webnovel

nicko widjaja

Related Stories
Author:
Ongoing
Related Reviews
wajik
wajik
2020-04-11

*Down But Not Out* _*His Faithfulness Never Ceases*_ _Bambang Widjaja_ Pada tanggal 29 October 1941, Winston Churcill mengucapkan sebuah pidato yang salah satu isi dari pidatonya adalah tiga kalimat berikut: *"Never give in, never give in…in nothing, great or small, large or petty–never give in except to convictions of honour and good sense. Never yield to force; never yield to the apparently overwhelming might of the enemy…."* _(jangan pernah menyerah, jangan pernah menyerah ... tidak ada apapun, semua atau sebagian-jangan pernah menyerah kecuali untuk keyakinan akan kehormatanmu dan akal sehat. Jangan pernah menyerah di dalam tekanan; jangan pernah menyerah pada kekuatan musuh yang meskipun tampaknya luar biasa ....)_ Kalimat ini menjadi menarik karena diucapkan oleh seorang yang bernama Winston Churchill yang sekaligus menghidupi kalimat tersebut. Sikap pantang menyerah inilah yang kemudian menjadikan Churcill sebagai seorang pahlawan yang dikenal oleh dunia sampai dengan saat ini. Kalimat ini mengingatkan kepada kita, bahwa di dalam masalah sebesar apapun dan seberat apapun, jangan pernah menyerah, karena sesunguhnya _Tuhan pun tidak pernah berubah: kasih Allah, kesetiaan Allah, hikmat Allah dan kuasa Allah tidak pernah berkurang_ dalam keadaan apapun dan akan tetap untuk selama-lamanya. Dan inilah yang harus selalu kita ingat, bahwa di dalam masa-masa yang sukar dan tidak mudah, walaupun mungkin kita terjatuh, tetapi Tuhan tidak akan pernah membiarkan kita tergeletak. *_1 Samuel 30:3-8_* menceritakan kisah tentang Daud ketika berada di dalam pelariannya dari Raja Saul dan kemudian ia mendapatkan perlindungan dari Akhis di Ziklag (wilayah bangsa Filistin). Suatu hari ketika Daud dan pengikutnya pulang dari berperang, mereka mendapati keadaan ini: _Ketika Daud dan orang-orangnya sampai ke kota itu, tampaklah kota itu terbakar habis, dan isteri mereka serta anak mereka yang laki-laki dan perempuan telah ditawan. Lalu menangislah Daud dan rakyat yang bersama-sama dengan dia itu dengan nyaring, sampai mereka tidak kuat lagi menangis. Juga kedua isteri Daud ditawan, yakni Ahinoam, perempuan Yizreel, dan Abigail, bekas isteri Nabal, orang Karmel itu. Dan *Daud sangat terjepit,* karena rakyat mengatakan hendak melempari dia dengan batu. Seluruh rakyat itu telah pedih hati, masing-masing karena anaknya laki-laki dan perempuan. Tetapi *Daud menguatkan kepercayaannya kepada Tuhan* , Allahnya. Lalu Daud memberi perintah kepada imam Abyatar bin Ahimelekh: “Bawalah efod itu kepadaku.” Maka Abyatar membawa efod itu kepada Daud. Kemudian bertanyalah Daud kepada Tuhan , katanya: “Haruskah aku mengejar gerombolan itu? Akan dapatkah mereka kususul?” *Dan Ia berfirman kepadanya*: “Kejarlah, sebab sesungguhnya, engkau akan dapat menyusul mereka dan melepaskan para tawanan.”_ Kisah Daud di atas mampu menjelaskan tiga hal penting yang dapat kita jadikan pegangan di dalam masa-masa yang sukar seperti sekarang : *1. Rasa aman yang didapatkan di luar Tuhan merupakan rasa aman yang semu* _(tidak sejati, nampak seperti benar tetapi palsu dan tidak tahan lama)_ Pada awalnya, Daud merasa aman berada di dalam perlindungan Akhis, tetapi itu hanyalah sebuah rasa aman yang semu, Ziklag hanyalah tempat perlindungan yang semu bagi Daud. _Ada kalanya Tuhan mengijinkan kita mengalami tantangan dan kesukaran supaya kita menyadari bahwa rasa aman yang kita gantung kan di luar Tuhan hanyalah sebuah rasa aman yang semu._ *2. Di dalam keadaan terjepit, kuatkanlah kepercayaan Anda kepada Tuhan.* Jika kita hanya melihat pada keadaan di sekitar kita, bisa jadi kita akan jadi semakin panik, karena merasa bahwa tidak ada banyak yang bisa kita lakukan untuk menghadapinya dan keluar dari keadaan saat ini. Tapi jangan biarkan rasa panik dan ketakutan menguasai hati kita dan kemudian menjadikan semangat kita menjadi lumpuh. Dalam situasi yang terjepit, Daud melakukan satu hal yang sangat tepat, bukan menyerah kepada keadaan , tetapi menyerah kepada Tuha

