Vero berbelok di arah pemukiman padat penduduk di daerah Jakarta Utara tepatnya di dekat Ancol. Setelah memarkirkan mobil, Kirana dan Vero berjalan menyusuri gang-gang untuk mencari rumah Leon.

Semua mata penduduk sekitar terpusat pada Vero dan Kirana. Bagaimana tidak? Vero memakai gaun coklat selutut. Lalu ia memakai sepatu bot, tas dan kacamata hitam. Tak lupa Vero bahkan memakai payung hitam besar. Katanya supaya tidak terpapar sinar ultraviolet. Bisa merusak kulit seorang model.

Sementara itu, penampilan Vero sangat bertolak belakang dengan penampilan Kirana. Kirana hanya mengenakan kemeja putih yang dibalut dengan cardigan abu-abu. Ia juga mengenakan celana panjang dengan warna senada. Tak lupa Kirana memakai flat shoes.

Pasti semua penduduk mengira Vero artis. Walaupun kenyataannya Vero memang artis sekaligus model. Tapi penampilan Vero terlalu… berlebihan.

"Lain kali kamu harus ganti penampilan deh, Ver," bisik Kirana ketika mereka berjalan menyusuri gang.

"Kenapa? Emang ada yang aneh sama penampilanku?" tanya Vero dari balik kaca mata hitam Guccinya.

Vero bilang ini adalah kacamata limited editon yang diberi salah satu desainer Gucci yang ngefans sama Vero.

Kirana menatap sahabatnya dengan tatapan tidak percaya.

"Penampilanmu terlalu heboh. Buat apa berkunjung ke rumah orang pakai baju ala fashion show gini?"

Vero menatap lurus ke jalan. "Apanya yang heboh ala fashion show? Ini penampilan paling standarku."

Kirana hanya bisa mendecakkan lidah. Kalau penampilannya Vero yang seperti ini dibilang standar lalu apa kabar penampilan Kirana? Seperti pengemis?

Setelah berjalan selama sepuluh menit, mereka sampai di sebuah rumah mungil di dekat sungai. Rumah itu berukuran 25 meter persegi.

Kirana dan Vero berpikiran sama. Rumah ini terlalu kecil. Tapi semua rumah di gang ini juga kecil.

Jauh dari dalam hati Kirana, ia prihatin dengan Leon beserta ibunya. Mereka harus hidup di gang padat penduduk seperti ini. Bahkan gang rumah Leon juga kotor dan banyak orang meletakkan barang rongsokan sembarangan.

Kirana mengetuk pintu rumah Leon pelan.

"Kakak Dokter," sapa Leon ketika ia membukakan pintu.

Kirana mengelus kepala Leon. "Apa kabar, Leon?"

Leon tersenyum. "Aku baik, Kak."

Lalu Leon mempersilahkan Kirana dan Vero masuk ke dalam rumah. Di dalam rumah kondisinya sedikit lebih baik. Setidaknya di rumah berukuran 25 meter persegi, Leon masih memiliki meja untuk belajar, dapur yang rapi, kamar mandi dan satu kamar tidur.

"Dokter Kirana," ibu Leon menyambut Kirana. Ia bahkan memeluk erat gadis itu.

Ibu Leon menyiapakan cemilan dan teh hangat untuk Kirana dan Vero.

"Perkenalkan ini teman saya, Bu. Namanya Vero," Kirana memperkenalkan Vero.

Ibu Leon terlihat bahagia. Jauh lebih segar sejak keluar dari rumah sakit.

"Wah tumben sekali, Dokter Kirana mampir ke rumah saya," ibu Leon senang sekali kedatangan tamu.

Kirana tersenyum. "Saya ingin mengecek gimana kondisi kesehatan dan kabar Leon beserta ibu."

"Saya baik, Dok. Berkat Dokter Kirana saya sudah sehat total."

"Leon sekarang juga udah bisa sekolah lagi lho, Kak. Terus ibu juga dapat pekerjaan baru," Leon ikut menimpali dengan senang.

