webnovel

CINTA SUCI ARDIAN

Nayla terpekur menatap lantai kamar rumah sakit, sedikit pun Nayla tak berani mengangkat wajahnya untuk menatap Ardian.

Apa yang di katakan Ardian mengenai perasaannya di masa lalunya sampai masa sekarang, sungguh membuat hati Nayla begitu terkejut dan shock.

Tak sedikitpun Nayla mempercayai hal ini, Ardian seorang guru pengganti telah mencintainya dan dia tidak tahu apa-apa.

Nayla memang ingat dengan jelas, satu tahun terakhir sebelum kelulusan Nayla berpacaran dengan Kenzo laki-laki terfavorit di sekolahnya, hingga Nayla harus berpisah dengan Kenzo karena Nayla melanjutkan kuliah di kota.

Dan cintanya pada Kenzo masih ada hingga sekarang, bahkan dia pulang karena keinginan Kenzo saat menelponnya satu Minggu yang lalu.

Sekarang Nayla ada di rumah sakit dan menjaga seorang laki-laki yang belum terlalu di kenalnya, sebelum dia bertemu dengan orang tuanya bahkan laki-laki yang di cintainya Kenzo.

"Apa ini, apa ini hanya permainan takdir? hari ini terasa aneh, seolah-olah aku mengalami derita yang tiada akhir, sampai kapan aku harus di sini dengan Pak Ardian." jerit Nayla dalam hati.

"Nayla, apa kamu mendengar apa yang aku ceritakan tadi? cerita mengenai diriku dan perasaanku?" tanya Ardian menatap Nayla dengan kelegaan, walau dia tahu Nayla sedikit pun tak terlihat senang mendengarnya.

"Saya mendengarnya Pak, dan mohon maaf saya tidak bisa berkomentar apa-apa soal perasaan Bapak, karena saat ini saya sudah mencintai laki-laki lain Pak." jawab Nayla dengan apa adanya, Nayla bukanlah type wanita yang tidak konsekuen dengan hatinya.

"Aku mengerti Nay, aku hanya ingin kamu tahu saja apa yang aku rasakan, dan aku juga sadar diri aku sudah tidak pantas lagi mencintai wanita sepertimu yang lebih muda dariku." ucap Ardian pelan dengan menghela nafas panjang.

"Sebaiknya kamu pulang sebelum malam, dan lagi kamu belum bertemu dengan orang tuamu, juga Kenzo." ucap Ardian yang tahu juga kalau Nayla masih mencintai Kenzo.

"Bapak tahu soal saya dan Kenzo?" tanya Nayla dengan perasaan sedikit malu.

"Tidak apa-apa, cinta itu harus bisa merelakan, jika kamu mencintai Kenzo dan dia mencintaimu aku mendoakanmu semoga kamu bahagia." ucap Ardian tersenyum menahan rasa kesedihannya.

"Syukurlah kalau bapak sudah mengerti, kalau begitu saya mau pulang ya pak, tidak enak juga kalau orang tua saya tahu, saya di sini menemani bapak." ucap Nayla seraya mengambil tas ranselnya.

"Ya Nay, hati-hati di jalan." ucap Ardian dengan hati yang sudah hancur berkeping-keping.

***

"Bagaimana ini, aku telpon Zanna dari siang tidak bisa aku hubungi, dan Kenzo! harusnya kedatanganku ini sebagai kejutan untuknya, tapi sekarang aku membutuhkannya untuk mengantarku ke rumah Zanna.

Sambil melihat ke arah jalanan yang agak sepi, Nayla mengambil ponselnya dan terpaksa menelpon Kenzo.

"Hallo Ken, apa kamu di rumah?" tanya Nayla agak gugup karena sebentar lagi dia akan bertemu dengan Kenzo.

"Ya, aku ada di rumah, aku lagi ada acara nih Nay, ada apa?" tanya Kenzo yang tidak tahu kedatangan Nayla.

"Aku sudah pulang dan sekarang aku ada di depan rumah sakit dekat SD Taruna, apa kamu bisa menjemputku?" ucap Nayla berharap Kenzo gembira dengan kepulangannya.

"Apa Nay, kamu pulang? kenapa kamu tidak memberitahuku? kamu ya selalu begitu." ucap Kenzo dengan suara yang terlihat gembira.

Nayla tersenyum hatinya berbunga-bunga.

"Jadi apa kamu bisa menjemputku sekarang Ken?" tanya Nayla lagi melihat hari sudah malam.