wajik
wajik
2020-04-10

*Down But Not Out* _*His Faithfulness Never Ceases*_ _Bambang Widjaja_ Pada tanggal 29 October 1941, Winston Churcill mengucapkan sebuah pidato yang salah satu isi dari pidatonya adalah tiga kalimat berikut: *"Never give in, never give in…in nothing, great or small, large or petty–never give in except to convictions of honour and good sense. Never yield to force; never yield to the apparently overwhelming might of the enemy…."* _(jangan pernah menyerah, jangan pernah menyerah ... tidak ada apapun, semua atau sebagian-jangan pernah menyerah kecuali untuk keyakinan akan kehormatanmu dan akal sehat. Jangan pernah menyerah di dalam tekanan; jangan pernah menyerah pada kekuatan musuh yang meskipun tampaknya luar biasa ....)_ Kalimat ini menjadi menarik karena diucapkan oleh seorang yang bernama Winston Churchill yang sekaligus menghidupi kalimat tersebut. Sikap pantang menyerah inilah yang kemudian menjadikan Churcill sebagai seorang pahlawan yang dikenal oleh dunia sampai dengan saat ini. Kalimat ini mengingatkan kepada kita, bahwa di dalam masalah sebesar apapun dan seberat apapun, jangan pernah menyerah, karena sesunguhnya _Tuhan pun tidak pernah berubah: kasih Allah, kesetiaan Allah, hikmat Allah dan kuasa Allah tidak pernah berkurang_ dalam keadaan apapun dan akan tetap untuk selama-lamanya. Dan inilah yang harus selalu kita ingat, bahwa di dalam masa-masa yang sukar dan tidak mudah, walaupun mungkin kita terjatuh, tetapi Tuhan tidak akan pernah membiarkan kita tergeletak. *_1 Samuel 30:3-8_* menceritakan kisah tentang Daud ketika berada di dalam pelariannya dari Raja Saul dan kemudian ia mendapatkan perlindungan dari Akhis di Ziklag (wilayah bangsa Filistin). Suatu hari ketika Daud dan pengikutnya pulang dari berperang, mereka mendapati keadaan ini: _Ketika Daud dan orang-orangnya sampai ke kota itu, tampaklah kota itu terbakar habis, dan isteri mereka serta anak mereka yang laki-laki dan perempuan telah ditawan. Lalu menangislah Daud dan rakyat yang bersama-sama dengan dia itu dengan nyaring, sampai mereka tidak kuat lagi menangis. Juga kedua isteri Daud ditawan, yakni Ahinoam, perempuan Yizreel, dan Abigail, bekas isteri Nabal, orang Karmel itu. Dan *Daud sangat terjepit,* karena rakyat mengatakan hendak melempari dia dengan batu. Seluruh rakyat itu telah pedih hati, masing-masing karena anaknya laki-laki dan perempuan. Tetapi *Daud menguatkan kepercayaannya kepada Tuhan* , Allahnya. Lalu Daud memberi perintah kepada imam Abyatar bin Ahimelekh: “Bawalah efod itu kepadaku.” Maka Abyatar membawa efod itu kepada Daud. Kemudian bertanyalah Daud kepada Tuhan , katanya: “Haruskah aku mengejar gerombolan itu? Akan dapatkah mereka kususul?” *Dan Ia berfirman kepadanya*: “Kejarlah, sebab sesungguhnya, engkau akan dapat menyusul mereka dan melepaskan para tawanan.”_ Kisah Daud di atas mampu menjelaskan tiga hal penting yang dapat kita jadikan pegangan di dalam masa-masa yang sukar seperti sekarang : *1. Rasa aman yang didapatkan di luar Tuhan merupakan rasa aman yang semu* _(tidak sejati, nampak seperti benar tetapi palsu dan tidak tahan lama)_ Pada awalnya, Daud merasa aman berada di dalam perlindungan Akhis, tetapi itu hanyalah sebuah rasa aman yang semu, Ziklag hanyalah tempat perlindungan yang semu bagi Daud. _Ada kalanya Tuhan mengijinkan kita mengalami tantangan dan kesukaran supaya kita menyadari bahwa rasa aman yang kita gantung kan di luar Tuhan hanyalah sebuah rasa aman yang semu._ *2. Di dalam keadaan terjepit, kuatkanlah kepercayaan Anda kepada Tuhan.* Jika kita hanya melihat pada keadaan di sekitar kita, bisa jadi kita akan jadi semakin panik, karena merasa bahwa tidak ada banyak yang bisa kita lakukan untuk menghadapinya dan keluar dari keadaan saat ini. Tapi jangan biarkan rasa panik dan ketakutan menguasai hati kita dan kemudian menjadikan semangat kita menjadi lumpuh. Dalam situasi yang terjepit, Daud melakukan satu hal yang sangat tepat, bukan menyerah kepada keadaan , tetapi menyerah kepada Tuha