Mata Vero terbelalak. "Wah kerjaan apa, Bu?"

"Saya sekarang masak untuk kantin kantor. Itu di Dewandra Tower. Gajinya lumayan sekali. Bisa untuk hidup dan menabung," kata ibu Leon senang.

Dalam hati Kirana sangat bersyukur. Bastian sudah mau membantu membiayai sekolah Leon bahkan memberi ibu Leon pekerjaan yang layak di perusahaan pria itu.

Lalu tiba-tiba pintu rumah Leon digedor keras sekali. Kirana dan Vero sampai kaget mendengarnya. Siapa sih orang yang gedor rumah orang siang-siang begini?

"Dokter Kirana dan Nak Vero tunggu disini dulu ya," wajah ibu Leon berubah tegang.

Kirana semakin bertanya-tanya siapa tamu yang datang sampai wajah ibu Leon berubah tegang dan panik seperti itu.

Tiba-tiba Kirana dan Leon mendengar suara tangisan dan teriakan pria dari depan rumah. Kirana buru-buru keluar.

Ia melihat ibu Leon jatuh ke tanah dengan tangan memegangi pipinya. Seperti orang yang habis kena tampar. Sementara itu di depan ibu Leon berdiri seorang pria berumur 40an berkulit hitam dengan tato besar di kedua lengannya.

"Apa-apaan ini?!" Kirana buru-buru membantu ibu Leon berdiri.

"Siapa kamu?!!" bentak pria itu.

"Dokter Kirana sebaiknya segera pulang," ibu Leon hampir menangis.

"Enggak saya gak bisa ninggalin ibu dengan keadaan seperti ini," kata Kirana. Dia benar-benar khawatir.

"Mana sertifikat rumah? Jawab!" bentak pria itu lagi.

"Aku gak akan kasih. Karena kamu bakal gadaikan lagi nanti," kata ibu Leon.

Kirana sekarang paham. Pria di depannya ini pasti ayah Leon yang tega menggadaikan sertifikat rumah pada rentenir tempo hari.

Ayah Leon marah. Dia mengguncang-guncang tubuh ibu Leon. "Cepat berikan padaku!"

"Bapak, jangan berbuat onar ya. Saya bisa laporkan perbuatan bapak ini ke polisi!" Kirana membentak ayah Leon. Ia tidak terima melihat ibu Leon diperlakukan seperti itu.

"Apa hak kamu melarang saya? Ini istri saya! Ini rumah saya! Kamu emangnya siapa?!" ayah Leon menatap Kirana dengan tajam.

"Saya emang bukan siapa-siapa. Tapi saya gak akan biarkan bapak menyakiti perempuan seperti ini," Kirana tidak mau kalah. Dia tidak akan diam saja.

Ayah Leon mendorong ibu Leon lagi. Lalu hendak memukulnya. Untung tangan Kirana berhasil mencegahnya. Alhasil tangan Kirana lah yang kena pukul. Sakit sekali.

Lalu Vero keluar rumah. Dia membawa payung hitam besarnya. Dengan sekuat tenaga Vero memukul ayah Leon sampai pria itu jatuh ke tanah.

"Heh, Bangsat!!! Berani-beraninya mukul perempuan!" mata Vero menyala karena amarah.

Vero bahkan menendang ayah Leon dengan sepatu botnya yang runcing.

Semua tetangga yang melihat itu hanya diam. Mereka tidak berani ikut campur. Vero menduga ayah Leon ditakuti oleh tetangga sekitar karena kasar dan suka main tangan.

Sementara ayah Leon kesakitan di tanah, Kirana membantu ibu Leon berdiri.

"Saya gak kenal Anda! Tapi kalau Anda berani melakukan kekerasan, saya akan telpon polisi sekarang juga!" bentak Vero. "Anda pergi dari sini atau saya telpon polisi!"

Tanpa menunggu dua kali, ayah Leon bangkit berdiri. "Awas kalian!"

Setelah ayah Leon pergi, ibu Leon hanya menangis dipelukan Kirana.

Chương tiếp theo