"Aku masih ada acara keluarga Nay, ini juga mau selesai acaranya, kamu tunggu aku bentar ya." ucap Kenzo menenangkan hati Nayla.

"Baiklah aku tunggu, jangan lama-lama ya Ken." pinta Nayla degan sebuah senyuman di bibirnya.

"Oke sayang." ucap Kenzo kelepasan memanggil sayang membuat hati Nayla semakin terbang tinggi di awan.

Sambil duduk di bangku panjang di lobby rumah sakit Nayla menunggu jemputan Kenzo.

Waktu pun merangkak dengan pelan, hingga rasa kantuk mulai menguasai mata Nayla.

Di sudut lobby rumah sakit Ardian melihat Nayla dengan hati yang sabar, Ardian terpaksa melepas jarum infusnya untuk melihat dan memastikan jika Nayla sudah pulang.

Tapi sampai jam sepuluh malam, Nayla masih duduk di bangku rumah sakit entah menunggu siapa.

Sambil menahan rasa sakit di perut dan punggung tangannya, Ardian berjalan mendekati Nayla yang sudah hampir tertidur.

"Nayla, aku antar pulang ya,..ini sudah malam sekali, sudah jam sepuluh malam..tidak baik untuk kesehatanmu." ucap Ardian mengulurkan tangannya.

"Pak Ardian? bapak kok di sini? saya lagi menunggu Kenzo Pak, dia mau menjemput saya." jawab Nayla jujur dan sedikit terkejut dengan kehadiran Ardian yang harusnya di ranjang rumah sakit, malah sudah berdiri di hadapannya.

"Tapi Kenzo belum menjemputmu juga dari tadi Nay, coba kamu telpon lagi Kenzonya daripada kamu menunggu lama di sini." ucap Ardian yang tak tega membiarkan Nayla sendirian di lobby rumah sakit.

Mendengar ucapan Ardian, dengan terpaksa Nayla menelpon kembali Kenzo yang hampir dua jam belum juga menjemputnya.

Beberapa kali Nayla menekan tombol panggilan tetap tidak tersambung, Nayla putus asa dan melihat wajah Ardian sekilas kemudian mencoba lagi menelpon Kenzo, masih tetap tidak tersambung.

"Mungkin Kenzo masih belum selesai acaranya pak? biar saya tunggu sampai jam sebelas, kalau Kenzo tidak datang saya mau di antar Bapak, tapi bapak kan lagi sakit?" ucap Nayla yang heran dengan keadaan Ardian.

"Baiklah kita tunggu Kenzo datang ya, aku sudah tidak apa-apa, sudah mendingan." ucap Ardian berbohong dengan keadaannya yang masih lemas.

Nayla terdiam tidak membalas ucapan Ardian, pikirannya hanya tertuju pada Kenzo, kenapa Kenzo lama sekali menjemputnya, apa ada sesuatu yang terjadi?

Dengan lamunan panjangnya, Nayla tak sadar jika Ardian menatapnya begitu sangat dalam.

"Nayla, pakailah jaketku..kamu kedinginan." ucap Ardian membuyarkan lamunan Nayla.

"Tidak perlu pak, bapak kan lagi sakit..bapak saja yang pakai." ucap Nayla menolak dengan halus.

"Aku tidak sudah tidak apa-apa Nay, pakailah kamu kedinginan, nanti kamu bisa sakit Nay." ucap Ardian menyampirkan jaketnya pada punggung Nayla.

Nayla tidak kuasa menolak, dengan terpaksa Nayla memakai jaket Ardian yang kebesaran di badannya.

"Sudah jam sebelas Nay, apa kamu ingin menelpon Kenzo lagi?" tanya Ardian membuat hati Nayla yang lagi sensitif menjadi kesal.

"Antarkan saya pulang Pak." ucap Nayla dengan wajah terlihat suram.

Ardian mengambil nafas panjang mendapat kekesalan dari seorang Nayla wanita yang di cintainya.

Dengan keadaan yang masih lemas dan perutnya yang masih terasa sakit, Ardian menjalankan mobilnya dengan pelan.

"Apa tidak bisa cepat sedikit Pak, saya capek dan mengantuk sekali pak." ucap Nayla menahan kantuk yang sangat.

Ardian menatap wajah Nayla yang matanya sudah terpejam.

"Aku mencintaimu Nayla, sangat mencintaimu, aku berharap suatu saat nanti kamu bisa melihat betapa besar cintaku padamu." ucap Ardian dengan suara pelan.

"Webnovel kontrak"

Chương tiếp theo