wajik
wajik
2020-04-09

*Down But Not Out* _*His Faithfulness Never Ceases*_ _Bambang Widjaja_ Pada tanggal 29 October 1941, Winston Churcill mengucapkan sebuah pidato yang salah satu isi dari pidatonya adalah tiga kalimat berikut: *"Never give in, never give in…in nothing, great or small, large or petty–never give in except to convictions of honour and good sense. Never yield to force; never yield to the apparently overwhelming might of the enemy…."* _(jangan pernah menyerah, jangan pernah menyerah ... tidak ada apapun, semua atau sebagian-jangan pernah menyerah kecuali untuk keyakinan akan kehormatanmu dan akal sehat. Jangan pernah menyerah di dalam tekanan; jangan pernah menyerah pada kekuatan musuh yang meskipun tampaknya luar biasa ....)_ Kalimat ini menjadi menarik karena diucapkan oleh seorang yang bernama Winston Churchill yang sekaligus menghidupi kalimat tersebut. Sikap pantang menyerah inilah yang kemudian menjadikan Churcill sebagai seorang pahlawan yang dikenal oleh dunia sampai dengan saat ini. Kalimat ini mengingatkan kepada kita, bahwa di dalam masalah sebesar apapun dan seberat apapun, jangan pernah menyerah, karena sesunguhnya _Tuhan pun tidak pernah berubah: kasih Allah, kesetiaan Allah, hikmat Allah dan kuasa Allah tidak pernah berkurang_ dalam keadaan apapun dan akan tetap untuk selama-lamanya. Dan inilah yang harus selalu kita ingat, bahwa di dalam masa-masa yang sukar dan tidak mudah, walaupun mungkin kita terjatuh, tetapi Tuhan tidak akan pernah membiarkan kita tergeletak. *_1 Samuel 30:3-8_* menceritakan kisah tentang Daud ketika berada di dalam pelariannya dari Raja Saul dan kemudian ia mendapatkan perlindungan dari Akhis di Ziklag (wilayah bangsa Filistin). Suatu hari ketika Daud dan pengikutnya pulang dari berperang, mereka mendapati keadaan ini: _Ketika Daud dan orang-orangnya sampai ke kota itu, tampaklah kota itu terbakar habis, dan isteri mereka serta anak mereka yang laki-laki dan perempuan telah ditawan. Lalu menangislah Daud dan rakyat yang bersama-sama dengan dia itu dengan nyaring, sampai mereka tidak kuat lagi menangis. Juga kedua isteri Daud ditawan, yakni Ahinoam, perempuan Yizreel, dan Abigail, bekas isteri Nabal, orang Karmel itu. Dan *Daud sangat terjepit,* karena rakyat mengatakan hendak melempari dia dengan batu. Seluruh rakyat itu telah pedih hati, masing-masing karena anaknya laki-laki dan perempuan. Tetapi *Daud menguatkan kepercayaannya kepada Tuhan* , Allahnya. Lalu Daud memberi perintah kepada imam Abyatar bin Ahimelekh: “Bawalah efod itu kepadaku.” Maka Abyatar membawa efod itu kepada Daud. Kemudian bertanyalah Daud kepada Tuhan , katanya: “Haruskah aku mengejar gerombolan itu? Akan dapatkah mereka kususul?” *Dan Ia berfirman kepadanya*: “Kejarlah, sebab sesungguhnya, engkau akan dapat menyusul mereka dan melepaskan para tawanan.”_ Kisah Daud di atas mampu menjelaskan tiga hal penting yang dapat kita jadikan pegangan di dalam masa-masa yang sukar seperti sekarang : *1. Rasa aman yang didapatkan di luar Tuhan merupakan rasa aman yang semu* _(tidak sejati, nampak seperti benar tetapi palsu dan tidak tahan lama)_ Pada awalnya, Daud merasa aman berada di dalam perlindungan Akhis, tetapi itu hanyalah sebuah rasa aman yang semu, Ziklag hanyalah tempat perlindungan yang semu bagi Daud. _Ada kalanya Tuhan mengijinkan kita mengalami tantangan dan kesukaran supaya kita menyadari bahwa rasa aman yang kita gantung kan di luar Tuhan hanyalah sebuah rasa aman yang semu._ *2. Di dalam keadaan terjepit, kuatkanlah kepercayaan Anda kepada Tuhan.* Jika kita hanya melihat pada keadaan di sekitar kita, bisa jadi kita akan jadi semakin panik, karena merasa bahwa tidak ada banyak yang bisa kita lakukan untuk menghadapinya dan keluar dari keadaan saat ini. Tapi jangan biarkan rasa panik dan ketakutan menguasai hati kita dan kemudian menjadikan semangat kita menjadi lumpuh. Dalam situasi yang terjepit, Daud melakukan satu hal yang sangat tepat, bukan menyerah kepada keadaan , tetapi menyerah kepada Tuha

Related Topics
More
New Arrivals

Start the simulation to kill bugs and live to the peak of life

The real title of the book was [Start simulation to kill bugs, hide until you leave the moving castle](Lord's text) When he woke up, the entire world had transmigrated to another world. Other people would start off by doing quests in the main city or killing monsters in the wild to level up and pick up treasure chests, but Mu Fan had transmigrated to the Cursed Land and faced layers upon layers of undead army. Other people's initial rewards were angels, black dragons, spearmen, elves, or even peasants, but Mu Fan only had a simulator. From then on, Mu Fan started his life simulation: A day later, while the others were still doing quests and killing monsters, Mu Fan had already gotten rid of the bug and escaped from the Legendary building, Moving Castle. A week later, when other people started to build their territories and recruit mercenaries, Mu Fan had already become the City Lord and issued NPC missions. He had also become a grand mage and possessed Mythical Grade equipment. He had occupied a top-notch Dao Foundation Nest and had tens of thousands of undead under him. Moreover, the more he fought, the more undead he had. A month later, when the others were fully fledged and formed teams to attack the city, Mu Fan had already conquered the entire Cursed Land and became the overlord of a region. A year later, when the Immortal Cultivation World broke through the World Barrier and arrived on this mainland, others were still others. Mu Fan had already become the ruler of the mainland and had mastered the 3,000 Great Dao. A concentration camp of imagination!

Start over
· 9.1K Views
Popular Searches